Balik Atas
Menagih Janji Presiden
 
Pewarta: Redaksi Edisi 13/08/2019
| 534 Views
Thomas Ch. Syufi (Foto:Dok.Pribadi)

Oleh Thomas Ch. Syufi*

Pak Presiden, baru saja tersiar kabar bahwa seorang anggota Polri Biptu Heidar disandera mati oleh Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat atau Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata di Kabupaten Puncak, Papua, Senin(12/8/2019). Insiden ini terjadi menjelang pertemuan para pemimpin negara Pasifik yang terhimpun dalam Pasific Island Forum atau Forum Kepulauan Pasifik, 13-16 Agustus 2019 di Tuvalu. Kami merasa sedih dan prihatin, mengapa prajurit bawahan selalu jadi korban kekejian demi promosi jabatan dan pangkat para jenderal di Jakarta Padahal, korban juga memiliki hak untuk menikmati hidup, bertanggungjawab untuk keluarga, terutama anak- istri. Saya pikir, sudah waktunya untuk kita akhiri kematian sia- sia antara rakyat Papua dan TNI- Polri. Demi mengakhiri konflik dan pertarungan ini, maka Pak Presiden harus memenuhi janjinya—pada Desember 2014—bahwa akan berdialog dengan rakyat Papua yang akan diwakili OPM( atau ULMWP).

Dialog menjadi jalan mujarab guna melerai konflik Papua- Jakarta. Dan, dialog bukan jalan akhir menuju kemerdekaan Papua dari Indonesia– tapi bisa juga bisa kemerdekaan Papua dalam NKRI. Nilai kemanusiaan TNI- Polri dan warga sipil Papua lebih berharga daripada sebuah ambisi teritorial, pertahanan, atau pun keamanan nasional.Dan dialog bukan tujuan, tapi dialog merupakan sebuah sarana untuk mempertemukan para pihak yang berkonflik: orang Papua dan pemerintah Indonesia untuk mencarikan jalan keluar secara damai, demokratis, dan bermartabat guna menciptakan Papua tanah damai.

Bila tidak degan ‘direct’ membuka krang dialog, maka Bapa Presiden Jokowi segera keluarkan dekrit bagi TNI untuk melakukan gencatan senjata dengan TPNPB atau KKSB dengan syarat warga sipil harus dievakuasi dari zona perang. Serta perang harus mengacu pada standar-standar hukum internasional, antara lain, dilarang penyerangan terhadap warga sipil( non- combatan), fasilitas-fasilitas umum, seperti rumah sakit, sekolah, fasilitas keagamaan, jangan menggunakan serangan udara, senjata kimia, dan bom jenis apa pun.

Mungkin dengan jalan gencatan senjata, kita sama- sama bisa segera bernegoisiasi atau berunding guna mencari konsensus politik bersama untuk mengakhiri konflik Papua- Indonesia.”Perang adalah kelanjutan dari diplomasi yang gagal,” kata Hans Joachim Morgenthau (1904-1980), penulis dan ahli dalam hubungan internasional abad ke-20! Semoga.
-____________________________________________
*). Penulis adalah Koordinator the Papuan Observatory for Human Rights(POHR).

Berikan Komentar Anda