Balik Atas
Perempuan Dalam Revolusi
 
Pewarta: Redaksi Edisi 15/08/2015
| 1895 Views
Thomas CH Syufi
Thomas CH Syufi (Foto:Dok Pribadi)

Oleh :Thomas CH Syufi

Lahir demi kebebasan, tiada sudi memikul beban besi pemerintahan zalim. Ambisi kami dikorbankan oleh ketenaran pendekar-pendekar perempuan yang memandang cemerlang jenisnya sesama perempuan, dan telah membuktikan kepada semesta, bahwa apabila kelemahan konstitusi kita, jika opini dan tata cara tidak melarang kami berbaris ke arah kegemilangan, melalui jalan-jalan sama dengan yang dilakukan oleh laki-laki, sedikitnya kami harus menyamai, dan kadangkala melebihi mereka, dalam cinta kasih kami pada kesejahteraan masyarakat”.Begitulah secuil cuplikan isi hati seorang perempuan Amerika di Philadelphia tahun 1780 yang termuat dalam buku berjudul, “Born for Liberty” dengan subjudulnya, “A History of Women in America”. Buku dengan jumlah 372 halaman tersebut  menyajikan bagaimana kegigiahan, keuletan, dan keberanian para perempuan Amerika yang terlibat  dalam perjuangan meraih kemerdekaan Amerika dari  penjajahan Kerajaan Inggris, atau Britania Raya, waktu itu.

Perjuangan untuk merebut kemerdekaan Amerika  sepanjang empat abad, itu tak ketinggalan dari peran penting  kaum perempuan. Oleh sebab itu,  dalam sejarah perjuangan kemerdekan  Amerika, nama perempuan takkan dilekang oleh waktu dan zaman. Tetapi, hal tersebut selalu menjadi nostalgia dan ingatan baru dalam sejarah peradaban umat manusia, teristimewa bagi generasi baru Amerika.

Dengan berbagai torehan sejarah yang dilakukan oleh kaum perempuan di era-era  sebelumnya, tentu menjadi pijakan yang sangat luar biasa bagi kaum perempuan di zaman sekarang.  Hal tersebut menjadi inspirasi dan dorongan juga bagi  para perempuan untuk menatap masa depan dengan penuh keyakinan, bahwa dunia ini milik semua orang dan semua orang juga mempunyai hak yang sama untuk melakukan sesuatu demi  mempertahankan hidup dan untuk kebaikan bersama.

Buktinya, pada abad ke 20,terjanya  sebuah pergolakan awal orang kulit hitam di Amerika yang dilakukan oleh seorang wanita Afro-Amerika bernama Rosa Parks pada tahun 1955. Wanita kulit hitam yang kemudian hari mendapat penghargaan dari Presiden Bill Clinton itu menolak memberi kursinya di bus di mana tempat duduk juga dipisahkan dalam kejadian di  Montegomery, Alabama.

Penangkapan atas Parks memicu sebuah boikot sukses yang berlangsung setahun dipimpin oleh Martin Luther King Jr. Boikot bertujuan membatalkan segregasi dalam bus kota. Hanya kurung waktu setengah abad lebih, perjuangan Rosa Parks dan Martin Luther King Jr itu membuahkan hasil yang gemilang bagi orang kulit hitam, yang berujung pada terpilihnya Barack Obama sebagai Presiden ke- 44 AS, pertamaturunan Afro-Amerika.

Dari rangkaian sejarah ini, perempuan mendapat legitimasi istimewa dalampanggung  sejarah revolusi dunia. Selama ini, kebanyakan orang hanya mengenal dengan sejarah revolusi Prancis, 14 Juli 1789, revolusi industri Inggris, abad XVIII- VIIII (1750-1850),  revolusi Amerika, 1776 ,  dan revolusi  sosialis ala Marxis di Amerika  Latin yang diperkenalkan dan digerakan oleh Ernesto “Che” Guevara, diawali di Kuba sebelum akhirnya ia tertangkap dan ditembak mati di Bolivia. Yang mana, tiga revolusi penting tersebut tokoh-tokohutamanya  ialah kaum laki-laki.

Perjuangan yang tak kalah mulianya juga dilakukan oleh Ibu Teresa– biarawati Katolik, pendiri Misionaris Cinta Kasih keturunan Albania kelahiran Kerajaan Ottoman (Macedonia), Yugoslavia, 26 Agustus 1910.Ibu Teresa mengambil keputusan penting dalam sejarah hidupnya untuk melayani orang kusta dan miskin di Kalkuta, India. Datang dari benua biru, Eropanan jauh ke Asia hanya demi kemanusiaan. Mengaruni negara dengan penduduk terpadat kedua atau 1,45 juta jiwa di dunia itu tidak lain, ia hanya ingin melayani; memanusiakan orang kusta dan miskin.

Menurut Ibu Teresa, orang kusta dan miskin juga manusia yang harus dimanusikan. Bunda Teresa menghibur yang papa, tanpa mengeluh, menuntut, dan mengkritik yang mapan.Ia bekerja dengan tulus dan rendahn hati. Diam. Perjuangannya hanya demi sebuah perubahan yang berdimensi kemanusiaan tanpa pamrih. Bunda Teresa hanya memiliki satu tekat, ia ingin menjalankan misi kemanusiaan yang diajarkan oleh Kristus Yesus Gembala yang baik. Akhinya, Beata dan peraih Nobel Perdamaian tahun1979  itu pun wafat  pada tanggal 7 September 1997 di Kalkuta India, karena penyangkit kangker yang menyerangnya sejak kecil.Menurut Bunda Teresa, “Non nobis solum nati sumus, kita tidak dilahirkan untuk diri kita sendiri saja”.

Tahun 2014,  dunia digegerakan dengan berita untuk pertama kalinya  seorang perempuan memimpin sebuah Universitas Kepausaan, Antonianum, Roma, Italia yang dijalankan oleh Ordo Saudara Dina. Perempuan dengan gelar profesor teologi dan ahli tentang Santo Antonius dari Padua itu bernama, Maria Domenica atau Mari Melone.Ia adalah seorang Suster biarawati. Suster Mary bergabung dengan Para Suster-Suster Fransiskan dari Beata Angelina dengan mengucapakan kaul sementara tahun 1986 dan kaul tetap tahun 1991.Suster Mary yang baru menyelesaikan pendidikan khusus di bidang sastra Yunani dan Roma kuno itu juga adalah presiden masyarakat Italia untuk penelitian teologis dan mantan kepala Institut Redemptor Hominis.Ia banyak memegang banyak peran utama dalam akademisi dan telah menerbitkan banyak artikel dan esai. Apresiasi yang layak juga dialamatkan kepada Grocholowsky sebagai Prefek Kongregasi bagi Pendidikan yang dengan bijaksana menunjuk Suster Mary menjadi pimpinan di Universitas Kepausan tersebut. Ditunjuknya Suster Mary menjabat rektor di Universitas Kepausan tersebut merupakan  sejarah baru dalam tradisi Gereja Katolik Roma, yang ratusan ribu tahun dianggap tabu.

Sebagaimana dikatakan Suster Mary kepada L’Osservatore Romano, yang diterbitkan pada kesempatan terpilihnya sebagai dekan fakultas teologi pada univeritas tersebut.Suster dengan penampilan Fransiskanis dan bekerja seperti seorang Ignatian sejati itu menyatakan, “Gereja tidak perlu kuota gender”. Menurut Suster, kini dunia telah berubah, jangan lagi buat perbandingan antara lagi-laki dan perempuan. Menurut Mary, perempuan harus banyak bertindak dan aktif mengikuti perubahan zaman.

“Saya percaya ini banyak tergantung pada kami perempuan juga.Kami harus cepat menjemput bola yang begelinding,” ujar Suster berkap hitam itu.Sejak menjabat rektor, Suster Mary telah melakukan berbagai terobosan spektakuler di tubuh universitas, terutama menata manajemen keuangan dan administrasi universitas, lebih mengutamakan pelayanan akademik, serta kegiatan-kegiatansosial dan kemanusiaan.

Indonesia juga memiliki perempuan-perempuan hebat, baik di masa lalu maupun sekarang yang terlibat dalam pergerakan revolusi dan perjuangan di bidang hak asasi manusia (HAM). Pada masa lalu, sepertiRA Kartini tokoh emansipasi perempuan Indonesia dalam bidang pendindikan, Martha Chiristina Tiahahu, seorang gadis asal Ambon, Maluku yang pada usia 17 tahun dengan berani angkat senjata melawan penjajah demi kemerdekaan Indonesia, Cut Nyak Meutia adalah pahlawan nasional Indonesia dari daerah Aceh.

Maria Josephine Catherine Maramis seorang tokoh nasional asal Minahasa, Sulawesi Utara. Dengan jasa baik itulahsetiap tanggal 1 Desember, masyarakat Minahasa memperingati Hari Ibu Maria Walanda Maramis, sosok yang dianggap sebagai pendobrak adat, pejuang kemajuan, dan emansipasi perempuan di dunia politik dan pendidikan, Cut Nyak Dhien adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia dari Aceh yang berjuang melawan Belanda pada masa Perang Aceh, dan Maria Ulfah Soebadio Sastrosatomo, yang menjadi menteri perempuan pertama dalam sejarah Indonesia. Maria Ulfah yang mendapat anugerah HAM  bersamaan dengan aktivis HAM  Munir (alm) pada 12 Desmber 2014 dari Komnas HAM RI itu, adalah orang pertama yang mengusulkan agar HAM menjadi pasal khusus dalam UUD 1945.

Masa kini,  Indonesia memilik beberapa wanita hebat yang berani berjuang untuk kepentingan banyak orang. Misalnya, Mama Yosepha Alomang, tokoh perempuan Papua asal Amungme, Timika, Papua. Mama Yosepha yang telah menghabiskan separuh hidupnya demi perjuangan HAM dan lingkungan di Tanah Papua, yang dimulai dari PT. Freeport Indonesia. Pada tahun 2001, Mama Yosepha mendirikan  YAHAMAK (Yayasan Hak Asasi Manusia Anti Kekerasan) dengan uang yang diterimanya ketika ia memperoleh penghargaan Yap Thiam Hien pada 1999.

Selain Mama Yosepha, nama lain yang cukup pupuler juga  adalah Suciwati istri aktivis HAM nasional, Munir (alm).Suara Suciwati terus terdengar hingga saat ini. Meskipun suaminya, Munir yang dibunuh oleh tangan-tangan gelap  saat menumpangi pesawat menuju Amsterdam tahun 2004 lalu– itu tak dapat menyurutkan semangatnya untuk berjuang demi kemanusiaan di Indonesia. Sosok Suciwati membuat kita selalu mengingat pada mending Munir.

Garis sejarah membuktikan, para perempuan tak kalah dari laki-laki dari segi kompetensi berpikir dan kualitas karya.Peran perempuan dalam sejarah revolusi dan perjuangan kemanusiaan di dunia, bukanlah hal yang baru dan tabu.Tetapi telah berlangsung sejak ratusan tahun yang lalu.Termasuk Indonesia, memiliki srikandi-srikandi hebat yang ikut berkontribusi bagi pembaruan bangsa; penegakan demokrasi dan HAM, serta perjuangan merebut kemerdekaan dari para penjajah.

Sebetulnya, beberapa ulasan singkat tentang sejumlah perempuan berpengaruh di dunia dan Indonesia ini harus menjadi inspirasi baru bagi generasi sekarang, terutama bagi pemerintah untuk lebih aktif memperhatikan dan memperjuangkan hak-hak perempuan dalam segala aspek kehidupan.Karena, dengan adanya perempuan segala urusan bangsa ini bisa berjalan dengan baik.Perempuan sebagai tiang menyangga dan inspirator dalam keluarga, sekaligius juga untuk bangsa dan negara.

Hanya, pemerintah kita belum memiliki perhatian serius untuk mengurus hak-hak perempuan dalam urusan publik. Kerap kali, perempuan dilihat dengan sebelah mata sebagai golongan kelas  dua dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Secara fisik, mungkin saja laki-laki lebih kuat daripada perempuan, tetapi dalam hal kualitas berpikir dan berkarya hampir sama sama, bahkan ada perempuan yang memiliki kemampuan lebih daripada laki-laki. Perempuan adalah makhluk yang sama seperti kaum adam, mempunyai hak yang sama, tanpa superioritas dan inferioritas; sama rata sama rasa.

Tetapi sayangnya, hak-hak perempuan di negeri ini kadang diabaikan.Kebanyakan perempuan diperlakukan secara tidak adil di berbagai bidang kehidupan; kekerasan dalam rumah tangga akibat dominasinya budaya patriarki, kekerasan dan pelecehan seksual di berbagai tempat, ketidakadilan dalam dunia kerja, dan sebagainya masih mendera para srikandi Indonesia.Perempuan selalu menjadi subordinasi dari kaum laki-laki.Tidak ada media yang efektif untuk mereka mengadukan semua permasalahan yang dihadapinya.Wajah pengadilan kita pun masih seram dan kumuh. Menurut data Komnas HAM dalam periode 1998-2010 telah terjadi 91,311 kasus pelecehan terhadap perempuan. Jika dikalkulasikan,sehari rata-rata terjadi 28 kasus kekerasaan seksual terhadap perempuan.Sangat miris, karena kejadian seperti ini bukannya menurun, tetapi lebih meningkat hingga saat ini.

Padahal, siapa pun dia, perempuan di negeri ini harus mempunyai hak yang sama, “termasukpara  hostessdan atau wanita tuna susila (WTS) pun perlu dihargai martabatnya. Hanya karena tekanan ekonomi dan sosial pilihan hidup berbeda-beda, tetapi hakektanya  semua samasebagai manusia, sebab aequitas agit in personam, keadilan adalah milik semua orang.

Sekitar tiga pekan ini, rakyat Indonesia dipersibukan dengan berita, Presiden Joko Widodo (Jokowi) ingin mengaktifkan kembali pasal penghinan Presiden, yang kini menuai protes dari berbagai pihak, baik pengamat, politisi, aktivis LSM, dan mahasiswa. Yang mana, menurut para pengkritik, jika Jokowi menghidupkan kembali pasal tersebut, sama saja ia kembali membangkitkan otoritarianisme yang pernah hidup dan bersemi di negara ini selama tiga dekade yang antikritik dan demokrasi.

Masih bayak “PR” yang harus dikerjakan oleh Presiden Jokowi, seperti meninjau ulang Undang-Undang  KDRT yang belum menjamin hak hidup para perempuan, UU Buruh dan  Tenagga Kerja, pembatasan jam kerja bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan. Presiden Jokowi juga diharapkan bisa menggagas sebuah UU khusus bagi para perempuan yang biasanya mengenakan atribut religius; wanita berjilbab danpara Suster Biarawati.

Hal itu dilakukan untuk mencegah berbagai bentuk ketidakdilan yang akan terjadi dikemudian hari, yang sulit dituntaskan dipengadilan karena masih buruknya sistem pengadilan di Indonesia yang menganut budaya transaksional,sebagaiamanapernah  terjadi di India. Padahal, impian rakyat memilih Jokowi sebagai presiden RI, adalah untuk revolusi mental, bukan revolusi gombal! Semoga.

*). Penulis adalah aktivis PMKRI Nasional Sanctus Thomas Aquinas, di Jakarta.

Berikan Komentar Anda