Balik Atas
Pesan Rekonsiliasi dari Semenajung Balkan
 
Pewarta: Redaksi Edisi 11/06/2015
| 1392 Views
Thomas Ch. Syufi (Foto:Dok Pribadi)
Thomas Ch. Syufi               (Foto:Dok Pribadi)

Peperangan jangan pernah terjadi lagi,” demikian seruan Paus Fransiskus kepada rakyat Bosnia dalam perayaan misa bersama 65 ribu umat Katolik di Sarajevo, ibu kota Bosnia-Herzegovina, 8 Juni 2015. TujuanPaus Fransiskus melakukan lawatan kenegaraan selama satu hari, Sabtu (6/6) di bekas negara pecahan Yugoslavia itu– untuk mendorong‘rekonsiliasi dan perdamaian berkelanjutan’ du dekade setelah perang Bosnia.

Bosnia-Herzegovina dikenal sebagai daerah yang sekian lama dicabik-cabik dengan perang Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA). Bosnia memiliki sejarah yang panjang– tetapi juga sejarah berdarah. Pada tahun 1990, darah mulai mengalir di negeri itu yang menjadi ajang petempuran etnis Kroasia, Bosnia, danSerbia yang meperebutkan kota Sarajevo ketika Negara kesatuan Yugoslavia pecah.Dalam perjalanannya untuk mempromisikan perdamaian dan rekonsiliasi tersebut, Paus Fransiskus yang merupakan pemimpin tertinggi umat Katolik sedunia itu, ia bertemu dengan berbagai pihak di Bosnia, seperti komunitas Muslim, Kristen Ortodoks, dan Yahudi. Ia meminta agar semua pihak segera mengakhir konflik yang berkepanjangan dan mengenaskan lebih dari dua dasawarasa di negara itu.

Rangkain perang kaum Serbia yang beragama Kristen Ortodoks dan kaum Bosnia yang beragama Isalam sejak awal 1990 hingga tahun 1995 berbuntut pada pemisahan etnik yang dalam.

Dalam sebuah pesan kepada penduduk Bosnia di Sarajevo, Paus yang memiliki nama Bergoglio itu menulis: “Saya datang diantara kalian untuk mengeskpresikan dukungan saya terhadap gereja dan dialog antar keyakinan, dan untuk mendorong perdamaian di negara Anda.”

Jelas, kedatangan Paus Fransiskus di negara Balkan itu, bukan saja untuk kepentingan umat Katolik yang sebagian besar adalah kaum Bosnia Kroasia, yang diperkirakan mencapai 10-15 persen dari sekitar 3,9 juta penduduk Bosnia, tetapi ia datang untuk semua warga Bosnia.

Dalam pembicaraan dengan presidium Bosnia dari tiga etnis, Paus menyerukan agar negeri itu menolak perpecahan dan terus bekerja mewujudkan perdamaian untuk menciptakan “suatu melodi yang indah dan agung yang sublim, dan bukan teriakan kebencian yang fanatik.”

Dalam percakapan dengan wartawan di pesawat yang membawanya ke Bosnia, Paus menggambarkan Sarajevo sebagai “Yerusalem di (daerah) Barat.”

“Kota dengan kebudayaan keagamaan dan etnik yang begitu beragam. Ini juga kota yang begitu menderita sepanjang sejarahnya. Namun sekarang kota ini berada di jalur indah perdamaian,” kata Paus Fransiskus yang telah 25 berhenti menonton TV itu.

Lewat 20 tahun sesudah berakhirnya perang berdarah, Bosnia masih terkotak-kotak secara etnik dan agama. Oleh sebab itu lawatan kenegaraan Paus asal Argentina itu untuk ingin menyatukan semua friksi dan perpecahan yang terus terjadi. Masih menganganya jurang pemisah antara agama dan etnik di Bosniahanya karena egoisme dan fanatisme manusia. Masing-masing mengklaim kebenaran sepihak tanpa meperdulikan rasa solidaritas kemanusiaan yang dalam.

Dalam kesempatan itu, Paus Fransiskus juga menyatakan, perang tidak membawa kebaikan– perang hanya meninggalkan reruntuhan puing-puing belaka. “Perang berarti kaum sepuh, perempuan dan anak-anak berada di kamp-kamp pengungsi. Berarti pengungsian paksa, kehancuran rumah-rumah, jalan, dan pabrik-pabrik. Di atas segalanya, hancurnya kehidupan yang tak terhitung jumlahnya,” kata Puas dalam Khotbahnya di Stadion Kosevo, Searjevo, yang dipadati lebih dari 60.000 umat.

Jika dilihat, Konflik Bosnia Hersegovina berlangsung sejak lama, 1992-1995. Konflik ini menelan banyak korban tewas sekitar 100.000 orang– sementara dua juta orang terusir dan terpaksa mengungsi. Terjadinya konflik, karena nilai dan kepentingan warga Bosnia yang beberda. Menurut Abraham Maslow, konflik terjadi karena adanya perbedaan nilai dan kepentingan. Selama nilai dan kepentingan masih sama, maka konflik itu tidak akan pernah terjadi.

Oleh karena itu, kedatangan Paus Fransiskus di kawansan tersebut di sambut gembira oleh semua kalangan, baik umat Muslim, Kristen Ortodoks. Mereka sangat merindukan kedamaian di negeri itu. Paus diharapan jadi pelipur lara yang dapat memberikan suasana baru bagi rakyat Bosnia.

Diplomasi moral yang dilakukan oleh Paus Fransiskus, itu sebagai bagian dari misi pastoralnya untuk melayani sesama umat manusia– baik yang miskin, terlatar, terabaikan, putus asa, miskin,terjajah, dan tertindas untuk memberikan harapan dan penguatan baru bagi mereka. Bukti antusiasisme warga Bosnia menyambut Bapak Suci– terlihat umat Muslim mempersiapan sebuah kursi untuk Paus Fransiskus.

Sebagaimana di diberitakan Reuters dan dikutip oleh BeritaPrima, Sabtu (6/5/2015), seminggu sebelum kunjungan Paus, Salmen Hadjdarovac (61), dan putranya Edin Hajdaroc (33), kedunya penganut Islam taat mulai mengerjakan kursi di bengkel mereka di Zavidovici, Bosnia Tengah. Kursi yang terbuat dari kayu walnut dan dihiasi berbagai simbol religi kepausan, dan emblem tiga katerdral di Bosnia itu diberikan secara gratis.

“Ini menjadi bagian penting sejarah bengkel saya. Sangat bahagia. Karena, membuat kursi untuk figur besar, “kata Edin.

Untuk mengerjakan pesanan khusus itu, mereka menunda dulu beberapa pesanan, agar kursi itu bisa siap sebelum Paus datang. Tindakan tulus yang dilakukan oleh dua warga Muslim ini menandakan, warga Bosnia sangat merindukan kedamaian abadi—hanya saja, selama ini belum ada figur yang tepat untuk menyatukan dan mendamaikan mereka.

Bosnia memang dilanda krisis masif dan kedatangan Paus menjadi sesuatu yang amat luar biasa dan warga Bosnia menyambutnya dengan tulus dan rendah hati. Sebagian besar warga Bosnia, baik Islam, Katolik, maupun Kristen Ortodoks Serbia, memandang Fransiskus sebagai Paus yang sangat berharga, karena kedatangannya membawa angin segar—Paus menyerukan konsensusbaru bagi masa depan negeri itu. Rekonsiliasi dan perdamaian.

Paus Fransiskus mengembalikan wajah diplomasi Vatikan yang selama delapan tahun dijabat Paus Emeritus Benediktus XVI yang hanya lebih berorientasi pada penguatan ajaran iman gereja. Kini, Fransiiskus melanjutkan diplomasi yang pernah dijalankan Vatikan di masa kepemimpinan Paus Yohanes Paulus II, yaitu merealisasikan politik moral dan kemanusiaan melalui diplomasi nyata.

Ini kunjungan pertama Paus ke Bosnia, sejak kedatangan Paus Yohanes Paulus II di kota Sarajevo di tengah badai salju tahun 1997, yang sampai saat ini dianggap sangat mendukung kerukunan antaragama, rekonsiliasi, dan perdamaian selama dan setelah perang Bosnia 1990-an. Bahkan patung Paus Yohanes Paulus II didirikan di sebuah alun-alun di pusat kota Sarajevo, yang diresmikan pada, 30 April 2014.

Penduduk Sarajevo dari semua agama– Islam, Katolik Kroasia dan Ortodoks Serbia- mengenang Paus asal Polandia itu sebagai salah satu tokoh dunia pertama yang mengakui Bosnia sebagai sebuah negara setelah memproklamasikan kemerdekaannya dari Yugoslavia pada 1992.

Sebelum wafat, Paus Yohanes Paulus kembali mengunjungi Bosnia pada 2003 dan mengunjungi wilayah otonomi Republik Serbia yang didominasi etnis Serbia yang memerangi Muslim dan etnis Kroasia selama perang.(Kompas.com, 30/4/2014).

Konflik Bosnia sulit dibendung, bahkan Kofi Anan yang saat itu (sejak meletusnya konflik) menjabat Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pun tidak berbuat apa-apa, ia hanya buat seruan jarak jauh dari New York, Washinton, Seoul, Mokow, London, dan Cambera. Tidak jauh seperti seorang Nabi yang hanya berseru dari padang gurun—tidak ada yang medengar dan tidak ada yang sahut.

Di era Ban Ki-moon pun sama. Ia membuat organisasi bergengsi dunia itu, PBB, tak jauh seperti sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), yang sekadar membuat seruan keprihatinan seperti pendahulunya, Kofi Anan. Padahal, seruan dan keprihatinan itu berlangsung saat mereka sedang berkuasa. Memang, para politisi di PBB tidak mempunyai kesungguhan hati untuk memperjuangkan keadilan dan perdamaian dunia, lebih khusus rekonsiliasikonflik Bosnia-Herzegovina.

PBB, sepertinya membonceng misi lain– sehingga mengabaikan kepentingan kemanusiaan yang menjadi cikal bakal lahirnya organisasi tersebut.Sebagaimana dikatakan oleh seorang eksponen mahasiswa Indonesia angkatan ‘66’ yang ikut menumbangan Orde Lama, Soe Hok-Gie, “ Para politisi di PBB, sibuk mengatur pengangkutan gandum, susu, dan beras buat anak-anak yang lapar di tiga benua, dan lupa akan diplomasi.”

Padahal, Ban Ki-moon pernah betermu Paus Fransiskus pada 30 April 2015 di Vatikan. Mereka membahas berbagai hal, baik lingkungan hidup, krisis migran, dan perdmaian dunia. Tapi sayangnya, PBB belum merealisasikan semua pembicaraan di Vatikan itu.

Indonesia

Indonesia memang masih dibaluti isu SARA yag sering dikondisikan oleh kelompok kepentingan untuk membuat negara ini tidak aman dan tertib. Oleh kareana itu, konflik SARA di Bosnia seharusnya menjadi sebuah pengetahuan dan pengalaman berharga bagi Indonesia. Karena Indonesia merupakan negara yang majemuk, baik agama maupun etnik. Hal ini sangat rentan untuk memicu konflik berdarah seperti yang pernah dialami Bosnia di era tahun 1990-an hingga kini belum pulih total. Masih ada dendam yang mendalam antara sesama warga Bosnia.

Untuk Indonesia– kerukunan yang terbangun selama ini terus dipupuk. Selain itu, harapan kepada Presiden Jokowi untuk segera membuka ruang dialog dan rekonsiliasi dengan semua pihak yang masih berkonflik selama ini. Misalnya, Presiden membuka ruang dialog dan rekonsiliasi dengan Rakyat Papua di Timur Indonesia untuk meluruskan semua sejarah kelam pelanggaran HAM, perampasan hak politik, ketimpangan ekonomi, dan ketidakadilan sosial yang mendera negeri Cenderawasih itu selama lebih 50 tahun berintegrasi dengan Indonesia.

Hal ini sejalan retorika Jokowi untuk membangun Papua. Pada tanggal 27 Desember 2014 saat merayakan natal bersama masyarakat Papua di Stadion Mandala, Jayapura, Papua, Jokowi telah meletakan sikap dasarnya untuk berdialog dengan Rakyat Papua. Pada kesempatan itu, Jokowi menyatakan, rakyat Papua tidak hanya membutuhkan kesehatan, pendidikan, pembangunan jalan, dan pelabuhan saja. “Namun rakyat Papua juga butuh didengar dan diajak bicara,” kata Jokowi.

Mungkin saja dalam rumusan Presiden Jokowi untuk menyelesaian persolan Papua hanya dengan cara mendengarkan dan blusukan– itu sebagai konsep dialog dan demokrasi yang diharapan rakyat Papua. Akan tetapi, rakyat Papua menginginkan dialog formal yang disepakati oleh kedua belah pihak, antara orang Papua dan pemerintah Indonesia hingga apa pun yang disepakati dalam forum dialog tersebut memiliki legalitas dan tidak diganggu gugat di kemudian hari, pacadialog. Pengalaman sebelumnya, hasil Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969 yang terus dipersoalkan hingga saat ini oleh rakyat Papua– karena kedua belah pihak (rakyat Papua dan pemerintah Indonesia) tidak bersepakat sejak awal mekanisme pelakasanaan Pepera.

“Lakukanlah yang terbaik untuk rakyat Papua. Maka rakyat Papua akan mencitai Presiden Jokowi lebih dari yang ia dibayangkan”. Semua pihak tentu optimistis, jika Presiden melakukan dialog dan rekonsiliasi di Tanah Papua– nama Indonesia akan‘harum’ di kancah internasional dan orang Papua juga merasa memiliki dan dimiliki Indonesia seutuhnya. Saatnya, ‘Bosnia dan Papua jadi simbol rekonsiliasi dunia.

Selain dialog dan rekonsiliasi konflik Papua, Presiden Jokowi juga harus dengan intensif memfasilitasi dialog antara umat bergama di Indonesia, baik Islam, Katolik, Kristen Protestan, Hindu, dan Budha untuk membahas persoalan yang berkaitan dengan upaya membangun kerukunan antar umat beragama, rekonsiliasi, dan perdamaian di bumi Pertiwi ini.

Semoga, pesan rekonsiliasi dan perdamaian dari semenanjung Balkan, Bosnis bisa memberikan manfaat yang besar bagi dunia, terutama bagi Indonesia untuk menata diri menjadi negara pluralis yang adil, damai, demokratis, dan sejahtera.‘Tiada syukur tanpa peduli, tiada kasih tanpa memberi’.

Dalam bahasa Xhosa, salah satu dari 11 bahasa resmi di Afrika Selatan, ada kata-kata bijak yang berbunyi,Umntu ngumntu ngabanye abantu—manusia tumbuh kemanusiaannya karena ada manusia lain. Saya manusia karena saya menjadi bagian dari komunitas manusia dan saya memandang serta memperlakukan orang lain pun demikian.

Pada tahun 1979, Paus Yohanes Paulus II berkunjung ke Irlandia. Dia berbicara pada sekitar 250.000 umat yang hadir pada Misa di Drogheda. Mengingat tragedi Na Trioblóidí di Irlandia Utara, Paus berkata: “Dengan berlutut, saya mohon Anda berpaling dari jalan kekerasan dan kembali ke jalan damai. Mereka yang menggunakan jalan kekerasan selalu mengatakan,perubahan bisa terjadi dengan kekerasan. Anda harus tahu, ada cara politis, cara damai untuk memperoleh keadilan”! Semoga.                   

========================================================

*). Penulis adalah aktivis PMKRI Nasional—Sanctus Thomas Aquinas, di Jakarta, Email: syufi_thomas@yhoo.co.id

Berikan Komentar Anda