Balik Atas
Papua sedang Butuh Sang ‘Gembala yang Baik’
 
Pewarta: Redaksi Edisi 04/06/2017
| 660 Views
Felix Degei* (Foto:Dok Pribadi

Oleh :Felix Degei*

Tulisan ini berdasarkan hasil refleksi pribadi dari perspektif Ajaran Agama Kristen Katolik. Terlebih khusus setelah melihat dan mengamati gaya kepemimpinan (style of leaderships)dan pelayanan publik(public services) dari Para ‘Gembala Umat’di Tanah Papua belakangan ini.

Namun sebelumnya perluh diketahui bersama bahwa Konsep ‘Gembala Umat’ dalam tulisan inibersifat universal. Hal ini berarti bahwa, Sang Gembala tidak hanya bagi mereka yang memang kesehariaannya bekerja sebagai ‘Gembala Umat’(Hamba Tuhan).Akan tetapi, sorotannya bagi semua jenis pekerjaan yang sedang berkarya oleh siapa saja yang mendapatkan kesempatan untuk memimpin di Tanah Papua.Bukankah seorang pemimpin adalah ibarat Sang Gembala yang menggembalakan domba-dombanya?

Secara Teologis, kata ‘Gembala’memunyai arti: (1) kasih dan perhatian, merawat dengan  penuh kelembutan dan kesabaran; dan (2) otoritas atau kedaulatan. Inilah sebabnya gambaran gembala dipakai bagi para raja, pemimpin; mereka memiliki otoritas atau kedaulatan atas umat.
Hal yang melatarbelakangi sehingga penulis tertarik untuk menulis tulisan ini, karena melihat  semakin minimnya peran Sang Gembala dalam memperjuangkan hak dan kewajiban dari domba-dombanya. Sang ‘Gembala yang Baik’dalam hal ini dimulai dari Ketua Rukun Tetanga/Warga (RT/RW)hingga gubernur sebagai pempinan tertinggi di suatu provinsi.Sorotan khusus pada bagian ini adalah bagi para pemimpin di Tanah Papua.
Ada beberapa indikator yang dapat kita lihat di Tanah Papua, sebagai bukti bahwa semakin minimnya peran Sang ‘Gembala yang Baik’dalam memperjuangkan hak dan kewajiban dari domba-dombanya.Salah satu indikatornya adalah semakin tingginya angka pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).Bahkan, belakangan ini Masalah HAM terlihat seakan telah mati di Bumi Cenderawasih itu. Betapa tidak mungkin?Realitanya, banyak sekali Kasus Pelanggaran HAM yang selalu dibungkam, tidak pernah diusut tuntas hingga di meja pengadilan.Dimanakah suara para ‘Sang Gembala’?Jika, hal-hal seperti ini terus terjadi tanpa ada pembelaan hak-hak dari domba-dombanya.
Melihat fenomena di atas, maka penulis merasa misi yang dilakukan oleh Tuhan Yesus Kristus patut diteladani juga oleh para gembala saat ini.Sebagaimana, Umat Kristiani telah mengenal bahwa Yesus sebagai ‘Sang Gembala Yang Baik’(Kitab Injil.Yoh.10:1-18). Oleh karena itu, para pemimpin saat ini juga dirasa patut belajar dari-Nya untuk merealisasikan misi penggembalaan domba-dombanya.

Tuhan adalah gembala pemilik, bukan gembala upahan.Dia memiliki kedaulatan penuh atas kita karena Dialah yang memiliki kita, dan kata memiliki ini juga berarti kasih sayang.Seperti dalam setiap rasa memiliki yang positif.Misalnya rasa memiliki suatu perusahaan atau persekutuan, berarti menyayanginya; hak orang rasa memiliki orangtua terhadap anak, berarti mengasihi dan memberikan perhatian.
Demikian besar kasih-Nya kepada kita milik-Nya. Sehingga, Ia memberikan nyawa-Nya bagi keselamatan kita. Gembala upahan ketika mengalami kesulitan, dia akan lari karena orientasi mereka adalah demi keuntungan mereka sendiri tetapi sebaliknya.  Yesus pernah berkata,”Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup dan mempunyainya dalam kelimpahan” (Kitab Injil.Yoh.10:10b). Yesus memiliki kita dan mengasihi kita dengan kasih ilahi. Yesus disebut ‘Gembala Yang Baik’ karena Ia bersedia mengorbankan hidup-Nya untuk manusia dan menyelamatkan yang tersesat. Sebagai ‘Gembala Yang Baik’, Yesus memenuhi tiga ciri ini yakni:Pertama;Memberikan Nyawa untuk Domba-Domba,Kedua;Mengenal Mereka dan Mereka Mengenal Dia, danKetiga; Mengusahakan Persatuan Semua Kawanan Domba.

Memberikan Nyawa untuk Domba-Domba
Tanah Papua selalu identik dengan daerah yang rawan konflik.Konfliknya, baik secara horizontal maupun vertikal. Perlindungan, keberpihakan terhadap hak-hak dasar bagi Orang Asli Papua pun, sangat susah didapatkan. Sebagaimana, kita mencari mutiara di dasar laut yang paling dalam. Ibaratnya banyak sekali serigala yang datang di dalam kawanan domba-domba, akan tetapi tidak pernah ada sang gembala yang berani melawannya. Saat-saat seperti itu, adakah para gembala di Papua yang berani mempertaruhkan nyawahnya bagi domba-dombanya?.Dengan mencermati hal-hal ini, maka Orang Asli Papua masih sedang membutuhkan ‘Sang Gembala yang Baik’.Mengenal Mereka dan Mereka Mengenal Dia
Di Tanah Papua, masyarakat seringkali mengalami kesulitan untuk bertemu dengan pemimpinnya. Padahal, merekalah yang mempercayakan untuk menjadi pemimpin untuk memimpinnya.Meskipun, secara kebetulan bertemu, mereka selalu ditipu dengan seribu satu macam alasan. Bahkan, aspirasi-aspirasinya saja dibuang lain dibakar tanpa ada tindak lanjut yang jelas dan berpihak.
Bagaimana domba-dombanya mau mengenal gembalanya.Sedangkan, mereka hidup dan tinggalnya saja di hotel-hotel berbintang.Selain itu, selalu jalan dengan mobil kaca gelap yang tak peduli dengan domba-dombanya yang sedang jalan dan tinggal di sekitaran jalan raya.Dengan mencermati hal-hal ini, sehingga Orang Asli Papua masih sedang membutuhkan Sang Gembala yang mereka saling mengenal antara satu dengan lainnya.

Mengusahakan Persatuan Semua Kawanan Domba
Sang ‘Gembala yang Baik’selalu mengusahakan adanya persatuan dan kesatuan antar domba-dombanya.Akan tetapi, realita yang sedang terjadi di Papua saat ini adalah para gembala umat, hanya gila dengan jabatan dan kedudukan yang pada akhirnya membuat domba-dombanya berpencar.Mereka sibuk dengan pencalonan.Pencalonannya, baik itu untuk jadi anggota Legislatif maupun Eksekutif seperti; calon bupati dan gubernur.Untuk kepentingan-kepentingan tersebut, para gembala sibuk dengan partai-partainya maupun pengurusan adanya daerah pemekaran baru.
Padahal dengan adanya pemekaran tersebut membuat banyak masalah karena berbagai kepentingan yang dampaknya bias domba-dombanya.Dengan adanya ini, sekarang Orang Asli Papua mengakui dirinya secara spesifik yakni aku.Jarang terdengar kata kami Orang Papua.Ungkapan yang biasa terdengar adalah misalnya; saya dari Intan Jaya, Sufiori, Waropen dan sebagainya.Ingat bahwa kita adalah se-jiwa dan se-bangsa (one people one soul).
Maka sangatlah jelas, kalau Yesus dikatakan ‘Gembala Yang Baik’. Karena, memang  berbeda dengan Gembala Yang Hanya Upahan. Bedanya dimana?Injil mengatakan bahwa “Orang upahan cenderung mengutamakan kepentingan dan keselamatan diri.Orang upahan sama sekali tidak peduli akan kesulitan dan tantangan, secara otomatis saja menjalankan tugas.”(Kitab Injil Yoh 10:1-18; 26-30.).
Dengan melihat Konsep ‘Gembala yang Baik’dan gembala upahan serta ciri-cirinya, maka kini Orang Asli Papua sangat merindukan adanya Sang ‘Gembala yang Baik’.‘Gembala yang Baik’yang diidamkan adalah gembala yang senantiasa mau bersuara bagi kepentingan domba-dombanya.
Selama ini, peran sebagai Sang ‘Gembala yang Baik’hanya dilakukan oleh beberapa Hamba Tuhan di Tanah Papua.Sesungguhnya, suara-suara mereka adalah suara Sang Gembala atas pangalaman mereka bersama domba-dombanya.
Sebagai contoh, mereka adalah seperti; Pastor Dr. Neles Kebadabi Tebay, Pr., dengan konsep perluh adanya Dialog Jakarta-Papua. Selain itu, Pdt. Dr. Benny Giay, Pdt. Drs. Socratez Sofyan Yoman, M.A., Pastor John Jongga, Pr, melalui tulisan-tulisan mereka dalam bentuk opini, artikel juga buku-buku yang sebenarnya dasyat luar biasa. Serta Para Pemimpin di Birokrasi Pemerintahan dan Agama lainnya yang juga masih pro domba-dombanya.
Akan tetapi, realitanya suara-suara mereka saja tidak didengarkan oleh bangsa ini.  Perluh diketahui bahwa, sesungguhnya suara mereka adalah murni Suara Sang Gembala Umat.Mereka bukanlah para separatis ataupun makar.Akan tetapi, seringkali konsep inilah yang selalu salah paham oleh perseorangan maupun negara besar ini.Terlebih lagi, beberapa hasil karya buku dari para gembala kami di atas pernah dilarang untuk beredar di publik.Padahal, misi yang mereka dilakukan sebenarnya adalah Misi dari Tuhan Yesus Kristus sendiri sebagai ‘Gembala Yang Baik’.
Oleh karena itu, tolong hargailah dan tanggapilah suara-suara dari para gembala kami ini.Hanya oleh mereka, suara-suara dari kaum tak bersuara sedang mencoba untuk disuarakan(voice of voiceless).Kami juga manusia yang sama seperti Anda. Jika Anda tidak menghargai suara kami, berarti ingatlah bahwa Engkau tidak menghargai Tuhan yang menciptakan Engkau dan Aku.
Untuk mengakhiri tulisan ini, penulis hanya mau tegaskandua hal yang perluh dipahami bersama. Kedua hal tersebut antara lain:Pertama; Sang gembala bukan hanya bagi mereka yang sesungguhnya sebagai seorang Hamba Tuhan. Akan tetapi, semua orang yang mendapatkan kesempatan untuk memimpin.Kedua; Sang ‘Gembala yang Baik’tentunya harus memiliki ketiga misi atau ciri khas yang dilakukan oleh Tuhan Yesus sebagai Sang ‘Gembala Yang Baik’.
“Sesungguhnya, Orang Asli Papua Masih sedang Mendambakan Sang ‘Gembala Yang Baik’. Bukan, Sang Gembala Yang Upahan.”

*Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Asli Papua yang sedang Kuliah pada Jurusan Master of Education di The University of Adelaide Australia Selatan.

Berikan Komentar Anda