BALIK ATAS
Mengatakan Kebenaran Kepada Kekuasaan
DITERBITKAN OLEH: Redaksi DATE 7th Januari 2019
| 121 DILIHAT
Maximus Sedik (Doc. Pribadi)

Oleh: Maximus Sedik

Saya sebagai mahasiswa sering diskusi, aksi, berpikir, kerja tugas, pergi kuliah dan lainnya seperti jalan-jalan bersama pacar ke tempat wisata dan hal apa saja saya lakukan untuk kesenangan pribadi. Saya tidak pernah berpikir orang tua saya di Papua dan bagaimana kehidupan mereka, bagaimana, hutan, tanah, budaya dan ras. Dusun sagu tempat keramat dan saya punya kekayaan lain yang ada di atas tanah leluhur saya. Apalagi sekarang orang tua mereka hidup dengan ketakutan dan tekanan dari para polisi dan tentara di seluruh tanah Papua. saya tidak pernah berpikir apa yang terjadi, bahkan saya tidak sadar bahwa yang dilakukan adalah untuk memusnahkan saya dari tanah saya sendiri. Mengapa mereka mau memusnahkan saya dari tanah saya, saya punya tempat itu menyimpan banyak izin yang menjamin seluruh masyarakat yang ada dalam Negara ini.

Berbagai bangsa di belahan dunia mengalami hal serupa karena mereka lebih awal menerima peradaban dunia dan sehingga sekarang menjadi nama di lembaran duta bangsa. Papua sejak awal masuknya para penjelajah maupun sending dan misionaris untuk menyebarkan benih kehidupan baru di bangsa tertua dan terbelakang di bumi. Orang luar tiba dengan misinya, yang berbeda ada yang datang dengan latar belakang menyebarkan agama ada yang mencari rempah-rempah atau melakukan riset tentang sumber daya alam. Bangsa lain yang tiba di pulau Papua mereka membawa inkulturasi yang berbeda sehingga perubahan hidup bagi bangsa Papua.

Orang-orang (bangsa asing) ada yang datang untuk memanusiakan manusia Papua, ada yang datang untuk melakukan tindakan liar di atas tanah masih perawan. Berjalan begitu lama dan tersistematis baik yang merugikan orang Papua maupun yang menguntungkan orang Papua. semua menjadi kenangan bagi orang Papua mengapa, karena situasi tekanan dunia melalui perang yang begitu merugikan banyak korban umat manusia. Pada waktu itu para intelektual yang sudah terdidik secara baik mereka menginginkan sebuah habitus yang baru di atas bangsa sendiri. Dengan semangat untuk bangsanya, mereka membentuk sebuah Negara bangsa di tanah Papua yang berdaulat dan adil sesuai dengan prinsip yang berlaku baik secara hukum dan secara kenegaraan. Bangsa Papua juga mempunyai simbol-simbol Negara yang menjadi syarat utama untuk membentuk suatu Negara bangsa (Nation state). Tetapi mengapa sekarang orang Papua hidup menderita di atas tanahnya sendiri, dibunuh, disiksa dan berbagai tindakan brutal dan tidak secara manusiawi terjadi di seluruh manusia Papua.
Seluruh persoalan masih bersahabat dan terus terjadi tanah Papua sejak tekanan dari dari para kapital dunia sehingga Indonesia men-aneksasi Papua untuk memasukan Papua sebagai bagian dari Negaranya. Indonesia memaksa Papua melalui manipulatife dan tersistematis di hadapan dunia internasional atau konferensi meja bundar (KMB). Tindakan ini yang Sekarang membuat kita berada di bersama hawa hidup Penjajahan selama lima puluh tujuh tahun (57), di atas Papua. Negara demokratis dan hukum dijadikan sebagai sumber pengawas utama. Saya berpikir semua persoalan ini bagaimana kita selesaikan dengan berbagai cara untuk menentang dan menyatakan kebenaran untuk membebaskan bangsa Papua dari sistem yang terjajah?. Apakah kita tunggu orang yang datang berbicara tentang apa yang terjadi, atau ada semangat berpikir, semangat sadar dan semangat bersolidaritas bersama untuk melangkah menyatakan kebenaran. Sayangnya kita harus mulai jawab dengan mengatakan bahwa tak tak ada sistem atau metode yang cukup dan memadai dan pasti yang membuat kita intelektual muda bisa menjawab langsung pertanyaan ini.

Dalam dunia sekuler dunia kita dunia historis dan sosial yang dibuat dengan upaya manusia intelektual hanya punya makna sekuler revelasi (penguakan misteri) dan inspirasi. Sedangkan yang sangat layak digunakan sebagai cara untuk mengerti dalam kehidupan pribadi adalah bencana dan bahkan sesuatu yang barbar yang kemudian di maknakan oleh lelaki dan perempuan berpikiran teoritis. Sebenarnya saya akan melangkah terlalu jauh dengan mengatakan bahwa intelektual harus terlibat dalam pertikaian seumur hidup dengan para pengawal visi atau naskah rahasia yang cara pembinasaan mereka laksan legion, serta yang tak mentolerir kehidupan bersama atau perbedaan pendapat dan keragaman.

Kebebasan berpendapat dan berekspresi yang tak bisa tak bisa ditawar-tawar merupakan benteng utama kaum intelektual. Meninggalkan atau mentolerir kerusakan fondasi merupakan penghianatan pada panggilan intelektual. Niscaya demikian, pandangan saya adalah bahwa intelektual (kaum berpikir) kontemporer yang hidup di saat ini telah dibingungkan oleh tak munculnya apa yang tampak sebagai norma-norma moral objektif dan otoritas yang rasional. Apakah dapat diterima hanya karena membabi buta mendukung perilaku sendiri dan melupakan kejahatannya yang terjadi atau mengatakannya agak malas saya percaya mereka melakukannya semua dan begitu adanya? Apa yang bisa kita katakan adalah kaum intelektual menjadi tidak profesional dengan menjilat yang tercela. Tapi untuk mengulangi apakah kaum intelektual dilengkapi dengan alternatif dan lebih berprinsip sehingga memungkin mereka terdorong untuk membicarakan kebenaran kepada kekuasaan?

Saya bermaksud bukan menjustis orang tetapi saya mengingatkan bahwa yang saya maksudkan sesuatu yang lebih sederhana dan yang besar, lebih efektif. Berbicara tentang konsistensi dalam memegang standar perilaku intermasional dan mendukung hak asasi manusia bukanlah melihat ke dalam untuk menemukan pelita yang diberikan kepada seseorang berdasarkan inspirasi atau intuisi profektik. Sebagian besar, kalau bukan seluruhnya, Negara di dunia adalah penanda tangan Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia, yang diberlakukan dan diumumkan pada tahun 1948. Deklarasi yang ditegaskan kembali oleh setiap Negara anggota baru PBB. Ada konvensi serius mengenai aturan perang, cara memperlakukan tahanan. Tentang hak para pekerja, perempuan, anak-anak imigran dan pengungsi. Tak ada bagian dari dokumen ini yang menyebut rasa atau rakyat tertentu tidak berkualifikasi atau setaraf. Semuanya menyatakan kebebasan serupa, tentu saja hak-hak ini dilanggar sahari-hari. Sehingga terjadi pembantain, pembunuhan, penahanan, diskriminasi secara sistematis dan tindakan serupa lain terjadi seluruh tanah Papua.
Tak seorang pun dapat sepanjang waktu perihal semua isu. Tapi saya yakin, ada tugas khusus untuk menyampaikan kepada otoritas sebuah masyarakat, yang terbuka kepada warganya, khususnya ketika kekuasaan dimanifestasi dalam sistem tak proporsional serta tak bermoral. Atau dalam satu program yang mendiskriminasi, penindasan, dan kekejaman kolektif. Seperti saya sebut di atas. Tujuan pembicaraan tentang kebenaran adalah masyarakat yang teratur seperti kita terutama memproyeksikan keadaan yang lebih baik. Tentu dalam tulisan saya, bukan berarti tujuan seseorang bukanlah memperlihatkan kepada setiap orang betapa benar dirinya. Tetapi sebaliknya mencoba mengubah iklim moral mana agresi dipandang seperti itu, hukuman tak adil untuk orang-orang individu dihindari atau ditinggalkan. Pengakuan hak asasi dan kebebasan demokrasi ditegakkan sebagai norma bagi setiap orang. Tidak secara individu atau segelintir tertentu.

Saat ini kita hidup dalam persoalan yang setiap saat melintas di mata kita apakah kita berpikir bersama atau mengabaikan seluruhnya tetap terjadi di atas bangsa kami. Saya bukan seorang maha tahu tentang persoalan terjadi atau saya yang mencari solusi terkait persoalan yang terjadi tetapi, saya sekedar mengisi waktu kesenangan saya melihat kembali yang terjadi. Saya berpikir kita semua adalah intelektual muda bangsa papua yang siap untuk berbicara bersama. Bagaimana dengan generasi yang menyatakan dirinya cinta akan Negara ini?, saya Cuma mengingatkan kepada anda semua jangan menyesal kalau anda habis dan musnah tanah anda sendiri. Dasarnya apa? Anda katakan kata cinta di hadapan penderitaan di tanah Papua yang setiap hari menghirup udara penindasan, pembunuhan dan berbagai tindakan keji yang dilakukan Negara terhadap masyarakat Papua.

Apakah anda ini diperalat oleh Negara untuk mengamankan kepentingan Negara atau anda semua dangkal pengetahuan, pemahaman untuk melihat dan memahami apa yang terjadi terhadap masyarakat papua?. Saya kasih tahu buat semuanya yang menyatakan cintanya terhadap Negara. Tolong supaya belajar baik sehingga anda memahami apa cinta itu, jangan sampai cinta bisa menghianati diri anda yang terlalu jatuh cinta terhadap-nya. Saya tahu anda pasti tidak paham apa yang anda lakukan, secara terpaksa dan otak yang diciptakan untuk berpikir tidak berfungsi. Semoga anda semua paham dengan apa yang anda lakukan !.

Penulis adalah Mahasiswa Jalanan di persimpangan jalan.

Berikan Komentar Anda