Sahabat Allah juga Sahabat Sesama

Foto : Kel Pdt Alfred Monim/goole+/ist
Yohanes 15:9-17

Aku
tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang
diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku
telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari
Bapa-Ku (Yoh. 15:15)


Dalam persahabatan biasanya kita akan mengenal tiga tahapan mendasar.
Pertama,
Association. Pada tahapan ini seseorang bergabung dengan seseorang
sebatas dapat membantu mengerjakan apa yang bisa dikerjakan (the lowest
level of friendship).
Kedua, Association Plus Loyalty. Pada
tahapan ini, persahabatan tidak saja sekedar bergabung dengan seseorang
tetapi persahabatan itu dilanjutkan dan dibangun atas dasar kualitas,
kesetiaan dan dapat dipercaya satu dengan yang lainnya (the higher level
of friendship).
Tahapan ke tiga disebut Association Plus
Loyalty Plus Affection. Pada tahapan ini seseorang tidak saja
menunjukkan dirinya sebagai seorang yang dapat mengerjakan apa yang
patut dikerjakan, juga tidak saja ia bisa menjaga dirinya sebagai orang
yang dapat dipercaya, berkualitas dan setia tetapi ia harus memiliki
kasih dan belas kasihan terhadap sesamanya (The highest level of
friendship ).
Bila kita berbicara persahabatan dari sisi
tahapan seperti di atas, kira-kira kita sedang berada di tahapan mana
saat ini? Apakah kita berada di tahapan pertama, ke dua atau ke
tiga?
Bila pola pikir seperti ini kita ejawantakan juga
dalam hubungan kita dengan Tuhan dan sesama kita, kira-kira kita
sedang berada di tahap yang mana dalam dua hubungan ini.
Bisa
juga kita memilah-milah: Kepada Tuhan, saya sedang berada di tahap
ini, kepada keluarga di tahap ini dan kepada orang lain di tahapan itu,
kita bisa membaginya demikian. Tetapi apa pun pembagiannya, kita perlu
mengetahui dengan seksama bahwa Yesus menuntut kita untuk berada di
level ke tiga dalam persahabatan dengan Allah dan juga dengan sesama
kita. Bagi Yesus tahapan ke tiga (Association Plus Loyalty Plus
Affection) ini harus ada dalam diri umat Allah dan beroperasi terus.
Mengapa?
Sebab persahabatan demikian adalah yang dikehendaki Allah dan merupakan
prinsip utama dalam hidup untuk Tetap Tinggal di dalam Allah. Karena
persahabatan dan kasih kepada Allah pasti se-irama dengan kasih dan
persahabatan kepada sesama.
Itulah sebabnya Yesus dengan
jelas dan tegas berkata: sama seperti Bapa mengasihi Aku, demikian
juga Aku telah mengasihi kamu; tinggalah di dalam kasih-Ku itu. Supaya
kamu saling mengasihi sama seperti Aku telah mengasihi kamu (ay.
9,12).
Pilihan kasih dan persahabatan yang Yesus ungkapakan
dalam bahasa-Nya kepada para murid-Nya dan orang banyak yang
mendengar-Nya tidak sekedar kalimat penghiburan tetapi suatu tugas
dan tanggung jawab yang tidak bisa dihindar dari kehidupan ini.

Sebab adalah sangat mustahil kita berkata mengasihi Allah
(Association Plus Loyalty Plus Affection) tetapi pada saat yang sama
kita membenci sesama kita. Adalah juga tidak logis, kita berkata
mengasihi Allah yang tidak kelihatan tetapi kepada sesama yang
kelihatan kita lebih memilih membencinya ketimbang mengasihi dan
mengampuninya.
Kepada teman yang menyakiti hati kita, kita
lebih memilih menyimpan dendam, amarah serta dengan gemar menyebarkan
gossip tentang sesama kita ketimbang mengampuni dan memperbaiki hubungan
dengan mereka.
Bahkan kita lebih memilih iri hati terhadap
sesama kita ketimbang bersyukur kepada Allah yang memelihara dan
memberkati kita.
Demikian pula tidak masuk akal bila kita
mengasihi Allah tetapi kita tidak mengasihi sesama kita dan berbuat
sesuatu untuk mereka, khusu bagi sesama kita yang sedang mengalami
berbagai tekanan dan pergumulan hidup.
Bila kita jujur
kepada diri kita sendiri bahwa di bangsa ini dan juga di muka
bumi ini, ada banyak orang yang tidak berdaya dalam kehidupan
mereka, baik dari segi kesehatan, perumahan, pendidikan, pangan, dan
lain sebagainya. Jika kita benar mengasihi Allah maka kita tidak
mungkin tinggal diam, kita pasti mau berbuat sesuatu untuk mereka.
Marilah
kita bukan saja mengaku mengasihi Allah dan tinggal tetap di dalam Dia,
tetapi kita juga sudi meneladani-Nya dalam kehidupan kita pada sesama
kita. Jangan buang waktu, jangan terlambat! Mari buktikan bahwa
kita adalah sahabat sesama kita.
INGATLAH SELALU bahwa
Yesus tidak menyebut kita sebagai hamba (budak) melainkan sahabat
sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku
menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu
segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku (Yoh 15:15).
Engkau adalah Sahabat Allah; Maka Engkau juga Sahabat bagi Sesamamu
Pnt. Alfred Monim

Berikan Komentar Anda

Recommended For You

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.