Balik Atas
Noken Warisan Leluhur
 
Pewarta: Redaksi Edisi 01/10/2014
| 3101 Views
Noken Anggrek Paniai    (Foto:dok papualives)
Noken merupakan kerajinan tradisional masyarakat Papua berwujud serupa tas bertali yang cara membawanya dikalungkan leher atau digantungkan pada kepala bagian dahi yang diarahkan ke punggung. Noken, dirajut atau
dianyam dari serat pohon atau daun pandan yang kadangkala juga diwarnai dan diberi perhiasan. Noken dapat dimanfaatkan sebagai tas, pakaian atau pun penutup kepala (topi). Noken berukuran besar bisa dipakai untuk
membawa hasil kebun, hasil laut, kayu, bayi, hewan kecil, belanjaan, dan sebagai “lemari” tempat penyimpanan. Noken berukuran kecil berfungsi untk membawa barang pribadi. Sebagaimana pakaian, noken bisa dipakai
untuk baju, rok atau pakaian adat untuk menyambut tamu.
Sebuah noken dengan tali yang tergantung di bagian kepala ke arah belakang kerap
terlihat berada di punggung perempuan Papua. Namun, noken bukan sekedar tas, melainkan mempunyai makna filosofi dan banyak fungsi penting bagi masyarakat Papua. Semua suku bangsa yang ada di Provinsi Papua dan Papua
Barat memiliki noken sebagai sesuatu yang melekat pada semua aspek kehidupan. Noken menjadi salah satu identitas budaya setiap suku di Tanah Papua dan merupakan benda yang mereka banggakan. Upaya yang dilakukan oleh Pemerintah dan masyarakat Papua untuk memasukkan noken sebagai warisan budaya Takkbenda UNESCO tidaklah mudah. Banyak tahapan, proses dan persyaratan yang harus dipenuhi baik secara teknis maupun
administrasi. Setelah melalui proses panjang dan rumit yang memakan waktu lebih dari 2 tahun, akhirnya noken yang merupakan kerajinan tangan khas masyarakat Papua, pada tanggal 4 Desember 2012 diinskripsi oleh
ONESCO sebagai warisan budaya Takbenda yang memerlukan perlindungan mendesak. Dengan masuknya noken dalam daftar warisan budaya tak benda UNESCO menunjukan bahwa dunia telah mengakui Noken sebagai salah satu
identitas budaya masyarakat Papua yang perlu dijaga kelestariannya, sehingga bisa tetap dipertahankan sebagai warisan budaya takbenda.
MAKNA YANG TERSIRAT DALAM NOKEN
1. Keselarasan Noken Dengan Alam
Kehidupan masyarakat asli Papua tidak dapat dipisahkan dan bergantung pada alam. Sebagaian besar benda yang mereka kenakan berasal dari sumber daya alam. Noken terbuat dari bahan alami yang berasal dari alam
sekitar seperti kulit, serat, dan akar pohon. Pemakaian bahan alami tersebut tentu memiliki maksud tertentu, antara lain karena bahan alami sangat mudah di dapat dan kuat. Akan tetapi, yang terpenting untuk disadari adalah fakta bahwa jika noken rusak dan tidak terpakai lagi, maka bahan alami itu akan kembali menyatu dengan tanah dan tidak
menimbulkan efek negatif seperti ketika menggunakan bahan sintetis. Pemakaian noken untuk berbagai kebutuhan masyarakat Papua adalah bukti keselarasan cara hidup mereka dengan alam yang telah dipraktekkan sejak ratusan tahun lalu.
2. Noken Sebagai Lambang Kesuburan
Filosofi noken sebagai lambang kesuburan ini identik dengan bentuk dan sifat yang elastis yang bisa menyesuaikan dengan bentuk apa pun yang dibawanya layaknya kandungan perempuan yang elastis, yang dapat mengandung janin
kecil hingga tumbuh besar dan siap dilahirkan. Keterampilan membuat noken harus dikuasai oleh seorang gadis sebelum memasuki pernikahan. Dalam budaya Papua, tidak ada jejaka yang bersedia melamar seorang
gadis yang belum mampu membuat noken. Noken menjadi penanda bahwa seorang gadis telah menginjak usia subur dan siap untuk disuntingkan oleh seorang laki-laki. Artinya ketrampilan membuat noken menjadi
persyaratan bagi seorang gadis untuk melewati tahap lanjutan dalam siklus hidupnya.
3. Noken Sebagai Pemersatu Bangsa
Semua orang Papua mengenal noken. Mereka juga bisa mengenali noken dari setiap daerah di Papua yang memiliki kekhasan bentuk maupun bahan. Dari yang polos sampai yang warna-warni, dari yang tanpa hiasan hingga yang diberi assesoris dari bulu burung atau manik-manik. Bahan baku noken juga bermacam-macam sesuai dengan tipologi daerahnya. Masyarakat Papua yang tinggal di daerah pantai memanfaatkan daun pandan laut sebagai bahan
baku dengan cara pengerjaan dianyam, sedangkan masyarakat Papua yang tinggal di daerah pedalaman atau pegunungan mempergunakan bahan kulit kayu, serat kayu atau akar pohon dengan cara dirajut. Meskipun demikian masyarakat Papua memiliki pemahaman yang sama tentang makna dan fungsi noken dan terdaftarnya noken sebagai Intangible Cultural Heritage (ICH) UNESCO dalam daftar yang memerlukan perlindungan mendesak
(Urgent Safeguarding) menjadikan noken sebagai identitas kultural yang mempererat rasa persatuan di seluruh tanah Papua.
4. Noken Sebagai Pandangan Hidup
Noken pasti diisi dengan hal-hal yang baik, ini sejalan dengan masyarakat Papua yang selalu mengisi dirinya dengan hal-hal yang baik pula. Noken menjadi pengingat bagi masyarakat Papua untuk senantiasa menjalin hubungan yang selaras dengan alam dan memberikan yang terbaik untuk sesama. Noken juga melambangkan kemandirian yang dicirikan dengan berbagai benda yang dibawa dalam noken yang dapat dipakai untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari dan juga dimaknai sebagai suatu kesempatan untuk berbagi dengan sesama.
Noken yang lentur dan menyatu dengan tubuh, akan dibawa kemanapun mereka pergi seperti ke kebun, ke pasar, bahkan ke sekolah. Noken menjadi bagian yang menyatu dan tak terpisahkan dengan kehidupan masyarakat Papua. Tanpa noken, akan terasa ada sesuatu yang kurang. Akhirnya noken menjadi simbol percaya diri dan keyakinan akan masa depan yang cerah.
5. Noken Sebagai Ikatan Batin
Untuk anak mereka, mama-mama Papua membuat noken yang akan dipakai semenjak kecil hingga usia dewasa. Hal itu menumbuhkan ikatan batin yang kuat di antara anak dan mamanya. Selain itu, noken adalah pelambang
ikatan batin dengan tanah kelahiran, karena terbuat dari bahan alami yang ditemukan di sekitar rumah atau kampung halaman.  Sering kali terjadi, noken yang dibuat oleh mama-mama Papua untuk anak mereka dipakai si anak semenjak kecil hingga masa dewasa. Anak-anak Papua yang sudah beranjak dewasa dan meneruskan pendidikan di luar Pulau Papua biasanya memakai noken untuk menumpahkan kerinduan mereka pada sang mama
mereka dan tanah leluhurnya.
FUNGSI NOKEN
1. Noken Dalam SosialNoken mencirikan dari suku mana seseorang berasal. Karena noken Asmat berbeda dengan Wamena, Paniai, Biak atau lainnya. Disamping itu, Noken juga dapat menjadi penanda dari sebuah stratifikasi atau status sosial
dalam masyarakat. Noken yang dikenakan oleh kepala suku berbeda dengan
yang dikenahkan oleh warga biasa. Masyarakat Papua sangat menghargai hak miliki seseorang. Benda-benda yang terlihat dengan jelas di dalam noken mengingatkan akan pentingnya penghargaan terhadap kejujuran dan
pengakuan atas kepemilikan suatu barang. Tetapi noken juga bisa menjadi benda yang diberikan sebagai kenang-kenangan bagi seseorang yang dianggap istimewa dan berjasa sebagai wujud penghormatan.
Noken juga berfungsi memperkuat interaksi sosial diantara mama-mama Papua pembuat Noken. Sering kali berbagai masalah kehidupan terpecahkan ketika para perempuan ini bersama-sama membuat noken.

2. Noken Dalam Budaya
Noken merupakan benda warisan budaya yang diturunkan dari nenek moyang mereka. Noken memiliki makna budaya yang dalam bagi masyarakat Papua, antar lain;
Di Papua Barat Noken merupakan salah satu benda yang wajib ada dalam hantaran (mas kawin) Untuk upacara peralihan dari anak-anak menjdi orang dewasa. Noken diberikan kepada kepala suku terpilih saat penobatan kepala suku di Papua. Noken dapat berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan benda pusaka. Jika terjadi perang antar suku, noken merupakan benda adat yang harus ada dalam upaya perdamaian antar suku.

3. Noken Dalam Ekonomi
Ubi, petatas dan sagu merupakan bahan makanan yang selalu ada di dalam noken yang tergantung di dapur rumah tangga masyarakat Papua. Ketika isi noken mulai menipis, maka mereka harus mengisinya kembali. Dengan
demikian, dapat dikatakan bahwa noken memastikan terjaganya persedian makanan. Artinya, noken mengingatkan masyarakat Papua untuk selalu menyediakan bahan makanan yang menjadi kebutuhan mereka sehari-hari.
Selain menjadi sebuah “sistem peringatan diri” akan kelangsungan hidup masyarakat Papua, noken juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi karena dapat berfungsi sebagai semacam “tabungan” ketika mereka harus menyediakan sejumlah uang untuk keperluan yang mendesak dan dalam kaitan sebagai benda adat, noken juga memiliki nilai ekonomis yang tinggi karena selalu dibutuhkan oleh masyarakat Papua.

Cahya Poetra Holland
Sumber: Booklet
NOKEN WARISAN BUDAYA TAKBENDA SEMINAR & PAMERAN Direktorat
Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan R.I, 25 Oktober 2013 Millenium Hotel

Berikan Komentar Anda