Balik Atas
Nyanyian Purba Amungme
 
Pewarta: Redaksi Edisi 02/10/2014
| 1430 Views

(Manusia Utama dari Nemangkawi Pegunungan Cartenz)
“Di puncak gunung yang lain nampak puncak salju yang putih,
disebelah utaranya asap api di ladang berkepul naik”
Dalam kehidupan orang Amungme, mereka selalu bertutur kata menggunakan
kiasan, menggubah berbagai jenis lagu dan nyanyian yang ada sebagai
hiburan dikala duka maupun senang.

Kalau mereka berjalan kaki dan
sampai di atas bukit dan dari sana tampak di kejauhan puncak-puncak
gunung yang hijau dengan dilatarbelakangi langit biru yang bersih,
dengan sedikit awas “Cirrus”, sementara di lereng lain terlihat asap api
yang mengepul lurus ke angkasa;
“Apalagi kalau mereka melihat
puncak gunung Nemangkawi yang putih bersih, mereka akan mengeluarkan
siulan khas pegunungan tengan dengan cara melipat lidah dan
menghembuskan nafas. Ketika seorang mengeluarkan bunyi tanda kegembiraan
itu, teman-teman seperjalanannya yang lain langsung menyambut dengan
bunyi-bunyian yang sama.
Di lain waktu, ada yang sejenak berdiri
atau duduk dengan rileks di suatu tempat sambil memandang panorama yang
indah, mereka lantas menyanyikan sebuah lagu Tem, untuk mengenang suatu
tempat di mana ia pernah berburu dan membawa pulang hasil untuk dimasak
oleh ibunya dan disantap bersama. Nyanyian tersebut berbunyi demikian:
“Kele Wawunia kele, ae, oa, haa
Niare Wawnia niare, ae, ao, haa”
Kadang-kadang dinyanyikan pula lagu purba Amungme, yang artinya pun
tidak begitu dipahami oleh orang Amungme generasi sekarang, apalagi kita
yang tidak mengenal dan mengerti falsafa hidup mereka. Lagu tersebut
berbunyi begini:
“Angaye – angaye
No emki untaye
Angaye hao, aa, hao
Angaye – angaye wagana nikavo
Morae hanago, hao, aa, hao
Antok anu ae ango, hao, hao
Jilki untae hawano, hao, hao
Inti dari lagu ini adalah ungkapan orang-orang purba yang mengisahkan
gunung, lembah, hutan dan rimbah mereka hidup dan mengembara.
Kurang lebih arti dari lagu purba Amungme ini adalah:
“Kukasih gunung-gunung
Yang agung mulia
Dan Aman yang melayang
keliling puncaknya”
“Kukasih hutan rimba
Pelindung tanahku
Kusuka mengembara
Di bawah naunganmu”
Oh, betapa hebanya sastrawan purba suku Manusia Utama ini! Ia
mengisahkan keindahan alam mereka yang tetap dipelihara kelestarian itu.
Apakah generasi masa kini yang maju dan modern dan sementara mengolah
gunung serta hutan rimbah akan tetap melestarikan keindahan alam itu
bagi generasi akan datang?
(Arnold Mampioper; AMUNGME Manusia Utama dari Nemangkawi Pegunungan Cartenz, 2000)
Mari kitorang merenung, dan maratap, dan MELAWAN; nasib tanah dan
negeri Papua yang semakin tercabik-cabik oleh keegoisan diri sendiri,
yang dengan mudah menjual harga diri dan menggadaikan hak kesulungan
bangsa kita, dengan sebungkus “mie selera pedas”, demi sebuah kursi dan
nama baik.

by. AR, Depok, 2 Oktober 2014.

Berikan Komentar Anda