BALIK ATAS
Modernisasi Pendidikan di Papua
PENERBIT:PPWI MEDIA Redaksi PAPUALIVES.COM 12th Januari 2019
| 502 DIBACA
Maksimus Sirmbu Syufi (Foto:Dok Pribadi)

Oleh Maksimus Sirmbu Syufi

Dalam sebuah interaksi antar sesama manusia papua pada sebuah pergumulan, dibutuhkan sebuah lembaga pengajaran yang bertujuan untuk memanusiakan manusia dalam sikap,perilaku ataupun perbuatan demi tercapainya cita-cita hidup selayaknya seorang manusia.

Pada upaya pengajaran ini, terdapat dua jenis lembaga pengajaran yang diterapkan di papua yaitu pendidikan formal dan non formal.

Pendidikan non formal terlebih dahulu lahir di papua dan telah berhasil memanusiakan manusia papua.Namun karena perkembangan zaman di papua, maka lahirlah pula sebuah lembaga pengajaran yaitu pendidikan formal, yang telah diperkenalkan oleh para Misionaris dan para Sending di tengah-tengah masyarakat papua,lalu diteruskan oleh educator-educator setempat hingga saat ini.

Yang ingin saya soroti atau yang menjadi masalah perbincangan utama pada kesempatan ini adalah metode pengajaran pada lembaga pendidikan formal yang meliputi SD,SMP serta SMA.Perbedaan yang sangat mendasar pada kedua jenis pendidikan ini ialah terletak pada sistem didikannya.Pendidikan non formal menuntut seseorang untuk dapat menguasai materi serta mampu mempraktekkannya.Namun pada pendidikan formal seseorang dituntut untuk mendapatkan nilai 100 pada selembar kertas dibandingkan dengan penguasaan meteri serta prakteknya.

Terjadi sebuah perdebatan yang sangat membara tentang sistem pendidikan yang layak diterapkan di papua pada masa kini dengan berbagai situasi yang dihadapi oleh rakyat papua.Kita diajak untuk dapat meninjau lagi bagaimana proses pengajaran terhadap seorang murid yang terjadi pada pendidikan formal maupun non formal.

Dalam sistem pengajaran pendidikan non formal seperti wuon pada masyarakat Tambrauw, seorang murid hanya dididik selama 6 bulan hingga 1 tahun,murid tersebut dikatakan lulus atau tamat dari pengajaran tersebut apabila ia telah diuji secara langsung berdasarkan ilmu yang diajarkan atau ia dapat menguasai materinya serta dapat mempraktekkannya dengan baik tanpa mengalami kesalahan apapun.Seseorang yang dididik melalui pendidikan non formal akan terlihat kedewasaan diri pada tingkah laku, serta cara hidupnya.Mengapa bangsa Jepang adalah salah satu bangsa di Asia yang maju ? karena selain mereka belajar pada pendidikan formal,mereka juga dapat menimba ilmu dari luar pendidikan formal.

Dalam pendidikan formal yang meliputi (6 tahun SD),(3 tahun SMP) serta (3 tahun SMA) ,seseorang dapat dididik melalui beberapa tahapan dengan berbagai materi yang diajarkan pengajar kepada murid.Tahapan-tahapan ini berhasil dilewati oleh seorang murid berdasarkan satuan nilai yang didapatkan pada selembar kertas tanpa memandang penguasaan seorang murid pada materi maupun praktikumnya.Artinya nilailah yang menjadi pokok persoalan dalam pendidikan dibandingkan dengan materi dan pengalaman yang didapatkan.

Mengapa pendidikan formal menjadi pokok perbincangan pada kesempatan ini ?

Pada pendidikan formal(SD,SMP & SMA) seseorang dikatakan sukses karena nilai,seseorang dikatakan lolos dalam beberapa tahapan pendidikan karena nilai,pendidikan formal mengukur kesuksesan seseorang berdasarkan nilai dibandingkan dengan penguasaan ilmu.Artinya seseorang yang mendapatkan nilai 100 pada lembaran kertas akan dikatakan sukses meskipun ia tidak dapat menguasai ilmunya.Yang pada akhirnya seseorang tersebut akan menjadi kewolahan pada saat ia bekerja di sebuah pekerjaan karena dasar pendidikan formal adalah diukur berdasarkan nilai.

Jika kita pelajari lebih mendalam lagi sebenarnya apa sih! Fungsi nilai itu ? akan terlintas di pikiran kita bahwa sebenarnya yang terpenting adalah penguasaan ilmu bukan nilai. Karena pada suatu pekerjaan kita akan bekerja berdasarkan ilmu yang kita ketahui, bukan berdasarkan nilai yang terkandung dalam lembaran kertas.Nilai hanya menjadi sebuah keberuntungan yang didapatkan oleh siswa,nilai bukan menjadi ukuran kesuksesan, yang menjadi ukuran kesuksesan adalah penguasaan materi atau ilmu.Seorang Pepatah Latin mengatakan “Non scholae sed vitae discimus est” (Saya belajar bukan untuk sekolah tetapi untuk hidup).

Selama kurang-lebih 50 tahun pendidikan formal hadir dan menyentuh langsung dengan masyarakat di papua.Dengan seiring tahapan-tahapan waktu yang begitu lama, pendidikan formal pun berlaku di papua hingga saat ini.Dalam proses pengajaran kepada siswa aturan pendidikan formal yang berbau nilai pun sudah tercium oleh khalayak hingga detik ini.

Dengan melihat seluruh latar belakang masyarakat papua serta realitas yang dihadapi rakyat papua saat ini, apakah aturan pandidikan formal yang berlaku pantas untuk tetap diberlakukan?.

Sejak awal pendidikan formal menyentuh rakyat papua hingga saat ini,pendidikan formal tidak dapat menjawab SDM papua,tidak dapat menjawab kesejahteraan papua serta tidak dapat menjawab keluh-kesah,ratap-tangis rakyat papua. Karena sistem pendidikan formal yang berbau nilai tidak sesuai atau tidak menyatu dengan kebisaan rakyat papua serta latar belakang rakyat papua.

Sebelum rakyat papua tersentuh oleh pendidikan formal telah terdapat pendidikan non formal yang lahir bersama rakyat papua.Pendidikan non formal mampu memberikan kemakmuran bagi rakyat papua,mampu memberikan atitude yang baik kepada rakyat papua serta mampu menanamkan humanitas kepada rakyat papua.Karena sistem yang dipakai oleh pendidikan non formal adalah penguasaan materi tanpa memandang nilai sebagai pertimbangannya.

Jika ditinjau lagi pada proses pengajaran pada pendidikan formal dan non formal,masyarakat papua lebih memahami dan menyerap sistem pengajaran pada pendikan non formal dibandingkan dengan pendidikan formal.Hal ini dipengaruhi oleh sistem atau metode yang diterapkan pada kedua jenis pendidikan tersebut.

Hal lain! berdasarkan pengamatan atau kenyataan yang kita jumpai pada kehidupan atau interaksi masyarakat papua,mereka dikenal sebagai orang-orang yang memiliki rasa solidaritas atau memiliki hubungan interaksi yang baik antar sesama tanpa membedakan suku,ras,agama dll.Hal tersebut dikarenakan sistem pendidikan yang diterapkan di papua adalah pendidikan non formal sebelum tersentuh oleh pendidikan formal.

Lalu kini terjadi perubahan perilaku atau sikap masyarakat papua yang begitu pesat.Lahirlah pandangan fanatisme atau etnosentrisme di tengah-tengah rakyat papua yang akan menyebabkan perbedaan pandangan,perang antar sesama karena kecemburuan sosial,serta hal lain yang akan menyebabkan disintegrasi terhadap rakyat papua.Sehingga saat ini jika kita membahas tentang masalah persatuan serta perdamaian rakyat papua,menjadi sebuah masalah publik yang dihadapi bersama.

Menurut saya hal ini mulai terlihat atau mulai kelihatan pada masyarakat papua sejak lahirnya pendidikan formal di papua dikarenakan metode atau sistem pengajaran yang salah,yang tidak sesuai atau bertentangan dengan latar belakang kehidupan masyarakat Papua.

Pendidikan formal secara perlahan mengubah atitude masyarakat papua,sehingga dengan tidak sadar bahwa manusia papua mulai bergeser,saling membedakan,saling mengasinkan antara satu dengan yang lain.

Saran penulis! Saya secara sadar memprotes atau mengkritisi metode pendidikan yang diterapkan pada pendidikan formal.Kita musti mengambil metode pengajaran pada pendidikan non formal untuk diterapkan pada pendidikan formal, artinya penguasaan materi yang diutamakan bukan nilai yang terdapat dalam selembar kertas.Saya yakin metode pendidikan ini akan melahirkan persatuan serta perdamaian di tengah-tengah rakyat papua serta menjawab mutu Sumber Daya Manusia(SDM) dan segala keluh-kesah,ratap-tangis rakyat papua di berbagai bidang segera terobati.

*Penulis Adalah Seorang Pelajar SMA Katolik Villanova Manokwari dan juga menjabat sebagai Ketua angkatan 07 SMAKVIL.

Berikan Komentar Anda
PASANG IKLAN PAPUALIVES.COM