Balik Atas
Puisi Tentang Papua Karya Sisilia Nabar
Pewarta: Redaksi Edisi 02/07/2019
| 101 Dibaca
Ilustrasi Lukisan Mama Papua mengendong anaknya. (Foto:Istimewa)

Jangan Diam

Oleh: Sisilia Nabar

Fajar menyingsing membangunkan setiap insan

Kicauan burung membujuk sanubari

Jangan diam menatap diksi

Ribuan pilihan kata  membuatmu goyah dan jatuh

Perlahan kau menutup mata namun tidak tertidur

Fajar menyingsing membungkam penyesalan

Kicauan  burung melantunkan  amarah

Jangan diam meratap tangis

Ribuan pilihan kata menuntunmu pada pencipta

Perlahan kau membuka mata namun semua telah tertidur

 

Pujian Mereka

Oleh: Sisilia Nabar

Seindah mata memandang itulah pujian mereka

Sedingin tubuh dirasuk itulah perasaan mereka

Semerdu telinga diremuk itulah pujian mereka

Seharum bunga melati itulah pujian mereka

Pujian itu datang dari orang-orang yang mencintai

Pujian itu datang dari orang – orang yang ingin menyakiti

Pujian itu dilantunkan  dari orang-orang terbuang

Pujian itu dilantunkan dari pelosok negeri ini

Dipuji tetapi membangunkan hasrat memiliki

Dipuji tetapi merancang sejuta strategi

Diberi tetapi ingin memiliki segalanya

Diberi tetapi tujuan belum tercapai

Papua….

 

Diamnya

Oleh: Sisilia Nabar

Kejanggalan ini telah kurasakan setahun yang lalu

Saat diamnya membekukan perasaanku

Iya. Diamnya membuatku bodoh melunakan hatinya

Mungkin Aku orang kesekian yang harus tunduk pada diam

Diamnya menumbuhkan tawar hati

Tak Ada lagi kenyamanan saat Diamnya mendiamkan imajinasiku

Meski aku didiamkan, mengakhiri bukan pilihan yang harus kugapai

Sembari dalam diam. diam-diam aku masuk dalam diamnya

Aku putuskan untuk menjelajah diamnya

Besar harapan tak membuatku berhasil menaklukan diamnya

Hal yang tak bisa aku tolak sebagai seorang penjelajah

Menemukan kenyataan bahwa aku didiamkan seribu diksi

Karena sejuta pilihan kata telah ditata untuk Dia

Kecewa. tentu saja iya..

Apakah harus diakhiri?

Mengapa tidak!

Diamnya melumpuhkan imajinasiku

Diamnya membuat separuh waktuku berlalu sia-sia

Diamnya berhasil kujelajah

Diamnya akhirnya tak menjadi diamku

 

Afo “Bapak”

Oleh:Sisilia nabar

Senyumnya memberi ketegaran dalam keluh kesahku

Ketegarannya memberiku ruang untuk bernafas

Harapannya membuatku mampu melangkah kedepan

Ketegasannya melumpuhkan kerisauanku

Tak pernah Lelah Memperjuangkan yang telah rapuh

Tak perna letih menuntunku pada pencipta

Bagai mata air dia selalu memberi kesegaran

Bagai angin yang selalu memberi kesejukan

Meski Hati telah memberi luka,

Tak perna Lelah tangannya menggapaiku

Meski dicela

Tak perna bibirnya mengucilkanku

Entahlah…

Mengapa ia menjelma menjadi kuat

Dan Mengatakan aku baik-baik saja

Afo.

 

Yogyakarta

Oleh: Sisilia Nabar

Pagi membangun aku

itu masih mengikutiku

Jauh dari kehidupan yang nyaman telah kuciptakan jauh sebelumnya

Ini Impian dan juga harapan yang berbeda

Impian ini akan menciptakan kerinduan yang tak pernah ada sebelumnya

Saat memikirkan Siapakah yang harus ku kunjungi

Yogyakarta menjerit dalam pikiranku

Saat pergi jauh adalah harapan yang harus kugapai

Yogyakarta alasannya

Ini tekadku

Angin membisik buangkanlah kerisauanmu

Saat itulah aku yakin

Yogyakarta akan mempertemukan aku dengan kehidupan yang baru

Sendiri

Kususuri lorong-lorong, mencari keajaiban cinta

Adakah seseorang yang tulus pada satu cinta?

Adakah seseorang yang haus akan kenyamanan

Saat langkahku terhenti aku tahu langit tak perna berdusta

Takdir tak mengirim Siapapun. suasana rindu datang menjengukku

Aku merindukan seseorang yang pernah kucintai setiap waktu

Aku ingin bersampan bersamanya, aku akan menceritakan

Lihatlah senja, ia akan sendu saat melihatku sedih

Lihatlah aku yang masih menempatkanmu di tempati ternyaman dalam hatiku.

Hmmm. Mana mungkin aku dapat bersampan bersamanya

 

Berikan Komentar Anda
PASANG IKLAN PAPUALIVES.COM