BALIK ATAS
TENTANG KAMI |REDAKSI | DISCAIMER| SITEMAP| PRIVACY| IKLAN | KODE ETIK| PENGADUAN |
Persipura versus Persija Jakarta, adu gengsi antara pusat dan daerah terjauh
Diterbitkan Oleh: Redaksi Date 13th April 2018
| 423 DIBACA

Jayapura, GP-Bukan kebetulan kalau Persija telah beberapa kali takluk di bawah kekuatan anak anak Papua sejak pertandingan merebut scudetto ISL 2009 di Jepara.
Sebelumnya Persipura juga telah menundukan Persija 3-2 di kandang Macan Kemayoran dalam Liga Indonesia 2005. Tercatat 2001 sampai 2009 Persija belum pernah menang lawan Persipura. Tim Macan Kemayoran telah delapan kali kalah melawan Persipura.
Bahkan Persipura jaman Hengki Heipon dan kawan kawan juga pernah mengalahkan Persija Jakarta yang diperkuat beberapa pilar pemain PSSI seperti Iswadi Idris, Risdiyanto dan Ronny Pasla. Waktu itu dalam final 19 Arpil 1976 di Jakarta tim kebanggaan masyarakat Papua Persipura menundukan Persija Jakarta dengan skor 3-2

Kemenangan ini mungkin bagi warga Papua adalah menjadi simbol di mana dominasi kekuasaan Jakarta bisa saja dikalahkan melalui permainan cantik dan menyerang dalam sepak bola. Ya ! Eduard Ivakdalam dan kawan kawan sudah mengembalikan kejayaan sepak bola Papua yang hilang selama 26 tahun. Kini dalam tempo tiga tahun pelatih Kepala JFTiago mampu mengangkat pamor Persipura dan Ivakdalam memegang tropi juara Indonesia Super Liga 2009.
Ketika kemenangan melawan Persija di Jepara, kontan warga kota berpesta menyambut hasil gemilang.

Namun apa yang sebenarnya tersirat dibalik prestasi anak anak Mutiara Hitam tersebut bagi warga Papua?
Memang kadangkala orang mencoba menyingkirkan sepak bola dan politik tetapi spiritnya tentu menyerempet ke dalam semangat menemukan kembali sebuah harga diri.

Bukan saja Persipura melawan Persija Jakarta, tapi ketika Kesebelasan Nasional Iran melawan Kesebelasan Amerika Serikat di Perancis pada 1998 , maka semua mata tertuju kepada ketegangan politik antar kedua negara.
Keberhasilan Iran mengalahkan Amerika Serikat langsung direspons oleh media massa Iran sebagai simbol keberhasilan mereka mengalahkan sang setan besar. Ya sepak bola bukan sekadar bersenang senang, telah melangkah lebih jauh sebagai komoditi politik. Selain sebagai identitas dan kebanggaan suatu bangsa termasuk bagaimana Kesebelasan Persipura mampu menundukan tim Ibukota Jakarta.

Sepak bola telah memberikan hiburan atau sebuah obat untuk mengurangi luka luka warga Papua yang selama ini mereka alami. Pasalnya UU Otsus yang berlaku di tanah Papua justru tidak mampu mengobati luka luka hati di setiap hati warga Papua. Tak heran kalau M Thaha Alhamid menegaskan di kala UU Otsus morat marit hanya pasukan malaikat Persipura yang mampu angkat kitorang punya harga diri.

Pesepak bola kesohor dunia dari Argentina Diego Maradona disejajarkan martabatnya dengan orang suci alias santo di klub Napoli daerah miskin di Selatan Italia. Rasa cinta mereka justru melebihi rasa nasionalisme mereka terhadap negara Italia sendiri. Buktinya ketika Piala Dunia 1990, saat Italia berjumpa dengan Argentina di Napoli. Bukannya warga Napoli mendukung Italia tetapi Maradona dan Argentinanya.

Ya faktor Maradona yang dianggap penyelamat orang Napoli dari Selatan Italia simbol kemiskinan dan keterbelakangan di Selatan Italia. Ironinya saat Italia tersisih seluruh warga Napoli mengelu-elukan dewa mereka Diego Maradona dan Argentina.

Kecintaan warga Napoli kepada Maradona merupakan wujud penghargaan mereka terhadapnya karena telah melambungkan sebuah klub miskin menjadi klub besar. Ya Diego Armando Maradona telah mengangkat Napoli sejajar dengan klub klub kaya di Italia seperti Juventus, Milan, Inter dan Roma.

60a.JPG

Sosok Maradona dianggap sebagai sang pembebas, ratu adil yang telah membebaskan Napoli dari keterbelakangan ekonomi, sosial, budaya. Namun yang terpenting, Diego telah membawa Napoli pada puncak harga diri dan martabat di tengah warga Italia.

Bukan hanya itu saja pengalaman warga Catalan basis klub Barcelona juga dianggap oleh pendukung Barca sebagai simbol perlawanan mereka terhadap kekuasaan Madrid di Spanyol. Kemenangan atas Real Madrid lebih berharga ketimbang mereka juara Piala Champion.

Bahkan semangat separatisme di sana lahir karena sebuah harga diri melawan para penguasa Spanyol dengan simbol mengalahkan Real Madrid tim kaya yang bertaburan bintang.
Ketika melawan MU dalam laga final Champion 2009 lalu wartawan Spanyol sedikit bercanda. Wartawan Spanyol bertanya kepada Sir Alex Ferguson bukankah Barca baru saja mengalahkan tim “berseragam putih putih” di Spanyol dengan skor telak 6-2.
Kontan Sir Alex Ferguson menjawab ,”kami lebih baik dari Real Madrid.” Buktinya di Roma Italia klub MU asal Inggris yang “berseragam putih putih” dihancurkan Barca.
Ronaldo alias CR 7 dibuat tak berkutik oleh Lionel Messi dan kawan kawan. MU kalah telak di Roma Italia dengan skor 2-0 tanpa balas dan perlawanan yang berarti.

Tak heran gaya bermain Barca dan Persipura hampir mirip. Dalam Suara Tifosi Tabloid Bola, Jumat, 22 Mei 2009. Pecinta sepak bola asal Papua Lionel Vincent Makabory menulis dan membandingkan Persipura dengan Barcelona antara lain,

1. Barcelona berasal dari Catalunya, yang memiliki gerakan separatisme dari Spanyol. Persipura berasal dari Papua di mana terdapat OPM( Organisasi Papua Merdeka).

2. Keduanya menggunakann produk binaan sendiri, kapten Charles Puyol dan Eduard Ivakdalam. Boaz ”Bochi” Salossa dan Lionel Messi. Immanuel Wanggai dan Andres Iniesta.

3. Keduanya memiliki trisula sangat tajam dan menempati daftar teratas top scorer liga masing masing.

4. Kombinasi trisula keduanya pun sama persis. Jika Messi, produk asli Barca, karena berasal dari akademi klub La Masia. Messi diapit Samuel Eto’o yang kini bermain di Inter dengan Thiery Henry. Bochi produk lokal Papua diapit Albeto Goncalves dan Ernest Jeremiah.

5. Keduanya memainkan sepak bola menyerang dengan ciri khas umpan umpan pendek.

6. Sama sama dilatih pelatih muda. Jose Guardiola dan Jacksen F Tiago.

7. Keduanya mempunyai rekor memasukan dan kemasukan gol yang sangat baik.

8. Sama sama penghasil pemain muda berbakat yang akhirnya bersinar di klub lain; Cesc Fabregas, Luis Garcia, Mikel Arteta (Barca), Elly Aiboi, Okctovianus Maniani, Christian Warabay (Sriwijaya FC), Korinus Fingkreuw yang kini bermain di Persebaya.

9. Keduanya mengunci gelar juara liga masing masing di pekan yang sama.

Agaknya terlalu berlebihan, jika mau membanding Persipura dengan Barcelona. Namun setiap orang memiliki hak untuk menyampaikan pendapat termask tifosi asal Papua.
Kelebihan dari Barca, mampu menjaga ritme dan permainannya. Walau pemain pengganti yang masuk bermain, kualitasnya tetap sama dan tempo permainan tak berubah.

Tidak ada perbedaan mencolok antara pemain cadangan, dan ini. mungkin merupakan kelebihan El Barca. Apalagi mereka telah menutup akhir 2009 dengan hasil gemilang Juara Dunia Antar klub di Abu Dhabi Uni Emirat Arab. Barca satu satunya klub yang mampu merebut enam gelar dan Lionel Messy terpilih sebagai pemain terbaik.

Kemenangan Barca diraih setelah mengandaskan juara Amerika klub asal Argentina Estuantes de la Plata dengan skor 2-1. Meski ketinggalan 1-0 pada babak pertama hasil tandukan Mauro Boselli. Jelang akhir babak kedua pemain pengganti Pedro berhasil menyamakan kedudukan. Messy melengkapi kemenangan pada perpanjangan waktu 15 menit kedua.

Kemenangan ini merupakan gelar pertama sepanjang Barca. Pasalnya pada Piala Dunia Klub di Jepang 2006, Barca gagal menorehkan sejarah. Begitu pula pada 1992 ketika masih Piala Toyota juga kalah. Barca kalah dari duet Brasil Sao Paulo (1992) dan Internacional(2006).

Tim dari The Catalans ini terkenal tidak boros membelanjakan pemain dan lebih mengutamakan produk lokal. Kalau pun ada pemain dari luar diperuntukan hanya menutupi kelemahan di tubuh Barca sendiri.
Hal ini sangat berbeda dengan rival terberat mereka di La Liga, Real Madrid. Membeli pemain bintang dunia, Kaka dari Brasil, Ronaldino dari Portugal dan Karim Benzena dari Perancis.

Presiden Barca, Joan Laporta sebagai orang Catalan juga punya syarat resmi memimpin Barcelona. Dalam setiap kesempatan Laporta selalu mengampanyekan kemerdekaan Catalan. Bagi dia Barcelona selalu menjadi alat propaganda utama. Barcelona ibarat bendera negeri orang orang Catalan.
Dia identitas dan harga diri yang terikat dengan budaya orang orang Catalan.

Sebaliknya Persipura Mutiara Hitam dan klub klub sepak bola asal Papua adalah kesebelasan dari ufuk Timur Indonesia. Bagi kebanyakan orang Indonesia kesebelasan asal Papua sering identik dengan keterbelakangan dan kemiskinan. Atau daerah konflik sehingga pendekatan militer seringkali dipakai guna menyelesaikan masalah kekerasan di Tanah Papua. Ya sepak bola satu satunya penghibur dan pelipur lara ibarat obat generik.
Walau sebenarnya kalau dikaji lebih mendalam, tanah Papua sangat kaya tambang emas , tapi rakyatnya masih mendulang emas di limbah tambang milik PT Freeport dan hidup di bawah garis kemiskinan. Provinsi Papua dan Papua Barat juga menduduki rangking pertama HIV/AIDS di Indonesia, mencapai angka 6000 .

Data terakhir 2009 menyebutkan pengidap HIV/AIDS sekitar 6.245 orang dengan rincian di Provinsi Papua sebanyak 4.765 orang dan Provinsi Papua Barat sejumlah 1500 orang. Sedangkan negara tetangga Papua New Guinea mencapai angka 10 juta lebih orang. Kelaparan dan krisis pangan pun masih menyelimuti Kabupaten Yahukimo.

Namun dibalik semua kekisruhan tanah Papua, tim kebanggaan masyarakat Papua, Persipura berhasil menyamai rekor Persebaya dan Persik Kediri. Dua kesebelasan asal Jawa Timur yang sarat fasilitas dan tentunya sponsor pembinaan sepak bola. Persipura telah dua kali jadi juara Liga dan Indonesia Super Liga (ISL 2009).Kini Samba dari Timur mulai menapakan tajinya di kancah Sepak Bola Asia. Sebuah pergulatan yang amat sulit, tapi Mutiara Hitam dari Papua harus mampu melewatinya.

Pelatih Kepala Persipura JF Tiago mengaku dia sangat beruntung memiliki pemain lokal yang kemampuan skill individunya tidak kalah dengan pemain asing. “Anak anak Papua bermain bola bukan mengejar bonus tetapi membela nama daerah. Itulah yang jadi motivasi mereka,”ujar JF Tiago.

Persipura mampu menyamai rekor Persik Kediri dan Persebaya karena anak anak bermain demi membela nama daerah. Bahkan sang jenderal lapangan tengah Eduard Ivakdalam ketika mencapai prestasi tertinggi dan banyak tawaran yang datang kepadanya. Kontan dia menolak dan jawabannya,”Kami tetap membela tanah ini.”

Eduard Ivakdalam menegaskan uang bukan segala galanya. Apalagi semua orang boleh bicara soal nama dan identitas Papua, tapi tidak semua orang Papua membela nama dan kejayaan tanah Papua dalam pentas nasional. Tak heran kalau ia berujar hanya tanah kelahirannya menjadi kebanggaan tatkala tampil membela tim bertajuk Mutiara Hitam
Ya mereka semua bersatu padu membela tanah Papua dari hinaan dan tak masuk dalam perhitungan sepak bola Indonesia. Kini mereka pantas menyandang predikat tim juara dan mampukah berprestasi di Liga Champion Asia? Tampaknya sasaran berikutnya yang jadi target utama JF Tiago dan skuad Persipura musim depan 2010. Pasalnya saat itu Kota Jayapura genap satu abad dan usia Persipura tepat 60 tahun.

Ritus Kebaktian dan Ibadah di dalam tubuh Persipura menjadi salah satu kunci utama kemenangan Persipura. Pasalnya anak anak Mutiara Hitam yang sebagian besar beragama Kristen Protestan secara rutin menjalani ibadah dipimpin Pendeta MP Maury.

Ritual ini sangat efektif untuk berkonsentrasi dalam bertanding dan juga menjauhkan mereka dari pengaruh miras. Apalagi Ketua Persipura MR Kambu selalu menekankan agar menyerahkan diri pada Tuhan sehingga mendapatkan hasil optimal saat bertanding di lapangan.

Mungkinkah Eduard Ivakdalam dan kawan kawan mampu memberikan sebuah kado khusus dengan hadiah juara atau menembus tim elite Champion Asia? Tak tahulah tapi yang jelas di mana ada kemauan di situ pasti ada jalan Tidak tertutup kemungkinan jika Persipura mampu menembus kancah elite sepak bola Asia dan tentunya mengangkat nama sepak bola Indonesia.(*)

goalpapua.wordpress.com

Berikan Komentar Anda