Balik Atas
Rumpun Mawar di kepung Oligarki
Pewarta: Redaksi Edisi 19/06/2019
| 945 Dibaca
Maksimus Sirmbu Syufi (Foto:Dok.Pribadi)


Oleh :Maksimus Sirmbu Syufi **

Petani mencoba untuk menanam mawar yang harum semerbak untuk menghiasi ruang kehidupan, namun digantikan oleh majikan dengan mananam kaktus di kebun mawar. Mawar yang seharusnya ditanam di tanah yang subur, dipindahkan oleh penguasa ke padang pasir.

Keterpurukan membelit kehidupan yang seharusnya dihuni oleh kesejahteraan. Mencoba untuk memupuk dan menumbuhkan kata sejahtera, namun digantikan dengan kata terpuruk. Minoritas tetap menjadi status di lembaran kertas buram. Penguasa tetap berkuasa terhadap yang tertindas. Kaum elite memberikan kertas buram untuk menulis harapan korban penindasan. Mengambil kertas putih untuk menulis riwayat kaum terhormat. Rakyat jelata diberi pensil untuk menulis suara minoritas di atas kertas buram, dan mereka yang elit diberi pena untuk menulis lelucon di atas tangisan mereka yang terpinggirkan.

Mereka yang terpinggirkan diremoti oleh kaum penguasa. Terasa pahit hidup di bawah tekanan, penekanan membelit kehidupan dan kebebasan diberikan bagi yang berkuasa. Suara kaum miskin diminoritaskan dan suara kaum elit diprioritaskan. Demokrasi telah dikendalikan oleh yang berkuasa, demokrasi diganti dengan anarkisme. Hidup di negeri demokrasi yang dihuni para oligarki, tidak luput dari penindasan terhadap kaum lemah. Kaum lemah tetap meneteskan air mata, dikurung oleh kaktus di tengah rumpun mawar, padang pasir menjadi tikar dan kaktus menjadi dinding, pemilik rumah tetap ditekan dan dikurung dalam terali penindasan.

Negeri demokrasi yang katanya “dari rakyat untuk rakyat”, diterapkan dengan pandangan yang berbeda, “dari penguasa untuk menindas”. Realita yang terjadi di negeri demokrasi, jauh dari harapan rakyat. Harapan rakyat yang kian lama terdengar, dipandang penguasa sebagai suara kemiskinan yang harus diburamkan. Para penguasa yang dipandang rakyat sebagai apatis, merasa terhormat di panggung demokratis. Oligarki ditantang rakyat, penguasa merasa terhina atas rintihan sosialistis.
Fobia dipupuk para oligarki karena mereka merasa pantas untuk kaum lemah. Tak berdaya suara rakyat, dikepung oleh oligarki. Rintik-rintik air mata rakyat adalah kemerdekaan pe pesimis hidup di negeri khatimah yang diciptakan oleh anarkisme.

Kami ingin memimpin di atas negeri sendiri, namun apalah daya kami? mereka berkuasa di setiap celah paru-paru kaum lemah. Kehidupan rakyat dikepung oleh kejahatan, sendi-sendi kemerdekaan dibutakan oleh militeristis. Kehidupan hanya menjadi ratapan, harapan menjadi dendaman. Kami tinggal diam, menatap mereka yang sedang bersandiwara di atas panggung penderitaan.

Menjual pinang demi sesuap nasi, meneteskan air mata demi kebebasan . Bersandiwara di depan rakyat demi sekarung roti, bermain film dengan judul “bombastis” demi kekuasaan atas kaum lemah. Ruang lingkup rakyat dibatasi oleh anarkis. Bombastis di depan layar demokrasi, membuat rakyat tertarik dengan omong kosong yang berujung pada penderitaan. Rakyat kehabisan harapan terhadap mereka yang tampil sebagai penyambung lidah rakyat. Keterpurukan membelit rakyat dan mereka membiarkan kata terpuruk manjadi benang kusut di setiap sendi-sendi kehidupan.

Persekusi terhadap kaum lemah lantas disuarakan, hak hakiki bukan untuk dibinasakan tetapi untuk dipupuk. Air mata terus mengalir, melihat kepedihan rakyat papua di atas negeri sendiri.

Penulis adalah Alumni SMA Katolik Villanova Manokwari**

Berikan Komentar Anda
PASANG IKLAN PAPUALIVES.COM