BALIK ATAS
Mengkaji Isi Media Massa di Jayapura dan Aksi Potong Pohon Beringin
Diterbitkan Oleh: Redaksi Date 3rd Juli 2016
| 523 DIBACA
 Krist Ansaka (*)
Krist Ansaka,Mantan Jurnalis Papua (Foto:PapuaLives)

Oleh : Krist Ansaka (*)

PEKAN lalu, media massa di Jayapura dan juga di luar Jayapura memberitakan tentang rencana Gubernur Papua, Lukas Enembe untuk menebang pohon beringin yang berada di depan Kantor Gubernur Provinsi Papua di Dok II, Jayapura.
Rencana ini ternyata mendapat tanggapan beragam. Ada yang pro dan ada yang kontra. Bagi kelompok yang pro mempunyai alasan sendiri. Begitu pun yang kontra punya alasan sendiri.
Rencana Lukas Enembe itu dan pendapat dari kelompok yang pro dan kontra itu, telah mewarnai halaman dan durasi di media massa di Jayapura.
Rencana potong pohon beringin ini hanya sebagai contoh dari kebijakan penguasa yang diberitakan di media massa.
Dan, media massa dalam pemberitaannya, hanya menyajikan informasi, baik informasi tentang rencana Gubernur Papua maupun komentar dari kelompok yang pro dan kontra. Di sini media massa, nampak bahwa media massa hanya sebagai institusi informasi.
Pada konteks ini, terjadi bias berita karena media massa tidak berada di ruang vakum. Padahal sesungguhnya, media massa berada di tengah realitas sosial yang sarat dengan berbegai kepentingan, konflik, dan fakta yang kompleks dan beragam.
Media, dalam hubungan dengan kekuasaan, terutama karena anggapan bahwa media sebagai sarana ligitimasi. Media massa seperti lembaga pendidikan, agama seni, dan kebudayaan, merupakan bagian dari alat kekuasaan yang bekerja secara ideologis guna membangun kepatuhan khalayak terhadap kelompok yang berkuasa (ideplogical states apparatus).
Tapi ada yang berpendapat, media merupakan arena pergulatan antarideologi yang saling berkompetisi. Ini berarti, media bisa menjadi sarana penyebaran ideologi penguasa, alat legitimasi dan kontrol atas wacana publik. Namun di sisi lain, media bisa menjadi alat resistensi terhadap kekuasaan. Media bisa menjadi alat membangun kultur dan ideologi yang dominan bagi kepentingan kelas dominan, sekaligus bisa menjadi instrumen perjuangan bagi kaum tertindas untuk membangun kultur dan ideologi tandingan.
Walau begitu, kita semua sepakat, bahwa media massa bukanlah sesuatu yang bebas, independen. Tapi media massa memiliki keterkaitan dengan realitas sosial. Jelasnya, ada berbagai kepentingan yang bermain dalam media massa. Di samping kepentingan ideologi antara masyarakat dan negara. Sementara itu, dalam diri media massa juga terselubung kepentingan yang lain. Misalnya, kepentingan kapitalisme pemilik modal, kepentingan keberlangsungan (suistaibilitas) lapangan kerja bagi para karyawan dan sebagainya.
Dalam kondisi dan possis seperti ini, media massa tidak mungkin berdiri statis di tengah-tengah. Dia akan bergerak dinamis di antara pusaran-pusaran kepentingan yang sedang bermain. Kenyataan inilah yang menyebabkan terjadinya bias berita di media massa yang sulit dihindari.
Oleh sementara orang, media (pers) acap disebut sebagai the fourth estate (kekuatan keempat) dalam kehidupan sosial, ekonomi dan politik. Hal ini disebabkan oleh suatu persepsi tentang peran yang dapat dimainkan media dalam kaitannya dengan pengembangtan kehidupan sosial-ekonomi dan politik masyarakat.
Sebagai suatu alat untuk menyampaikan berita, media sebagai satu institusi yang dapat membentuk opini publik antara lain karena media juga dapat berkembang menjadi kelompok penekan atas suatu ide atau gagasan atau suatu kepentingan atau citra yang direpresentasikan untuk diletakan dalam konteks kehidupan yang lebih empiris.
Sehubungan dengan hal tersebut, di sini nampak bahwa sebenarnya media massa berada pada posisi yang medua, dalam pengertian, bahwa ia dapat memberikan pengaruh positif maupun negatif. Tentu saja atribut-atribut normatif bersifat sangat relatif, tergantung pada dimensi kepentingan yang diwakili.
Di sini nampak bahwa, media massa merupakan sebuah kekuatan raksasa yang diperhitungkan. Dalam berbagai analisa tentang kehidupan sosial, ekonomi dan politik, media massa sering ditempatkan pada salah satu variabel determinan. Bahkan terlebih lagi, media massa dalam posisinya sebagai institusi informasi, dapat dipandang sebaagai faktor yang paling menentukan dalam proses perubahan sosial-budaya dan politik.
Oleh itu, dalam konteks media massa sebagai institusi informasi, maka media massa dipandang sebagai “urat nadi pemerintah” (the nerves of government). Hanya mereka yang mempunyai akses kepada informasi yang bakal menguasai percaturan kekuasaan. Atau paling tidak, urat nadi pemerintah itu sebenarnya berada di jaring-jaring informasi.
Sebagai “urat nadi pemerintah”, telah memunculkan anggapan sebagaian orang, bahwa tidak pernah dan tidak akan memberitkan kebenaran atau kenyataan apa adanya. Dan sebagai “urat nadi pemerintah”, media massa cenderung untuk tidak menunggu peristiwa lalu mengejar, dan memahami kebenaran serta memberitakannya kepada publik. Media mendahului semua itu. Media menciptakan peristiwa, menafsirkan dan mengarahkan kepada terbentuknya sebuah kebenaran.
Di sini nampak, bahwa media massa telah membentuk dirinya sebagai elite kekuasaan baru. Dan wartawan tidak lagi menjadi kelas empat. Para wartawan ini telah membentuk kelas baru. Dan anggapan kono, bahwa wartawawan sebagai anjing penjaga itu, kini telah berubah. Wartawan dan media massanya, telah tumbuh menjadi anjing yang sangat besar dan menakutkan.
Kerena itu, reporter sebagai pencari dan pengolah informasi, menghadapi dua tantangan. Pertama, repoter harus menahan godaan untuk tidak menjadi bagian dari peristiwa (rencana Gubernur Papua memotong pohon beringin) dan wartawan mengorbankan tanggungjawab kepada khalayak berita. Kedua, reporter tersebut harus mengakui bahwa seleksi sumber berita dan persoalan yang diajuykannya, bukan hanya untuk mempengaruhi kisah itu sendiri tapi juga membentuk opini publik. Terlepas dari kedua tantangan ini, tapi reporter atau media massa harus paham bahwa tanggungjawabnya terutama kepada khalayak berita bukan kepada sumber berita.
Dengan tanggungjawab kepada khalayak berita itu yang akan mengamankan kebebasan pers di Negeri Kasuari – Papua. Semoga ! (*) =

Penulis adalah Mantan Jurnalis di Papua

Berikan Komentar Anda
TENTANG KAMI |REDAKSI | DISCAIMER| SITEMAP| PRIVACY| IKLAN | KODE ETIK| PENGADUAN |