Striker Persipura dari Waweyai, Timo Kapisa sampai Boaz T Solossa
Posted by Redaksi on 26th Desember 2017
| 1495 views

kapisa-black-brother.oke_1

Jayapura, Semua pemain bola terhebat selalu lahir pada jamannya, kalau saat ini Boaz T Solossa yang terbaik karena memang pemegang ban kapten timnas Indonesia dan Persipura menonjol, begitupula Timo Kapisa dan Dominggus Waweyai yang punya nama besar dan menjadi buah bibir pada masa kejayaan mereka.

Dominggus Waweyai, striker andal milik Persipura dan Hollandia Futebollbond, pertama kali dipanggil masuk timnas pada 1964. Selama memperkuat timnas selalu berpasangan dengan Sutjipto Suntoro alias Gareng. Bahkan kemampuan Waweyai melewati tiga sampai empat orang pemain belakang membuatnya memperoleh julukan “Kelinci Hitam” alias “Black Rabbit”. Ia pernah memperkuat Persija Jakarta bersama Frits Willem Mariawasih selama beberapa tahun hingga akhirnya berpisah dari rekan-rekan sesama timnas Indonesia saat tour ke Belanda.

Fred Imbiri mantan defender Persipura dan klub Galatama Warna Agung menilai kehebatan Dominggus Waweyai menggocek bek, tiga sampai empat orang memudahkan Sutjipto Suntoro menciptakan gol. Selama keduanya bermain di timnas Indonesia, Sutjipto Suntoro alias Gareng menjadi topskor. Dalam bukunya, Gareng sangat menyesalkan kepergian Dominggus Waweyai dari timnas Indonesia.

alchetron

Hengki Heipon rekan Waweyai selama membela Persipura mengakui kehebatan Waweyai sehingga pantas bermain di Liga Belanda. Dia bergabung di Belanda mengikuti pelatihnya Keis Vander Werk, mungkin Waweyai satu-satunya pemain asal Papua yang pertama kali bermain di Liga Belanda sejak 1965.

Hengki Heipon juga memuji kehebatan Timo Kapisa, pemain mungil ini pertama kali bermain di PON 1969 membela tim sepak bola PON Irian Barat. Kelebihannya mengolah si kulit bundar dan mampu menggiring bola dengan cepat membuatnya dilirik Persipura.

“Saya juga mengajaknya ke tim Persipura untuk bermain bersama kami,” kata Hengki Heipon belum lama ini kepada tabloidjubi.com.

Hengki Heipon juga mengakui Boaz mampu menyamai dan melebihi kemampuan individu Timo Kapisa. Tak heran kalau kehebatan Timo Kapisa menjadi inspirasi Hengky Merantoni, gitaris The Black Borthers untuk menciptakan lagu Persipura. Bukan kebetulan nama Timo Kapisa dan Johanes Auri yang ditulis dalam syair lagu. Timo striker dan Johanes Auri bek kiri, kedua pemain asal Papua langganan masuk timnas Indonesia.

Kelebihan Timo Kapisa, kedua kaki baik kiri maupun kanan sama baiknya sehingga tak heran sangat berbahaya jika berada di depan gawang lawan. Bagi Rully Nere mantan rekan Timo di klub Warna Agung, Timo Kapisa merupakan pemain yang memiliki disiplin dan teknik tinggi. Timo juga sukses melatih tim Pupuk Kaltim. Ia pernah bermain dengan pemain besar Indonesia lainnya seperti Ronny Patinasarani, Risdyanto, Iswadi Idris dan Simson Rumahpasal. Dalam pertandingan Galatama antara Klub Warna Agung melawan Tunas Inti di Stadion Tambak Sari Surabaya, Timo Kapisa memborong tujuh gol.
“Timo Kapisa juga mengantarkan Persipura menjadi juara Soeharto Cup dan Timnas di Saigon Vietnam,” ujar Rully Nere belum lama ini kepada tabloidjubi.com.

Striker Indonesia saat ini yang terbaik memang Boaz T Solossa. Pelatih Jacksen F Tiago sendiri mengakui kalau Bochi tak perlu lagi membuktikan kehebatannya. Bayangkan saja selama ISL bergulir, Bochi satu-satunya pemain lokal Indonesia yang mampu bersaing dan mengalahkan kerumunan striker asing di Indonesia. Boaz sudah tiga kali top skor di ISL sedangkan Cristian Gonzales empat kali top skor baik Liga Indonesia dan ISL.

IMG_2044

Boaz T Solossa adalah generasi baru Papua yang mempromosikan kehebatan anak-anak Papua mengolah si kulit bundar di Benua Australia dan Asia. Meski di Liga Champion Asia, jadi bulan-bulanan tetapi telah membuka jendela kepada dunia tentang sebuah klub bernama Persipura dari Papua. Kekalahan di Champion Asia dibayar dengan masuk ke babak delapan besar AFC.

Di timnas, nama Bochi sudah tidak asing lagi karena bermain sejak usia 17 tahun, bahkan ikut pertama kali di timnas senior. Kelebihannya bermain bola membuat Bambang Pamungkas berharap Boaz T Solossa akan memakai ban kapten timnas senior Indonesia. Terbukti saat coach Rahmad Darmawan membesut Timnas senior Indonesia, seniman bola Boaz memegang ban kapten. “Ban kapten pantas diberikan kepada seniman bola, Van Bochi,” kata Rahmad Darmawan.

Walau demikian pemain-pemain Persipura lainnya yang pantas dikenang sejak dulu hingga kini masih banyak. Ada Gento Rumbino pemain nomor 10 Persipura era 1970 an, Hengki Mauri, Levianus Doom striker Persipura yang punya kelebihan tendangan salto ala Pele. Niko Patipeme dan Pieter Atimuna.

Begitupula Persipura angkatan Mettu Dwaramuri, ada Jappi Rumbrar, Stepanus Korwa, Daniel Mauri, David Major dan lainya. Elly Rumaropen striker PSBS Biak pun pernah ikut membela Persipura. Merosotnya prestasi Persipura era 1980 an membangkitkan anak-anak PPLP era Ferdinando Fairyo dan kawan-kawan. Muncul kemudian, striker Cristian Leo Yarangga yang terkenal dengan tendangan volley dan gledeknya.

Lepas dari pro dan kontra striker terbaik di tubuh Persipura, agaknya Bochi mewakili generasi baru Persipura di era sepakbola Papua memasuki industri. Kini Persipura sudah berubah dan memiliki nama bisnis PT Persipura Papua. Hal ini sudah jelas Persipura ke depan akan dikelola sebagai sebuah perusahaan dalam bisnis industri sepak bola di tingkat Asia. Akankah Persipura pada musim AFC 2014 memberikan kejutan hingga di final? Tak tahulah tapi yang jelas, Bochi dan kawan-kawan akan membuka era baru sepak bola Papua. Bukan sekadar hobbi tetapi menuju profesionalisme sepak bola.(*)

goalpapua/red

Berikan Komentar Anda
TENTANG KAMI REDAKSI IKLAN SITE MAP PRIVACY POLICY