Balik Atas
Perayaan Misa 40 Hari & 40 Malam Almarhum Pr. Dr. Neles  Kebadabi Tebai, Pr Di  STFT Fajar Timur
Pewarta: Redaksi Edisi 26/06/2019
| 958 Dibaca

 

Oleh: Adolus Asemki

Perayaan misah 40 hari, 40 malam Pastor Dr. Neles Kebadabi Tebai, Pr. Acara empat puluh hari empat puluh malam memperingati kepergian “Sang Pejuang Perdamaian” pada tanggal 24 mei 2019, pukul 05:00pm sampai dengan selesai. Perayaan misah dipimpin  oleh Dr. Yanuarius You, Pr selaku ketua Yayasan di Keuskupan Jayapura.

Pastor Neles Tebai, Pr (Sang pejuang perdamaian) adalah sosok yang disegani dan dihormati serta dikenal oleh Gerejanya, kelompoknya, wilayahnya, sukunya dan seluru Nusantara bahkan dunia internasional. Di sesi khotba pastor Yan You, Pr menekankan kepada para hadirin untuk tetap berpegang teguh pada iman akan Yesus Kristus. Karena melalui Dialah kita akan diselematkan.

Sesuai kalender liturgi bacaan – bacaan yang diambil pun sesui dengan konteks kepergian “sang pembuka jalan” atau bapak pecinta damai. Dimana bacaan yang diambil adalah bacaan pertama, Kis. 15:22-31,  bacaan Injil, Yoh. 15:12-17. Dalam bacaan tersebut Matopai You disampaikan dalam khotbahnya dengan penuh antusias. Dalam bacaan pertama ditegaskan kepada umat di Yerusalem bahwa sunat tidak ada jaminan sama sekali untuk menggagalkan dalam mewartakan sabda kebenaran kepada umat di Antiokhia, Siria, dan Kilikia adalah diluar bangsa Yahudi.

Sang ”Kebadabi” (sang pembuka jalan) mempunyai misi yang tidak jauh dari isi atau renungan sabda Tuhan dalam bacaan pertama. Ia  adalah seorang (pastor) tidak berpihak pada sukunya, wilayahnya, dan bangsanya tetapi ia memihak kepada semua orang tanpa pandang bulu atau tanpa serta merta dalam segala hal. Di samping itu, ia dalam masa hidup dan karyanya memperjuangkan nilai – nilai Injili yakni keadilan, kejujuran, dan perdamaian dunia. Agar setiap dan semua orang hidup aman, nyaman dan damai untuk semua orang atau berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah. Pastor Kebadabi Tebai ingin menghapus semua stigma – stigma buruk yang diterima dari luar daerahnya karena ketidakpahaman saudara/i dari luar terhadap umatnya di Papua.

Bacaan Injil pun sangat amat konteks kepergiannya sebagai “Sang Pembuka jalan sekaligus tokoh pejuang perdamaian” bagi umat Tuhan di Papua, Indonesia, dan dunia. Dalam Injil Yohanes memerinthkan kepada setiap kita untuk saling mengasihi tanpa membedakan suku, ras, budaya, agama dan lain sebagainya. Saya sangat yakin sekali bahwa pastor Neles berpegang teguh pada perintah Tuhan itu sendiri. Bahkan sampai dengan pastor Kebadabi memberikan nyawanya kepada semua orang di negeri ini maupun siapa saja yang mengenal denganya. Injil Yohanes 15:13 juga, menekankan kepada saudara dan saya bahwa “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat – sahabatnya”. Ini merupakan pesan Tuhan Yesus sebelum meninggalkan para Rasul. Namun, dalam konteks ini pesan pastor Neles kepada umatnya di Papua, Indonesia, dan dunia.

Bacaan – bacaan yang diambil atau ditetapkan dalam kalender liturgi ini, sungguh sangat istimewa. Karena pesan – pesan Tuhan Yesus kepada para murid-Nya sangat identik dengan pesan – pesan yang ditinggalkan  pastor  Dr. Neles K. Neles Tebai, Pr. Pesan pastor secara lisan mapun tulisan kepada setiap kita  yakin ia memberikan seluruh totalitas dirinya bahkan nyawanya untuk semua orang. Ia sudah melaksanakan misi Kristus secara penuh dan dalam pelayanana selama ia mengabdikan dirinya sebagai seorang Gembala umat Tuhan.  Apa lagi tempat ia mengajar pun (STFT) Fajar Timur, mempunyai beragam kenangan semasa hidupanya dikenang sepanjang masa. Setiap minggu saat almarhum khotba di paroki mana saja umat akan mengenangkan dan mengingat kembali pesan apapun yang diutarakannya.Dengan peristiwa kematian P. Neles K. Tebay mengajarkan kita supaya para frater yang nantinya akan menjadi Pastor sungguh-sungguh memiliki semangat pengorbangan dan cinta bagi semua orang tanpa melihat latar belakang dan suku, bangsa dan kelompok etnis lainnya. Bacaan pada hari itu memang beda dari seperti biasanya. Apakah itu mujizat atau tanda peringatan kepada kita bahwa sang pembuka jalan hadir dalam perayaan kudus tersebut?

Usai homili ada empat sambutan yang disampaikan. Sambutan pertama disampaikna oleh pihak keluarga almarhum diwakili oleh Bapak Piliph Degei. Ia mengatakan beberapa hal , pertama beliau sampaikan ucapan terimakasih semua pihak yang berkenan hadir karena misa syukur 40 hari & 40 malam terlaksana tepat waktu. Kedua adalah almarhum sebagai sang figur dan tokoh terkemuka pejuang perdamaian masa kini, yang nantinya akan dikenal dan dikenang para penerusnya. Ketiga almarhum dan saya (Piliph) mengenal pastor itu sosok yang humoris, sabar, dan pendengar setia.

Dalam hubungan relasinya dengan Pastor Kebadaby  Bapak Degei biasanya salah dalam menanggapi apapun yang diskusikan dengan almarhum ia (Bapak Degei) selalu membela dirinya sekalipun salah. Sebelum ada penjelasan dari sang pembuka jalan perdamaian tadi. Sekalipun begitu pastor dengan tenang menjelaskan/memberikan informasi dalam persoalan apapun yang Bpk Degei butuhkan. Pesan Bpk. Degei berikutnya menerangkan bahwa pastor adalah doktor misiolog pertama asal Papua yang menyelesaikan studinya di Universitas Kepausan Urbaniana (Roma), 13 tahun silam atau tepatnya tahun 2006. Pastor sebelum mendapatkan gelar doktor diatas ia pun mendapatkan gelar master di Manila. Bagi dia (almarhum) jalan satu-satunya yang bermartabat untuk menyelesaikan konflik Papua Vs TNI – Polri (Indonesia) adalah “Dialog”. Maka terbentuklah satu wadah yang disebut  Jaringan Damai Papua (JDP) pada tahun 2009 atau 10 tahun silam.

Selain itu, Bpk. Degei kepada para kaum muda – mudi. Untuk kaum perempuan jangan tergoda iman dengan situasi yang ada saat ini. Jangan biarkan dirimu dipermainkan selayaknya permainan. Namun, tetap berpegang teguh pada Injil dan masing – masing mempertahankan kemurniannya. Sebaliknya para lelaki pun isi pesan yang sama seperti para wanita. Kemudian pesan khusus kepada para frater dari 5 keuskupan saat misa peringatan 40 hari &  40 malam adalah para frater jangan main-main untuk sekolah di STFT. Tekuni panggilanmu itu dengan sungguh – sungguh. Harus dengan segenap hati dan akal budimu. Kalau kamu tidak fokus 100% dalam panggilanmu tidak usa paksakan diri untuk sekolah disini. Harus punya komitmen yang jelas, kalau komitmennya tidak jelas dan samar – samar segera lipat tikar pergi dari tempat ini. Bapak/i saudara/i sekalian kita tidak perlu iri hati terhadap sesama kita dan stop kekerasan karena kekerasan tidak menyelesaikan masalah tutupnya.

Sambutan kedua dari ketua Badan Eksekutiv Mahasiswa (BEM) STFT Fajar Timur (Yohane Kayame). Dalam sambutan singkatnya ia mengatakan almarhum pastor Neles Tebai adalah Bapak kami. Kalau ada Bapak, mamanya dimana? Lalu, ia menjawab mamanya adalah STFT Fajar Timur sebagai tempat kami menimba ilmu sebanyak – banyaknya demi pembekalan hidup untuk masa depan. Ia juga menerangkan bahwa kami mahasiswa STFT sangat kecewa sekali karena kuburan Bapak kami tak kunjung usai. Kami berharap supaya kuburan ini segera di selesaikan supaya kelihatan terlihat bagus.

Sambutan ketiga adalah dari Ibu Andriana Elisabeth, mewakili Jaringan Damai Papua (JDP). Beliau juga adalah peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan, almarhum pastor Neles selalu merawat keyakinan semua pemangku kepentingan bahwa suatu saat dialog Jakarta – Papua akan terwujud. Kegigihan dan konsistensinya membuat banyak pemangku kepentingan dalam JDP tetap berusaha bekerja ditengah keraguan dari banyak pihak,” kata dia.

Hubungan dia dengan beliau sangat dekat  sehingga biasanya banyak meluangkan waktu untuk berdiskusi dengannya. Tulisan – tulisan beliau sangat membuka pemikiran kami di LIPI maupun JDP sehingga banyak menggunakan refrensi dari tulisan – tulisannya. Entah refrensinya dari buku maupun di koran seperti, kompas.com,cenderawasih.com,jawapos.com dan korantempo,com yang almarhum muat. Beliau adalah orang yang sabar dan menerima semua pemikiran orang lain kemudian, mengolahnya sampai dengan menyatukan dan dapat diterima oleh semua pihak. Dia adalah sosok pejuang perdamaian sejati yang ia kenal sejak tahun 2006.

Sambutan terakhir disampaikan oleh Ketua Yayasan keuskupan Jayapura, Dr. Yanuarius M. You, Pr. sampaikan dalam khotbanya sudah tersampaikan sehingga tidak perlu diulang. Namun ia pun menyampaikan limpah terimakash kepada berbagai pihak yang telah berkenaan hadir dalam perayaan misa di momentum 40 hari, 40 malam di STFT Fajar Timur. Beliau sampaikan permohonan maaf kepada semua pihak karena ia berjanji sebelum 40 hari 40 malam kuburan almarhum sudah selesai dibangun. Salah satu faktor keterlambatannya adalah gambar design kuburannya belum jadi. Design tersebut terima dari orang yang membuatnya dan akhirnya pada Selasa, 14 Mei pada Minggu lalu dapat menerimanya. Sehingga pertimbangkan untuk bergerak  waktu tak cukup.

Total Rencana Anggaran Biaya (RAB) untuk pembangunan kuburan sebesar Rp. 350.000.000,00 (tiga ratus lima puluh juta rupiah). Untuk mendapatkan uang sebesar itu agak sulit sehingga Matopai mengajak umat sekalian untuk “ebamukai” (sumbangan) sukarela. Sangat disesalkan sekali kok sampai ebamukai. Cara pengumpulan uang dengan cara demikian sangat tidak halal. Mengapa saya sampaikan demikian karena ada beberapa alasan pertama Dr. Neles K. Tebai, Pr sudah secara resmi diserakan kepada gereja semenjak beliau dithabiskan menjadi imam projo Keuskupan Jayapura pada, 28 Juli 1992.

Alasan berikutnya adalah sudah serahkan kepada gereja maka sponsor utamanya adalah pihak keuskupan Jayapura. Bukankah para imam keuskupan Jayapura adalah milik Bapak Uskup? adalah juga Bapak didalam internal keuskupan? Apakah Dr.Neles Tebai, Pr adalah umat biasa seperti kami yang tidak menerima sakramen imamat? Berarti bisa simpulkan bahwa Bapak Uskup Keuskupan Jayapura melepas tanggungjawab. Atau jangan – jangan Bapak Uskup tidak tahu menahu terkait biaya penguburan? Kalau dalam laporan LPJ pihak Keuskupan tidak memberikan dana untuk pembangunan kuburan maka, mesti dipertanyakan. Diaman kebapakannya? Dimana, Uskup sendiri adalah Bapak dan para pastor keuskupan Jayapura adalah anak – anaknya. Dalam suatu keuskupan Uskup adalah punya wewenang tertinggi untuk mengambil beragam kebijakan dalam internal keuskupan itu sendiri.

Solusi yang bisa saya tawarkan adalah Bapak Uskup tinggal surati kepada 4 pastor dekan di dekenat keuskupan Jayapura. Untuk teknis penggalangan dananya dapat diatur oleh pastor dekan di masing – masing dekenat. Untuk menyumbangkan dana pembangunan kuburan pastor Dr. Neles K. Tebai, Pr saja ebamukai ini yang sangat diprihatinkan. Coba bayangkan didalam empat dekenat terdapat berapa paroki misalnya dekenat Pegunungan Bintang terdapat 4 paroki diantaranya, paroki Roh Kudus Mabilabol, paroki Bintang Timur Apmisibil, paroki Oklip, dan Paroki Iwor. Belum lagi 3 dekenat lain dengan paroki – parokinya. Itu saja sudah cukup malahan dana akan terkumpul melewati jumlah yang tertera dalam RAB. Solusi yang ditawarkan ini merupakan jalan satu – satunya yang dapat diatasi secara cepat dan tepat waktu untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Dalam finansial maupun bentuk barang yang dibutuhkan akan 100% dapat teratasi dengan baik. Jangan sampai masalah biaya ini tidak sampaikan kepada Bapak Uskup oleh wakil uskup atau ketua Yayasan. Pastor Dr. Yanuarius M. You, Pr menyampaikan dalam sambutannya bahwa pembangunan kuburan dibutuhkan waktu 100 hari. Dengan alasan karena bangun ini, akan mengikuti design gambar yang disediakan oleh insenyur. Sekali lagi kami mohon dengan penuh hormat Bapak Uskup untuk segara menangani kasus ini. Selamat membaca. YEMPUM!!!

Jayapura, 25 Mei 2019, (pukul, 07:17Am)

Penulis Adalah Mantan Ketua Asrama Mahasiswa Katolik Tabuboria

Berikan Komentar Anda
PASANG IKLAN PAPUALIVES.COM