BALIK ATAS
Senja di Kota Bersejarah
PENERBIT:PPWI MEDIA Redaksi PAPUALIVES.COM 10th Juni 2016
| 1196 DIBACA
thomas syufi
Thomas CH Syufi (Foto:Dok Pribadi)

Oleh : Thomas CH Syufi

Sore itu, langit di ufuk barat merah-kemerahan, jingga senja yang cantik menyapu daun dan menerobos pepohonan di sekitar kota Manokwari, Papua Barat. Saya pun bergegas meninggalkan ojek yang saya tumpangi dari arah kota Manokwari. Saya mulai berjalan dari pintu masuk barat, PasarSanggeng, Manokwari. Langkah saya sedikit  santai, namun mataku sesekali tajam menyapu sekeliling bak seorang buronan teroris kelas  wahid di dunia. Ternyata, itu karena kegelisahan hati atas realitas sosial dan kemanusiaan yang terjadi di tengah masyarakat Papua.

Beberapa sisi pasar yang saya susuri, tak ubahnya sembilan tahun lalu, saat saya masih menjadi siswa SMU Negeri 01, Manokwari. Bahkan, dibilang kondisi pasar hari ini cukup memprihatinkan, atau jauh lebih parah (kumuh) daripada periode itu. Inilah ironi dan anomali negeri kita di tengah menggeliatnya triliunan rupiah dana Otonomi Khusus yang telah dikanalisikan ke Provinsi Papua dan Papua Barat.

Perjalanan yang dibilang tak berarti apa-apa ini—ingin menapaki kembali jejak dulu bersama rekan-rekansiswa SMU N 01 yang sering pulang sekolah melewati tempattersebut. Dan telah sembilan tahun saya meninggalkan Manokwari, melanjutkan kuliah S1 (2008-2012) di Fakultas Hukum, Universitas Cenderawasih, Jayapura, Papua. Setelah lulus kuliah, lanjut magang di PT. Freeport Indonesia, Nemangkawi, Kuala Kencana, Timika, Papua, tiga bulan. Dan akhirnya hijran ke Jakarta, masuk Pengurus PusatPerhimpunanMahasiswa Katolik Republik Indonesia (PP PMKRI) Sanctus Thomas Aquinas. Juga pernah (2013-2014) menjadi  Staf Ahli di Kantor DPD/ MPR RI, Senayan, Jakarta.

Perziarahan yang panjang ke berbagai pelosok negeri, tak pernah membuat kecintaan saya pada negeri kelahiranku, Kebar, Manokwari tak pernah pupus. Distrik Kebar, baru saja masuk Kabupaten Tambrauw, bersama  empat distrik lainnya yang dimekarkan oleh kabupaten induk Manokwari, yakni Senopi, Amberbaken, dan Mubrani.

Manokwarimememiliki cerita yang cukup panjang. Manokwari punyabeberapajulukan yang cukuppopuler di tengah masyarakat Papua. Yakni“Manokwari Kota Bersejarah”, “Manokwari Kota Buah-buahan”, dan “Manokwari Kota Injil”.

Memang, Manokwari merupakan kota yang mempunyai banyak makna bagi peradaban manusia di Tanah Papua. Tepatnya 5 Frebruari  1855, dua rasul  besar dari Jerman, Ottow-Geissler tiba  di Pulau Mansinam, Manokwari. Di sinilah tempat pijakan awal peradaban orang Papua. “Dengan nama Tuhan, kami menginjakan kaki di tanah ini, ”begitu kata Ottow-Geissler, pertama kali menginjakan kaki di Pulau Mansinam, Manokwari, Papua.

Artinya, Tanah Papua ini telah diberkati oleh Tuhan. Karenanya, siapa pun yang bekerja di atas tanah ini—harus bekerja dengan baik dan jujur. “Di atas batu ini, saya meletakkan peradaban orang Papua. Sekalipun orang memiliki kepandaian, akal budi, dan marifat tetapi tidak dapat memimpin  bangsa ini. Bangsa ini akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri,” demikian seperti itu wasiat Pendeta Dominee I. Z Kijne—di Miey, Wasior, 25 Oktober 1925.

Kata-kataKijne ini bukanlah sebuah ramalah, tapi itu nubuat. Dan nubuat tersebut telah menjadi nyata. Banyak anak-anak Papua telah bangkit dari keterbelakangan, ketertinggalan, dan kebohodan memimpin dirinya sendiri. Misalnya, banyak orang Arfak (Sow, Meyah, Hatam, Kebar, dan Amberbaken) Kabupaten Manokwari telah menjadi pejabat daerah di Manokwari, Papua Barat.

Dominggus Mandacan (anak dari tokoh Papua dan Kepala Suku Besar Arfak, Lodwik Mandacan) telah berhasil memimpin Manokwari sebagai bupati dua periode, Bastian Salabai memimpin Manokwari satu periode, dan kini Demas Paulus Mandacan menjabat bupati. Padahal, sekian lama orang Arfak tenggelam dalam lumpur budaya bisu, terimpit oleh tangga kekuasaan orang lain. Tetapi itulah nubuat, pasti terwujud sesuai sesuai kata-kata permulaan, bukan ramalan yang kepastiannya masih diragukan.

Genaplah firman Tuhan. “Yang terbelakang akan terdepan” kondisi  ini tengah terjadi pada orang Papua. Orang  Merauke telah menjadi tuan di negeri sendiri, orang Jayapura telah menjadi tuan di negeri sendiri, orang  Wamena telah menjadi tuan di negeri sendiri, orang Jayapura  telah menjadi tuan di negeri sendiri, orang Biak telah menjadi tuan di negeri sendiri. Juga orang Serui, orang Manokwari, dan Sorong pun telah menjadi tuan di negeri sendiri. Itulah realitas peradaban manusia Papua yang sedang terjadi.

Sejarah gereja di Tanah Papua tak luput juga dari gerakan politik Papua merdeka. Yang mana, pada periode 1950-an gerakan rakyat Papua menuntut untuk memisahkan diri dari jajahan Belanda pun menjadi satu alasan Manokwari  disebut kota bersejarah. Sampai  penjajah  Belanda berhasil, dan Papua masuk NKRI, 1 Mei 1963.

Masuknya Papua ke NKRI bukan berarti habis perkara, justru memperuncing konflik baru antara rakyat Papua dengan pemerintah Indonesia. Gejolak politik tahun 1965, yang dimulai di pedalaman Manokwari, Arfak yang dikoordinir oleh sejumlah tokoh-tokoh Papua dari suku Arfak dan Biak. Yakini Lodwik  Mandacan, Barend Mandacan, Yohanes Jambuani, serta  Permenas  Ferry Awom, dan TerianusAronggear.Jelas tuntutannya, mereka menolak konspirasi politik pemerintan Indonesia-AS atas Perjanjian New York (New York Agreement). Di mana  dalam perjanjian itu telah mengamanatkan penentuan pendapat rakyata (Pepera) rakyat Papua tahun 1969 harus dilakukan dengan prinsip“One man, one vote (satu orang, satu suara)”.

Tapi sebaliknya, pemerintah Indonesia berselingkuh dengan AS untuk mengubah ketentuan itu secara sepihak (tanpa melibatkan) orang Papua, yakni “Thousand man, one vote (seribu orang, satu suara). Orang Papua mulai bertingkah, mereka mulai melakukan resistensi politik untuk membatalkan kesepakatan “iblis” itu. Namun, OPM kalah dalam perhelatan itu dan Pepera tetap terlaksana menurut kehendak  politik Indonesia: seribu suara  diwakilkan satu orang.

Pergerakan inilah menjadi cikal-bakal lahirnya Organisasi Papua Merdeka (OPM). Bayi OPM lahir di Manokwari pada tahun 1965. Yaitu bertepatan dengan penyerangan OPM ke Pos Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Arfai, Manokwari, Papua.

Dari sini, perjuangan Papua menyeruak ke mana-mana, di seluruh pelosok Tanah Papua (Nabire, Jayapura, Kerom, Merauke, dan Wamena). Dan isu Papua pun terus melejit ke dunia internasional, bahkan kilat dan gunturnya tengah menyambar dan menyibak Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat.

Dalam perjuangan OPM untuk merebutkan kemerdekaan politiknya dari pemerintah Indonesia tak berjalan mulus. Banyak air matadan darah yang telah bercucuran membasahi tanah ini. Tak kurang dari 100 ribu orang Papua telah dibunuh oleh militer Indonesia untuk mempertahkan NKRI.

Karena itu, perjuangan para pendahulu ini telah menghatarkan kita pada sebuah gerbang emas kemerdekaan, yang disebut  Otonomi Khusus Papua. Pada  tahun 2001, Presiden Republik Indonesia Megawati  Soekarnoputri  mengeluarkan sebuah  kebijakan politik. Yakni undang-undang (UU) Nomor 1 Tahun 2001 tentang  Otonomi  Khusus  bagi Provinsi Papua dan Papua Barat. Sejak awal dibayangkan oleh mayoritas orang Papua bahwa kehadirian Otsus nasib orang Papua akan membaik, justru sebaliknya  terjerembab  ke dalam sumur  tanpa dasar. Kondisi Otsus kacau-balau.

Tak kurang dari 30 triliun rupiah dana Otsus telah dikanalisasikan ke Provinsi Papua dan Papua Barat, tetapi nihil dalam pelaksanaannya. Pasar  Sanggeng, yang berada di Manokwari, kotalahirnya OPM itu masih dalam kondisi yang memprihatinkan. Para pedagang hanya menggunakan bibir, bahkan badan jalan untuk berjualan, dengan beralaskan karun, plastik, koran, dan karton bekas. Dan kondisi tempat jualan (lapak) sangat tidak memungkinkan bila terjadi hujan. “Tempat julan ini sering tergenang air bila datang hujan,” kata Mama Muabuay (53), di Pasar Sanggeng.

Padahal jalan masuk Pasar itu luasnya sekitar 5 x 100 meter.Pedagang di Pasar Sanggeng bukan saja warga yang ada di seputar kota Manokwari, tapi juga ada kabupaten Baru, seperti Pegunungan Arfak, Manokwari Selatan, Tambrauw, dan dari Satuan Pemukiman (SP), Manokwari. Dan kebanyakan orang dari berbagai suku di Indonesia berjualan di tersebut. Di antaranya, orang Papua, Makassar, Maluku, Madura, Jawa, Manado, Batak, dan NTT.

Memang, pemerintah telah menyiapkangedungpasar baru di samping pasar lama—tetapi itu masih kecil dan belum diresmikan. Dan pasar yang kecil itu tak bisa menampung semua pedagang yang diperkirakan mencapai 700 lebih orang itu. “Pasar baru itu sudah bagus, hanya kecil. Jadi,agak susah untuk muat kami pedagang yang jumlah banyak ini,” kata Dorince Mandowen (40), salah satu pedagang pinang buah kering di Pasar Sanggeng, Jumat (3/6/2016).

Dorince mengharapan, pemerintah harus membangun pasar baru yang lebih besar untuk menampung semua pedagang. “Model pasarnya seperti apa tidak jadi masalah, asal pemerintah bangun pasar yangbesar dan layak pakai. Kami mau jual hasil anyaman noken tapi tidak ada tempat, jadi terpaksa jual pinang saja untuk menafkahi keluarga sehari-hari, kata ibu rumah tangga ini.

Namun kita semua optimis, cepat atau lambat akan ada titik akhir. Hal ini bermakna  ganda, ibarat Papua (Manokwari) mendekati senja, entah malam yang menggantikan senja ini hanya sekadar sementarauntuk menjemput fajar pagi yang penuh harapan. Sebagai momentum awal kebangkitan ekonomi masyarakat Papua dari ufuk timur, demi kemajuan dan kemandirian bangsa, Indonesia.

Ataukah justru membawa masyarakat Papua terperosok dalam kubangankemiskinan yang mematikan. Setelah senja, gelap gulita yang menyelimuti segenap manusia Papua, yang terdengar hanyalah ishak dan tangis orang Papua di tengah eforianya Otsus Papua, yang kini diurus oleh anak-anak asli Papua sendiri.

Yang lebih parah lagi, bila suatu ketika akan terdengar dentangan lonceng kematian atas keterpurukan ekonomi masyarakat Papua: teng-teng-teng, begitu penggal bait lagu Black Brothers yang terdengar suaramenggelegar sore itu, oleh delapan pemuda Papua dari sudut kiri Pasar Ikan, Sanggeng. Namunjanganlupa pesan bijak dari Antonio Porchia (1886-1968), pujangga Italia, “Lakukanlah apa yang dibisikan oleh kata hati Anda”. Tentu, bukan saja Pasar Sanggeng, tapi Pasar Wosi dan Pasar Borobudur, Manokwari, Pasar Remu, Sorong, Papua Barat, Pasar Hamadi, Pasar Sentani, dan Pasar Mama-mama Papua di Jayapura, Papua—juga butuh perhatian yang sama.

Matahari sudah sore, saya mendongakkan kepala ke ufuk barat, benar-benar senja telah tenggelam dan menggantikan malam yang gelap. Matahari telah hilang, langit gelap. Satu-dua titik cahaya di langit muncul, bulan dan bintang hadir menggantikan tugas matahari. Saya pun segera jalan pulang, meninggalkan Pasar Sanggeng! Semoga.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

). Penulis adalah Ketua Lembaga Pusat Kajian Isu Strategis (LPKIS) Pengurus Pusat PMKRI Sanctus Thomas Aquinas, periode 2013-2015.

Berikan Komentar Anda