Scroll to Top
Menjual Tanah, Menggadai Kehidupan
Posted by Redaksi on 1st Oktober 2018
| 216 views
Felix Degei (Foto:Dok Pribadi)

“Pada mulanya manusia berasal dari tanah. Dan, akhirnya akan kembali ke tanah lagi. Tidak hanya awal dan akhir dari kehidupan manusia yang berasal dari tanah. Akan tetapi, sebenarnya seluruh kehidupan manusia bersumber dari tanah. Oleh karena itu, manusia semestinya bersahabat dengan tanah.”  

LARANGAN tentang aktivitas jual beli tanah sebenarnya bukan masalah baru lagi tapi telah lama disuarakan oleh berbagai pihak. Pemberitaannya, baik melalui media massa, cetak maupun elektronik. Selain itu, persoalan ini juga selalu dibahas dalam berbagai acara besar seperti, ceramah, diskusi, seminar, ibadah, pembelajaran dan perkuliahan. Akan tetapi, aktivitas tersebut masih saja dilakukan oleh berbagai pihak guna memenuhi kebutuhan sesaat.

Bahkan, kini tanah sudah dijadikan sebagai obyek dalam proses perdagangan dengan cara tukar menukar barang (barter). Oleh karena itu, penulis merasa ulasan ini sangat penting untuk mengingatkan kembali tentang betapa vitalnya tanah bagi kelangsungan hidup manusia. Harapannya supaya masyarakat sadar akan pentingnya konservasi tanah untuk hidup dan kehidupan dimasa yang akan datang.

Tanah adalah sumber segala kehidupan bagi manusia. Dalam kisah penciptaan manusia pertama di Taman Firdaus, Tuhan membentuk manusia laki-laki dengan debu tanah liat. Ia dibentuk dengan gambar dan rupa Allah sendiri. Lalu, Tuhan menghembuskan nafas kepadanya dan Ia menamainya Adam, (Kejadian, 2:7).  

Dan, pada akhirnya setelah ajal tiba pun kita akan dikuburkan dalam tanah. Karena hanya nafas kehidupan atau roh saja yang milik Tuhan sendiri. Sedangkan, seluruh anggota badan kita adalah debu tanah liat biasa.

Tanah sangat berperan penting dalam kehidupan manusia. Peranannya, antara lain; a). Tanah sebagai tempat tinggal dan tempat melakukan segala kegiatan, b). Tanah sebagai tempat tumbuhnya vegetasi yang sangat berguna bagi kepentingan hidup manusia, c). Tanah sebagai tempat mengandung bahan tambang atau bahan galian yang berguna bagi manusia dan d). Tanah sebagai tempat berkembangnya hewan yang sangat beguna bagi manusia.

Tanah sebagai Tempat Tinggal dan Tempat Melakukan Segala Kegiatan

Di atas tanah, manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan dapat hidup dan berkembang biak. Mereka juga melakukan segala aktivitasnya demi kelangsungan hidup. Burung yang memiliki sayap saja, ketika hari telah malam mereka akan kembali hinggap di dahan ataupun saran untuk berlindungnya. Tentunya, dahan atau saran yang mereka berlindung adalah bertempat di atas tanah.

Oleh karena itu, sangatlah benar bahwa tanah berfungsi sebagai tempat tinggal dan tempat melakukan segala aktivitas bagi semua makhluk hidup.

Tanah sebagai Tempat Tumbuhnya Vegetasi yang sangat Berguna bagi Kepentingan Hidup Manusia

Manusia dapat hidup karena tumbuh-tumbuhan yang hidup dan berkembang biak di atas tanah. Hampir seluruh bahan makanan yang dikonsumsikan manusia berasal dari tanah. Bukan hanya itu, udarah bersih (oksigen) yang manusia hirup saja bersumber dari tumbuh-tumbuhan. Hal ini berarti bahwa, sebagian besar kepentingan hidup manusia bersumber dari tumbuh-tumbuhan yang berasal dari di atas tanah.

Tanah sebagai Tempat Mengandung Bahan Tambang atau Bahan Galian yang Berguna bagi Manusia

Di dalam kandungan tanah memiliki banyak hal yang berguna bagi manusia. Salah satunya adalah berbagai jenis bahan galian yang ada dalam tanah. Bahan galian atau bahan tambang tersebut adalah baik itu bahan galian logam maupun non logam. Oleh karena itu, tanah juga banyak menyimpang berbagai misteri bahan galian yang sangat berguna bagi kelangsungan manusia.

Tanah sebagai Tempat Berkembangnya Hewan yang sangat Beguna bagi Manusia

Tanah juga merupakan tempat tinggal, hidup, tumbuh dan berkembang biaknya seluruh hewan ciptan Tuhan. Tentunya, seluruh hewan ciptaan tersebut sangat berguna bagi kelangsungan hidup manusia. Daging hewan dikonsumsikan sebagai lauk pauk. Selain itu, manusia juga menggunakan jasa hewan untuk menunggang seperti; kuda, unta, keledai. Dan, tentunya masih banyak fungsi hewan bagi manusia yang tidak disebutkan satu persatu dalam tulisan ini.

Jika dikaji lebih dalam, maka sebenarnya banyak peranan tanah bagi kelangsungan hidup manusia. Oleh karena itu, seyogiyanya seluruh manusia memunyai tugas dan tanggung jawab dalam menjaga dan melestarikannya dengan baik dan benar.

Pada hakekatnya, seluruh manusia percaya bahwa tanah merupakan harta tetap yang warisi oleh Tuhan sendiri. Dengan kepercayaan itu, maka pembagian tanah pun biasanya dilakukan sesuai suku bangsa yang hidup dan tinggal di daerah setempat. Harapannya supaya, setiap pemilik tanah tersebut menjadi tuan di atas tanah leluhurnya tersebut. Jika ada orang lain yang mau hidup dan tinggal di atas tanah tersebut, maka harus sepengetahuan pemilik tanah tersebut.

Misalnya, Tanah Jawa, maka tanah tersebut sepenuhnya milik Orang Jawa. Jika di Tanah Toraja, maka tanah tersebut sepenuhnya milik Orang Toraja. Tanah Batak maka sesungguhnya mereka Orang Batak yang punya hak ulayat atas tanahnya. Demikian juga di Tanah Papua, tentunya pemilik atau tuan tanahnya adalah Orang Papua Ras Melanesia.

Di Tanah Papua, sistem kepemilikan tanah sesuai dengan marga yang hidup dan tinggal di daerah tersebut. Berdasarkan kepemilikan tanah itu pula, masyarakat adat setempat memunyai hak sepenuhnya atas status tanah tersebut. Namun kini Orang Papua diperhadapkan dengan pertanyaan berikut: Apakah tanah yang diwarisi sejak zaman nenek moyang tersebut, mau dijual, digadai atau pun mau dikonservasinya?   

Sayangnya kini di Papua, tanah sudah dan sedang dijadikan sebagai barang bisnis atau dagangan. Padahal, diketahui bahwa tanah adalah harta tetap yang patut dirawat dan dilindunginya. Bahkan dalam ulasan sebelumnya dibahas jika tanah adalah sumber kehidupan.

Di Tanah Papua ada beberapa kabupaten kota yang masyarakat adatnya sedang ramai menjual tanah dengan harga yang murah meriah. Selain jual, ada juga masyarakat yang menggadai sebidang tanah dengan kendaraan motor bekas atau pun barang lainnya. Apa jadinya nanti, jika hal ini terus terjadi? Pertanyaan ini menjadi bahan renungan yang paling penting untuk kita sebagai anak tanah di negeri yang penuh dengan susu dan madu itu.

Seyogiyanya, penyerahan dan penjualan tanah harus dilihat dari skala prioritas juga kebutuhan. Tidak semua tanah diberikan ataupun dijual sembarangan. Hal yang harus dilihat adalah minimal tentang pembangunan apa yang hendak dibangun? Jika pembangunan tersebut demi kepentingan umum, maka tentunya bisa dipertimbangkan dalam penyerahan juga penjualannya. Pembangunan yang sifatnya untuk kepentingan umum seperti; gedung sekolah, rumah sakit dan sarana prasarana menyangkut keagamaan. Jika selain itu, maka semestinya masyarakat tidak perluh menjual tanah lagi. Namun boleh dilakukan dengan sistem kontrak.

Sejarah mencatat bahwa banyak suku bangsa besar di dunia pun termarijinalisasi ataupun dimarijinalisasikan hanya karena ulah mereka terhadap tanah sebagai sumber kehidupan mereka. Meskipun, sebagian besar dari mereka mengalami masalah tersebut karena penjajahan seperti Suku Aborigin di Benua Australia yang termariginalisasi karena Orang Eropah (British) menguasainya. Selain itu, Suku Asli Indian di Amerika menderita di tanahnya sendiri karena dikuasai oleh Bangsa Eropah (British).

Selain di tingkat dunia, Masyarakat Adat Papua pun saat ini sedang termarijinalisasi. Hal tersebut terlihat kini banyak Warga Pribumi Papua yang sedang tinggal di rumah kontrakan ataupun sewa yang dibangun di atas tanah leluhurnya sendiri. Selain itu, masyarakat juga kembali membeli hasil bumi yang sebenarnya dikelolah dan dapat dari ibu pertiwi sendiri. Bukankah hal ini adalah fenomena yang sedang terjadi di Papua saat ini?  

Ketahuilah bahwa berdasarkan hasil identifikasi akar dari segala permasalahan di Papua oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tahun 2011 menyebutkan bahwa salah satu penyebabnya adalah “Orang Papua sedang termarijinalisasi dan terdiskriminasi dalam berbagai aspek kehidupan.” Selain itu, secara jumlah (kuantitas) oleh Jim Elmslie tahun 2011 dari The University of Sydney memprediksikan bahwa di tahun 2020 “Orang Asli Papua (OAP) hanya akan ada 29, 2 persen dan pendatang 70,8 persen, jika mobilisasi orang luar datang ke Papua dan Pelanggaran HAM terus ada seperti yang terjadi selama ini sejak tahun 1971 hingga 2011.”        

Akhirnya, jika kita tidak mau senasip seperti yang dialami oleh Warga Pribumi Australia (Aborigin), Amerika (Indian), maka ini saatnya untuk berpikir secara bijaksana. Kebijaksanaan tersebut harus terlihat dalam melakukan perlindungan keberpihakan pada eksistensi Tanah dan Masyarakat Adat Papua. Hal ini manjadi tugas dan tanggung jawab semua pihak. Tanpa ada yang terkecuali. Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Dan, kalau bukan oleh kita, siapa lagi?

#SAVE PEOPLE & LAND OF PAPUA!   

*Penulis adalah Mahasiswa Pasca Sarjana Asli Tanah Papua yang sedang Kuliah pada Jurusan Master of Education di The University of Adelaide Australia Selatan.

Berikan Komentar Anda