Paksa “Pendidikan Anti Korupsi sebagai Acuan ”
Pewarta: Redaksi
| 405 Dibaca
EDISI TERBIT: 19 Juli 2020
Armandho C B Rumpaidus, SE (Foto:Dok.Pribadi)

Oleh: Armandho C B Rumpaidus, SE

Korupsi terus menjadi fenomena hangat yang sangat memprihatinkan di Indonesia, hampir setiap pekan ada berita tentang kasus korupsi para pejabat di negara demokrasi ini. Korupsi tidak memandang usia, bahkan generasi muda juga terlibat sebagai aktor-aktor korupsi dalam menggasak uang yang bukan merupakan miliknya.

Sebagai anak muda yang merupakan motor penggerak kehidupan suatu negara, maka anak muda merupakan generasi vital bangsa ini ke depan. Ketika anak muda diberi kepercayaan untuk menduduki jabatan publik, itu berarti ada harapan besar untuk mendorong kemajuan dan pembaharuan di setiap lini. Namun apa jadinya, bila kepercayaan itu justru dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi seperti melakukan tindakan korupsi guna menguntungkan diri sendiri?

Tingkat pendidikan yang tinggi dan usia muda sama sekali bukan jaminan seseorang untuk tidak melakukan tindakan korupsi, akhir-akhir ini dapat kita lihat di pemberitaan media-media tentang berita korupsi, banyak koruptor yang memiliki pendidikan tinggi dan banyak juga yang masih berusia muda. Ini menandakan bahwa korupsi sudah menjadi virus mematikan yang merusak moral setiap elemen masyarakat yang terpapar virus korupsi tersebut, lantas bagaimana tindakan yang harus di ambil untuk mencegah terjadinya korupsi?

Pendidikan anti korupsi harus menjadi acuan dalam mencegah tindakan korupsi sejak usia muda, pendidikan anti korupsi harus diajarkan dan ditanamkan untuk menyadarkan bahwa korupsi itu sangat berbahaya dan merupakan sebuah bencana yang merusak tatanan bangsa dan negara. Kepada siapa pendidikan anti korupsi diberikan? Harus diberikan kepada generasi muda, terlebih khusus sejak usia dini. Karena dengan mencegah sejak dini, maka upaya pencegahan serta menanamkan nilai-nilai pentingnya melawan korupsi akan menyadarkan generasi berikutnya dalam mengawal dan menjalankan tongkat estafet sebuah negara.

Pendidikan anti korupsi harus diberikan pada semua daerah, diajarkan di sekolah-sekolah sesuai dengan kurikulum yang diterapkan. Acuan pendidikan anti korupsi bisa juga menggunakan nilai-nilai sosial dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, hal ini agar pendidikan anti korupsi tidak canggung dan kaku ketika diajarkan ke masyarakat. Letak geografis dan perbedaan budaya antar daerah di Indonesia juga haruslah menjadi suatu tantangan sekaligus peluang dalam menerapkan pendidikan anti korupsi, dengan memakai model-model pembelajaran yang adaptif dengan kondisi daerah masing-masing cenderung lebih mudah di terima masyarakat dibandingkan dengan memakai 1 modul pembelajaran terpusat. Mengapa demikian? Karena dengan menerapkan pendidikan anti korupsi sebagai acuan dalam melakukan tindakan pencegahan korupsi, maka budaya pengajaran dalam kehidupan sehari-hari turut menjadi salah satu indikator yang menunjang keberhasilan dalam melawan dan pemberantasan korupsi sebelum ada niat untuk melakukan tindakan penyelewengan.

Acuan-acuan pendidikan anti korupsi yang mengadopsi norma-norma dalam kehidupan masyarakat, merupakan sebuah metode yang harus segera dilaksanakan untuk diajarkan pada generasi muda khususnya anak-anak usia dini. Hal ini guna menghindarkan generasi mendatang dari tindakan korupsi yang saat ini sudah merupakan suatu bencana, sebelum korupsi menjadi sebuah budaya bangsa mari kita cegah bersama-sama lewat pendidikan anti korupsi.

Berikan Komentar Anda
Share Button