BALIK ATAS
Mentawai Surga Dunia Pariwisata Sumbar Yang Terabaikan
PEWARTA: Redaksi PAPUALIVES.COM 16th Desember 2014
| 1196 DIBACA

Kepulauan Mentawa Sumatra Barat      Foto : IST

PAPUALIVES.COM – Musibah gempa dan tsunami di
Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat terjadi pada Senin sekitar pukul
21.42 WIB berkekuatan 7,2 Skala Richter (SR) dengan guncangan selama 10
menit dirasakan warga kota Padang, meskipun gempa berpusat di Kabupaten
Mentawai. Menurut
Data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
(BMKG) mencatat gempa terjadi di 3,61 Lintang Selatan dan 99.93 Bujur
Timur.

Pusat gempa tersebut berada pada 78 kilometer (km)
barat Kecamatan Pagai Selatan, Kabupaten Mentawai Sumatera Barat, dengan
kedalaman 10 km. Gempa ini menyebabkan tsunami di kawasan Mentawai.
Tinggi gelombang mencapai 3 meter yang menyapu kawasan di pinggir
pantai. Dan juga menurut data diungkapkan Kepala Badan Provinsi
Penanggulangan Bencana Daerah (BPPD) Provinsi Sumbar, Harmensyah,
(Minggu, 7/11/2010) jumlah korban meninggal dunia dalam bencana tsunami
di Mentawai mencapai 428 orang.
Sementara warga masyarakat
yang masih dinyatakan hilang berjumlah 60 orang. Sementara itu
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menaksir kerugian akibat gempa
dan tsunami di Kabupaten Kepulauan Mentawai Sumatera Barat, di empat
kecamatan, mencapai Rp46,36 miliar.
Kepala Pusat Data
Statistik dan Informasi Kementerian Kelautan dan Perikanan Soe’an H
Poernomo mengatakan, data dikumpulkan di empat kecamatan, yaitu
Kecamatan Sipora, Pagai Utara, Sikakap dan Pagai Selatan. Titik-titik
yang terkena dampak bencana umumnya adalah desa nelayan. Pelabuhan
Perikanan Pantai (PPP) Sikakap juga mengalami kerusakan relatif parah,
karena terendam air dengan ketinggian 1,5 meter.
Namun,
saat ini, PPP masih dapat berfungsi sebagai dermaga pendukung dan area
stocking place bantuan dari Padang. Gempa Mentawai sebenarnya tidak
banyak menelan korban jika gempa tersebut cepat dan bisa terprediksi.
Hal ini terjadi karena alat pendeteksi tsunami tidak berfungsi dengan
baik, sehingga masyarakat tidak bisa menyelamatkan diri. Apalagi hasil
penelitian National Geograpic, menyebutkan Padang dan sekitarnya adalah
daerah yang paling rentan diguncang tsunami.
Dari seluruh
daerah yang ada di dunia setelah dilakukan penelitian menurut Direktur
Pengurangan Resiko Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)
Jakarta, Sutopo Purwonugroho, daerah Padang adalah daerah yang tertinggi
resikonya terjadi bencana tsunami. Jadi daerah sekitarnya juga
berpotensi terjadi tsunami.
Kepulauan Mentawai
Kepulauan
Mentawai merupakan sebuah Kabupaten di Propinsi Sumatera Barat.
Mentawai berada pada jarak 150 km di lepas pantai Pulau Sumatera.
Kabupaten seluas 601 km² ini didiami oleh 64.235 jiwa yang sebagian
besar adalah masyarakat asli. Kepulauan Mentawai terdiri dari 213 pulau
dengan 4 pulau utama yaitu Siberut, Sipora, Pagai Utara dan Pagai
Selatan. Beribukota di Tua pejat, Kabupaten Mentawai terbagi menjadi 4
kecamatan dan 40 desa.
Hingga saat ini, sebagian besar
wilayah daratan Kepulaun Mentawai masih berupa hutan. Karena telah
melalui sejarah geologis yang panjang. Mentawai memiliki beberapa
spesies endemik yang dilindungi. Tercatat ada duapuluh spesies endemik
yang hidup di kepulauan ini.
Empat diantaranya adalah
primata, yaitu Simakobu atau monyet ekor babi (Simias concolor), Bilou
atau siamang kerdil (Hylobates klossii), Joja atau lutung Mentawai
(Presbytis potenziani), Bokkoi atau beruk Mentawai (Macaca siberut).
Posisi geografis Kepulauan Mentawai di lepas pantai Sumatera Barat
memberi keuntungan tersendiri bagi pengembangan wisata olahraga ekstrem.
Letaknya yang langsung Menghadap Samudera Hindia menganugerahi
Kepulauan Mentawai ombak yang konsisten sepanjang tahun.
Waktu
antara April-Agustus yang bertepatan dengan libur musim panas di Eropa
adalah waktu yang paling baik untuk berselancar. Pada musim tersebut,
ombak Mentawai bisa mencapai tinggi enam meter dan hal ini merupakan
yang paling dicari oleh para peselancar air. Kepulauan Mentawai tercatat
memiliki 400 titik selancar yang sering dijadikan lokasi berselancar
oleh para surfer.
Dari 400 titik selancar, 23 titik
diantaranya memiliki ombak berskala internasional. Daerah tersebut
tersebar antara lain di daerah Nyang-Nyang, Karang Bajat, Karoniki,
Pananggelat dan Mainuk (Pulau Siberut), Katiet Basua (Pulau Sipoira) dan
Pagai Utara (Pulau Sikakap). Pengakuan yang diberikan oleh dunia
internasional pada ombak mentawai bisa dilihat dari even selancar yang
diadakan di kepulauan ini. Tiap tahun, Mentawai ditunjuk sebagai
penyelenggara World Champions Surfing Series atau Seri Kejuaraan Dunia
Selancar Air yang dijadwalkan tiap bulan Agustus.
Dengan
adanya kejuaraan ini, Mentawai bisa menjaring 3000 wisatawan asing pada
2007. Sebanyak 60% dari wisatawan yang datang berasal dari Australia,
39% dari Amerika Serikat, dan sisanya dari Eropa, dan Asia. Wisatawan
rata-rata menghabiskan US$ 2.500 selama berselancar di Mentawai. Untuk
menjamin kenyamanan dan keamanan para peselancar, pengelola dan
pemerintah daerah mengadakan beberapa fasilitas penunjang.
Fasilitas
penunjang yang paling signifikan adalah ditetapkannya 60 spot ombak
eksklusif yang tersebar di berbagai sudut pulau. Spot ombak eksklusif
adalah tempat selancar yang dibatasi pemakainya maksimal 10 orang. Hal
ini untuk menghindari kecelakaan yang mungkin terjadi ketika peselancar
bertabrakan sewaktu beraksi.
Selain menetapkan spot ombak
eksklusif, pengelola juga mendirikan resor-resor pantai dan berbagai
fasilitas pendukung lain untuk mejamin kenyamanan wisatawan. Diantara
resor yang ada di Kepulauan Mentawai, terdapat nama-nama antara lain
Makaroni di Pulau Silabu, Kandui di Pulau Nyang Nyang, Saraina Kota
Mentawai, serta Alloyta di Pulau Simakakang, dan Surfing Ground di
Katiet.
Selain penginapan bernuansa resort, restoran, bar,
yang didesain khas Mentawai. Saat ini, Mentawai dapat diakses melalui
dua jalur yaitu jalur laut dan udara. Mentawai dapat dicapai dengan
kapal cepat selama 4 jam atau feri antarpulau selama10 jam. Selain itu
tersedia 46 kapal pesiar mini yang bisa disewa selama berada di
Mentawai. Setelah sempat ditutup pada Maret 1999, penerbangan rute
Padang-Mentawai kembali dibuka pada tahun 2007. Penerbangan Bandara
Minangkabau-Bandara Rokot yang menempuh waktu 35 menit ini dilayani tiap
Selasa dan Kamis oleh Sabang Merauke Air Charter.
Untuk
melindungi keberadaan berbagai spesies endemik tersebut, setengah bagian
wilayah Mentawai telah ditetapkan sebagai Taman Nasional Siberut.
Keberadaan Taman Nasional dan hutan hujan yang asri di kepulauan ini
secara langsung mendukung berbagai kehidupan di pantai dan laut,
termasuk sektor pariwisata. Selama ini, banyak turis yang datang untuk
menikmati berbagai atraksi di wilayah pantai juga sangat terkesan akan
keaslian dan keasrian hutan Mentawai. Kepulauan Mentawai memiliki garis
pantai sepanjang 758 km.
Penduduk Asli mentawai
Bahasa
yang digunakan oleh orang mentawai adalah bahasa mentawai Pulau-Pulau
besar yang banyak didiami penduduk di Mentawai adalah Pulau Sipora,Pagai
Utara,Pagai selatan dan Siberut. Ibukota Kabupaten Mentawai adalah Tua
Pejat. Luas kabupaten mentawai adalah 6011,35 Kilometer persegi.
Dengan
jumlah penduduk 38.300 orang (tahun 2000). Rumah adat orang mentawai
adalah uma dengan kepala suku nya bergelar Sakerei. Sejarah mentawai.
Mengikuti teori pleistocene glaciation, Kepulauan Mentawai terpisah dari
pulau Sumatera dikarenakan oleh kenaikan permukaan air laut.
Orang
mentawai diperkirakan telah ada disuatu pulau 200 dan 500 SM.
Bermigrasi dari utara melalui Pulau Siberut kemudian bergerak keselatan
menuju Sipora dan Pulau pagai.Austronesia bahasa,adat dan kebiasaan
hidup sangat berbeda dengan Sumatera Barat sebagai propinsi induknya.
Pada awal abad ke 17 orang portugis membuat peta mentawai dengan nama
‘Mintaon’peta tersebut dibuat tahun1606.
Pada Agustus
tahun1792 seorang karyawan British East India Company,John Crisp
mengunjungi Pagai (Poggy) untuk mempelajari orang mentawai. Tulisannya
mengenai mentawai dimuat pada tahun 1799.John crisp adalah orang pertama
yang mengenalkan mentawai pada sastra barat.
Pada tanggal
10 Juli 1864 menjadi bagian dari Hindia Belanda. Orang Mentawai
Pariwisata. Mentawai memiliki banyak pulau-pulau indah dengan ombaknya
yang besar,yang sangat bagus untuk olahraga berselancar. Pariwisata
Mentawai mulai dikenal orang adalah pada pertengahan tahun 1990,yaitu
secara tidak sengaja seorang perselancar dari Australia menemukan ombak
yang bagus untuk berselancar.
Sejak saat itulah Mentawai
ramai dikunjungi oleh turis untuk berselancar.Kabarnya ombak di mentawai
merupakan ombak terbagus ketiga didunia untuk berselancar. Sekarang
orang menjadikan mentawai sebagai daerah tujuan wisata,terutama untuk
berselancar,juga untuk mengetahui lebih dalam kehidupan suku
mentawai,melihat keindahan alam mentawai menyelidiki kehidupan hewan di
mentawai dan lain-lain. Di Mentawai sekarang telah banyak berdiri
resort-resort yang dikelolah oleh orang asing,diantaranya adalah Kandui
resort.
Disamping itu ekonomi masyarakat di mentawai juga
tumbuh dengan menyediakan Home stay pada tempat-tempat wisata. Potensi
Pariwisata Kepulauan Mentawai Sumatera Barat Mendandani Si Cantik nan
Eksotis. Sejumlah tempat tidur busa disimpan di uma atau rumah adat
Mentawai di Butui, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan
Mentawai, Sumatera Barat. Keberadaan barang buatan pabrik itu amat
mencolok dibandingkan dengan isi uma lainnya, seperti tengkorak binatang
dan peralatan memasak yang semuanya dibuat warga Mentawai.
Sementara
Muara Siberut dapat ditempuh dengan naik kapal motor selama 10-12 jam
dari Padang, Sumatera Barat. Kehadiran wisatawan asing ini membuat
Jazali memperoleh pemasukan yang lumayan karena setiap rombongan biasa
memberinya uang sebelum pergi. Selain itu, juga membuatnya mampu sedikit
berbahasa Indonesia, Inggris, dan berhitung. Kehadiran turis asing juga
membuat sejumlah tempat di Mentawai ditumbuhi resor mewah, terutama di
kawasan pantai yang memiliki ombak yang baik untuk selancar. Di
resor-resor itu turis berduit menikmati eksotisme Mentawai yang terdiri
dari 213 pulau sekaligus untuk berselancar. Ombak di kepulauan Mentawai
oleh berbagai organisasi selancar merupakan terbaik ketiga sejagat
setelah Hawaii dan Tahiti.
Di Mentawai, selancar biasanya
dilakukan di Pulau Nyangnyang, Karang Majat, Masilok, Botik, dan Mainuk.
Puncak kunjungan wisatawan ada di bulan Juli dan Agustus. Saat itu
ketinggian ombak di Mentawai mencapai 7 meter. Selain cantik, Mentawai
juga berperan penting bagi konservasi.
Sejak tahun 1981,
Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO)
menetapkan Pulau Siberut di Mentawai sebagai salah satu cagar biosfer
sehingga keberadaannya harus dilindungi dan dijauhkan dari eksploitasi.
Keeksotisan Siberut ditambah adanya empat primata endemik Mentawai,
yaitu simakobu atau monyet ekor babi (Simias concolor), bilou atau
siamang kerdil (Hylobates klosii), joja atau lutung mentawai (Presbytis
potenziani), dan beruk mentawai (Macaca pagensis). Untuk meneliti
kekayaan primata Mentawai ini, Pusat Primata Universitas Gottingen,
Jerman, bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor mendirikan Proyek
Konservasi Siberut.
Berbagai keunggulan yang ada di
Mentawai itu seolah belum mampu membuat negara untuk melihat Mentawai
secara lebih serius. Fasilitas umum seperti kesehatan dan pendidikan di
daerah kaya itu umumnya masih terbengkalai. Aliran listrik dan jalan
amat terbatas. Akibatnya lebih jauh, warga tidak hanya belum memiliki
panduan yang jelas untuk mengelola daerahnya.
Sejumlah
aset di daerah itu juga mulai dikelola orang asing, seperti resor mewah
di sejumlah lokasi selancar. Sistem Kepercayaan Orang Mentawai Sistem
kepercayaan orang Mentawai mayoritas orang Mentawai memeluk agama
Katolik dan sebagian beragama Protestan, Islam atau Bahai.
Walaupun
demikian sebagian besar orang Mentawai tetap memegang teguh religinya
yang asli, ialah Arat Bulungan. Arat berarti “adat” dan bulungan berasal
dari kata bulu (=daun). Dalam religinya, bukan hanya manusia yang
mempunyai jiwa, tetapi juga hewan, tumbuh-tumbuhan, batu, air terjun
sampai pelangi, dan juga kerangka suatu benda. Selain dari jiwa, ada
berbagai macam ruh yang menempati seluruh alam semesta, yakni di laut,
udara, dan hutan belantara.
Menurut keyakinan orang
Mentawai, jiwa manusia atau magere terletak di ubun-ubun kapala. Jiwa
itu suka berpetualang di luar jasmani saat orangnya tidur, yang
merupakan mimpinya. Bila jiwa keluar dari tubuh bisa terjadi bahwa jiwa
itu bertemu dengan ruh jahat. Akibatnya tubuh akan sakit, dan bila jiwa
dalam keadaan itu mencari perlindungan pada ruh nenek-moyang, maka tubuh
mungkin akan meninggal. Jiwa tak akan kembali lagi ke tubuh dan menjadi
ketsat (ruh). Tubuh orang yang telah ditinggalkan magere atau jiwanya
menjadi ketsat atau ruh, atau dengan lain kata, orang tersebut telah
meninggal. Tubuh yang ditinggalkan berwujud daging dan tulang itu
dianggap masih ada jiwanya, yang disebut pitok.
Pitok
inilah yang amat ditakuti oleh manusia, karena substansi itu akan
berupaya mencari tubuh manusia lain, agar bisa tetap berada di dunia
yang fana ini. Untuk menghindarinya pitok ini diusir dari rumah orang
yang meninggal maupun dari uma dengan upacara karena di tempat itu pitok
itu juga bisa bersembunyi mencari mangsanya. Seperti dalam banyak
sistem religi di dunia, religi asli orang Mentawai juga mempunyai masa
nyepi, atau menghentikan aktivitas hidup untuk sementara, yatu masa lia
dan punen yang dianggap suci.
Lia adalah menghentikan
aktivitas hidup dalam rangka keluarga inti, dan biasanya menyangkut
masa-masa yang penting sepanjang hidup, seperti membangun lalep, atau
rumah tangga inti, kelahiran, perkawinan, masa ada anggota keluarga
sakit, kematian, dan membuat perahu. Punen adalah nyepi dalam rangka
masyarakat dewa sebagai keseluruhan dan biasanya menyangkut masa sebelum
dan sesudah membangun uma, kecelakaan, saat berjangkitnya wabah
penyakit menular, dan pada waktu terjadi kecelakaan atau karena
pembunuhan, yang mengakibatkan banyak orang mati.
Apabila
anggota suatu keluarga menjalankan lia atau punen, mereka tak boleh
bekerja. Bahkan seperti telah tersebut di atas, kalau pada masa lia atau
punen terjadi kematian, jenazah tak boleh diurus dulu tetapi dibiarkan
saja dan hanya ditutup daun. Walaupun semua aktivitas berhenti, untuk
waktu yang lama kadang-kadang sampai berminggu-minggu, orang
diperbolehkan makan dan minum seperti biasa. Karena itu lia dan punen
itu tidak merupakan puasa.
Punen yang berlangsung lama
adalah punen untuk pengukuhan rimata dan sikere, yaitu pemimpin dan
dukun. Upacara yang menyertai punen bisa berlangsung sekitar dua bulan.
Erat kaitannya dengan konsep lia dan punen adalah konsep pantangan atau
keikei, yaitu melanggar pantangan.
Terutama dalam
masa-masa yang suci (atau dalam rangka upacara-upacara yang suci) dan
pelanggarannya akan dihukum dengan hukuman gaib. Hukuman gaib itu harus
dihilangkan dengan denda-adat atau tulon tersebut di atas. Untuk
menempatkan benda-benda baru ke dalam uma, harus diadakan upacara
terlebih dahulu, dan benda baru tersebut harus diletakkan di samping
benda yang lama.
Tujuannya adalah agar supaya bajou dari
benda yang lama tidak marah dan agar “mereka” dapat berkenalan. Tanpa
upacara akan terjadi sesuatu di dalam uma yang bersangkutan. Begitu juga
dengan kedatangan orang dari kelompok kerabat lain ke dalam uma,
seperti misalnya dalam perkawinan, disertai upacara yang gunanya untuk
menetralisir pengaruh bajou.
Bajou dapat membawa penyakit
panas dan demam, karena itu benda-benda yang ada di dalam uma harus
diperciki air yang bermantera. Benda-benda perantara antara dunia gaib
dan nyata serupa dengan di semua sistem kepercayaan atau religi lokal di
dunia, arat sabulungan orang Mentawai juga mengenal ilmu gaib yang
berdasarkan dua keyakinan, ialah keyakinan akan adanya hubungan gaib
antara hal-hal yang walaupun berbeda fungsinya, mirip wujud, warna,
sebutan atau bunyinya.
Keyakinan akan adanya kekuatan gaib
yang sakti tetapi tak berkemauan atau bajou dalam alam sekitar manusia.
Baik segala macam ilmu gaib produktif yang merupakan bagian dari
upacara kesuburan tanah misalnya, atau ilmu gaib protektif yang juga
sangat penting dalam ilmu obat-obatan dan penyembuhan penyakit secara
tradisional, maupun segala macam ilmu gaib destruktif yang antara lain
dipergunakan dalam ilmu sihir dan guna-guna.
Semuanya bisa
dikembalikan kepada kedua keyakinan tersebut di atas. Ilmu gaib
produktif dan protektif yang biasanya merupakan ilmu gaib putih atau
baik, dilakukan oleh sikerei, sedang ilmu gaib destruktif yang biasanya
merupakan ilmu gaib hitam atau jahat dilakukan oleh pananae. Seperti
juga dalam banyak sistem kepercayaan dan religi lokal di dunia, kekuatan
sakti yang tak berkemauan (bajou), dalam sistem kepercayaan orang
Mentawai juga dianggap beradal dalam segala hal yang luar biasa dan
dalam benda-benda keramat, serta dalam uma (sebagai rumah umum yang
keramat).
Benda-benda itu, yang seperti telah tersebut di
atas adalah amat simagere, batu kerebau buluat, orat simagere, dan
tudukut, serta dapat ditambah lagi dengan sejumlah daun-daunan dan
akar-akar kering dari tumbuh-tumbuhan berkhasiat yang disebut bakkat
katsaila, berfungsi sebagai jimat (tae) penolak bahaya gaib atau sebagai
benda untuk mengundang ruh yang baik.
Tato milik
masyarakat Mentawai merupakan tato tertua di dunia. Saat ini, keberadaan
tato semakin terhapus karena tidak banyak lagi masyarakat Mentawai yang
menato tubuh mereka. Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai
menjanjikan akan terus mengembangkan segala potensi wisata yang ada di
Mentawai, khususnya masalah wisata bahari dan keindahan alam Mentawai.
Sebagian besar pulau-pulau yang ada di Mentawai masih belum
dimaksimalkan pemanfaatan potensinya.
Dilema Wisata Mentawai
Akibat
banyaknya resort yang beroperasi tanpa izin di Mentawai, Pemkab rugi
ratusan juta rupiah per tahun, wisata Mentawai pun tak bangkit-bangkit.
Mengibaratkan Mentawai yang kaya namun kekayaan itu tak mensejaterakan
masyarakatnya karena semua yang ada itu tidak terkelola dengan baik.
Terjadinya persoalan tersebut karena tidak adanya keseriusan pemerintah
dalam mengelola wisata Mentawai. Meski banyak pengakuan bahwa sektor
pariwisata Mentawai sangat potensial menghasilkan banyak pemasukan bagi
PAD Mentawai.
Namun realitanya pariwisata tersebut tak
menyumbang banyak perubahan. Uangnya hilang tak tentu arah. Perusahaan
Pariwisata telah diberikan Izin oleh Pemda Mentawai untuk membangun
resort dan melaksanakan bisnis pariwisata sejak tahun 2003. Berbicara
dalam hal pariwisata, Sumbar perlu banyak belajar dari Malayasia.
Negara
Jiran tersebut bisa menata dan membangun sebuah daerah dan kawasan
dengan pemasukan income terbesar dari dunia pariwisata. Tak heran jika
Industri pelancongan merupakan penyumbang pendapatan asing kedua
terbesar di Malaysia. Peningkatan jumlah acara-acara persidangan dan
pameran internasional merupakan angka pemasukan pelancong terbesar.
Dari
sisi penginapan hotel, pasaran, pelancong Asean sangat memberi andil
besar terhadap pemasukan PAD mereka. Momentum sektor kecil perdagangan,
hotel dan restoran, juga terus berkembang disana. Termasuk juga dari
segi lain, tempat-tempat usaha meliputi komunitas, sosial, individu, dan
sewa dari flet atau apartement mampu meningkatkan pemasukan. Usaha
dalam mempromosikan pelancongan di Malaysia dilakukan dari semua sector,
baik kesehatan, pendidikan, visa pelancong, penyerapan tenaga kerja.
Sebagai langkah untuk menarik pelancong domestik, usaha dilakukan
membangkitkan semangat melancong bagi masyarakat Malaysia sendiri.
PENUTUP
Sejak
dulu hingga sekarang, sektor kepariwisataan di Kabupaten Kepulauan
Mentawai dikenal luas oleh masyarakat Nusantara dan dunia Internasional.
Mentawai memiliki sejuta pesona akan potensi kepariwisataan itu, baik
wisata bahari maupun wisata alam, wisata seni, budaya, serta wisata
sejarah, sehingga tidak heran jika Mentawai dijuluki sebagai surga
dunia. Memajukan Pariwisata Sumbar, jangan sampai melupakan potensi
besar pariwisata yang ada di Kabupaten Kepulauan Mentawai.
Pemda
Sumbar mesti menggerakkan investor untuk mau berinvestasi di sana,
karena potensinya sangat besar, baik pantai maupun ombaknya. Pemerintah
harus memasukkan pengembangan pariwisata Mentawai ke dalam program
nasional. Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata dan kementerian terkait
harus terlibat dalam pengembangannya. Tidak cukup hanya ditangani Sumbar
saja. Harus ada yang mengatur dan mengkoordinir semuanya. Sejumlah desa
di Kabupaten Kepulauan Mentawai akan diproyeksikan sebagai lokasi
wisata budaya. Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olah
Raga Mentawai Desti Seminora pernah mengatakan, desa-desa tersebut di
antaranya adalah Desa Madobag, Desa Tuapejat, dan Desa Bosua.
Desti
mengatakan, proyek desa wisata itu akan diwujudkan pada 2011. Namun, ia
belum bisa menjelaskan total anggaran yang bakal dikucurkan untuk
pembangunan desa-desa tersebut hingga menjadi lokasi wisata.
Pengembangan desa-desa wisata itu dilakukan sebagai bagian dari upaya
membangun industri pariwisata di Kabupaten Kepulauan Mentawai. Yang
perlu diperhatikan dari rencana tersebut ialah jaminan soal kebudayaan
lokal untuk tidak tergerus begitu saja oleh watak industri pariwisata.
Salah satu hal terpenting yang patut diperhatikan ialah keberadaan uma
atau rumah besar tempat tinggal masyarakat Mentawai secara berkelompok
yang kini semakin berkurang.
Keberadaan uma di pulau-pulau
selain Siberut dalam gugusan Kepulauan Mentawai kini sudah nyaris
mustahil ditemukan sebagai akibat dari kebijakan relokasi penduduk
pedalaman oleh pemrintah, makin mahal dan sulitnya mendapatkan bahan
baku kayu, serta cenderung tidak adanya intervensi pemerintah untuk
menyelamatkan aset kebudayaan tersebut. Kita perlu belajar banyak dari
Negara Jepang, dimana negeri yang rawan bencana ini mampu dan siap dalam
berbagai hal dalam menghadapi musibah gempa. Mereka banyak belajar dan
mengambil hikmah dari musibah gempa tersebut. Berbagai tokoh dan pakar
mereka lahirkan, bagaimana bias mengambil solusi dalam menghadapi
musibah gempa.
Bahkan, pemerintah Jepang dalam hal
sosialisasi masalah gempa ke tengah-tengah masyarakat sangat cepat.
Sehingga pemerintah dan masyarakatnya bisa bekerja bersama-sama dalam
menanggulangi masalah gempa. Bukan berarti kita tidak mampu berbuat
apa-apa menghadapi masalah musibah gempa dan tsunami ini. Pemerintah
kita hanya bisa mengambil jalan pintas dengan memutuskan sebuah
kebijakan. Ketika terjadi musibah baru para penguasa kasak-kusuk dalam
menanggulangi musibah tersebut. Bahkan, mereka saling salah menyalahkan
antara satu dengan lainnya.
Para pembuat kebijakan di
negeri ini tidak seperti di negara Jepang. Kebanyakan para pemegang
kebijakan kita tidak punya visi yang dapat membawa masyarakat selamat
ketika bencana datang silih berganti menghantam bumi pertiwi. Pemimpin
di negeri ini tidak mampu membangun budaya sadar bencana agar risiko
terburuk dapat dikurangi secara berkelanjutan. Cenderung mengutuk takdir
dan menyalahkan masyarakat terkena bencana.
Sumber : Facebook.COM
Berikan Komentar Anda
PASANG IKLAN PAPUALIVES.COM