PEMEKARAN MENGANCAM KEHIDUPAN MASYARAKAT PAPUA
Posted by Redaksi on 19th Juli 2018
| 86 views
Maximus Sedik (Doc Pribadi)

    Oleha: Maximus Sedik

Provinsi papua dan papua barat tidak terlepas dari adanya tuntutan refoemasi oleh masyarakat papua kepada pemerinatah pusat. Hal ini tercermin dari ungkapan mantan gubernur papua Suebu(2007), mantan Gubernur provinsi Irian Jaya, bahwa warisan flora dan fauna di Provinsi Irian Jaya (sekarang papua) memiliki spesies-spesies yang sangat unik dan kaya, potensi ekonominya dijuluki sebagai raksasa yang sedang tidur,warisan budaya dijuluki wilayah kebudayaan yang sangat unuik dan kaya, memiliki bahasa local yang bejumlah tidak kurang dari 250 bahasa, jumlah penduduknya tidak lebih dari 1% penduduk indonesia yang hidup relative miskin di atas kekayaan alamnya, kondisi infrastruktur dan kualitas sumber daya manusi belum memadai, dan laju pemabangunan di provinsi ini dijuluki sebagai tanah yang terlupakan.

Kedua provinsi ini sebagai aset nasionla yang agak terbengkali penangannya, tetapi sekaligus aset simpanan untuk keperluan masa depan bangsa dan Negara ini. Papua hari ini penuh dengan paradoks, di satu sisi kita melihat papua yang sudah memasuki abad baru yang ditandai dengan kehadiran birokrasi modern, penggunan teknologi informasi, dan kegiatan-kegiatan ekonomi uang yang merupakan bagaian dari ekonomi global.

          Di sisi lain, masih banyak masyarakat kita yang masih hidup dalam kebudayaan subsistem yang tradisional dan terorisolasi. Di satu sisi, kita sudah memiliki berbagai perguruan tinggi di papua, tetapi di sisi lain masih banyak penduduk kita yang buta huruf. Fakta menunjukkan bahwa jumlah penduduk papua sedikit (sekitar 1% dari penduduk indonesia) dan hidup atas kekayaan alam yang berlimpah ruah tidak serta merta berarti bahwa penduduk papua, khususnya orang-orang asli papua hidup sejahtera.

Banyak riset-riset yang menunjukkan bahwa lebih dari 80% rumah tangga di papua adalah rumah tangga miskin bahkan tidak sedikit yang masuk kategori miskin absolut. Gambaran kondisi Provinsi papua ( provinsi papua barat belum dimekarkan), kemudian melahirkan tuntutan reformasi dalam sistem pemerintahan , bahkan mengarah pada tindakan separatis untuk melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Di dorong oleh fakta-fakta yang terjadi dan atas tuntuan masyarkat papua atau tidak dengan alasan lain, pada Tahun 2001 pemerintah indonesia mengeluarkan undang-undang No.21 Tahun 2001 tentang “otonomi khusus” waktu itu provinsi papua yang disahakan pada 21 November 2001. ( Nuralam. Hal 44. Kesejahteraan yang tersandera).

        Mengapa saya katakan pemekaran mengancam kehidupan orang papua ?

Karena implementasi kebijakan desentralisasi fisikal dan otonomi khusus bagi masyarakat papua diharapkan dapat mengacu percepatan pembangunan dan petumbuhan ekonomi yang singnifikan di papua. Atas dasar kewenangan yang diberikan pemerintah pusat kepada pemerintah provinsi untuk mengelola dana perimbangan dan dana otonomi khusus yang jumlahnya relative besar, diharapkan akan dapat memacu percepatan pembangunan, pertumbuhan ekonomi, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Hasil dari pelaksanan desentralisai fisikal otonomi khusus, akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah papua untuk mengelola keuangan di daerahnya, melalui kebijaksanan struktur belanja secara optimal  dalam pelaksaan tugas pemerinatahan, pelayanan publik, dan pembangunan daerah. Tetapi dalam kenyataan secara praktik penyelenggaraan pemerintah tidak berjalan secara baik, sehingga prosese pemerataan pembabangunan tidak berjalan secara tuntas.

Pemekaran daerah otonom baru di papua tidak berpengaruh singnifikan terhadap kehidupan masyarakat papua. Dengan adanya Kehadiran pemekaran daerah otonomi baru sangat berpengaruh pada  kehidupan masyarakat papua. Seperti program trasnsmigrasi, perisinan perusahan baru, dan banyak kibijakan yang tidak menguntungkan masyarak. Dalam pengamatan saya sebagai anak papua yang melihat secara jeli bahwa, setiap daerah yang dimekarkan di papua dan statusnya sebagai pemerintahan sendiri belum membawa perubahan bagi masyarakat papua. Sebab pemekaran yang dimekarkan tidak menjawab kebutuhan masyarakat papua, terutama pendidikan, kesehatan, dan aktivitas ekonomi masyarakat. Sehingga masyarkat papua masih tetap berada pada kemiskinan yang berkepanjangan dari waktu ke waktu, dan tersingkir masyarakat asli papuapun terjadi karena mobilisasi penduduk dari luar yang semakin cepat. Dan perkembangan budaya baru secara cepat melampaui kebudayaan asli setempat dan terjadinya kehilangan indentitas melalui cara-cara gelap. Maka dari itu, generasi papua juga ikut mentransfer kebudayaan baru itu dan menghilangkan kebudyaannya.

Kehadiran pemekaran daerah otonomi baru juga membawa perusahan-perusahan yang berinvestasi di papua, sehingga merusak lingkungan maupun biota lainnya. Dan menambah angka keterangntunagn hidup masyarakat papua semakin tinggi. “Untuk membangun tanah papua, harus mencintai seluruh isi alamnya maupun manusianya, dan menjadikan diri sebagai pelayanan masyarakat. Dan membawa mereka(masyarakat papua) menuju pada keadilan dan kesejahteraan sebagai manusia yang hidup di muka bumi ini”.

Untuk membangun tanah papua harus dengan jujur, tulus, dan setia pada semua seluruh isi kehidupan”

    Penulis adalah Mahasiswa Tambrauw, mengenyam pendidikan di Yogyakarta

Berikan Komentar Anda
TENTANG KAMI REDAKSI IKLAN SITE MAP PRIVACY POLICY