Balik Atas
Miskin Dalam Harta Kaya Dalam Memberi
 
Pewarta: Redaksi Edisi 10/07/2014
| 1007 Views
Foto : Ilustrasi Memberi / ist
(2 KORINTUS 8:1-5) Memberi adalah sebuah karakter yang baik dan terpuji. Dalam kehidupan
sosial, kita mengagumi orang-orang yang dermawan dan dermawati. Kita
merasa senang melihat orang-orang demikian.Sesungguhnya kita
senang bukan karena materi atau benda yang diberikan sesbagai bentuk
bantuannya, tetapi lebih kepada hati yang dermawan. Dengan kata lain,
sebuah pemberian akan sangat terpuji dan mulia adanya bila pemberian itu
lahir dari hati yang rela dan senang untuk berbagi. Akan salah bila
sebuah pemberian atau bantuan kepada sesama kita tidak datang dari rela
hati atau sukacita. Yohanes 3:16 jelas berkata: “Karena begitu
besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya
tunggal, supaya setiap orang yang

percaya kepada-Nya tidak binasa
melainkan beroleh hidup yang kekal.”. Allah memberikan Putra
Tunggal-Nya dengan rela hati karena kasih-Nya bukan karena paksaan.
Dengan demikian, maka tidak ada alasan lagi bagi kita untuk memberi atau
berbagi sesuatu kepada sesama kita dengan terpaksa.
Firman Tuhan dalam Roma 15:16 berkata:“yaitu bahwa aku boleh menjadi pelayan Kristus Yesus bagi bangsa-bangsa
bukan Yahudi dalam pelayanan pemberitaan Injil Allah, supaya
bangsa-bangsa bukan Yahudi dapat diterima oleh Allah sebagai persembahan
yang berkenan kepada-Nya, yang disucikan oleh Roh Kudus.”Paulus memandang persembahan yang pertama-tama kepada Allah bukanlah
harta benda melainkan persembahan bangsa-bangsa atau diri manusia itu
sendiri. Persembahan diri ini bisa dilakukan“Karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. (Filpi 2:13).”Paulus jumpai kebenaran ini dalam pengalaman pelayanannya di tengah-tengah jemaat Korintus:“selagi dicobai dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap
meskipun mereka sangat miskin namun mereka kaya dalam kemurahan. Aku
bersaksi bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan
melampaui kemampuan mereka. Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan
mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk
mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus. Mereka
memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan
diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak
Allah juga kepada kami (2 Kor. 8:2-5).”Dengan kata lain bahwa
pemberian kepada sesama hendaknya dibangun dari kesadaran bahwa Allahlah
yang mengerjakan tindakan tersebut dalam kemauan kita sehingga ketika
kita memberikan bantuan, persembahan atau tanda kasih kita kepada sesama
kita hendaknya keluar dari kerelaan hati bukan karena terpaksa. Pemberian atau persembahan demikanlah yang benar dan sesuai dengan ajaran kitab suci kita. Kiranya di tahun 2013 ini kita dapat mengukir prestasi yang gemilang
dalam hal memberi dengan relah hati, jangan dengan sedih hati atau
karena paksaan. Semoga Allah sumber pengharapan melimpahkan rahmat dan
karunia-Nya kepada kita. Berilah dengan relah hati jangan karena terpaksa
Pnt. Alfred Monim. M.Th
Berikan Komentar Anda