Pastor Theo V. E. Makai, Pr: Saya Tidak Suka Pakai Istilah ‘MEEUWOODIDEE’

Pater Theodorus V. E. Makai, Pr., saat ditabiskan.(Foto: Jos Dongker)

Oleh Felix Degei*

Dalam Diktat “SERI GALI NILAI POSITIF BUDAYA PAPUA KE-17” Tahun 2016, Pastor Theodorus V. E. Makai, Pr., dengan tegas mengatakan bahwa ia tidak suka menamai wilayah hunian Suku Mee dengan sebutan ‘MEUWOODIDEE’. Ada satu alasan mendasar yang filosopis mengapa Iman Pertama Orang Mee Papua ini tidak setuju menyebut demikian. Berikan ulasan detailnya.

Pastor Theodorus V. E. Makai, Pr., adalah Imam Katolik ke-2 untuk Orang Asli Papua (OAP) dan pertama untuk Suku Mee di Pedalaman Papua. Ia ditabiskan oleh Uskup Herman Moninghoff, Ofm, pada 24 April 1980 di Moanemani Kabupaten Dogiyai. Ia telah menulis banyak diktat berseri dengan tema ‘SERI GALI NILAI POSITIF BUDAYA PAPUA’. Namun sayangnya semua ide pikiran tersebut belum dipublikasikan. Hingga saat ini kumpulan cerita tersebut masih tersimpan rapih dalam bentuk diktat saja.

Pada diktat seri ke-17, ia membahas tentang “Huruf ‘s’ dan ‘h’ Menyempurnakan Ejaan Bahasa Mee Secara Benar dan Tepat”. Bagian awal dari diktat tersebut ia mengklarifikasi alasan mengapa sebutan ‘MEEUWODIDEE’ tidak tepat jika tilik dari letak topografi daerah asal hunian Orang Mee.

Menurutnya penamaan seperti itu mengandaikan semua Orang Mee mendiami di tepian lembah sebelah-menyebelah dari sungai yang satu dan sama serta sungai tersebut bernama ‘Mee’. Padahal secara faktual daerah yang dihunian Orang Mee terdiri dari gunung, lereng, bukit, lembah hingga danau. Sehingga tentu daerah tersebut diapik oleh banyak sungai.

Lebih lanjut Pastor Makai menjelaskan akhiran ‘DIDEE’ dalam Bahasa Mee digunakan untuk menjelaskan tepian sebelah menyebelah dari sebuah aliran sungai. Dia mengambil beberapa contoh sebutan daerah yang menjelaskan asal usul orang untuk memperkuat argumentasinya. Misalnya, Orang AGADIDEE artinya masyarakat yang kampung asalnya terletak di tepian aliran Sungai Aga. Contoh lain Orang DEGEUWOODIDEE artinya Orang yang aslinya dari kampung di pinggir Sungai Degeuwo.

Dengan demikian, Pater Theo dalam diktatnya mengatakan jika ia lebih suka memakai sebutan ‘MEUWOO’ dari pada ‘MEUWOODIDEE untuk menjelaskan semua wilayah Orang Mee. Menurutnya MEEUWOO adalah sebutan umum yang meliputi Daerah Paniai, Deiyai, dan Dogiyai. Sebagaimana sebutan umum untuk wilayah Orang Dani yakni Daniwoo atau Kahauwoo. Atau Moniwoo untuk wilayah Orang Moni.

Berkaca pada ulasan di atas maka penggunaan sebutan ‘Meeuwoodidee’ untuk menjelaskan orang dari Daerah Mee mesti ditinjau ulang. Agar penamaan daerah ini tidak memunculkan beberapa pengertian yang pada akhirnya justru membingunkan (ambigu) orang lain. Smoga!

*Penulis adalah pegiat Masalah Pendidikan khusus Orang Asli (Indigenous Education) tinggal di Nabire Provinsi Papua.

Berikan Komentar Anda

Recommended For You