Balik Atas
Refleksi 53 Tahun Uncen di Tanah Papua
Pewarta: Redaksi Edisi 17/11/2015
| 1498 Dibaca

Refleksi 53 Tahun Uncen di Tanah Papua

Gedung Auditorium Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura (Foto: Ist).
Mentari yang terbit di ufuk timur membawa harapan hidup setiap hari. Tumbuhan bertunas, burung menetaskan telurnya, manusia merayakan hari ulang tahunnya. Ketika hari kelahirannya tiba, ada sukacita dan kebahagiaan besar. Demikian mentari 53 tahun Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura – Papua itu telah terbit.

Oleh: Alberth Rumbekwan*

Matahari harapan itu membawa cerita baru dalam jejak-jejak sejarah 53 tahun lalu. Saat itu 10 November 1962, lahir sebuah lembaga pendidikan tinggi negeri tertua di Tanah Papua yang mendahului proses aneksasi Papua tahun 1969. Uncen lahir di tengah prahara politik kepentingan NKRI, Belanda, dan Amerika Serikat.
Kelahiran Uncen yang prematur punya alasan politis. Yakni ingin mensejajarkan kedudukan manusia Papua dalam wajah pendidikan Indonesia di mata dunia internasional. Bahwa seakan-akan manusia Papua telah menjadi perhatian khusus NKRI sejak 1945.

Padahal, dasar-dasar pendidikan dan pembangunan manusia Papua sesungguhnya telah dimulai tahun 1855 oleh misi Zending Belanda dan Gereja. Pendekatan sosial budaya menjadi kunci penyemaian benih peradaban baru Eropa dan kekristenan. Meski sesungguhnya ada kelemahan cara pandang terhadap nilai-nilai adat sebagai nilai kodrati tiap etnis orang Papua. Ketika itu pada 1962, Uncen hanya terdiri dari dua atau tiga disiplin ilmu: keguruan, hukum dan ekonomi. Namun seiring perjalanan waktu, menjelma menjadi universitas besar dan universitas negeri pertama di Tanah Papua. Di era 1970-1980an, Uncen terkenal dengan kajian Etno-Antropologi di Nusantara dan dunia luar. Kekuatan Etno-Antropologi sebagai kekuatan kesatuan ilmu dan entitas Papua ternyata menjadi ketakutan Pemerintah Indonesia. Akhirnya, rumah pendidikan yang dibangun sebagai simbol aneksasi Papua ke dalam NKRI itu dirusaki sendiri oleh ibu kandungnya. Boleh dibilang group Mambesak dan Black Brothers adalah korban ketidakseriusan dan kejujuran Pemerintah Indonesia dalam membangun SDM Papua melalui Uncen kala itu. Saat memasuki era baru, bangunan yang menjadi lorong sejarah bahwa Uncen pernah hadir di Abepura masih tetap kokoh.

Bangunan ini membisu sebagai saksi rumah tua yang terus diberi lebel Uncen kampus perjuangan dan kampus politik.
Padahal, jika menengok ke dalam, tak ada jurusan dan dasar ilmu politik yang diajarkan di Uncen saat itu seperti di Universitas Indonesia (UI). Apa penyebabnya? Entahlah. Yang jelas, pemerintah Indonesia takut kalau ilmu dasar berpolitik diterima, pasti Papua sudah merdeka sejak dulu.

Kini spirit merdeka itu terus bertumbuh dan merambat walaupun institusi keamanan semisal Badan Intelijen Nasional (BIN) dengan segala cara membabatnya. Sebab ideologi ke-Papua-an tidak berasal dari dunia pendidika. Ia hidup dalam rahim setiap mama Papua yang mengandung dan melahirkan manusia Papua.
Benih-benih itu tertabur dari darah dan tangisan orang Papua yang telah lenyap dalam gejolak politik kepentingan Indonesia, Belanda dan Amerika atas kekayaan alam dan budaya manusia Papua

Meneropong Uncen dalam era reformasi saat ini, praktek monopoli berbagai aspek kepentingan terus berlanjut.
Penghambatan pembangunan penaburan benih keilmuan yang subur masih terus diganggu dengan manajemen politik global yang diperankan di pentas lembaga pendidikan. Setiap isu kepentingan politik, golongan dan individual menjadi palang pintu efektifitas pembelajaran.
Tanggal 10 November 2015, perjalanan ziarah ke lorong Uncen di gedung eks Gubernur Nederlands Nieuw Guniea di Hollandia Binnen telah dilangsungkan. Dihadiri segenap civitas akademia Uncen: pimpinan, staf, mahasiswa dan para alumni. Sebuah ritual khidmat tahunan. Satu dalam empat pilar kekuatan: pimpinan, staf dosen, mahasiswa dan alumni.

Lantas, apa yang menjadi perenungan dan pergumulan yang hendak kita bawa ke dalam lorong sejarah Uncen itu? Hendak ke mana dan seperti apakah Uncen kelak?
Masa depan Uncen ke arah yang lebih baik tentu menjadi beban kita. Uncen tidak harus mencetak generasi instan dan sarjana supermi. Atau menghasilkan generasi teropong yang hanya ingin gelar dan kedudukan tapi tak mau ikut membangun, merawat dan merehap rumahnya.

Dengan begitu membiarkan para benalu dan linta darat menghisap darah manusia Papua. Jadi, mari kita renungkan! Mari tanya isi hati kita dan mari bersatu! Semua alumni, mahasiswa, dosen dan pimpinan serta staf, mari tong menjadi satu pilar yang kokoh untuk kualitas dan kejayaan lembaga pendidikan dan almamater kita Universitas Cenderawasih Papua.

Dirgahayu Uncen ke 53 (10 November 1962 – 10 November 2015). Salam jaket kuning!

*Penulis adalah dosen sejarah FKIP Uncen.

Berikan Komentar Anda
PASANG IKLAN PAPUALIVES.COM