Pahitnya segelas kopi hitam,Terukir luka di hati
Pewarta: Redaksi
| 248 Dibaca
EDISI TERBIT: 10 Maret 2020

Oleh: Ernest Edowai

Kabar Pagi,Terdengar Suara (Meidee) kabarkan telah menutup usiamu hai (Noneeku) terkasih Nelson M Tebai. Kau ikhlas menghembus nafas terakhirmu Di Kota Port Numbay-Jayapura pada Selasa 10 Maret 2020 pukul 08:26 Wip. Akhir dari pada usainya usiamu (Noneeku) maka usai sudah semua rangkain kehidupanmu. Kepergianmu membuat aku tak menahan lagi ,tapi itu takdir Tuhan. Aku sadar hari ini rencana Tuhan untuk memisahkan persabatan kita dari liku jahatnya kehidupan ini. Seperti yang telah menciptakan kita serupa-Nya, di tangan Allah Bapa Yang Maha Kuasa pula akan kembali.

Almarhum Nelson M Tebai (Foto:Dok Pribadi/PapuaLives)

Kala itu, ketika terhias segelas kopi hitam menjadi sahabat kita,di Aspan penuh dengan ilmu yang kaya dengan senyum simpuh dan sejuta damai, disana kita meriah menanda awali perjumpaan persahabatan yang penuh semyuman semakin hari bertumbuh dewasa oleh mentalitas ilmu yang kita miliki. Aku ingat ketika hujan mengguyur, aku membasahinya koba-kobamu menjadi menepis butiran hujan, mana kala aku membalas budimu? Hari ini kematian menghampirimu membuat akhiri persahatan kita Noneeku.

Aku yang penuh mengantongi duka dan ratusan rintasan air mataku berderai hari ini, Selasa 10/03/2020 pukul 08:26 di Asmara Paniai Kamar 28,pagi ini adalah tercatat sejarah di sanubariku sabagai hari perpisahan persabatan kita dunia ini. Aku mengenalmu Noneeku Nelson M Tebai, senyumanmu tak marah, tingkahmu membuat sesama berguru padamu, itulah kepribadianmu.

Noneeku, kepergianmu memang untuk mendatangkan rintisan air mataku deras bagaikan terjun kali Hakaa di tengah bebatuan menikam harapan membasahi bumi Cendrawasih. Hari ini aku memikul pedihku, kepalaku seperti teratuk batu. Kadang aku meneriak seakan orang gila. Kadang aku lompat dan berlari, mana mungkin akan ku hapus pedihku ketika wajahmu terus ku ingat.

Persahabatan kita diawali dengan suka duka, canda tawa yang kita lewati bersama di Kota Jayapura sejak tahun 2017 hingga 2020,sejak masuk Asrama Paniai,segelas Kopi hitam menjadi sebuah alat penghubung yang dapat mempererakan persahabatan kita.

Suka duka yang kita lewat hanya kenangan yang tak pernah lupa dalam kehidupan ini sehingga saya selalu tersenyum dalam sehala hal.

Dengan kenang-kenangan manis yang kita ukir bersama segelas kopi hitam di kala itu, saya selalu ingat akan dirimu dengan janji palsumu yang engkau katakan, “Noneek Aku siap membiayai study akhirmu”. Namun engkau bungkam semua rencana genggam membawa janjimu bersama kepergianmu di sisi Yang Maha Pencipta untuk beristrahat di (Sorga) Rumah Allah Bapa.

Harapanku hari-hariku ingin lewati persahabatan bersama dengan gembira. Ketika aku terbayangkan kadang tersenyum sendiri seorang diri tapi itu memang sandiwara belakaku di Asrama Paniai kota Port Numbay (Jayapura). Akhir dari pada perpisahan persahabatan kita hari ini rintisan air mataku ku teteskan, sangat menyesal atas kepergianmu.

Aku bersedih, hati ini berat mengucapkan selamat jalan, saya sangat menyesal karena saya sudah terlanjur mempercayai semua perjanjianmu, yang jelas akhirnya manipu isi hati ini.

Salah satu kenangan manis yang engkau tinggal karat dalam nadiku adalah tidak ada kata pamit untuk kita berpisah Nonee.

Segelas Kopi Hitam Menjadi Kenangan Manis Dalam Hidup Ini Yang Tak Akan Terlupan Sampai Kapan Pun.

Penulis Adalah Mahasiswa Antropologi Universitas Cendrawasih Jayapura.

Berikan Komentar Anda