Scroll to Top
Museum
Posted by Redaksi on 16th September 2018
| 186 views
Thimas CH Syufi (Dok.Pribadi)

Oleh Thomas Ch Syufi*)

Dua pekan lalu, Minggu(2/9/2018) dunia dikejutkan dengan berita mengenaskan sekaligus juga menyedihkan, yakni MuseumNasional bersejarah berusia 200 tahunBrasil di kota Rio Jeneiro dilalap api. Namun, peristiwa ini tidak hanya menyedihkan warga Brasil, tapi juga sekaligus memberikan pelajaran berharga untuk dunia termasuk Indonesia, terlebih Papuadi masa depan untuk lebih intensif merawat dan melindungi museum atau situs-situs bersejarah sebagai salah satu kekayaan terluhur orangPapua.

Saya pun terkaget danhampirmeneteskan air mata ketika membaca berita tersebut. Meski kejadiannya di negara lain, Brasil, Amerika Latin, tetapi bagi saya hal tersebut menjadi pukulan untuk kita semua sebagai generasi baru di jagad ini.“Museum dan universitas memiliki nilai yang sama penting, yang bisa melahirkan beradaban manusia,” begitu piker saya dalam hati.
Sebagaimana diberitakan bahwa museum tersebut sebagai rumah bagi koleksi dari berbagai dunia termasuk artefak Mesir dan fosil manusia tertua yang ditemukan di Brasil.
Peristiwa bersejarah yang meluluhlantakan museum bersejarah tersebuat telahmembawa kerugian yang sangat besar bagi masyarakat Brasil, kawasan Amerika Latin, termasuk penduduk dunia. Museum yang terletak di Rio utara tersebut menyimpan lebih dari 20 situs bersejarah(mulai dari temuanarkeologi hingga memorabilia bersejarah).
Bagi masyarakat Brasil, museum tersebut merupakaninstitusi saintific tertua sekaligus merupakan salah satu museum terbesar sejarah alam di benua Amerika.
Pemerintah Brasil pun terut bersedih dan kesal atas kejadian yang belum tahu penyebab dan masih dalam proses penyelidikan ini. “Hari yang menyedihkan bagi semua orang Brasil. Nilai bersejarah kita tidak dapat diukur oleh kerusakan pada bangunan,” kata Presiden Brasil Michel Temer.

Memang, kekuatan sebuah bangsa terletak pada nilai-nilai terutama bukti-bukti sejarah yang terkandung di dalamnya. “Satu gambar lebih efektif ketimbang seribukata-kata,” begitu kata pepatah Latin kuno.
Karena sejarahlah yang menjadi refernesi sekaligus radar bagi perjalanan sebuah bangsa. Sejarah itu mengajarkan, historia docet, tetapi juga sejarah itu mengajarkan,historia magistra vitae.
Bila sebuah bangsa berjalan tanpa landasan historis, ibarat sebuah penerbangan tanpa radar. Keambrukan dan kahancuran telah ada di depan mata. Bangsa yang tak memiliki landasan sejarah yang kuat sangatrentan dan mudah sekali dirongrong oleh bangsa lain. Pada hakikatnya, sejarah adalah identitas dan jati diri dari suatu bangsa.
Karena itu, museum sebagai wadah yang menghimpun dan mengoleksi benda-benda bersejarah wajib dijaga dan dirawat. Museum menjadi media yang menyimpan warisan budaya masa lalu kita, sementara universitas tempat menampung para generasi masa depan.
Papua
Kejadian di Brasil sebenarnya memberikan pelajaran berharga bagi kita diIndonesia, khususnya di Tanah Papua. Di mana, kerap kalikita melihat museum sebagai hal yang tidak begitu penting.Beberapa tempat bersejarah yang kini telah dirusak atau disulap untukdidirikan bangunan perkantoran pemerintah atau swasta atas nama pembangunan nasional.
Misalnya,Gedung Nieuw Guinea Raad(Kantor Parlemen Papua Barat) di depan Taman Imbi, Jayapura yang telah dirubah jadi kantorDewan Kesenian Provinsi Papua. Dan, gedung Penentuan Pendapat Rakyat(Pepera) 1969 didepan kantor DPRD Papua Barat,Manokwari yangtelah dibongkar dan dibangun kantor gubernur(sementara) Papua Barat(kini kantor MRPB).
Padahal, entitas dan nilai historis bangunan dari kedua kantor ini sangat penting bagi masyarakat Papua dan pemerintah Indonesia ke depan. Karena itu merupakan tempat bersejarah yang menyimpan berbagai berbagai cerita, gambar,dansitus-situs bersejah penting, termasuk sebagai tempat pelaksanaan peristiwan-peristiwa politik penting yang kini jadi perdebatan sejarah antara orang Papua dan pemerintah Indonesia.

Menghilangkan bukti-bukti sejarah sama saja ikut memperumit dan memperpanjang masalah bagi generasi masa depan. Waktu dan energi akan habisterkuras untuk berdebat dengan logika kosong soal sejarah masa lalu yang centang-perenang. Menghilangkan atau mendistorsi faktamasa lalu bukan solusi bijak untuk mengakhiri dikotomi atau silang pendapat antarkedua belah pihak yang berkonflik. Akan tetapi,justru itu menimbulkan bisul-bisul persolan baru yang akan meletus di mana-man dan sulit dibendung.
Sejarah tetaplah sejarah. Dalam sejarah terkandung nilai kebenaran.Dan dalam kebenaranitubersemikekayaan terluhur manusia, yaitukehidupan.Karena itu,sejarah dan kebenaran tak bisa dibohongi, apalagi direkayasa untuk tujuan-tujuan pragamatis dan merusak nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan. Kebenaran itu tetap akan datang walapun itu di ujung jalan( atautibanya terlambat). Sebab, “Tak ada batasan waktu untuk mencari kebenaran,” kata bekasPresiden Italia George Napolitano(93).

Peran pemerintah(eksekutif dan legislatif ) dan lembaga-lembaga independen seperti perguruan tinggi sangat penting untuk menjaga museum-museum bersejarah di Tanah Papua. Misalnya, dibuat sebuah regulasi daerah yang melindungi situs-situs penting dan bersejarah, seperti Museum Antropologi Universitas Cenderawasih, Jayapura, dan MuseumBudaya Papua di Expo, Waena, Jayapura,Papua , dan beberapa situs penting di sejumlah kota di Papua Barat; Manokwari, Sorong, dan lainnya.

Walaupun Museum Nasional Brasil terbakar, Gedung Parlemen Papua Barat(Nieuw Guinea Raad) di Jayapura dan Gedung Pepera 1969di Manokwari dibongkar, tapi tak bisa menghilangkan kebenaran sejarah yang terkandung di dalamnya, terutamamemoria passionis, ingatan kolektif penderitaan masyarakat Brasil dan rakyatPapua. Sejarah kebenaran ituabadi. Sejarah itu mengajarkan.

Mengutip MataNajwa, “Yang pahit dari masa lalu jangan dilupakan, tetapi masa silam tak boleh menikam masa depan. Karenadaritimurlah matahari selalu terbit lebih dulu.Papua yang maju adalah cerminIndonesia yang benar-benar baru”. Memproteksi sejarah Papua juga adalahbagiandarimembangun beradabanIndonesia!Semoga.
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
*). Penulis adalah Ketua Lembaga Pusat Kajian Isu Strategis(LPKIS) Presidium Hubungan Luar Negeri Pegurus Pusat PMKRI Sanctus Thomas Aquinas Periode 2013-2015 dan Ketua Komunitas untuk Demokrasi Papua(Kudap).

Berikan Komentar Anda