Balik Atas
Selingkuhan dan Sabotase di Belakang Pacar Saya
 
Pewarta: Redaksi Edisi 06/08/2019
| 332 Views
BetterLight 6150 (Foto:Pop Vahine IIIb)

 

Oleh Nopi Bunai Jr 

Cerpen

Saat beranjak tumbuh dewasa, saya selalu berpikir bahwa selingkuh pada dasarnya adalah hal buruk yang dilakukan orang ketika hubungan mereka tidak berhasil.

Seketika saya berusia 12 tahun, mamanya teman saya kedapatan kalau ia berselingkuh dengan laki-laki lain, dan saya ingat betul kejadian itu sangat terkejut dan tersinggung karenanya. Orang tuanya berpisah, dan saya melihat bagaimana hal itu menghancurkan hidupnya.

Sementara saya berusia 16 tahun, masalah yang sama terulang lagi sama seorang kakak pengasuh segereja saya dan tentu dia adalah kakak darah saya. Ia berpisah dengan istrinya karena kakak laki-lakiitu berselingkuh dengan orang lain. Saya melihat efek kecurangan dalam struktur keluarga dan lingkungan saya sendiri, dan saya selalu berbisik pada diri sendiri dan bisa mengatakan: “jika mereka merasa ingin selingkuh dengan pasangan mereka, mereka harus jujur dengan pasangannya tentang perasaan itu.” Dan saya mengimajinasikan kalau saya tidak akan pernah melakukan perselingkuhan pada seseorang saat saya dewasa nanti.

Sekarang saya sudah lebih dewasa, saya menyadari bahwa kedua pembuat kasus diatas juga manusia, dan saya bisa mengerti kenapa orang menipu. Ketika kakak saya berselingkuh, saya berpikir, kenapa sampai kakak bisa menyakitiku sebagai adik kandung dan anak kecil kandungnya seperti itu, apalagi kakak sudah nama naik di gereja khususnya di kalangan sekolah minggu dan pemuda-pemudi di gereja.

Saya pribadi merasa jadi korban dari perilakunya. Tetapi sekarang saya menyadari bahwa dia berada dalam pernikahan tanpa cinta dan bahagia.

Arloji terus beranjak, saya sudah dalam dunia berpacaran. Dan itu adalah standar sejak umur sudah remaja beranjak dewasa di atas 17-an. Secara UU No.1 Tahun 1974, saya bisa melakukan hal-hal kedewasaan karena saya sudah diatas 16.

Pertama kali saya jatu dalam dunia perselingkuah, itu adalah hanya satu hal. Pada saat itu, saya berada dalam hubungan yang baru berpacaran – dengan pasangan saya, sebut saja Yewen, bukan Yewen Papua, komedian Asal Papua yah? Yewen yang masih mencalonkan kimia bersama saya. Karena kami tidak resmi; tidak terlalu fokus pada berpacaran, saya tidur dengan orang lain. Tentu saja, orang yang saya tidur sama-sama adalah teman sekolah saya. Ia adalah orang pertama kali yang bertiduran sama saya dalam sejarah saya.

Saya belum memberitahunya tentang hal itu kepada Yewen karena atmosfer pacarannya seperti di mata saja, masih belum jatuh ke hati.

Saya merasa tidak perlu memberitahukan karena sekali lagi kami juga baru. Tidak masuk akal kan kalau kasih tahu. Saya takut kalau kemudian Yewen meninggalkan saya setelah saya memberitahukannya, bukan?

Tapi sekitar tiga bulan kemudian, Yewen dan saya mengobrol dan memutuskan untuk menjadi pacar resmi. Pembelian pada gelang bintang kejora (GBK, bukan gelora bung karno) jadi saksi ikatan cinta buat kami berdua setelah kami memakai gelang di tangan kami masing-masing. Tanda serah terima sudah selesai.

Kira-kira sebulan kemudian, saya berselingkuh untuk pertama kalinya setelah resmi percintaan: saya kencan sama pemilik Honda Mega Pro FI 2014, berpelat merah baru keluaran. Motornya milik orang kantor, tapi kayaknya motor tersebut dibawah oleh anaknya. Saat saya lagi menunggu mas ojek sekitar 5 sore waktu Papua didepan kantor media Jubi Papua, Waena, dia datang dan membonceng saya.

Ia tahu betul jam keluar saya dari Gereja, maka ia biasanya menantikan saya tempat yang sama didekat kantor Jubi. Bagaimanapun juga kita sudah menjadi dekat. Ia seorang yang baik, humoris, dan berbagi apa adanya. Tapi motor dan uangnya membuat saya menyerah dua kali lipat dan tentunya bertiduran sama dia.

Saya kira selingkuhan konek dengan emosi saya tentang adanya hubungan baru. Kedengarannya mengerikan, tetapi saya mengekspresikan, ini mungkin kesempatan terakhir saya untuk melakukan hal serupa – main di belakang Yewen.

Dengan berpikiran egoisme saya, saya menganggap bahwa jika saya memberitahunya tentang hal itu kepada Yewen, dia akan berpikir, “saya adalah anak Gerejaan, dan sehabis pulang gereja, langsung ke rumah, jadi itu bukan masalah besar.”

Jelasnya, Yewen tahu amsal orang tua Papua yang selalu bilang ke anak-anaknya ketika pergi sekolah berjauhan dari orang tua tentang segitiga: gereja, rumah dan sekolah. Dia pikir saya sedang beraktifitas dalam ketiga lingkaran itu.

Tidak berpikir yang lain. Sayang ahh? Pikiranku.

Padahal saya merintis jalan baru, dan garis baru menjadi segi empat. Jadinya, gereja, sekolah, rumah, dan perselingkuhan. Berpacaran tanpa diketahui pacar aslinya saya – Yewen – sembunyi-sembunyi.

Meskipun demikian, dia benar-benar kesal. Dia menanganinya dengan baik dan pikirin saya baik-baik saja, tapi kelakuan saya pasti membuat hubungan kami salah injak kaki.

Saya retrospeksi, apakah saya merusakkan diri pribadi dari hubungan kami karena semuanya tampak berjalan dengan baik sejak Yewen tidak komplain dengan saya.

Saya merasa tidak pantas bersama seseorang yang begitu penuh cinta dan baik hati – ia adalah pemain drum di Gereja dan bisa dibilang intelektual mudah karena kelakuannya yang rama, sedangkan saya bermaksud merusak hubungan kami secara diam-diam. Yewen pegang saya terus meskipun saya bergaya dan baku bawa dengan laki-laki lain tanpa diketahui Yewen.

Bayang-bayangan tentang hubungan baku selingkuhan sekaligus baku pisah oleh karena perselingkuhan bertepatan dengan perpisahan kakak sungguh saya tadi, dan saya mengalami banyak ketidak-happy-an sekaligus.

Apakah itu balas dendam atau mengikuti jejak kaka saya sendiri? Saya pikir tidak juga.

Kadang berpacaran dengan orang yang rajin dengan Gereja, sulit untuk berbisik guna melakukan bercintaan. Dunia itulah yang saya merasakan ketika saya berpacaran dengan Yewen. Apa lagi harus perempuan duluan kaksih tahu isyarat untuk berkencan. Tidak mungkin; di sisi lain.

Saya benar-benar kesal dan terluka untuk waktu yang lama karena saya mengingat seorang anak dan istrinya sudah menjadi satu keluarga, makan, tidur, dalam satu rumah, tapi sekarang sudah berjauhan. Ketika saya bertemu pria hebat seperti Yewen, dia memperlakukan saya dengan sangat baik, dia cinta kepada saya banyak.

Harga diri saya sangat rendah sehingga saya berpikir jika saya menyabotase atau menghancurkan tali cinta. Saya akan cari pacar baru; Yewen harus bersama seseorang yang lebih baik dari saya, bukan seseorang yang tidur sebanyak yang saya lakukan dengan laki-laki lain, dan bukan dia yang hancur dan tidak bahagia seperti saya. Saya tidak hendak mewarnai hidup Yewen dengan segenap kegelapan saya serta bayangan perselingkuhan contoh di paragraf awal tadi.

Sesudah pertama kali saya selingkuh, saya memutuskan untuk mengambil risiko, menghadapi rasa tidak aman saya, dan menjalin hubungan berkomitmen dengan seseorang. Saya ingin belajar kembali keintiman dan apa artinya berhubungan seks dengan satu pasangan – satu laki-laki saja yakni tidak lain, pacarku Yewen.

Tetapi lagi-lagi saya berselingkuh sekitar enam minggu kemudian dengan seorang pria yang saya temui di suatu tempat kursus bahasa Inggris yang saya ikuti.

Tepatnya di bawah kaki gunung Cycloop, Sentani, Jayapura. Tidak perlu disebutkan lembaga kursusnya. Dia hampir mahir bicara bahasa inggrisnya.

Kamu pernah kah tidak, temui pria yang terlihat tahu betul tentang bahasa inggris di depan orang. Terutama orang yang cari perhatian kepada orang tertentu. Khususnya, saat mereka berbicara, speaking dan listening atau mendengarnya fasih ,tapi lemah pada writing – tulis dan baca, reading.

Nah, piria itu ciri-cirinya seperti itu, dia terlihat pintar berbahasa inggris di hadapan saya. Meskipun kata-kata terutama pronunciation – cara pengucapannya adalah salah-salah.

Tapi kam?

Kami sudah saling kenal untuk sementara waktu, dan selalu menggoda dan pergi keluar sama-sama.

Kami makan bersama karena dia adalah sekelas dan selevel dengan saya pada kelas bahasa Inggris tersebut. Apa lagi, kami selalu pergi beli makanan yang dijual oleh mama-mama Papua di pasar Doyo Baru Sentani. Pasar yang diresmikan oleh presiden Jokowi itu.

Omong-omong, cara dia berbicara inggris membuat saya mengkhianati (menarik hati saya) pacar saya yang sebenarnya – Yewen. Ia lancar dengan bahasa-bahasa rap dan hip-hop. Saat dia rap, mama? saya hampir saja diskualifikasikan Yewen saja!

Kursusnya hampir-hampir berakhir, jadi kami pergi minum-minum (tidak selalu alkohol ee??) dan cari makan dengan beberapa teman untuk perpisahaan.

Di benaknya laki-laki itu terpikir bahwa kami mungkin tidak akan bertemu lagi lantaran dekat liburan natal, jadi dia memintanya untuk bermalam ke rumahnya setelah acara kecil kami selesai.

Ehh, tahu-tahunya, kami berhubungan seks di rumahnya. Itu tidak terlalu bagus. Saya langsung merasa sangat bersalah. Saya tidak pernah berbicara dengan Yewen, lagi!

Saya merasa bersalah tentang fakta bahwa kami berhubungan badan lagi di pagi hari, karena saya tidak punya alasan untuk kondisi tidak enak badan sehabis acara.

Saya pikir, saya adalah orang terburuk di dunia.

Saya baku naik dengannya ketika saya sadar. Selama yang kedua kalinya, saya berkomitmen untuk tidak melakukannya lagi. Tapi saya menyesali pada pacar saya – cintaku Yewen.

Kurang lebih dua bulan kemudian, keadaan saya menjadi sangat rumit gara-gara berkat kejadian gonta-ganti pasangan. Jadi, saya menyadari bahwa saya ada bau-bau kehamilan.

Butuh satu atau dua hari untuk tenggelamkan rasa bersalah. Saya harus berurusan dengan semua emosi yang datang dengan kehamilan – yang tidak diinginkan.

Pacar saya, Yewen sangat mendukung ketika saya memberitahu dia tentang kehamilan itu, dan bahwa saya mau melakukan aborsi, dimana aborsi membuat rasa bersalah kira-kira seratus kali lebih buruk. Yang bisa saya pikirkan adalah, saya sungguh-sungguh mengacaukan hidup dan harga diri saya terhadap Yewen yang selalu setia dan suportif.

Yewen kaget kehamilan saya karena kami berdua tidur bersama-sama tidak terlalu banyak.

Jadi dia pikir, kenapa sampai saya bisa begini – hamil.

Orang tuaku membiarkan saya. Tidak ada sekata apapun dari mereka tentang kehamilan saya lantaran kakak laki-laki juga sudah terjerumus dalam hal yang hampir sama dengan kasus saya.

Perbedaannya adalah kakak saya sudah berkeluarga yang berselingkuh, sedangkan saya masih dalam level berpacaran, tapi skilled dalam dunia selingkuhan. Saya tidak hanya bermalam dengan Yewen, tapi laki-laki diluar pacarku juga. Tidak salah juga, orang tuaku seakan-akan menjadikan kami anak-anaknya stereotip – lonte.

Sekitar dua tahun kemudian, saya memberitahu pacar saya tentang perselingkuhan saya itu. Saya sudah berpikir untuk mengatakan kepadanya berkali-kali sebelumnya, tetapi kolega-kolega dekat saya menyarankan untuk tidak menceritakannya.

Mereka berkata, “Kamu tidak akan pernah melihat pria seperti Yewen lagi. Dia tidak berpikir posesif, stalking, dan tukang jaga-jaga kamu. Lebih baik baginya untuk tidak mengetahuinya.”

Tetapi saya terkejut melihat betapa banyak rasa bersalah itu menampun dan terpendam selama dua tahun.

“Pengalaman itu tidak akan hilang begitu saja di benak saya.” Saya sambil merenungkan kejadian-kejadian sebelumnya.

Pembongkaran api cemburu saya merilis ketika kami sedang dalam liburan. Saya memberitahunya pada malam minggu sementara kami berada di Ita Cafe, Mega Futsal Abepura, Abepura, Jayapura.

Saya mengatakan kepadanya betapa saya merasakan gundah gulana, dan bagaimana hal itu merusak saya, dan saya mulai turun kepala saya dan menangis.

Yewen bingung, karena kami baru saja makan makanan khas Papua seperti papeda campuran ikan cakalang. Di café tempat kita makan, tidak hanya makanan yang menemani kami, tapi pemilik Ita Cafe, juga bikin speakernya abu naik. Suaranya khas cafe; santai, romantis, dan menikmati. Mace sepertinya benar-benar memahami keadaan kami karena mace mulai putar lagunya Black Sweet, Kau Aku dan Dia.

Lagunya pas dengan situasi kami. Reef dari lagu ini sungguh mengesankan; “Walaupun Jurang Yang Kau Cipta, Untuk Memisahkan Dia Dan Aku, Tak Akan Ku Dendam Padamu, ‘Kan Ku Buat Titian, Untuk Kau Aku Dan Dia”.

Saat Yewen ingin tahu alasan saya menangis, saya mudah saja bilang ke dia bahwa saya menangis tidak hanya karena saya mengungkapkan perasaan ketidak-respekkan saya kepadamu, tapi saya juga menurunkan air mata sejak lagu ini benar-benar menegur dan seakan-akan tangan fisik menampar saya.

Lanjut suara saya terlihat menangis sambil meresapi inti dari lagu tersebut dan membayangkan:

“Meskipun saya membuat jurang, dan mencoba memisahkan antara saya, Yewen, dan laki-laki yang saya berhubungan, Yewen tidak pernah marah saya, malah Yewen adalah bagaikan tukang kontraktor yang menjadikan jembatan yang kuat tanpa patah bagi kami semua.”

Lalu Yewen berkata sambil pegang tangan saya kuat-kuat diatas meja, “saya senang kamu bisa memberitahuku tentang hal itu.”

Hebatnya, Yewen oke-oke saja tentang itu.

Yewen beri tahu lagi bahwa, “saya tahu kamu berada di ruang pola pikir yang aneh selama beberapa bulan pertama hubungan kami,” dan pastinya dia tahu bahwa saya tidak akan pernah melakukan ketidakjujuran sama Yewen mulai sekarang.

Namun, ada pertanyaan muncul setelah dengar jawabannya tentang, Yewen tahu keberadaan saya saat pertama kali kami berpacaran.

Kenapa Yewen tidak mengingatkan dan menegur saya selama saya lagi bertiduran sama laki-laki lain? Saya berani bilang langsung hal itu ke Yewen sambil bersandar di dadanya.

Yewen jawab, “jika saya tegur kamu dan kemudian ada ketahuan saya berpacaran dengan kamu, saya akan merasakan malu di kalangan Gereja (nama baik saya di Gereja akan turun) dan terutama kepada kedua orang tuanku. Karena Ortuku menyarankan selama berkuliah, saya dilarang punya pasangan perempuan, jangankan menghamili.”

Lantaran lanjut Yewen, “biaya kuliah, makan-minum tidak jadi kirim dari kedua orang tuaku kalau kedapan saya berstatus pasangan dengan kaum hawa.”

Sekarang saya tahu kenapa dia tidak membongkar keselingkuhanku terhadapnya. Dia takut mempublikasikan di publik. Apalagi didengar oleh orang tuanya.

Saya beraborsi itu juga di luar ketahuan orangtua Yewen dan warga gereja sesama Yewen.

Saya sangat senang saya sudah mengatakan kepadanya. Saya tidak bisa menangani rasa bersalah lagi.

Awalnya, saya menyesal tidak memberi tahu dia lebih awal sejak dia menerimanya dengan sangat baik. Tapi saya memberitahunya tentang perselingkuhan sesaat saya merasa siap untuk memberitahunya.

Oleh karena itu, saya tidak berpikiran kesal dan tidak memberitahu sebelumnya. Saya membutuhkan waktu untuk mengungkapkannya. Padahal itu adalah salah besar saya.

Saya tidak akan pernah jadi pengkhianat lagi sekarang. Saya tidak ingin disebut pelacur.

Saya berpendapat bahwa pelacur adalah tidak hanya orang-orang yang kerjanya prostitusi semata, dimana imbalannya bisa mendapatkan berupa uang.

Mereka yang kerjanya dunia perselingkuhan juga adalah termasuk pelacur.

Itulah kenapa pelacur dan tukang selingkuh adalah sinonim – beda kata, tapi sama maknanya.

Apakah saya termasuk kategori pelacur? mungkin kamu bisa menilainya setelah baca artikel ini dan kelakuan sisi gelap saya selain rajin ke gereja.

Ternyata, saya baru tahu kalau selingkuh dan pelacuran adalah tidak jauh beda.

Sekali lagi, saya terpana dengan banyaknya rasa bersalah yang saya gendong karena one-night stand – sebuah istilah di mana dua orang memiliki hubungan seksual dan tidak ada harapan membangun hubungan romantis – berpacaran.

Saya menyadari bahwa selama dua tahun, imbalan saya sebagai seorang cewek tukang selingkuh adalah upah borongan kesenangan diri sendiri, which is baik.

Tapi disisi lain finansial adalah yang utama.

Contoh kasus, setelah kelas selesai pada suatu sore hari, saya dapat bertemu dengan kakak tingkat saya di jalan raya Abe. Karena dia mau ajak saya jalan-jalan, kami baku tukar no. HP. Besoknya, kakak itu mengajak saya jalan-jalan perbatasan PNG-Indonesia, Skow, Jayapura.

Kakak itu dan teman laki-laki lainnya bersama kedua adik perempuannya datang menjemput saya di depan rumah. Karena saya dan ada teman satu di rumah, saya ajak ikut bersama kami.

Sudah ada teman berbincang-bincang. Pikiran saya puas.

Tetapi saya jalan dengan mereka tanpa memberi tahu Yewen. Tapi Yewen keluar kota pada saat itu.

Dalam hati saya berkata, “tidak perlu bagi saya untuk mengingatkan Yewen kalau saya lagi mau jalan bertamasya.”

Akhirnya, kami kami dihibur hari itu oleh kakak-kakak. Mereka drop kami kembali di rumah.

Pas saya lagi setelah istrahat sedikit karena capek dan mandi pada jam-jam 9 malam waktu papua, ada pesan masuk di HP saya.

Kak itu ajak makan malam dan SMS ke saya: “ade, mari makan kak bayarkan. Kalo mo datang, ambil ojek. Lalu datang saja. Kak kan bayarkan.” tulisan berikutnya kak kirim alamatnya di area tanah hitam, Kamkei, Abe.

Saya terjung kesana kebetulan dirumah makanan habis. Beras ada tapi sayur tidak ada. Ah sudah, jalan saja. Suara kecilku.

Saya kesana menurut alamat yang di kirim dan tiba di tempat makan berdekatan dengan hotel kak itu tinggal. Jam sudah mulai malam, saya pamit pulang setelah menikmati makanan malam.

Saya pulang ehh, trimsh atas makanannya? Bilang saya ke kak dia. Sa pamit pulang kak.

Sayangnya, kakak saya itu menawarkan saya bermalam di hotel tempat dia tinggal.

Saya bingung opsi apa yang saya tentukan yakni pulang atau tinggal. Kalau saya pulang, malam plus saya adalah perempuan lagi kalau pulang malam-malaman dan tidak ada kendaraan. Diajak antar mobilnya yang tadinya kami pake.

Kak bilang, “mobilnya sewa, jadi sudah diambil pemiliknya.”

Saya terpaksa tinggal. Saya tidak merasakan takut karena kakak angkatan itu dekat betul sama saya apa lagi kami biasanya baku bercanda-candaan.

Namun, malam itu menjadi saksi bisu karena saya tahu bahwa kakak juga adalah seorang ular bagi saya. Saya tidak tolak permintaannya dan saya down selama dia memamerkan gambar Soekarno-Hatta di depan saya.

Kakak juga dalam hatinya mau-mau dengan saya. Ia mengungkapkan hal itu saat kami dalam silent room.

Dia mengungkapkan perasaan dan ketertarikannya kepada saya. Dia berkata kepada saya, “sebenarnya saya suka sama kamu, tapi saya malu mengatakan secara terang-terangan.”

Dia baru tahu kalau saya berstatus berpacaran. Itu juga karena saya menceritakannya. Sebelumnya, dia sama sekali tidak tahu status saya.

Setelah dengar cerita tentang hubungan saya dan Yewen, Laki-laki angkat bicara dan lanjut berbumbuhi dengan perkataan rayuannya, seakan menggulingkan kepala saya sampai seolah-olah dia Aiwa saya dan mengatakan:

“Sebelum orang berkeluarga dan bermaskawin, orang itu ibarat berjualan di pasar. Siapasaja bisa beli selama ia adalah masih belum punya pernikahan yang sah meskipun ia dalam berpacaran.”

Oh iya ya? Dalam hati. Karena saya ingat kutipan cinta terkenal oleh penyair asal Inggris, William Shakespeare; The course of true love never did run smooth – perjalanan cinta sejati tidak pernah berjalan mulus.

Saya sudah penjelajahan atau kemesrahan dengan Yewen. Di sisi lain, kata diatas ini mematikan pikiran cinta saya kepada yewen juga.

Momen itu saya memahami bahwa, “teman bercandaan dan teman terdekat bisa saja menjadi teman musuh dekat.” Saya juga tidak percaya dengan orang bilang, “pengalaman adalah guru yang terbaik.”

Setelah saya mengalami rentetan kebiasaan tidak baik itu, kenapa saya tidak bisa membenarkan diri dari pengalaman, dan kemudian saya tidak menghindari berselingkuh: tidur sama orang lain lantaran saya sudah berjanji sambil menangis di hadapan Yewen kalau saya tidak akan melakukan hal serupa lagi.

One-night stand dan semua laki-laki yang saya kena, hampir tidak pake kondom: malapetaka.

Saya tidak hanya was-was pada penularan penyakit seksual, tetapi melakukan hubungan seks tanpa kondom juga bisa menyebabkan kehamilan – memalukan diri saya sendiri dikarenakan saya ada dalam bangku studi, dan hamil diluar nikah.

Yang paling menyebalkan lagi adalah kena penyaRkit HIV/AIDS.

Tentu dengan jujur, dua-duanya saya sudah kena positif; kehamilan yang kedua kalinya setelah aborsi diam-diam dan kena ciuman HIV/AIDS.

Kehamilan yang terakhir ini, saya kira tidak jadi masalah buat Yewen karena dia tinggal menuggu wisuda saja. Dan barangkali Yewen adalah bapak dari bayi yang ada diperut saya.

Tentunya orang tua senang karena anaknya sudah berujung kuliah, bisa bebas untuk buka relationship dengan perempuan; saya orangnya.

Bisakah kamu bayangkan bagaimana bingungnya jika kamu sebagai cewek hamil tanpa tahu siapa darah asli anak dalam kandunganya dan dapat memilahnya sejauh anda juga berpengalaman seperti saya?

Ini bukan hanya darah Yewen saja! Kalau aborsi, dunia bilang itu hak. Tapi suara minor di kalangan masyarakat lain, aborsi adalah ke-tidak-manusia-an sesuai tradisinya. Sulit meman tuk klik salah satuhnya, bukan?

Kehamilan keduakaliku adalah pengorbanan dan pertobatan saya dari kelakuan sabotase dan dunia kegelapan di belakang pacar saya.

Tamat.

Catatan: Tulisan ini sepenuhnya adalah fiksi dan imajinasi belaka.

Alumni SMA Negeri 2 ,Wanggar, Nabire.

Berikan Komentar Anda