BALIK ATAS
Novel Tidur Bersama hujan
PEWARTA: Redaksi PAPUALIVES.COM 16th Agustus 2014
| 944 DIBACA
Foto : Novel Tidur Bersama hujan/ist

Malam yang dingin
ini kesepian sedang berpihak kepadaku. Ia memaksa jiwaku berlayar ke
masa laluku bersama mantan kekasihku. Bagai aku terhipnotis ketika ia
mengajakku ke sana, terlalu mudah baginya untuk memujukku ke sana
apabila aku dalam keadaan sendiri. Andai saja ada mesin waktu sudah
pasti aku akan sering pergi ke masa itu dan tak ada satupun yang hendak
kuubah tentang kenangan itu karena masa itu sudah begitu sempurna
sehingga tidak ada celah untuk mengubahnya.
kuterbuai oleh peyiksaan yang mengasyikkan

ingin ku habisi tapi ku tak mahu
karena dalam ketikmahukanku tersimpan berjuta harapan
akan persinggahanmu sekali lagi dalam dunia asmaraku
kalaupun harus sekejap, ku tak peduli
karena kehadiranmu bagaikan jatuhnya bintang,
sekelip namun memberi berkas yang abadi

Diary_ku, aku bisa sedikit lega malam ini meskipun cuma sejenak aku
melupakannya sebab Hatiku bagai berdeyut perih saat mengingat dia. Cinta
yang kurasakan memang mengalahkan segalanya bahkan ia sudah mengelabui
akal sehatku. Kehadiran Danil dan Bahia mampu membawaku keluar dari
perangkap Cinta yang begitu dalam dibuat olehnya. Kalau boleh aku ingin
terus bersama mereka sampai aku bisa membebaskan diriku sendiri dari
perangkap tersebut.

Ku ingin berterus terang padamu Diary,
siapakah orang yang selalu kusebut namanya setiap saat bahkan sampai
sekarangpun nama itu tak pernah leka diucapkan. Nama lengkapnya Muhammad
fadznin dan kita memanggilnya Faiz. Ku kenal dia lewat Facebook yang
selama ini adalah jembatan buatku bertemu dengan orang-orang yang sudah
memperkenalkanku dengan banyak warna kehidupan. Lalu kita bertukar nomor
handpohe terus kita bertemu di samping Raffles City Shopping Center,
City Hall. Keluar dari Stasiun Mrt City hall aku sudah langsung bisa
berada di tempat aku dan dia pertama kali mengharmonikan getaran-getaran
perasaan yang kemudian menghasilkan musik-musik cinta. Dia memakai
bermuda dan kaos hitam serta topinya juga berwarna hitam.

Diary_ku, ketika itu sama sekali aku tidak menduga bahwa perasaan yang
kunantikan-nantikan seumur hidupku kini sedang singgah dihatiku. Tak ada
ungkapan bahasa maupun rangkaian kata-kata yang dapat menyamai
keindahan tentang perasaan ku saat memandang dirinya. Dalam diam aku
bertanya apakah ini bahasanya cinta? Ku kira hanya diriku yang sedang
kehilangan kata-kata, ternyata diapun sama jadi kita berinteraksi
melalui senyuman. Oh Diary, keindahan senyumannya juga tak dapat ku
lukiskan dengan kata bahkan dengan apapun. Bagai aku melihat senyuman
yang paling menawan yang pernah dilihat oleh mataku.
Diary_ku,
lumayan lama kita berdiam diri sambil membalas senyum masing-masing. Aku
tak mungkin berucap dulu sebelum dirinya berucap. Kini dia sedang
menghulurkan tangannya ke arahku.
“nama saya Muhammad Fadznin tapi awak boleh panggil saya Faiz. Nama awak siapa?”
“saya Miu”
bayangkan Diary_ku, kata-katanya begitu lembut jadi sudah pasti hatinya
juga lembut. Kelembutan itu memang mampu meluluhkan segala sesuatu.
“sebelumnya awak dari mana ni?”
“saya dari rumah lah dan awak?”
“saya baru balik dari kerja. Tempat saya kerja tak jauh dari sini. Awak
tengok tu building kat sana!” jawabnya sambil menunjuk kan jarinya ke
arah gedung Peninsula Exelsior Hotel dan disebelahnya juga berdiri
Peninsula Plaza tempat dulunya aku berbelanja pakaian sebelum aku
mengenal Bugis street.

“awak, kita nak terus duduk kat sini atau kita berbual sambil jalan-jalan?” kembali dia bertanya.
“suka hati awak ajalah” jawabku singkat.
“okay,ada satu tempat yang nak saya tunjukan ke awak”
“tempat apa?”
“tempat dia very romantic, saya yakin awak mesti suka. Jom ikut saya”

Diary_ku, sungguh aku penasaran tempat apakah yang hendak ia tunjukkan
kepadaku. Sudah pasti tempat itu laksana Syurga jika dia yang membawaku
kesana. Memang aku sedang merasakan syurga sesuai dengan apa yang
kuyakini bahwa sebenarnya syurga itu tidak harus dilihat tapi ia hanya
untuk dirasakan dan syurga lah yang kini sedang dirasakan oleh hatiku.
Diary_ku sungguh aku belum pernah merasakan apa yang sedang kurasakan
sekarang. Ada rasa yang tak biasa dan rasanya lebih dari sekedar luar
biasa. Apakah ini bahasanya cinta?

“awak dah
makan?” setiap kata yang diucapkan oleh lidahnya mampu menembus
relung-relung hati sanubariku. Suaranya merdu bagai buluh perindu,
memang sampai kinipun suaranya masih dirindu. Diary, aku ingin sekali
mendengar suaranya meskipun hanya dalam mimpi. Kuingin dia memanggil
namaku, ku ingin mendengar tawanya, ocehannya dan kata-kata kasar tapi
manja saat ia tengah marah kepadaku. Aku rindu dengan semua itu Diary.
“saya dah makan. Sekiranya awak belum makan tak apalah kita singgah
sekejap kat Mc Donald” Diary_ku, sebenarnya aku belum makan tapi aku
bohong kepadanya karena aku segan. Hanya beberapa ayunan kaki saja kita
sudah bisa menemukan restoran cepat saji seperti Mc Donald, Kfc, Long
Jhon dan masih banyak lagi. Kehadiran mereka memang menjamur di kota
cinta pertamaku bersemi ini.
“okay sayapun sebenarnya dah makan tapi
kalau awak nak sesuatu maybe awak nak beli air then kita boleh singgah
sekejap kat sana”
“mmm.. bolehlah”
Aku memesan minuman coca cola
ukuran besar untuk kita berdua lalu dia yang membayarnya. Diary, Faiz
memang pandai mencuri hatiku. Buatku tak perlu melakukan hal-hal yang
besar, hal-hal kecil seperti yang ia lakukan tadi sebenarnya sudah mampu
merangkai taman bunga dihatiku. Itu memang benar Diary, lelaki tidak
perlu melakukan sesuatu yang besar untuk bisa meluluhkan hati perempuan
sebab hal-hal kecil seperti membukakan pintu mobil, menolong membawa
barang-barang yang sedang dibawa oleh pasangannya, memesankan makanan
atau membelikan sesuatu yang diinginkan oleh pasangannya, hal-hal kecil
seperti itulah justru punya nilai teristimewa dihati seorang perempuan.
Faiz memang ahlinya tentang itu semua dan sepanjang perjalanan tadi dia
juga menolongku membawakan tas rangsel yang sering kubawa kemana-mana.
Diary, bagaimana aku bisa melupakannya secepat keringnya airmata
dipipiku sebab kutemukan sesuatu dalam dirinya dimana sesuatu itu tidak
kutemukan pada mana-mana lelaki yang pernah kukenal.
Oh faiz…
Kewujudanmu bagai mimpi indah
Biarpun sekejap tapi mampu merangkai taman syurga dihatiku
Cinta yang kau hadiahkan untukku
Seperti jatuhnya seekor bintang
Biarpun Cuma sekelip namun memberkas dihatiku untuk selamanya.

Faiz, hadirnya dirimu dalam hidupku ternyata mampu membuktikan kepadaku
akan kebenaran kata-katanya Khalil Gibran, seorang punjangga legenda
yang paling aku kagumi. Dalam sabdanya beliau berkata “jangan kau kira
bahwa cinta itu bakalan tumbuh karena pergaulan yang lama atau rayuan
yang terus-menerus. Cinta merupakan perpaduan dua perasaan yang memiliki
unsur-unsur untuk saling bisa harmonis dan sekiranya ia tidak tercipta
dalam sesaat maka yang namanya CINTA tak akan pernah wujud buat
selamanya”

Oh Diary aku juga mencium bau tubuhnya. Baunya sungguh
khas, unik dari bau-bau yang pernah singgah dipenciumanku. Bau itulah
yang paling ingin dihidu oleh hidungku. Kutahu dia tidak menggunakan
parfum tapi bau keringatnya wangi memberikan kedamaian dihati.
“awak
kuat berjalan tak?” oh Diary, dia begitu perhatian sekali kepadaku.
Bagai aku melihat sosok seorang pangeran raja di negeri dongeng.

“tempat dia jauh?” aku menjawab pertanyaannya tanpa berani menatap
matanya. Tatapannya sanggup membangkitkan sel-sel mati di sekujur
tubuhku. Angin sore yang dingin di sekitar Marina Bay Sand seakan-akan
tak mampu menyejukkan tubuhku. Aku bagai berdiri disamping perapian yang
sedang merah membara.

Kita terus berjalan melewati
Singapore flyer, Marina bay sand, jembatan Helix kemudian kita berhenti
tak jauh dari jembatan tersebut. Kita duduk sambil menikmati air laut
yang ketenangannya menggambarkan suasana dihatiku. Si jubah hitam sudah
mulai menunjukan kehitamannya ketika itulah suasana disekitarku akan
menjadi lebih indah berseri. Dari kejahuan jembatan helix tampak begitu
megah dengan perhiasan lampu warna-warni. Semua objek yang kulihat
bersinar memancarkan cahaya yang khas. Oh Diary, suasananya sungguh
romantis bagai aku sulit menjelaskannya dengan kata-kata. Ini adalah
Syurga, dia membawaku ke Syurga dan aku sedang merasakan Syurga itu
semua karena dirinya dan dia adalah manusia yang paling aku cinta.
Mungkinkah ini dinamakan cinta pada pandangan pertama?

Diary_ku berjuta kata mungkin tak cukup mengisahkan tentang Faiz
sebaiknya ku gulung layar pelayaranku ke masa lalu dan kembali kemasa
kini, tak terasa aku Danil dan Bahia sudah sampai ke tujuan. Bus yang
membawa kami kini berhenti tepat didepan stasiun Mrt Clark quay.

Disini adalah tempat berkumpulnya turis-turis Eropa dan sepanjang jalan
menuju Liang court merupakan pub-pub berciri kan Eropa sementara Liang
Court adalah shopping center untuk produk-produk buatan jepang. Dulu
beberapa bulan yang lalu aku pernah bekerja sambilan sebagai pelayan
restoran jepang yang berlokasi di lantai B2, Liang Court Shopping Centre
sementara disebelahnya berdiri megah Hotel Novotel jadi sudah tentu
area disekitar Clark quay memang ramai dengan turis-turis asing dari
berbagai negara. Dan disini juga kita bisa menaiki boat yang akan
membawa kita menjelajahi hingga ke patung singa raksasa yang merupakan
icon negara Singapura. Sehari semalam berkunjung ke Clark quay masih
belum cukup untuk bisa menikmati semua objek wisatanya. Clark quay
merupakan salah satu tempat yang paling aku sukai saat berada di
Singapura.

Dulu ketika aku masih sendiri, ketika
aku masih belum punya teman disini aku memang suka berjalan sendirian
menikmati keindahan serta mengkagumi kemegahan kota ini. Biasanya dari
tempat tinggalku di Boonlay aku akan menaiki Mrt atau kereta listrik
lalu turun di City hall dan dari situ aku terus berjalan kaki menuju
Clark quay kemudian dilanjutkan ke China Town karena jaraknya yang tak
begitu jauh. Tapi kini aku tak sendiri lagi, sepanjang perjalanan tadi
aku ditemani oleh Danil dan Bahia yang sudah ku anggap sebagai keluarga.
Diary, aku sangat menyayangi mereka. Aku tak mau pergi jauh dari mereka
karena berada didekat mereka masa lalu itu tak mampu menenggelamkanku
dalam waktu yang lama.
Sekarang kita sudah berdiri
didepan pintu masuk club bernama Zirca. Club pertama yang akan
memberikan ku pengalaman baru tentang Dunia malam. Jujur aku merasa
nervous sekali karena ini adalah yang pertama kalinya aku akan menikmati
budaya clubbing yang merupakan budaya masa kini buat anak-anak remaja
disini. Beruntung akhirnya Danil dan Bahia mampu membuatku tenang.
Mereka memang sudah berpengalaman tentang kehidupan di dunia malam.
Jahat dan baik tentang dunia ini sudah mereka rasakan. Kini mereka
hendak mengajarku tentang apa itu Dunia malam yang sesungguhnya?
Kehidupan ini memang aneh, ia tak bisa diprediksi. Padahal dulu aku
paling anti dengan club, aku masih ingat lagi ketika kakakku hendak
pergi ke sana, aku akan marah besar melarangnya tapi sekarang justeru
aku yang akan kesana. Justeru aku yang akan menikmatinya. Semuanya sudah
berubah, aku memang sudah berubah Cuma aku tak pasti apakah perubahanku
ini akan mendatangkan kebaikan dikemudian hari tapi aku percaya setiap
perubahan itu jauh lebih baik daripada diam ditempat tanpa melakukan
sesuatu.

“dalam club nanti korang jangan terkejut
bila mak sorang ja yang paling terang ehk, maaf ehk lampu-lampu dalam
club semua kalah bila mak masuk sebab apa? Sebab mak kan Miss world
since… 1992” Bahia sudah mulai mengepakan sayap-sayapnya. Sepanjang
perjalanan tadi dia tak habis bercerita sehingga menjadikan suasana riuh
rendah. Aku memang senang ketika bersamanya, dia bagaikan pelipur lara
buat hatiku yang tengah berduka.

“Miu, dalam club
nanti usahakan jangan berjahuan dari kita orang ya. Kalau nak pergi
toilet cakap dengan kita orang biar kita orang yang temankan” oh
Diary_ku, ternyata Danil orangnya sungguh perhatian dan peduli akan
orang-orang disekelilingnya. Dia bimbang akan keselamatanku jadi aku tak
perlu takut dan bimbang.
Sekarang kita sedang antri untuk masuk
kedalam. Aku harus menunjukan kartu identitasku serta selembar surat
yang diprint dari internet. Surat itu sangat penting agar aku bisa masuk
secara percuma. Biasanya setiap hari minggu sebelum pukul 12 tengah
malam kita bisa masuk ke Zirca tanpa harus bayar sepeserpun dengan
syarat kita harus menunjukan surat yang sedang aku pegang sekarang
kepada petugas yang menjaga pintu masuk.
Baca episode terbaru di: http://novelmao.blogspot.com/2012/11/chapter-3-tidur-bersama-hujan.html Karya : Mao Kifli
Referensi : Facebook.com
Berikan Komentar Anda
PASANG IKLAN PAPUALIVES.COM