BALIK ATAS
Pencuri Karena Tidak ada Uang Ujian, Masuk Penjara, Ujian pun Tak Ikut
PEWARTA: Redaksi PAPUALIVES.COM 8th Mei 2016
| 1865 DIBACA
Pencuri Karena Tidak ada Uang Ujian, Masuk Penjara, Ujian pun Tak Ikut
Simon Wuka,Siswa salah satu SMA Swasta di Kabupaten Jayawijaya (Foto:Ronny)

Wamena, – Simon Wuka (20) Siswa salah satu SMA Swasta di Kabupaten Jayawijaya batal mengikuti UN tahun 2015 lalu lantaran harus menjalani Proses hukum di Lapas Kelas II B Wamena. Ia dihukum karena mencuri motor milik kakaknya JW (kakak satu bapa beda mama) untuk membayar uang Ujian. Bebas dari Hukumannya di penjara Simon cari uang di Kabupaten Yahukimo untuk sekolah lagi.

Dipertengahan tahun 2015 lalu, disekolahnya Simon dimintah untuk membayar uang ujian, Ia menyampaikan kebutuhan tersebut kepada bapak dan kakaknya JW tapi tidak ada Jawaban, sementara kebutuhan sekolahnya

terus mendesak. Simon “terpaksa” harus berniat mencuri motor milik kakaknya JW karena terdesak kebutuhan dan tidak ada jalan lain selain mencuri. Ia berfikir, daripada curi barang milik orang lain kelak jadi masalah, lebih baik curi milik kakaknya agar tidak menimbulkan persoalan dikemudian hari. Tapi sayang. kenyataan berkata lain, apa yang difikirkan simon tidak sama dengan pikiran kakaknya JW. Akibat aksi itu Simon dipaksa harus menjalani proses hukum hingga tidak bisa mengikuti Ujian Nasional pada tahun 2015 lalu.

“ disekolah suruh bawa uang , saya bilang bapak, tapi suda tau bapa pu cara to, bapa malas tau, kaka Jon juga sa bilang tapi sama, terpaksa sa berfiikir dari pada sa curi orang lain punya nanti jadi masalah lebih baik sa curi kaka punya motor, supaya kalo ketahuan kita bisa bicara secara keluarga to. suda motor itu sa jual pake bayar sekolah” Ungkap Simon Wuka.

Setelah motor tersebut dujual, beberapa bulan berlalu, kakaknya JW kemudian menemukan motor yang dijual Simon di salah satu bengkel di Wamena. JW lapor polisi Simon pun ditangkap dan ditahan di Polres Jayawijaya. Selanjutnya kasus tersebut diselesaikan secara hukum adat di kantor Desa Sinata Distrik Asolokobal Kabupaten Jayawijaya, di kantor desa Simon dijatuhi hukuman / sanksi adat atau denda: satu ekor babi dan uang tunai 5 juta rupiah. Simon telah bayar lunas sesuai hukum adat yang berlaku dikampung tersebut, motor yang dicuinya juga suda kembali ke tangan pemilik (JW). Simon berfikir persoalan suda tuntas. Keinginannya untuk sekolah bisa dilanjutkan. Tapi ternyata tidak. Kakaknya JW memintah simon harus diproes lagi secara hukum nasional di kepolisian.

“padahal saya punya mama datang bayar wam (babi) satu ekor dan uang 5 juta, motor juga suda kembali, suda selesai hukm adat harusnya selesai to, tapi kaka jon minta polisi supaya proses hukum harus jalan jadi saya dipenjara” ungkap Simon dengan nada sedih.

Setelah pembayaran secara adat, Mirian Wetapo (mama kandungnya Simon Wuka) mendatangi pihak kepolisian untuk anaknya segerah dibebaskan, Mirian beranggapan suda tidak ada persoalan lagi dengan anaknya karena telah dibayar sesui hukum adat yang berlaku. Ia bermaksudkan agar anaknya Simon segerah kembali melanjutkan pendidikannya, sesampainya di pihak kepolisin permintaan Mirian tidak ada tanggapan, proses hukum jalan terus

“mama datang minta polisi bebeskan saya. mama bilang saya suda bayar jadi keluarkan anak saya . anak saya mau ujian di sekolah, tapi mungkin perempuan jadi dorang (polisi) tidak mau tau, sampe mama pulang menangis-menangus” ungkap Simon mengulang Cerita Mamanya Kemauan besar Simon untuk segerah menyelesaikan pendidikan belum juga terjawab. Ia lalu diproses hingga naik ke pengadilan dan divonis 7 bulan penjara. Sebelum naik ke pengadilan Simon mengaku terus berdoa memintah pertolongan kepada Tuhan. Ia mengakui dosanya.

“pagi sebelum sidang tu sa berdoa dilembaga (LP): Tuhan memang saya salah tapi Tuhan tolong buka jalan. Dan memang tuhan luar biasa kalo kita berdoa. Sampe sa dapat tuntutan 1 tahun 2 bulan tapi turun 7 bulan dikurangi tahanan di polres 2 bulan dan di lembaga 4 bulan selama proses sidang, jadi 1 bulan saja saya jalani. Sa bersyukur” lanjut Simon Wuka.

Akibat proses hukum tersebut keinginannya untuk melanjutkan pendidikantidak bisa diwujudkan. Jika saja masalah ini tidak menimpah dirinya,mestinya Tahaun 2016 ini Simon sudah melanjutkan pendidikan diperguruan tinggi. Simo menyesal, tapi apa boleh buat takdir berkata demikian

“kalo tidak sekrang sa suda kuliah tapi tidak papa lah” katanya. Bulan Februari Tahun 2016 Simon telah habi menjalani masa tahanannya di LP Kelas II B Wamena. Keluar dari pejara Ia diajak oleh seorang teman sesama Napi untuk ke Kabupaten Yahukimo. Sekarang teman sesama Napi itu Simon panggil Bos karena Ia diangkat untuk mengerjakan pekerjaannya.

“ada bos dia orang bugis tapi pengusaha di Yahukimo dia ajak saya kesini jadi keluar dari penjara saya langsung kesini (yahukimo) orang di wamena tidak tau kalo sa disini, mungkin mereka fikir sa masi di penjara” Katanya kepada media ini  di Yahukimo.

Di Yahukimo, Keinginan keras seorang Simon Wuka untuk melanjutkan pendidikan belum juga berahir. Ia berusaha kerja keras bersama bos nya yang mengajaknya ke Yahukimo. Kumpul-kumpul uang untuk sekolah lagi

“sekarang sa bantu-bantu bos kumpul-kumpul uang, bos punya tanah banyak jadi nanti sa bikin ruma sementara jaga , tanam-tanam habis itu sa bawa mama ke sini supaya biar mama kerja disini saja, cari uang, baru nanti saya sekolah lagi” kata simon, penuh Yakin.

Kakanya Jhon Wuka yang baru ditemui di Wamena distrik Asolokobal Rabu, 04/05 mengakuinya bahwa adiknya Simon dipenjara terkait kasus pencurian motornya

“saya bilang suda bayar jadi kasi lepas suda tapi polisi bilang tidak bisa aturan baru sekrang untuk motor tidak bisa lepas kita proses” Ujarnya mengulang perkataan Polisi

Ronny Hisage

Berikan Komentar Anda
PASANG IKLAN PAPUALIVES.COM