BALIK ATAS
Pemuda dan Mahasiswa Intan Jaya Menolak Pergantian Nama Puncak Cartenz
PEWARTA: Redaksi PAPUALIVES.COM 1st Februari 2016
| 784 DIBACA
Pemuda dan Mahasiswa Intan Jaya Menolak Pergantian Nama Puncak Cartenz

© Suara Papua
PAPUAN, Jayapura— Pemuda dan mahasiswa Intan Jaya dengan tegas menolak pergantian nama Puncak Bale-Bale Gelapa atau Puncak Cartenz dengan nama Puncak Tito, seperti informasi yang dimuat media Tabloid JUBI (www.tabloidjubi.com), pada tanggal 22 april 2014, terkait komentar Direktur Cartenz Adventure, Maximus Tipagau.

“Pemberian nama Puncak Tito kami rasa sangat tidak masuk akal, atau terlalu dangkal, dan isu murahan yang disampaikan oleh Maximus Tipagau,” kata Melianus Duwitau, salah satu mahasiswa asal Kabupaten Intan Jaya, saat memberikan keterangan pers, Selasa (29/4/2014) di Cafe Prima Garden, Abepura, siang.

Menurut Duwitau, alasan kunjungan Kapolda Papua pada 14 Agustus 2014 ke Puncak Cartenz tidak bisa dijadikan alasan untuk mengubah nama puncak Bale-Bale Gelapa atau Puncak Cartenz menjadi puncak Tito, sebab nama Bale-Bale Gelapa atau Puncak Cartenz merupakan nama yang sangat bersejarah bagi masyarakat adat kabupaten Intan Jaya.

“Ini merupakan penghinaan bagi kami orang Moni dan masyarakat Intan Jaya, jika nama Puncak Tito tetap dipakai. Maximus Tipagau harus mempertanggung jawabkan dosa dan perbuatannya,” tegas Duwitau.

Ditambahkan oleh Salmon Selegani, dalam filosofi orang Moni atau masyarakat Intan Jaya, Puncak Bale-Bale Gelapa atau Puncak Cartenz merupaan batu besar yang keramat dan sangat terlarang, sehingga tidak boleh disentuh oleh siapapun.

“Apalagi mengganti nama sembarangan, itu tidak boleh. Ini tempat sakral bagi suku Moni, terutama marga atau fam asli masyarakat, seperti marga Kum, Maisini, Joani, Duwitau, Sondegau dan Wandagau.”

“Kami sekali lagi dengan tegas menolak pergantian nama tersebut, karena kami juga telah komunikasi dengan orang tua kami di Intan Jaya, kalau mereka mengaku sama sekali tidak pernah dikontak, atau diberitahu soal pemberiaan nama. Ini keputusan sepihak, dan individu dari Maximus Tipagau,” ujar Selegani.

Kelopas Sondegau, salah satu mahasiswa membacakan beberapa point pernyataan sikap; pertama, menolak tegas pergantian nama puncak Bale-bale Gelapa atau Puncak Cartenz sebagai puncak Tito karena telah melecehkan masyarakat adat.

Kedua, Maximus Tipagau telah melakukan pembohongan publik terkait dukungan masyarakat adat untuk perubahan nama Puncak Bale-Bale Gelapa atau Puncak Cartenz menjadi Puncak Tito; masyarakat adat yang mana dan siapa orangnya?

Ketiga, Kapolda Papua, Tito Karnavian tidak punya jasa apapuan bagi masyarakat adat Kabupaten Intan Jaya, dan secara khusus masyarakat disekitar areal Puncak Bale-Bale atau Puncak Cartenz, sehingga tidak perlu adanya pemberian gelar, atau penghargaan sedemiikian rupa seperti yang dilakukan Maximus Tipagau.

Keempat, Maximus Tipagau harus mencabut kembali pemberian mana puncak Bale-Bale atau Puncak Cartenz sebagai puncak Tito Karnavian.

“Ini pernyataan sikap yang dibuat oleh kami mahasiswa, dan pemuda asal Intan Jaya, semoga bisa dipahami, dan dibaca oleh Maximus Tipagau, juga oleh Kapolda Papua,” tutup Kelopas Sondegau.

AGUS PABIKA/SuaraPapua.Com

Berikan Komentar Anda
PASANG IKLAN PAPUALIVES.COM