Balik Atas
Paskah yang Memanusiakan
 
Pewarta: Redaksi Edisi 29/03/2016
| 900 Views
Thomas CH Syufi
Thomas Ch. Syufi (Foto:Dok Pribadi)

Mencari kapstok aktualisasi dan konkretisasi Paskah tahun 2016, tak lepas dari mengolah pengalaman dalam terang iman. Pengalaman itu bisa repetisi, tengah berlangsung maupun proyeksi, menghunjam maupun melintasi barat gerhana matahari total.

Taruhlah contoh persoalan penyalahgunaan kekuasaan, luapan nafsu greed is good, keserakahan adalah baik. Persoalan ini tidak pernah lekang, dari masa ke masa, pun dihadang sanksi legal atau hilangnya nama baik, yang senyampang itu dibarengi pamer kesalehan dan jaim palsu. Allah itu Mahakasih, Allah itu Maharahim seru sekalian alam.

Mulai dari pengalaman Allah menggentarkan dan mengagumkan (tremendumetfascinosum), kata Rudolf Otto, lalu Allah itu Mahakasih, butuh pengalaman panjang. Kerahiman Allah meluap tanpa batas, diharapkan dibagi untuk membangun kehidupan bersama yang aktual, tahun 2016 di Indonesia. Ensiklik (surat yang berisi ajaran) Laudato Si Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik, Paus Fransiskus tentang ekologi yang dirilis 18 Juni 2015, mengingatkan dan mengajak masyarakat dunia untuk merawat bumi sebagai ”rumah kita bersama”.

Ensiklik aktual di zaman kita, menyuarakan keprihatinan dunia. Istilah anthropogenic yang dimunculkan ahli lingkungan, bahwa penyebab penting pemanasan global dan perubahan iklim itu manusia, oleh Paus Fransiskus dipertajam dengan menyebut keserakahan manusia menjadi biang keladi” (Kompas, 25 Maret 2016).

Tidak saja itu, Paus Fransiskus juga melakukan kerja-kerja kemanusiaan lainnya yang lebih menarik bagi kita semua, terutama untuk para suster, pastor, uskup, dan para pemimpin negara wajib menirunya. Di mana, dalam ritual Kamis Suci, Paus Fransiskus membasuh dan mencium kaki pengungsi Muslim, Kristen, dan Hindu. Tindakan Pausdari Dunia Baru, Amerika Latin itu—tidak lain, semua hanya karena cinta akan kemanusiaan. Paus Fransiskus melakukan itu bukan sekedar serimoni, apalagi mengejar popularitas semata, tapi BapaSuci melakukan itu semua dengan tulus dan rendah hati, sebagaimana diajarakan Yesus Kristus sendiri. Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

Memang, masalah kemanusiaan berlaku universal atau non diskriminatif. Mengasihi tidak harus satu golongan, satu suku, satu negara, satu agama, satu ras, dan satu pemahaman ideologi politik, tapi mengasihi harus kepada semua orang, tanpa pandang bulu.Tak ada sekat, mengasihi tanpa memilih kasih. “Baik umat Muslim, Kristen, dan Hindu adalah umat Tuhan,” kata Paus Fransiskus di Vatikan, Kamis,( 24/3/2016)

Nilai-nilai kemanusiaan memang terus tergerus dengan berbagai kepentingan dan konflik yang semakin liar di jagad dunia. Pelaku kekerasan tidak lagi memandang sesama manusia lain sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang amat mulia seperti dirinya, tetapi melihat sebagai binatang yang tak ada nilai apa-apa, hingga dicabik-cabik nilai kemanusiaannya.

Baru saja terjadi serangan mematikan dari kelompok teroris di Kota Brussels,Belgia, yang menewaskan 30 orang, adalah tindakan yang tak manusiawi. Hal inimemicu sentiment anti-Muslim pun makin mengkristaldan menyeruak ke mana-amana, di berbagai pelosok dunia. Hal ini membuat Paus Fransiskus, yang kini dijuluki bersama para paus sebelumnya sebagai pontificatus (membangun jembatan) itu—mengajak kita semua untuk lebih meningkatkan persaudaraan sejati. Persaudaraan sejati (fraternitas), bukanlah persaudaraan yang didasarkan pada hubungan geneologis, diplomasi politik, ekonomi, dan budaya, tapi persaudaraan yang berlandaskan pada nilai kemanusiaan, sama tinggi dan sama rendah sebagai mahkluk ciptaan Allah. Para teroris adalah orang-orang yang haus darah dan tersesaat dengan sebuah ideologi sesaat.

Karena agama apa pun di duniaini; Islam, Kristen (Katolik dan Protestan), Hindu, Budha, dan lain sebagainya tidak pernah mengajarkan kejahatan, sebagaimana telah dilakukan oleh para kelompok teroris di berbagaidunia, dengan membunuh sesama manusia lain secara semrawut. Kelompok teroris adalah kelompok yang anti-Tuhan, dan pemimpinya teroris bernama Iblis.Menurut GregoriusAgung, Iblis adalah, “ Certeiniquorumo mnium caput diabolusest; et hujus capitis membra suntom nesiniqui, Iblis adalah kepala segala yang jahat, dan segala sesuatu yang jahat adalah anggota-anggotanya. Dialah yang membawa kegelapan di muka bumi. Iblis tidak bergerak sendiri dalam aksinya, tetapi mereka memakai manusia sebagai instrumennya (Trias Kuncahyono; 2016), salah satunya para teroris.

Tercabiknya nilai-nilai kemanusiaan masih saja mewarnai perjalanan bangsa ini, Indonesia. Kekerasan terhadap kemanusiaan ini memiliki banyak dimensi, baik serangan teroris, konflik suku, agama, ras, dan antargolongan, hingga konflik politik dan kesejahteraan. Misalnya, berlarutnya konflik politik antara rakyat Papua dan pemerintah Indonesia yang terjadi sejak integrasi Papua ke dalam NKRI 1 Mei 1963 hingga saat ini, 2016.

Dalam konflik ini, telah banyak (ratusan ribu) rakyat Papua yang menjadi korban pelanggaran hak asasi manusia (HAM), yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia, melalui kekuatan militernya. Peristiwa Biak, Wasior, dan Abepura berdarah tahun 2000, penculikan tokoh Papua Theys Hiyo Eluay (2001), dan tertembaknya Wakil Ketua Komite Nasional Papua Barat (KNPB) MakoTabuni tahun 2012, di gerbang Kampus Universitas Cenderawasih, Jayapura— merupakan sedikit dari ratusan ribu kasus pelanggaran HAM berat yang tak pernah dibereskan oleh pemerintah Indonesia. Demikian pula pembunuhan terhadap para aparat militer Indonesia oleh pasukan Organisasi Papua Merdeka (OPM), saat militer Indonesia melakukan operasi militer di berbagai pelosok Tanah Papua untuk mempertahankan Papua tetap menjadi bagian dari NKRI—pun banyak jumlahnya, sekitar puluhan orang.

Berbagai rentetan peristiwa tak manusiawi ini—terjadi karena manusia yang satu tak lagi menghormati atau peduli pada harkat dan martabat manusia lain. Mereka menginjak nilai-nilai kemanusiaan, dengan membunuh orang takberdosa, yakni operasi militer membabi buta yang berlangsung sejak tahun 1960-an hingga saat ini, 2016. Mereka memburu kebahagiaan sendiri di atas penderitaan orang lain (rakyat tak berdosa), demi mempertahankan nafsu NKRI harga mati dan merdeka harga mati. Stop…killing of West Papua people in the name NKRI.

Karena itu, momentum Paskah yang kita telah rayakan ini bisa dapat memberikan spirit dan semangat baru bagi kita semua, terutama para pemimpin negara ini, segera berpaling ke jalan kemanusiaan (atau perdamaian). Cukup sudah homo homini lupus, manusia yang satu menjadi serigala bagi sesamanya. Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wapres Jusuf Kalla (JK) harus mengubah segala pikiran, sikap, dan kebijakan negara yang cenderung otoriter dan anti-demokrasi kepada jalan kemanusiaan, dengan jalan dialog. Dialog harus dilakukan antara pemerintah Indonesia dan rakyat Papua—yang diwakilkan Persatuan Gerakan Pembebasan Papua Barat ( The United Liberation Movement of West Papua/ ULMWP).

Karena, kebenaran hanya bisa dicapai melalui jalan dialog dan proses perdebatan yang terbuka, adil, jujur, demokratis, dan bermartabat. Kekerasan datang pergi, silih berganti di Tanah Papua karena fakta kebenaran itu sendiri tak pernah terungkap secara terang-benderang antara rakyat Papua dan pemerintah Indonesia. Hanya dengan berpaling pada memoria passionis (ingatan penderitaan) rakyat Papua, Jokowi-JK bisa dapat menyelesaikan konflik Papua-Indonesia. Tentu, kita semuayakini, setiap jalan salib pasti membawa kemenangan (atau keselamatan), begitu pula jalan dialoglah yang bisa “mengakhiri” koflik Papua-Indonesia. Karena itu, Kong Hu – Cu (551 SM- 479 SM), guru orang bijak dan filsuf sosial Tiangkok, berpesan, “Better to light a candle than to curse the darknes, lebih baik menyalakan lilin dari pada mengutuk kegelapan”!Semoga.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

*). PenulisadalahKetuaLembagaPusatKajianIsuStrategis (LPKIS), PengurusPusat PMKRI Sanctus Thomas Aquinas, periode 2013-2015.Dan, Ketua BEM FakultasHukumUncen, Jayapura, periode 2010-2012.

Berikan Komentar Anda