BALIK ATAS
Ratusan Umat Hindu Di Nabire,Mengikuti Upacara Tawur Agung Kesanga dan Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1939/2017
PEWARTA: Redaksi PAPUALIVES.COM 28th Maret 2017
| 863 DIBACA
Upacara Tawur Agung Kesanga dan Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1939/2017 (Foto:Andre)

Ratusan umat Hindu di Kabupaten Nabire, mengikuti Upacara Tawur Agung Kesanga dan Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1939/2017 di di Pura Puja Dewata, Bumi Raya Distrik Nabire Barat Kabupaten Nabire, Papua, Senin (27/3/2017).

Penasehat Parisade PHDI Kabupaten Nabire, I Nyoman Dana mengatakan tidak seperti perayaan tahun baru Masehi, Tahun Baru Saka dimulai dengan menyepi. Tidak ada aktivitas seperti biasa, semua kegiatan ditiadakan.
Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, untuk menyucikan Bhuana Alit (alam manusia) dan Bhuana Agung (alam semesta). Sebelum Hari Raya Nyepi, terdapat beberapa rangkaian upacara yang dilakukan umat Hindu yaitu Melasti, Pecaruan, dan Pengrupukan.

Ia menjelaskan, tiga atau dua hari sebelum Nyepi, umat Hindu melakukan Penyucian dengan melakukan upacara Melasti atau disebut juga Melis. Pada hari tersebut, segala sarana persembahyangan yang ada di Pura (tempat suci) diarak ke pantai atau danau, karena laut atau danau adalah sumber air suci (tirta amerta) dan bisa menyucikan segala yang kotor di dalam diri manusia dan alam. Dan di Nabire tahun ini pihaknya melakukan upacara Melasti di Pantai Nabire.

Sehari sebelum Nyepi, yaitu pada tilem sasih kesanga, umat Hindu melaksanakan upacara Buta Yadnya di segala tingkatan masyarakat, mulai dari masing-masing keluarga, banjar, desa, kecamatan, dan seterusnya, dengan mengambil salah satu dari jenis-jenis caru (semacam sesajian) menurut kemampuannya.

Pecaruan sendiri merupakan penyucian buta kala, dan segala kekotoran diharapkan sirna semuanya. Mecaru diikuti oleh upacara pengerupukan, serta memukul benda-benda apa saja (biasanya kentongan) hingga bersuara ramai/gaduh. Tahapan ini dilakukan untuk mengusir buta kala dari lingkungan rumah, pekarangan, dan lingkungan sekitar.

Pengrupukan di Nabire dimeriahkan dengan pawai ogoh-ogoh yang merupakan perwujudan buta kala yang diarak keliling lingkungan, dan kemudian dibakar. Tujuannya sama yaitu mengusir buta kala dari lingkungan sekitar.
Sementara pada puncak acara nyepi suasana seperti mati. Tidak ada kesibukan aktivitas seperti biasa. Pada hari ini umat hindu melaksanakan Catur Brata penyepian yang terdiri dari amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan).

Ketua panitia I Gde Putra Wijaya mengungkapkan momentum Tahun Baru Saka ini harus menjadi tonggak bagi umat Hindu untuk melakukan introspeksi atas semua tindakan yang telah dilakukan selama hidup. Momentum nyepi ini untuk merenungkan diri, apa yang dapat di sumbangkan untuk kedamaian dan kesejahteraan dunia serta kepada alam semesta ini.

“Nyepi bukanlah sekadar perayaan untuk menyambut Tahun Baru Saka, tetapi mengandung nilai-nilai luhur untuk meningkatkan kualitas srada dan bhakti kepada Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa. Tawur agung kesanga ini juga mengandung makna menjaga hubungan terhadap sesama manusia, sesama makhluk hidup dan alam,” tandasnya. Perayaan Nyepi di Nabire mengambil tema menjaga kebersamaan di dalam Kebhinekaan dalam bingkai NKRI

Andre

Berikan Komentar Anda
PASANG IKLAN PAPUALIVES.COM