Perlawanan Rasisme di Amerika, Bagimana Dengan Papua?
Pewarta: Redaksi
| 244 Dibaca
EDISI TERBIT: 2 Juni 2020
Marthen Goo (baju putih) salah satu kesempatan (Foto: Istimewa)

Oleh : Marthen Goo

Di Amerika, rasis itu musuh semua warga negara. Hal itu dibuktikan dengan aksi warga tanpa beda ras melawan kejahatan rasis yang dilakukan oleh Polisi Amerika. Perlawanan terhadap kejahatan rasisme diĺakukan saat Covid-19 menyerang dunia. Artinya manusia tidak takut Covid-19 tapi tunduk pada kemanusiaan. Hanya kemanusiaan yang buat setiap warga di Amerika berani bangkit melawan rasisme. Bahkan mereka tidak bisa dibubarkan hanya karena alasan Covid-19, karena demokrasi dijunjung tinggi.

Situasi hari ini sangat panas di Amerika. Menunjukan bahwa rasisme itu musuh umat manusia. Walau badai Covid-19 menghantam Amerika bahkan dunia, warga Amerika tetap membanjiri jalan untuk melawan rasisme.

Di Indonesia kejahatan rasisme dianggap hal biasa. Papua disebut monyet, mahasiswa Papua disebut monyet, pahlawan asal Papua pada gambar uang rupiah disebut monyet, tokoh Nasional dari Papua (Pak Natalius Pigai) disebut gorila dan Monyet, belum lagi perlakukan kejahatan rasisme lain. Tentu kejahatan rasisme di Papua dilakukan sejak 1960-an hingga saat ini.

Bahkan kejahatan Rasisme yang dilakukan oleh penjahat rasisme tidak ditangkap dan diproses.

Sampai sekarang, yang sebut monyet², tidak pernah ditangkap. Bahkan perlakuan rasisme yang dilakukan, dianggap hal biasa.

Tentu terlalu banyak kasus rasisme. Misalnya Stigmatisasi, pelanggaran Ham, mahasiswa Papua tidak diterima di kos-kos, dan lainnya. Apakah mereka yang stigma orang Papua sudah ditangkap? Apakah mereka yang lakukan pelanggaran Ham sudah ditangkap?

Amerika ricuh karena rasisme (Foto;Istimewa)

Hari ini di Ameika, publik mengamuk dan menghancurkan kantor Polisi Amerika atau tempat² umum, tapi dianggap hal biasa. Bahkan Negara tidak mungkin menangkap seseorang, karena akan dianggap rasis juga atau praktek rasisme, sehingga, nanti akan ada gelombang perlawanan yang lebih besar. Rasionalitas dan hikmat tentu dibutuhkan di sini, bukan menyalahkan massa, tapi menangkap aktor rasial dan dihukum seberat-beratnya sesuai ketentuan hukum Amerika.

Orang Papua lakukan aksi melawan rasisme dengan merespon kasus Surabaya, malah digiring ke kriminal dan Politik. Banyak orang-orang Papua ditangkap. Pada hal itu aksi spontan terhadap kejahatan rasisme.

Kalau pinjam kata Bang Rocky Gerung soal kata “…akal sehat…”, dimana logika akal sehatnya?

Mestinya rasisme itu musuh semua, apalagi pakai Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Kecuali kalau pakai teori “…tulis lain, latihan lain, main lain, hasil lain…”.

Rasisme itu harus jadi musuh bersama, dan dilawan.

Penjajahan dan diskriminasi rasial juga adalah kejahatan rasisme yang harus dilawan.

Mungkin harus bersihkan otak para pemimpin yang masih pakai rasime lebih dulu, sehingga penegakan hukum terhadap kejahatan rasisme bisa ditangkap dan diproses hukum. Dengan membiarkan dan mengabaikan menjamurnya rasisme dan dianggap kebenaran dan kewajaran, itu sama dengan melakukan kejahatan rasisme.

Refleksi perlawanan rasisme secara akal sehat, karena tidak ada satu manusia yang ada di kolong langit ini, ingin dilahirkan menjadi suku A atau B, dan yang ada hanyalah anugerah Tuhan, agar manusia sadar bahwa di situlah karya agung-Nya ditunjukan. Mari_Lawan_Rasisme.

Penulis adalah Pemerhati Kemanusiaan di  Papua

Berikan Komentar Anda
Share Button