BALIK ATAS
Para Politisi Sekarang Mesti Berguru pada Abraham Lincoln
PENERBIT:PPWI MEDIA Redaksi PAPUALIVES.COM 12th Februari 2019
| 378 DIBACA
Abraham Lincoln (Foto:en.wikipedia.org)

Oleh Felix Degei*

Hampir semua orang di seluruh dunia tahu siapa Abraham Lincoln. Beliau adalah Presiden ke-16 Amerika Serikat. Ada yang mengenalnya karena profesi yang digeluti sebelum jadi orang nomor satu di negeri pamansam yakni pengacara hukum (lawyer). Ada juga yang tentu familiar dengan nama beliau karena berbagai kata bijak (quotes) yang pernah ditulisnya berkaitan dengan Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya serta Pertahanan dan Keamanan (IPOLEKSOSBUDHANKAM) dan lain sebagainya.

Tulisan kali ini akan membahas secara khusus tentang salah satu kisah hidupnya yang sebagian besar orang belum tentu tahu. Kisah tersebut sungguh menggugah hati nurani. Terlebih khusus bagi para calon pemimpin (leaders) ataupun praktisi politik (politisi) saat ini dan dimasa yang akan datang. Cerita tersebut mengisahkan tentang betapa dinginnya hati Abraham Lincoln dalam mengampuni sekaligus memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada pribadi yang pernah menghina dan melukai hatinya. Penasaran bagaimana ceritanya berikut ulasan singkat berdasarkan rangkuman dari berbagai sumber.

Kisah Abraham Lincoln bersama Edwin M. Stanton seorang pengacara senior yang sangat terkenal saat itu di Amerika Serikat.

Berbagai sumber menyebutkan bahwa Abraham Lincoln lahir pada tanggal 12 Februari 1809 dan wafat di usia ke-56 tahun, tanggal 15 April 1865. Ia dibunuh dengan ditembak pada kepalanya oleh seorang aktor terkenal John Wilkes Boothon ketika Lincoln menghadiri acara pertunjukkan ‘Our American Cousin’ di Ford’s Theatre Washington D.C. Akhirnya sejarah mencatat bahwa ia menjadi presiden pertama Amerika Serikat yang wafat dengan cara dibunuh.

Semasa hidupnya sebelum menjadi presiden dan ketika awal jadi pengacara (lawyer) Lincoln sering meminta masukan dengan konsultasi pada para pengacara senior tentang kasus yang sedang ditanganinya. Suatu hari ia memutuskan untuk pergi bertemu dengan Edwin M. Stanton seorang pengacara senior terkenal saat itu guna membicarakan tentang kasus yang ditanganinya. Setelah beberapa saat menunggu di ruang tamu keluarlah Edwin. Namun, melihat Lincoln sedang menunggu sang pengacara senior itupun marah.

“Apa yang dia lakukan di sini? Singkirkan dia! Aku tidak akan berurusan dengan seekor monyet kaku!” Ujar Edwin M. Stanton kepada stafnya guna menolak kedatagan Lincoln.

Lincoln tetap berkepala dingin meski telah mendengar cemoohan itu. Ia bahkan menunggu dengan tenang untuk mengikuti prosesi persidangan yang hendak dipimpin oleh pengacara senior itu. Ketika persidangan dimulai Lincoln juga ikut masuk dalam ruang sidang untuk menyaksikan jalannya sidang yang dipimpin oleh Edwin.

Setelah mengikuti seluruh proses persidangan, Lincoln berkesimpulan jika Edwin adalah salah satu pengacara yang sangat luar biasa. Ia dapat membela kliennya dengan sangat brilian. Ia menggunakan nalar pemikiran yang sangat teruji, sistematis dan logis. Setiap argumennya selalu disertakan dengan alasan dan didukung dengan contoh. Cara penanganan kasus tersebut membuat Lincoln sangat terpukau. Saat itulah Lincoln tertantang untuk harus lebih giat lagi dalam belajar hukum.

Semakin berjalannya waktu, tepat pada Bulan Maret 1861 Abraham Lincoln terpilih menjadi Presiden ke-16 Amerika Serikat. Salah satu hal yang dilakukan Lincoln setelah dilantik adalah mulai mencari siapa saja para kritikus semasa hidupnya. Ia akhirnya mengingat nama pengacara senior Edwin M. Stanton yang pernah menghina dan melukai hatinya itu. Lalu apa yang dilakukan Lincoln terhadap Edwin M. Stanton?

Akhirnya Abraham Lincoln bukan membalas dendam tetapi justru mengangkat Edwin M. Stanton sebagai sekertaris perang. Hal itu dilakukan Lincoln karena pernah menyaksikan kehebatan Edwin dalam menjalankan proses persidangan. Ia merasa orang hebat dibutuhkan oleh negara. Sehingga segala sesuatu tidak perluh dibatasi oleh arogansi pribadi dan golongan.

Ketika Abraham Lincoln mati karena ditembak Edwin M. Stanton pernah berkata “Abraham Lincoln adalah Mutiara milik peradaban”.

Pelajaran serta wejangan hidup yang harus diambil oleh para politisi sekarang juga dimasa yang akan datang adalah jangan pernah marah juga dendam kepada mereka yang pernah mengkritik, menghujat hingga menghina. Karena mereka adalah cermin hidupmu untuk melihat bagian hidup anda yang mungkin tak terlihat. Kritik itu biasa. Manusia ada lemahnya selama ia sifatnya membangun.

Semoga ulasan singkat ini akan menggugah hati nurani dari para politikus. Agar setelah terpilih tidak dipengaruhi oleh kepentingan pribadi dan golongan dalam pelayanan publik. Terlebih khusus kepada setiap calon yang sedang gencar dengan kampanye untuk pemilu serentak pada tanggal 17 April 2019. Entah itu para calon legislatif maupun eksekutif (presiden dan wakil presiden). Smoga!

I am a slow walker, but I never walk back.” Ujar Abraham Lincoln.

  Penulis adalah Mahasiswa Pasca Sarjana Asli Tanah Papua yang sedang Kuliah pada Jurusan Master of Education di The University of Adelaide Australia Selatan.

Berikan Komentar Anda
PASANG IKLAN PAPUALIVES.COM