Balik Atas
Nias Barat Dan Paniai Daerah Yang Mudah Diserang Oleh Perubahan Iklim Global
 
Pewarta: Redaksi Edisi 29/11/2014
| 890 Views
Nias Barat Dan Paniai  Daerah Yang Mudah Diserang Oleh Perubahan Iklim Global

Ilustrasi Perubahan iklim  Foto : IST

Sebuah studi yang dilakukan oleh pusat cabang statistik (central statistic  agency / BPS) menunjukan bahwa Nias Barat di Sumatera Utara dan Paniai di Papua adalah daerah-daerah yang mudah terserang perubahan iklim global (PIG).


Penelitian ini dilakukan oleh Tiodora Hadumaon Siagian dari BPS’ Kekwatiran restorasi statistik sosial dan Gouranga Dasvarma dari Asosiasi Profesor dan Direktur Sekolah Lingkungan di Universitas Flinders Adelaide Australia Selatan, Rilis pada hari rabu 26 November 2014, dengan indeks sosial yang mudah diserang perubahan iklim global. Sebuah pemantauan pada sebuah daerah yang mampu manajemeni tenaga eksternal pada kesehatan manusia, seperti bencana alam dan perjangkitan berbagai penyakit.

“Social Vuneralbility Index (SVI), di Nias Barat dan Paniai secara masing-masing memperoleh angka 1,47 dan 1,43. Sementara Denpasar Bali sangat rendah indeks daya penyerangannya dengan nilai ± 1,2.  Tidora menyatakan selama demografik pembangunan berkelanjutan pada pertemuan ilmiah di Universitas Padjajaran Bandung di Jawa Barat.

Daerah – daerah yang skor ± 1,5 adalah sangat dipertimbangkan sebagai daerah yang mudah diserang pada Efek Perubahan Iklim (EPI), sedangkan sementara yang skor kurang dari 1,5 % adalah posisi yang amat penyesuaian dari pengaruh perubahan iklim.

Keadaan ini dikalkulasikan sebagai 4 dasar masalah, yaitu : pendidikan dan tenaga kerja, jenis kelamin dan umur, ukuran keluarga, dan ekonomi serta pertumbuhan penduduk.

Tingkatan jumlah pengangguran  tinggi sekitar 64 dan lebih penduduk alsi, pada pencontohan muncul tingkatan yang mudah diserang di daerah tersebut oleh pengaruh perubahan global. Kata Tidora.

Dia menambahkan bahwa Denpasar mempunyai tarif penyerangan tersebut urutan sangat rendah dibanding dengan dua daerah tadi, sebab itu mempunyai sebuah level yang kurang dan sedikit, pada hal pengunjung banyak dan sebuah tarif buta huruf (Literacy) tinggi. Ekonomi lokal dapat melalui turis dan pelayanan sektor lain serta melalui sumberdaya alam yang ditemukan oleh pengunjung.

“ Saya mengharapakan nilai indeks yang dapat digunakan sebagai sebuah petunjuk kepada pemerintah untuk membuat daerah-daerah dengan yang mudah diserang oleh perubahan iklim tinggi sebagai sebuah pengembangan prioritas, “ kata Dia.

Perlu ditingkatkan kemampuan belajar, bagaimana meningkatnya urbanisasi memiliki jumlah yang sangat besar untuk pemborosan dan pembiaraan pemerintah, pada level emisi. “ Menurut BPS 10 tahun sensus penduduk 22,4 % di Indonesia penduduk yang tinggal di kota-kota pada tahun 1980, 30,9 % pada tahun 1990, 42,4 % di tahun 2000 dan 49,8 % pada tahun 2010”.

“ Tingkatan aktivitas ekonomi pada satu kota dapat menambah pengaruh-pengaruh perubahan iklim di daerah. Jangan direncanakan buat urbanisasi pada sebuah daerah yang mudah diserang bencana alam”. Lanjut Tidora.

Ketua kependudukan nasional dan tenaga kerja (BKKBN) Fasli Jalal, hadir juga pada pertemuan hari rabu 26 november 2014, beliau menyatakan bahwa harapannya melalui pertemuan ini akan mendukung untuk mengubah ide-ide pada isu demografi ini. Dia menambahkan bahwa dengan pertumbuhan sejumlah pengetahuan di publik, lebih baik pemerintah mencermati perkembangan isu demografik dalam perencanaan dan pengembangan selanjutnya.

“ Sebanyak orang dimulai untuk pertimbangan penduduk sebagai masukan isu pentnig. Kita juga mengharapkan bahwa bonus demografik akan menolong dukungan proses perkembangan.” Kata Fasli.

Sebuah prediksi bahwa bonus demografik yang terjadi di indonesia antara 2025 – 2035, bila ada angka penduduk golongan usia produktif akan meluas atau meningkat, makadigabungkan jumlah penduduk secara orang dewasa dan anak – anak.

Catatan :
Keadaan ini dikalkulasikan sebagai 4 dasar masalah, yaitu :
1.    Pendidikan dan tenaga kerja,
2.    Jenis kelamin dan umur,
3.    Ukuran keluarga,
4.    Ekonomi dan pertumbuhan penduduk

By : Indra Budiari ( English Language), Diterjemahkan Oleh : Demianus Nawipa (Mahasiswa Teknik Geologi, Institut Sains dan Teknologi Djananadharma Yogyakarta).
Sumber : http://www.thejakartapost.com
Berikan Komentar Anda