BALIK ATAS
Religi Suku Mee Di Papua
PENERBIT:PPWI MEDIA Redaksi PAPUALIVES.COM 27th Desember 2016
| 854 DIBACA
Jhon-Gobay-DAP-PANIYAI
John NR Gobai (Foto:IST)
Oleh :Jhon NR Gobay
Pengantar

Suku Mee bukan mengenal ALLAH oleh karena adanya Agama atau adanya misionaris barat, Suku ini telah mengenal dengan sebutan Ugatame, Mee naka, Mee Poya, jadi keliru jika kami mengenal ALLA karena ada gereja, kami juga mengenal Ayii atau keselamatan abadi dalam adat.Sistem ReligiSuku Mee, sebelum mengenal organisasi agama telah percaya bahwa alam semesta diciptakan oleh Ugatame, yang telah ditentukan sebelumnya semua yang terjadi atau telah terjadi di dalamnya. Ugatame berdiam luar angkasa, tapi tidak identik dengan, matahari dan bulan. Hal ini diyakini bahwa, bersama dengan alam semesta fisik, Ugatame menciptakan sejumlah roh. Roh-roh ini, pada dasarnya sering muncul dalam bentuk bayangan di antara pohon-pohon, yang dapat didengar untuk membuat goresan atau bersiul suara. mereka akan muncul dalam mimpi atau visi, pada waktu dengan asumsi bentuk manusia. Mereka dapat diyakini oleh si pemimpi atau visioner sebagai penjaga dan pembantu, baik atau buruk (dalam kepercayaan Suku Mee disebut Ipuwe). Jiwa-jiwa orang mati bisa dibujuk untuk membantu kerabat yang masih hidup mereka dalam berbagai masalah atau kesulitan yang dihadapi (dalam bahasa Suku Mee disebutTene).

Praktisi,

Sebelum mengenal agama, Suku Mee telah mengenal atau mempunyai orang yang biasanya melakukan ritual doa (Kamutai mee) tetapi ada juga yang mempraktekan roh jahat yaitu Kegotai oleh kegoyago mee. Praktisi Magical-agama dari dua kelas: Kamutai (yang mempraktekkan sihir untuk tujuan yang baik) dan ahli-ahli sihir ini yang di sebut kegoyago (yang mempraktekkan “ilmu hitam”). Baik pria maupun wanita bisa menjadi dukun atau dukun melalui akuisisi semangat pembantu dalam mimpi atau visi dan melalui sukses (seperti yang diukur dengan hasil yang dirasakan) penggunaan sihir. Dukun praktek kuratif dan preventif sihir, sedangkan dukun yang bersangkutan dengan menyebabkan kerugian bagi orang lain (melalui penyakit, kematian, atau kegagalan ekonomi).
Beberapa orang dalam tulisan menyebutkan bahwa Gereja yang ada sekarang adalah Gereja yang dikembangkan Rasul Paulus. Mungkin karena itu Gereja Katolik dalam setiap ibadah selalu menjadikan bacaan dari surat paulus adalah bacaan kedua. Terkait dengan adat, pandangan paulus telah menjadi dasar untuk gereja harus mengatakan adat itu kafir tanpa memahami lebih jauh tentang nilai nilai adat yang ada, seperti yang tersurat dalam Efesus,2;15 “sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera.”. Pandangan ini juga yang melintas dalam ilmuwan masa lampau yang menilai adat dengan pandangan yang tidak tepat.
Kaum yang mengatakan adat itu kafir ini, tidak melihat lebih jauh tentang nilai dan norma hidup yang telah hidup dan berkemnbang dalam masyarakat adat, yang telah mengatur keharmonisan dan keserasian dengan ALLAH, sesama dan alam sekitarnya, kaum ini juga tidak melihat adanya larangan dalam adat yang juga disertai dengan sanksi bagi yang melanggar, kaum ini juga tidak melihat adanya ritual penyesalan permohonan kepada Yang Maha Pencipta melalui penyucian dengan media pengorbanan, babi sama seperti Bangsa Israel dengan domba, yang kemudian mencapai Kanaan, negeri yang dijanjikan TUHAN.
Upacara.
Salah satu yang paling penting Suku Mee adalah Upacara adalah Yuwo, atau babi pesta ini puncak perayaan rasa syukur seorang Tonowi. Hal ini dimulai dengan serangkaian ritual yang terkait dengan pembangunan rumah tari dan rumah pesta, setelah mengikuti masa tarian malam, dihadiri oleh orang-orang dari desa-desa di seluruh daerah. Setelah sekitar tiga bulan pesta akhir diadakan dimana sponsor menyembelih banyak babi dan babi didistribusikan atau dijual. Selama hari raya akhir ini, perdagangan dalam barang-barang yang adalah industry pribadi atau rumahan seperti; Noken, gelang, kalung juga diperdagangkan oleh masyarakat suku mee.
Suku Mee juga dalam hidupnya selalu membangun relasi dengan totem (Ipuwe), serta meyakini dan menjaga kesarasian dengan tempat-tempat keramat (Daaokogo) hal itu ditandai dengan doa dan juga adanya kewajiban untuk tidak merusak tempat keramat karena aka nada resiko bagi yang merusak, sehingga dalam membangun dan mempertahankan relasi ini maka diberikan korban bakaran berupa babi,
Penutup
Kenyataan hari ini; sebagian masyarakat beranggapan religi suku mee sebagai bentuk dari hal yang kafir ini akibat ajaran petugas gereja yang menilai adat itu kafir, tetapi masyarakat lain juga tetap melakukan upacara-upacara adat, tetapi parahnya lagi ajaran agama pun tidak ditaati. Hal yang penting adalah Kita Percaya Tuhan tetapi kita yakin bahwa dalam adat juga ada hal yang baik bagi kehidupan.
Penulis adalah Ketua Dewan Adat Meepago
Berikan Komentar Anda
PASANG IKLAN PAPUALIVES.COM