Balik Atas
STYGMA: Orang Papua Monyet?
 
Pewarta: Redaksi Edisi 19/08/2019
| 487 Views

Oleh Marius Goo

Orang Papua dan Penciptanya

Orang Papua monyet. Stygma ini diberikan Negara Republik Indonesia (NKRI) kepada Orang Asli Papua (OAP). Benarkah OAP monyet? Stygma ini dapat dijawab dengan menelusuri historisitas manusia dari fisik dan spiritualitas Alkitabiah.

Pertama, historisitas manusia dari fisik. Berkenaan dengan fisik. Dari konteks fisik, dalam ilmu sejarah bangsa Indonesia, tidak menuliskan secara gamblang bahwa manusia Papua berasal dari monyet (kera). Teori evolusi menjelaskan bahwa manusia berasal dari kera, namun teori ini pun dimuntahkan oleh para arkeolog dan dokter yang menemukan fosil manusia jenis demikian adalah suatu kelainan, yakni  karena terkena penyakit tertentu yang membentuk fisik manusia seperti kera. Juga secara Alkitabiah bahwa tidak mungkin jenis kera mendapat Roh Allah. Roh Allah diterima oleh manusia bukan binatang (kera), di mana manusia ada yang termulia. Artinya, manusia berasal dari kera dalam pelajaran sejarah bangsa Indonesia tidak memberikan dasar yang valid, karena manusia tidak sama dengan kera dan bukan kera.

Kedua, secara Spiritualitas Alkitabiah. Manusia diciptakan Allah, serupa dan segambar dengan-Nya. Manusia yang serupa dengan-Nya tidak mungkin berasal dari kera, bahkan tidak mungkin kera. Sebab indikasinya, jika manusia dikatakan monyet atau dari kera, maka konklusi menyesatkan adalah Pencipta disamakan dengan kera. Artinya, secara alkitabiah membuktikan bahwa manusia itu tidak berasal dari monyet, bahkan bukan monyet.

Indonesia  Menstygma Orang Papua Monyet

Indonesia menstygma Orang Asli Papua adalah monyet. Mengapa Indonesia menstygma demikian? Tentu dapat disebutkan beberapa indikasi yang mendasari dan menyertainya:

Pertama, Indonesia tidak ingin OAP tidak melebihinya. Supaya keinginan mereka ini terwujud, maka Indonesia menyebarkan stygma yang “menjatuhkan” OAP. Apakah Indonesia akan memenangkan pertarungan ini karena OAP undur dengan stygma ini? Dapat dibenarkan jika mental orang rapuh dan minder dengan stygma, namun akan menjadi satu kekuatan jika stygma ini dijadikan sebagai satu kekuatan untuk melawan dan menunjukkan keunggulan gemilang dalam usaha dan perjuangan yang lebih sengit secara positif dan bijak. Akhirnya niat Indonesia untuk menjatuhkan OAP dibalikkan seutuhnya menjadi kekuatan untuk memenangkannya.

Kedua, Indonesia tidak ingin Papua merdeka. Indikasi kedua ini paling utama menstygma OAP monyet. Indonesia sangat emosional dalam mendinginkan panasnya perjuangan kemerdekaan bangsa Papua. Emosi Indonesia terluap dalam stygma OAP monyet dan Indonesia merasa dengan menyebut OAP monyet akan membendung perjuangan Papua merdeka, padahal dengan stygma tersebut makin membuka pintu kemerdekaan bagi Bangsa Papua. Stygma Indonesia yang negatif terhadap OAP makin memperjelas keperbedaan Indonesia dan bangsa Papua. Orang Papua tidak simpatik lagi kepada bangsa Indonesia dan makin muak dengan Indonesia. OAP yang selama ini netral pun marah dan berpikir bagaimana harus keluar dari Indonesia.

Ketiga, Indonesia salah menempatkan OAP dalam NKRI dengan stygma monyet. Pada satu sisi Indonesia memaksa dan mengakui Papua bagian dari Indonesia karena itu dengan aneka cara dikerahkan untuk mempertahankannya, namun di sisi lain Indonesia membenci dan bahkan tidak mengakui Papua dalam Indonesia dengan stygma negatif.  Kesadaran OAP bahwa Papua bukan bagian dari Indonesia terlihat dalam kebencian yang paling tidak manusia yang terungkap melalui stygma negatif. Konklusi akhir OAP adalah karena Indonesia telah rasis, atau membedakan Papua dengan Indonesia melalui stygma, maka Papua berpikir untuk tidak tinggal bersama, harus pisahkan diri dari Indonesia daripada selalu hidup dalam dusta dan benci.

Indonesia Masih Mencintai Monyet

Indonesia mengatakan OAP adalah monyet. Iya, OAP dikatakan sebagai monyet namun Indonesia juga merasa berat untuk melepaskan OAP yang adalah monyet. Yang paling menyakitkan adalah sudah mengatakan monyet namun mencintai monyet itu dengan kekerasan dan menginginkan selalu ada bersama.

Mengapa Indonesia mencintai dan karena itu mempertahankan OAP yang distygma monyet? Alasannya, karena mereka ingin menyiksa OAP sepanjang OAP ada bersama Indonesia, di mana sepanjang OAP ada bersama Indonesia stygma itu tak pernah terhapuskan. Artinya, stygma itu akan terhapus bersama Papua berpisah dengan Indonesia, sebab cinta Indonesia untuk Papua dapat dinilai hanya untuk mendustai, membenci dan menstygma yang negatif. Cinta yang membunuh dan menyiksa: ibarat, “racun berasa gula-gula.” Cinta hanya di Ideologi, namun benci dan bringas dalam tindakan.

Benarkah OAP monyet sesuai stygma Indonesia? Untuk menjawab pertanyaan ini, mesti ditentukan kriteria atau sikap kebinatangan:

Pertama: binatang tak berakal budi dan tak berkehendak. Apakah OAP tak berakal budi dan tak berkehendak, sejauh ini hampir semua manusia termasuk OAP memiliki akal budi dan Kehendak. Karena itu dari keberadaan manusia OAP yang memiliki akal budi dan kehendak stygma OAP monyet dapat digagalkan.

Kedua, binatang bertindak tanpa pertimbangan dan kesadaran. Apakah orang bertindak demikian, bertindak tanpa pertimbangan: misalnya membunuh orang sembarang, menstygma orang, memukul orang, memenjarakan orang lain, menjajah orang lain, menembak orang lain, membohongi orang lain, mendustai orang lain, dan lain sebagainya? Sejauh ini secara terang-terangan berdusta, membohongi, menstygma dan lainnya jarang ditemukan. Karena itu, dapat dikatakan OAP bukan monyet.

Ketiga, binatang akan mencari makan dan minum tanpa membedakan milik orang, tentang dosa dan tidak dosa. Apakah OAP mencari makan dan minum di tanah orang lain dengan mencuri, dengan merasa tidak berdosa? Sejauh ini orang  Papua paling takut yang namanya dosa jika mencuri tanah orang, kekayaan orang, makan dari usaha sendiri dari kekayaan dan tanah sendiri. Maka itu OAP dapat dikatakan bukan monyet.

Monyet bertindak tanpa membedakan yang baik dan jahat. Datang menjilat darah orang, mengambil makanan yang dibawa orang dan lain-lain. Mereka bertindak tanpa sadar dan kehendak, bagi mereka yang penting hidup, tidak menghiraukan kepemilikan dan kepunyaan. Mereka masuk tanpa izin di kebun orang, mereka datang ke orang lain untuk mengisap darah orang jika ditemukan darah di tubuh manusia.

Monyet tidak membedakan baik dan tidak baik, dosa dan tidak dosa. Bagi mereka yang penting nyaman, kenyang dan aman. Monyet yang tak mampu membedakan baik dari jahat, dosa dati tidak dosa dan bertindak tanpa kesadaran merasa aman dan merasa tidak berdosa atas tindakan dosa dan kejahatan yang dilakukan. Tindakan mencuri, menguras darah dianggap sebagai hal yang biasa, karena memang mereka monyet dan tak berakal budi.

Tindakan seperti monyet ini membuat sesama yang lain menderita, tertindas dan martabat manusianya pun diinjak-injak. Hanya ketika manusia yang tertindas, yang menderita menyadari akan bangkit untuk melawan tindakan kebinatangan untuk memperebutkan kemanusiaan yang  diinjak-injak.

Penulis adalan Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) “Fajar Timur” Jayapura, Papua

Berikan Komentar Anda