Theys Eluay

Oleh : Thomas CH Syufi

Tepat tanggal 10 November 2001, rakyat Papua dikejutkan dengan peristiwa kematian tokoh politik Papua Theys Hiyo Eluay (1937-2001). Kematian Ondofolo besar Senatani ini diduga dibunuh oleh beberapa oknumKomando Pasukan Khusus (Kopassus) atas aktivitas politik yang dilakukannya, yakni memperjuangkan tegaknya keadilan, demokrasi, dan perdamaian di TanahPapua.

Theysyang nota bene sebagai Ketua Presidium Dewan Papua(PDP) itu—dibunuh setelah pulang menghadiri acara Hari Pahlawan Nasional, 10 November2001 di Markas Kopassus Tribuana, Hamadi, Jayapura.Awalnya ia diculik di tengah jalan raya Skyline, Alun-alun kota Jayapura.Setelah dibunuh,jasadnya dibawa dan dibuang dikawasan Koya Timur, Muara Tami, Jayapura.

Theys memang cukup kristis dan getol memperjuangkan hak-hak dasar orang asli Papua untuk menikmati keadilan dan kebebasan seperti warga negara Indonesia lain.

Misalnya, pada tanggal 1 Desember 1999, Theys mencetus-kan dekrit Papua merdeka, serta mengibarkan Bendera Bintang Kejora. Bahkan sebelumnya,ia berani menobatkan diri sebagai pemimpin besar bangsa Papua setelah dipilih oleh 250 suku Papua sebagai Ketua Lembaga Masyarakat Adat(LMA) Papua tahun 1992.

Pada bulanFebruaritahun 2000, ia menggelar Musyawarah Besar (Mubes) Rakyat Papua. Kemudian, pada tanggal 29 Mei-4 Juni tahun 2000, ia menggelar Kongres Rakyat Papua II (kelanjutan dari Kongres Papua I 19 Oktober 1961) di Gedung Olahraga (GOR) Cenderawasih, Jayapura yang ditaksir dihadiri sekitar 51ribu peserta dari segala penjuru Tanah Papua.

Kongres yang didukung dan didanai 1 miliar rupiah oleh Presiden RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur (alm) itu— melahirkan kendaraan politik bernama Presidium Dewan Papua(PDP),yang diketuai oleh Theys Hiyo Eluay (Ketua LMA Irian Jaya), Wakil Ketua Tom Beanal (Ketua Masyarakat Adat Amungme dan Kamoro), Sekjen Thaha Mohammad Alhamid (perwakilan komunitas Muslim Papua).

Misi dan visi pokok dari PDP adalah mendorong agenda dialog damai antara rakyat Papua dan Jakarta atas sejumlah persoalan substansial yang terus berkecamuk, meluap, dan membelit rakyat Papua selama 30an tahun dalam pangkuan Ibu Pertiwi.

Sumber dialog yang digaungkan oleh PDP adalah pelurusan sejarah. Semua sejarah kelam masa lalu, seperti kesimpangsiuran hasil jajak pendapat atau Penentuan Pendapat Rakyat(Pepera) 1969, pelanggaranhak asasi manusia (HAM) berat selama pelaksanaan Tri Komando Rakyat (Trikora) 19 Desember1962, kasus Wasior berdarah(2001), Wamena berdarah(2003),dan seterusnya harus diklarifikasi pada momentum dialog.

Setelah dilakukan sosialisasi hasil kongres pada Juli- Agustus 2000 di semua daerah di Tanah Papua, PDP membuka sayap diplomasi ke berbagai negara di dunia, terutama negara-negara serumpuan di selatan lautan teduh atau negara-negara Pasifik Selatan, di antaranya, PNG, Vanuatu, Fiji, dan Nauru. Bahkan diplomasi itu membuahkan dukungan yang berarti.Pada 7 September 2000, Presiden Nauru Bernard Dowiyogo MP berhasil membawakan masalah Papua ke forum PBB, yang diperlihatkan pada pidato resminya dan dengan tegas dan terbuka menyatakan, pemerintah dan rakyat Nauru mendukung sepenuhnya untuk hak penentuan nasib sendiri (to right self determination) rakyat Papua. Pernyataan Dowiyogo itu disampaikan langsung dihadapan 160 kepala negaradan kepala pemerintahan negara-negara anggota PBB, termasuk Presiden RI Gus Dur.

Jelas,gerakan PDP yang dinakhodai oleh Theys telah menujukkan eksistensi perjuangan dan manuver politiknya untuk meminta keseriusan pemerintan Jakarta segera menyelesaikan semua persoalan mendasar yang melingkar rakyat Papua selama tiga dekade lebih, yakni masalah sejarah politik, pelanggaran HAM,dan persoalan ekonomi rakyat.

Sebenarnya ikhtiar Theys dan rekan-rekan melului gerbong PDP, perlu dilihat secara luas. Di sanadengan gamblang PDP melakukan upaya pasifikasi—mewujudkan Papua tanah damai—dengan melakukan lobi dan kerja-keja diplomasi.

Inti perjuangan Theys adalah meminta dibukanya ruang demokrasi untuk saling bercurah isi hati antara orang Papua dan para elite politik Indonesia di Jakartaguna mencari kansolusi damai,agar terwujudnya Papua baru yang adil, demokratis, dan bermatabat tanpa harus Papua berpisah dari Indonesia.

Maka, kini gemanya isu dialog Jakarta-Papua yang ditiupkan oleh Presiden RI Joko Widodo dan diembuskan oleh sejumlah pembantu-pembantunya di Kabinet Kerja.Dua bulan lalu, September,Jokowi mengundang sejumlah tokoh Papua, antaralain, Pater Neles Tebay (Koordinator Jaringan Damai Papua/JDP), Leonard Imbiri (Sekjen Dewan Adat Papua/DAP), dan Yan Warinussy (aktivis HAM Papua) untuk menyampaikan niatnya untuk berdialog dengan rakyat Papua.

Hal ini perlu disikapi secara positif oleh Rakyat Papua.Ini merupakan perjuangan semesta yang dilakukan para pendahulu kita dari tahun 1960 hingga kini, termasuk perjuangan Theys Hiyo Eluay hingga pintu dialog telah dibuka. Padahal, orang Papua telah hidup di bawah enam presiden yang berbeda tapi tak pernah punyaniat baik (good will) untuk membuka ruang komunikasi ataudialog, kecuali presiden ke-7:Jokowi.

Karena dengan jalan dialog segala persoalan yang meliputi wilayah politik, ekonomi, hukum, HAM, yang selama ini nyaris tak terurai bisa disibak. Dialog sebagai step bermartabat untuk memecah kebuntuan politik dan krisis kemanusiaan yang berkepanjangan selama 50 tahun lebih Papua menjadi bagian integral Indonesia.

Theys memperjuangkan tegaknya tiang demokrasi, keadilan, dan perdamaian di Bumi Cenderawasih hingga rumah besar Indonesia tetap berdiri kokoh, untuk terus mengejar cita-cita yang lebih tinggi menjadi negara demokrasi terbesar yang dihormati dan disegani olehbangsa-bangsa lain di seluruh dunia tanpa diinterupsi potret buram sejarah masa lalu.

Jadi sadar kita.Theys bukan separatis, juga bukan Organisasi Papua Merdeka(OPM),tapi dia adalah putra terbaik bangsayang telah berjuang denganmengorbankan jiwa dan raganya (ataubersediajadi lilin yang habis dibakar) demi menerangi kaumnya. Theys murni memperjuangkan dialog yangadil, jujur, demokratis, dan bermartabat antara rakyat Papua dan pemerintah Indonesia tanpa menggunakan kekerasaan.

Mungkin dulu kita salah mengerti tentang Theys.Inilah momentumpertobatan, apologi, rekonsiliasidanterus melanjutkan perjuangan mulianya untuk menghadirkan sinar keadilan, perdamaian, kebebasan, persamaan, dan cinta kasihdi timur Indonesia, yakni TanahPapua.

 Kini tokoh yang pernah menjadi legislator Golkar provinsi Irian Jaya kurun 1977-1992 itu telah jadi mantan manusia,telah jadi “martir demokrasi”,telah berada dalam peristirahatan abadi. “Seseorang itu terasa penting atau berharga ketika ia telah pergi untuk selamanya,” begitu kata Kahlil Gibran(1883-1931), penyair,pelukis, dan penulis Amerika kelahiran Libanon. Selamat jalan tokoh karismatik bangsa Papua! Semoga.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

*). Penulis adalah Ketua Lembaga Pusat Kajian Isu Strategis(LPKIS) Presidium Hubungan Luar Negeri, Pengurus Pusat PMKRI Sanctus Thomas Aquinas Periode 2013-2015. Juga, Wakil Ketua Bidang Advokasi, Hukum, dan HAM DPD KNPI Papua Barat Periode 2016-2019.

Berikan Komentar Anda

Recommended For You

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.