Balik Atas
Pendukung Ketertinggalan Budaya Baca Adalah Saya, Kamu dan Pemerintah
 
Pewarta: Redaksi Edisi 28/04/2018
| 756 Views

Oleh : Nopi Bunai Jr

Gara-gara saya lemah pada membaca khususnya “baca buku,” saya mendapatkan dua pengalaman yang menurut saya self-awareness atau sadar diri dan barangkali bisa jadi keringat dingin atau rasa takut sendiri. Pertama, sambil saya jalan-jalan di sekitar rak-rak buku di suatu perpustakaan umum, saya melihat ada beberapa tuna-wisma duduk sambil  baca buku. Pikiran saya tiba-tiba munncul bahwa kenapa mereka ke tempat ini (perpustakaan), sebaiknya mereka cari uang agar mereka mendapatkan tempat tinggal yang layak. Saat saya ambil foto kearah mereka, saya punya tangan tiba-tiba bergementaran (entah kenapa) lantaran saya yang punya papan atau rumah tidak biasa beraktifitas seperti yang orang-orang gelandangan tunduk dan focus pada buku yang mereka baca di samping rak buku. Yang kedua adalah karena penulis adalah kepala percaya kebanyakan pada media sosial. Namanya media sosial (medsos)–do what we want to do without there is chit chat atau kesantunan, tetapi malah membuat anti-sosial, menjauhkan pertemanan dan mengungkapkan tidak berdasarkan pada kenyataan. Contohnya, saat jam diskusi di kelas, saya di ingatkan oleh guru saya bahwa jangan hanya senang dengan argument ‘they say’ atau ’katanya-katanya’ seperti yang ada di medsos. Kalau diskusi seharusnya, kamu, pakai referensi buku yang kamu dibaca sehigga tidak akan ada lagi “mereka bilang” kata guru saya.

Jika penulis menyimpulkan contoh kedua peristiwa diatas ini, keduanya tentu teguran yang keras, terutama sebagai pelajar seperti penulis untuk lebih giat cinta pada buku dan rumah buku (perpustakaan), karena orang yang sebut saja ‘gelandangan’, mereka dengan rasa keingin-tahuan dan kecintaan pada kertas putih, mereka tidak sadar bahwa setelah di baca buku, apakah ada hasil dari dalam buku tersebut?. Mereka (tuna-miswa) salah alamat, mereka leibih baik kerja keras untuk mendapatkan tempat tinggal yang layak. Tapi sejarah mengatakan bahwa kalau orang yang cinta dengan melirik-lirik buku, mereka akan cepat lari dari keadaan sebelumnya yang menyakiti. Konon hal itulah yang tunawisma mendasari agar mereka dengan muda mendapatkan rumah dan kehidupan yang layak. Contoh pengalaman penulis yang kedua diatas bisa di simpulkan bahwa kita seharusnya menghindari kata-kata orang yang berdasarkan pada kutipan-kutian melalui medsos. Namun demikian, kita bisa teliti apakah dia katakana itu benar atau tidak. Apakah itu dengan baca buku?

Sebagian masyarakat Indonesia, khusunya (orang Papua) acap kali dapat nilai memuaskan dalam soal pertanyaan dunia keolahragaan khususnya sepak bola daripada subjek lain (tidak semua orang) saat tes penjaskes. Contoh kasus, siswa katakana saja kelas 5 SD, guru memberikan ulangan penjas yang bersifat artikel dimana guru akan menilai 2 penilaian yakni jawaban jelas dan tes membaca sebagai pembaca yang baik. Akhirnya, siswa yang tahu banyak tentang sepak bola, tiga kali lipat lebih mungkin untuk membuat kesimpulan yang akurat tentang bagian ini sebagai pembaca bagus dan mendapatkan nilai tinggi karena meman mereka sangat familiar tentang sepak bola. Hal seperti ini mengingatkan Anda dan penulis bahwa pengalaman lebih penting dari pada belum punya pengalaman. Begitu juga membaca “buku” tidak hanya saat ulangan datang di depan kita baru berayap tapi lebih kepada mendalami pengalaman sehingga kami akan menjawab perbedaan jawaban dunia kenyataan dengan benar tanpa ada noda.

Menjadi Bangsa Tukan Pembaca

Membaca sebagai persoalan kebangsaan. Sekadar mengingatkan kembali, bulan September sebagai Bulan Gemar Membaca dan Hari Kunjung Perpustakaan telah ditetapkan sejak tahun 1995 oleh Presiden RI ke-2 Soeharto. Tujuan utamanya adalah meningkatkan minat baca bangsa Indonesia yang masih rendah. Oleh karena itu, dalam konteks ini, di Papua, kita apresiasi pemerintahan papua yang menyediakan perpustakaan milik pemerintah daerah di setiap kabupaten. Pembangunan gedung layanan perpustakaan memiliki makna tersirat akan pentingnya permasalahan minat dan budaya membaca sebagai isu bersama yang menyangkut identitas bangsa, terutama Papua. Masalah literasi dan budaya baca tidak lagi menjadi masalah sektoral, tetapi harus menjadi permasalahan bangsa yang harus menjadi perhatian bersama. Kedua, penetapan peresmian gedung fasilitas layanan perpustakaan pemerintahan daerah memiliki arti sebagai peneguhan kembali sekaligus komitmen Perpustakaan pada isu minat dan budaya baca sebagai problema kebangsaan. Sebagai isu kebangsaan, Perpustakaan daerah tampaknya menyadari bahwa hal ini harus menjadi tugas bersama yang tidak hanya terbatas oleh official perpustakaan, tetapi harus melibatkan banyak pemangku kepentingan, baik dari kalangan pemerintah, swasta, bisnis, profesional, maupun pegiat sosial atau LSM.

Menarik sekali apa yang dikatakan Najwa Shihab selaku Duta Baca Nasional pada suatu acara bahwa dengan Perpustakaan akan jadi rumah bersama bagi pejuang literasi untuk mewujudkan apa yang dicita-citakan pendiri bangsa Indonesaia: mewujudkan kecerdasan bangsa. Bangsa yang cerdas dalam hal ini dapat dipahami sebagai bangsa pembaca. Tidak ada definisi yang pasti mengenai bangsa pembaca. Namun, sangat jelas bahwa membangun kecerdasan sangat erat kaitannya dengan upaya membangun bangsa pembaca. Bangsa pembaca adalah bangsa yang masyarakatnya menjadikan kegiatan membaca sebagai bagian dari kehidupannya atau kata lain jadikan buku sebagai teman dekat.

Sebagai mengingatkan saja bahwa bapak-bapak pendiri Indonesia adalah rata-rata kutu buku. Contohnya, seperti Hatta pernah berkata, “kamu bisa penjarakan saya, tapi saya akan lebih baik kalau ada buku”.

Karakter Tukan Pembaca

Bangsa rakus pembaca atau masyarakat memiliki karakteristik sebagai berikut. Pertama, bangsa pembaca adalah bangsa yang terbebas dari buta aksara. Membangun bangsa pembaca dimulai dengan meningkatkan keberaksaraan (literasi) masyarakat melalui pengenalan aksara serta pengajaran kemampuan dan kemahiran membaca kata-kata. Di Papua, khususnya, GPM (gerakan papua mengajar) adalah salah satu cara menormalkan angka buta aksara, di Papua. Pemerintah setempat seharusnya mensuport gerakan-gerakan seperti literasi ini agar pembaca tau masyarakat dapat meningkatkan kemampuan membaca tanpa ada buta huruf dan tentunya perpustakaan daerah harus memfasilitasi dengan perlengkapan perpustakaan yang lengkap misalnya: komputer, internet, ruang meeting dan buku-buku nasional maupun mancanegara supaya seluruh lapisan masyarakat, siswa/i, akademisi maupun homeless dan aibon sekalipun bisa berpartisipasi di rumah buku alias perpustakaan.

Kedua, bangsa pembaca adalah bangsa dengan budaya membaca yang tinggi. Budaya membaca merupakan budaya bangsa yang cerdas dan maju. Jika bangsa Indonesia, secara istimewa Papua mau jadi bangsa yang maju, dan dikatakan bangsa yang cerdas yang setara dengan negara-negara maju lain, maka persoalan rendahnya minat dan budaya baca harus jadi prioritaskan.

“Kalau mengoptimalkan rendahnya budaya baca, kita cinta dulu buku dan perpustakaan, tentunya mulai dari diri kita sendiri bukan pengelola perpustakaan.”

Beberapa studi menyebutkan, seperti dalam kompas tingkat minat baca masyarakat Indonesia masih rendah. Misalnya, penelitian dari Central Connecticut State University, (UNESCO), dan International Student Assessment (PISA) pada 2015/2016 menyebutkan bahwa bangsa Indonesia menempati rata-ra urutan ke-56 atas dari 60 negara dalam hal minat baca. Hasil-hasil studi ini menunjukkan pentingnya kerja keras dan kerja cerdas dalam membangun kemauan dan kebiasaan membaca buku bagi masyarakat Indonesia terutama Papua sebagai fondasi membangun bangsa tukan pembaca. Kami lebih bagus belajar dari negara matahari terbit alias Jepang, bahwa, Jepang telah menjadikan kegiatan membaca menjadi suatu gerakan kultural bangsa yang disebutnya sebagai tachiyomi, atau budaya membaca sambil berdiri. Masyarakat Jepang telah terbiasa membaca apa pun kondisinya meski harus sambil berdiri.

Ketiga, bangsa reader atau pembaca adalah bangsa yang mampu menggunakan apa yang dibacanya untuk meningkatkan taraf kehidupannya. Membangun bangsa pembaca tidak boleh berhenti hanya pada peningkatan buta huruf dan minat membaca, tapi yang lebih penting juga adalah membangun mental membaca. Orang yang memiliki mental membaca selain mengetahui kebutuhan diri akan bahan bacaannya, juga mampu memilih dan mentelaah apa yang dibacanya. Ia mampu membedakan kebenaran isi yang dibacanya, dan tidak mudah menyebarluaskan hasil bacaannya sebelum meneliti kebenarannya. Ia tidak mudah percaya dengan berita atau informasi yang belum diketahui kebenarannya (hoaks atau fake news), apalagi menyebarluaskannya karena ia sudah dewasa dalam intelektualitas melalui membaca “buku”.

“Indonesia dikenal dengan fake news (hoax) karena sebagian jurnalis dan pembagi berita jarang membaca buku”

Selain itu, bangsa pembaca adalah bangsa cerdas, yang memiliki jiwa kreatif dan inovatif berdasarkan pengetahuan atau hasil bacaan yang dimilikinya. Mereka dapat secara bijak memanfaatkan pengetahuan dari hasil bacaannya untuk kehidupannya dan kehidupan sekitar menjadi lebih baik–good social environment. Dengan kata lain, bangsa pembaca adalah bangsa cerdas, yang mampu membangun peradaban berdasarkan pengetahuan yang diperolehnya.

Sejarah membuktikan bahwa hanya bangsa pembaca yang bisa jadi bangsa maju dan memiliki peradaban yang dapat dibanggakan. Anda dan penulis belajar banyak dari gelandangan yang saya bahas di bagian pendahuluan diatas. Mereka percaya bahwa membaca buku lebih mudah cara untuk mendapatkan hari kemenangan pada besok dan di masa depan. Sama hal yang pernah di katakana oleh Margaret Fuller jurnalistik perempuan Amerika, “Today a reader, tomorrow a leader.”

Mewujudkan bangsa pembaca

Mewujudkan bangsa pembaca bukan tanggung jawab satu lembaga atau instansi tertentu, melainkan harus menjadi kerja bersama. Hal penting yang penulis mau bagi adalah orang tua lebih dulu cinta pada buku kemudian setiap rumah menyediakan setidaknya satu ruangan khusus study room atau penuhi dengan rak buku-buku dirumah. Hal ini tidak akan bisa lakukan sejauh tuan rumahnya memandang buku sebagai kertas yang tidak bermanfaat. Namun demikian, sementara orang tua sedang baca buku, secara otomatis anaknya akan ikut berpartisipasi dalam membaca. Oleh karenanya, membangun bangsa pembaca dan mengkarakterisasikan buku sebagai teman untuk menjadikan orang cerdas merupakan tanggung jawab perpustakaan (orang-orang pemerintah) dan orang tua di rumah dan diri sendiri.

Perpustakaan merupakan salah satu penentu dari kemajuan suatu bangsa. Dalam hal ini, menarik apa yang dikatakan seorang jurnalis The Guardian, dalam satu tulisannya bahwa kehidupan masa depan akan sangat bergantung pada perpustakaan dan kegiatan membaca. Perpustakaan (pemerintahan), meskipun bukan satu-satunya, adalah institusi strategis bagi keberlangsungan kegiatan membaca dan pembentukan budaya baca masyarakat. Dengan demikian, Anda dan penulis menjadi yang garda terdepan dalam upaya menegaskan kembali orientasi politik kepustakawanan bangsa Papua khususnya dan pada umumnya masyarakat indonesaia untuk membangun bangsa rakus pembaca, bangsa yang cerdas dan bermental kuat, untuk lari dari tirai misinterpret, atau salah menerjemahkan.

Konklusi 

Penulis menutupi dengan kebiasaan yang kerap kali dilakukan oleh beberapa pelajar Papua yang menegur temannya yang sedang membaca buku di tempat-tempat umum dengan kalimat, “yo ee? anak sekolah”. Frasa ini tentu mematikan semangat pembaca. Penegur tidak tahu kalau ia mendukung ketertinggalan budaya baca di Indonesia, khususnya Papua. Kita, namun demikian, seharusnya mendikte kebiasaan belajar dari orang-orang Jepan dimana orang Jepan tidak menyapa seseorang yang membaca buku di tempat publik dengan bilang, “Yo ee? anak sekolah”, tapi sebaliknay, bahwa orang Jepan dengan senang hati menanyakan dengan kalimat; dimana dapat buku ini? Pasti Orang Jepan langsung jawab, saya dapat buku dari perpustakaan yang pemerintah disediakan. Meski kita menyakan orang Jepan, kenapa negara kamu maju? mereka dengan serta-merta jawab, saya punya negara maju karena kami suka baca buku.

Orang-orang di foto diatas ini adalah di dalam perpustakaan sambil memandang jauh hidup mereka melalui buku yang mereka baca. Lihat saja mereka punya barang bawaan itu, tas besar yang berisi selimut, tenda dll. Kalau mereka bisa, tidak bisakah saya? bahkan bisakah pemerintah memanfaatkan perpustakaan sebagai salah satu ajang peradaban bagi masyarakat Papua dan Indonesia?

Penulis Adalah Alumni SMA Negeri 2 Nabire-Papua

Referensi:

[1]. Kompas: Minat Baca Indonesaia,

[2]. The Guardian: Why the society of Authors is reaching out

Berikan Komentar Anda
Link Banner