Balik Atas
Rakyat Papua Hidup Diera Jokowi Terancam Punah
Pewarta: Redaksi Edisi 24/11/2016
| 715 Dibaca

 

 Benesiktus BameOleh :Benidiktus Bame

Pelangaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Papua semakin meningkat sampai saat ini, saat ini di angkat menjadi isu sentar di kancah dunia internasional, terutama di pasifik semakin solit. Hal ini menjadi pukulan Ir. Jokowi Widodo sebagai Presiden Indonesia Untuk membuka mata dan segera merefleksikan diri. Salah satunya Pemerintah Indonesia harus serius untuk memperhatiakan persoalan kemanusiaan di Papua.
Ketika membuka lembaran sejarah perjuangan Papua, tetesan air mata secara perlahan-lahan menetes, Ada Manusia Papua yang terbaring dengan hamparan emas karena tertembak peluru amonisi, melihat ke rusuk bekas tusukan pedang, memandang ke atas pohon ada manusia yang tergantung, dan telinga mendengar sejumlah tumpukan ancaman. Sebenarnya pemerintah Indonesia ingin menjadikan Rakyat Papua sebagai manusia apa? Yang selalu ditembak, dipukul, diseret, digantung, dihadang menyampaikan pendapat dimuka umum, marjinal di berbagai pelosok Papua. Indonesia menjajah Irian Barat kini di kenal dengan Papua Barat dari berbagai aspek, Ekonomi, Pendidikan, Kesehatan, Budaya, dan Sosial Politik.
Ketika ketertindasan Rakyat Papua selama 50an tahun mulai Papua beritegrasi ke pangkuan ibu Pertiwi hingga sekarang pelangaran Hak Asasi Manusia semakin mengalir dengan kuat. satu jalan orang Rapua mengambil melalui pergerakan Organisa Papua Merdeka (OPM), yang di kenal dengan Gerakan Pembebasan Bersatu Untuk Papua Barat (ULMWP) yang menginternasionalisasikan isu Papua. Ini merupakan lambatnya pemerintah Indonesia yang bohong untuk menangani kasus kemanusiaa di Papua terutama pelangaran HAM berat yang membuat goresan Masyarakat Papua terpendam selamanya. Tokoh Papua salah satunya Pendeta Benny Giay, Ketua Sinode Gereja Kemah Injil di Tanah Papua dalam penyampaian di media cetak Jujur Bicara edisi (Jubi)18/9/2016 bahwa sejarah Bangsa Papua Barat saatnya akan berubah dan akhirnya perjuangan Papua merdeka sudah sampai di pangkuan PBB dan Indonesia refleksikan diri, dimana perjuangan Papua cukup memakan waktu lama dan sekarang di era globalisasi banyak mata manusia yang melihat apa yang terjadi di Papua angkat serta bicara.
Persoalan Papua terutama persoalan kemanusiaan yang kini di dorong oleh Negara-negara di Pasifik yang mengakumodirkan isu-isu West Papua menuju Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Dengan itu juga Perjuangan ULMWP yang di bentuk pada tahun 2014 baru-baru ini berasas pada kebenaran sejarah siapa lagi mau lawan hanya menunggu tiba saatnya ibarat “Magma menunggu waktu untuk meletus” Papua akan terlepas dari NKRI, Karena kebenaran itu anugrah dan kekal.
Negara-negara akan menambah dukungan tidak saja Persoalan (HAM) tetapi juga agenda referendum pendaftaran papua ke komite 24. dan Pemerintah Negara Kesatuan Repoblik Indonesia (NKRI) untuk membanggun Papua masih menggunakan kosep pendekatan melalui Militerisme. Sehingga Papua menjadi daerah rawan konflik baik itu konflik horizontal dan konflik fertikan konsep ini menghancurkan cita-cita hidup orang Papua impian untuk membangun Papua menjadi tanah damai merupakan mimpi di siang bolong. Yang ada di benak orang papua luka yang tidak bisa disembukan, Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) 1962 banyak rakyat papua juga mengakui bahwa itu tidak sah karena kehadiran hanya sebagian saja.
perjalanan bangsa Indonesia dari Tahun 1945 hingga 2016 ini kehidupan Rakyat Papua menjadi terancam kepunahan karena akibat pelangaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang begitu tinggi di tengah-tengah perkembangan Hidup Masyarakat Papua. Oleh karena itu, kasusu-kasus pelanggaran HAM berat yang di janjikan mantan mentri politik hukum dan Ham luhut panjaitan untuk menuntaskan namun sekarang janji itu merupakan slogan ini merupakan goresan Masyarakat Papua seperti, Paniai Berdara 8 desember 2014, Biak berdarah, Wamena, Abepura, Sorong. Hal ini membuat nilai kemanusiaan yang di anut oleh Pemerintah Indonesia semakin rendah di mata Rakyat Papua dan Internasional, sehingga untuk kehidupan Orang Asli Papua (OAP) tidak ada harap untuk hari esok.
Setelah 50-an Tahun Papua hidup tangan Indonesia Rakyat menjadi terancam habis-habisan tidak ada jalur hidup yang lain untuk Rakyat Bangsa Papua menempuh, melainkan perjuangan untuk melawan melalui kemerdekaan dengan jalan perdamaian. Maka pihak OPM mengeluti perjuangan di pusat perkotaan, hutan belantara papua, dan panggung internasional dalam rangka mendesak pemerintah Indonesia segera memutuskan beberapa butir permasalahan kebebasan papua barat.
Dengan demikian, Indonesia harus melihat dari mana asap yang sedang berliku-liku naik dan ada asap pasti ada api. sebuah filofis mengambarkan persoalan di papua, Pemerintah indonesia harus memperhatikan persoalan apa yang membuat Rakyat Papua masih terus menuntut, itu merupakan tindakan pemerintah pusat segera di bereskan butiran kebebasan bagi Bangsa Papua Barat agar jangan terjadi pertumpahan dara bagi generasi dan rakyat papua di hari esok. Karena kami ingin kemerdekaan secara demokrasi bukan pertumpahan darah. semoga

Penulis adalah Kordinator Biro Diskusi dan Kajian Ilmiah Perhimpunan Mahasiswa Katolik Repoblik Indonesia (PMKRI) Cabang Jayapura, St Efrem priode 2014-2016

Berikan Komentar Anda
PASANG IKLAN PAPUALIVES.COM