Balik Atas
Tiga Sahabat Menguasai Taman Eden
 
Pewarta: Redaksi Edisi 13/07/2019
| 289 Views
Maximus Sedik (Doc Pribadi)

Oleh, Maximus Sedik

Sebuah dusun yang dilihat dari gari lintang utara berbatasan  dengan ujung dari planet ini ! itu menurut cerita fiksi atau sudah masuk dalam ilmiah. Dusun ini menyimpan banyak kekayaan dari yang terlihat hingga yang tak nampak di peramukaan dusun tersebut, dalam dusun ada banyak orag-orang tidak mengenal dunia lain. Itu dulu yang tidak mengenal dunia luar sekarang sudah masuk dan sedikit mengenal dunia itu. Dusun ini, memang topografi-nya bervariasi sesuai dengan kondisi-nya dan persebaran fauna-floranya dan itu merata dari timur hingga barat. Dusun menjadi tempat bermain “tiga orang bersaudar” yang menguasi seluruh isi dari dusun ini. Sebenarnya, banyak orang punya dusun sebagai pengguna dan sering mereka mengakui bahwa kita yang miliki dusun ini ! tidak ada orang lain selain kita yang ada ini sudah yang miliki. Karena kita diciptakan atas dusun ini, dilahirkan di dusun ini, dibesarkan di dusun ini, bahkan dipnggail ke pangkuan sang khalik pun kembali ke dusun ini. Intinya dusun ini dimiliki kita. Sejak awal diakui dan diperdayakan oleh orang-orang yang sering disebut namanya bahwa para pengikut Mesias maupun siapa saja yang datang dengan misinya. Ah, saya cerita telalu jauh maaf menarik kalau cerita tentang dusun ini, menarik karena “tiga sahabat” ini punya cara dan strategai jadi cerita juga menarik. Yang utama mengerti, memahami mereka tiga punya permainan, pasti yang utama senang kalau tidak paham, sedih berarti sudah mengerti dan memehami permainanya.

Dalam tiga sahabat ini mencoba untuk masuk di dusun ini dengan mereka punya cara tetapi, banyak orang mengakui diri sebagai pemiliki bertahan dan tidak memberikan peluang bagi mereka itu sudah tetulis dalam sejarah bangsa ini, bahwa bangsa (Papau) melawan dengan berbagai peperangan untuk melawan bangsa asing (Eropa) masuk ke wilayah Papua. Kita membaca sejarah Papua yang tertulis maupun diceritakan dari turun-temurun bangsa Papua tidak sepenuhnya menerima orang untuk masuk ke wilayah Papua baik, Misionaris maupun zending yang datang dengan misi keselamatan.

“ini Cuma saya kasih tahu saja”. Walaupun ada yang sudah memberikan peluang kepada mereka karena pertama mereka takut dibunuh dan yang kedua tidak dapat uang maupun jabatan dari mereka. Tiga sahabat ini mencoba mencari cara untuk masuk dusun: cara yang pertama mereka mengatur melalui sistem kerena mereka yang menguasai seluruh sistem kedua, ketiga orang mencoba dan berhasil mengutus salah satu teman diantara tiga dia (jabatan) turun dengan pikul uang dengan noken besar untuk tawarkan orang-orang yang dianggap penting didalam dusun ini.

Cara ini pun berhasil bahkan berkembang dengan baik dari sekian tahun di atas dusun ini; mengapa berhasil karena dia bawa racun besar dan dia sudah kasih masuk dan matikan orang yang mewakili orang-orang di dusun ini. Sekarang dia sudah sukses masuk dan kembali lagi bersama kedua orang tadi, dan tetap menjadi tiga sahabat. Sekarang mereka lihat ah, dusun ini terlalu banyak kekayaan bagaimana bisa habis eee ?. sekarang mulai mengutus satu orang lagi masuk dia ini memang tangan-nya penuh dengan biji timah, laras panjang, pisau dan dibantu dengan orang pertama yang tadi di utus. Mengapa? orang pertama bantu karena dia punya kepentingan di dalam dusun ini juga ! sehingga masuk melalui orang kedua ini.

Dengan memiliki otot yang besar dengan kelengkapan alat yang lengkap, dan menekan pemilik dusun ini bahkan memangsa seluruh masyarakat di atas dusun ini. Orang ini bisa disebut “singa besar” yang setiap hari memangsa seluruh mangsa di atas hutan yang penuh dengan isinya. Sekarng orang terakhir dia sebagai kepala ular orang di suku Miyah salah satu diantar sekian banyak suku yang hampir punah di atas dusun ini, mereka sebut apan yana (kepala ular) ini metafor yang mengambarkan seorang penguasa atau pemain utam dalam suatu sistem politik. Sekarang yang terakhir berperan sesuai denga teks yang disusun sutra dara; tidak tahu tempat tinggalnya di belakang dapur atau diamana dia punya rumah tetapi dia punya kekuatan oligark dan militeristik yang kuat.

Orang ketiga memilki posisi yang sangat sentral dan strategis sehingga dia bisa mengontrol seluruh bawahan atau mereka berdua punya hubungan penting dalam dusun ini. Dia mengontrol dan menjalankan seluruh amanahnya sesuai dengan teks yang disusn seorang sutradara yang tidak kenal namanya. Yang mengenal pasti tiga sahabat ini, kerena sering bermain, makan dan menyusun straregi untuk menguasi dusun ini. Orang-orang yang di utus atau dipaksakan oleh ketiga orang, mereka juga memahami konspirasi ini tetapi takut mengungkapkan karena, takut dibunuh, tidak menduduki posisi tertentu.Misalnya meraka yang takut dibunuh ketika terjadi pasti disebut pejuang kemanusiaan dalam konteks tertentu tetapi mereka takut tidak dapat jabatan disebut apa, saya tidak tahu silahkan tafsirkan sendiri sesuai dengan kondisi hidup bangsa kita.

Permainan orang ketiga itu disebut permainan yang sangat terstruktur, sistematis dan terlihat mereka mampu menguasi seluruh segmen hidup masyarakat yang ada di atas dusun ini. Mereka tiga menjadikan dusun ini serta orang-orang yang ada didalamnya, sebagai obyek utama untuk adegan yang berlangsung bahkan lama. Mereka tiga berhasil mengusir pengikut Mesias yang dipandang oleh masyarakat di atas dusun sebagai orang yang membangun manusia, membawa berkat, memperdayakan mereka dari berbagai sektor yang ada. Mereka berhasil mengusir dan orang ini pun pulang dengan berjuta kesedihan. Disaat ditinggalkan orang ini, dusun ini menjadi malapetaka bagi seluruh masyarakat di dusun yang penuh dengan susu dan madu disebut suga yang jatuh ke bumi. Sekarang sudah setengah abad bangsa kita hidup berdampingan dengan sistem ini kapan berakhir semuanya, mungkin kita bertanya pada rumput yang bergoyong pasti menjawabnya.

Dusun ini serta pemilik hidup bersama tiga orang  sebenarnya tidak tetapi ada cerita banyak bahkan menjadi cerita pengantar tidur bagi kita. Tidak terhitung bahakan tidak tertulis dilembarabn tua tetang apa yang terjadi di atas dusun, sejak masyarakat dipaksa masuk bersama dengan tiraninya, sehingga yang berada pada dusun dipakasakan masuk bergabung dan hidup dalam satu rumah bersama tiga orang sebagai pemimpin organisasi. Kehidupan mereka semakin terburuk, mereka dibunuh setiap menit bahkan setiap detik, baik dibunh secara insani maupun sistem dengan motif yang berbeda. Memang, ini yang disebut dengan pemusnahan suatu bangsa dari bangsa lain. Organisasi ini memilki seluruh institusi kemanusiaan tetapi tidak satu orangpun yang dijerat, tetapi pelaku-pelaku tetap dipelihara berkeliaran seperti babi di kampung yang dibiarkan walaupun merusak tanaman. Rakyat korban atas tindakan mereka. Sering rakyat menempuh jalan institusi yang dibentuk bahkan mengakui diri bahwa mereka adalah pelaksana panglima tertinggi dan pelaksana kemanusiaan. Dan meminta untuk diadili tetapi tidak pernah, memang! itulah satu kesatuan antara ketiga bersaudara itu sehingga semua orang di dusun ini obyek. Seluruh kehidupan secara institusi dikendalikan oleh ketiga sahabat ini, walaupun tidak terlihat Cuma orang yang megetahui saja tahu bahwa mereka itu saudara. Ah ada yang lupa nih tiga sabahat ini sejak dulu itu bermusuhan karena ada yang salah dalam pegaulan mereka. Tetapai dibelakang ini, sutrada dia sudah ubah teks yang dia susun dan serahkan kembali pada mereka dan mereka berperan sesuai dengan teks itu. Biasa kita nonton adegan dipermaikan mereka pikir bahwa itu asli dari mereka yang menyusun teks maupun menentukan watak dari setiap pemeran terutama tiga sahabat. Tetapi sebaliknya, semua itu disusun oleh orang di atas mereka  karena untuk kepentingan industrinya maupun kehidupan keluganya.

Banyak orang di dalam dusun ini mengetahui itu semua tapi sebagian saja yang memahami bahwa ini teks drama ini disusun aktor lain sehingga muncul adalah memprotes semunya. Protes terjadi dalam dusun begitu berkembang tetapi orang pertama berperan penting untuk berhadpan dengan kelengakapnya. Banyak orng di dalam dusun ini juga sudah dikasih makan dengan papeda dan ikan kuah kuning jadi sudah kenyang dan diam membisu. Bahkan yang terjadi sekarang ini, orang-orang dalam mereka sendiri juga sudah saling perang sendiri dan lebih bahaya lagi itu mereka tidak bersatu lagi. Dan membangun semangat perjuanagan bersama untuk membebaskan diri mereka sendiri yang dijajah dari tiga sahabt ini. Yang terjadi terbalik, bahkan dalam merka sendiri mulai bangun argument yang menjatuhkan antra sesama anak bangsa, pemiliki negri, pemilk tanah ibu dan memiliki nasib yang sama. Sekarang bahkan mereka sendiri membunuh mereka sendiri, membunuh sesama mereka, menjadi pelacur yang mendukung permainan ketiga orang.

Yang lebih parah adalah menjual ibu meraka sendiri kepada ketiga orang ini, untuk memperkosa, merampok, mengksploitasi bahkan seluruh saudaranya digade dan dibunuh karena mereka bersuara jangan menjual ibu kita. Ini ibu kita besama kita jaga bersama ! ah kawan ko jangan bikin tong pu mama begitu ka, ko tra sayang dia ka dia sudah kasih minum tong air susu dari dia pu susu sendri bukan susu kaleng hewan. Kawan besok ko besar sekolah besar-besar trus ko jadi barang indonesia dong bilan pemerinta ka DPR ka ko jangan bunuh tong pu mam eee dan jangan juga ko dengar apa dong bilan langsung laksanakan tetapi ko harus ingat tong pu mama ini. Sebenarnya saya kasih tahu banyak ke ko tetapi ini saja yang kasih tahu, mungkin ko lebih tahu karena ko yang sekolah jadi tahu mereka punya permainan Ko kalau sudah masuk dong pu rumah makan kenyang jangan minta hasil kebun baru lagi dari mama ! “cukup sudah kawan”. Saat ini orang di atas dusun ini mulai menyerang dengan bencana kemanusian satu persatu ditelang dari hari ke hari, jam ke jam, dan menit ke menit sekarang ada dalam langkah akhir untuk mencapai jalan kebianasaan. Saat ini banyak anak-anak yang sebagai pemilik dusun ini, sudah masuk perguruan tinggi mencari pengetahuan disebut sebagai dari ilmu untuk pembebasan. Yang menjdi pertanyaan, apakah mereka memahami apa yang dialami ibu hari ini dalam kondisi yang begitu sehingga menjadi kekuatan dan refleksi tersendiri. Sehingga mereka berpikir apa yang mereka lakukan untuk masa depan dusun ini atau mereka sekedar mencari sepucuk surat yang dibuat oleh institusi.

Sekarang kita lihat dusun diindentik dengan surga atau taman eden ini menjadi hedonis, individualis, bahkan bertepuk tangan terhadap westernisasi dalam hidup merka masing-masing dimana mereka berada. Sebenarnya tidak masalah dalam hal ini, yang menajdi maslah adalah apa yang memotivasi kita untuk masuk perguruan tinggi baik dalam maupun di luar, itu semua kembali pada diri kita sendiri. Memang benar juga kata sejarah bahwa “orang yang memiliki kesadaran atas penderitaan yang dialami bangsanya sendirilah yang memilki kesadaran untuk bangkit, berjuang untuk membebaskan’’. Apakah kita saat ini hidup dalam diskursus masalah atau tidak di atas bangsa kita sendiri? “dusun” ini semua terjawab bila kita sadar dan paham apa yang terjadi. Mungkin nasari maupun diksi yang muncul bahwa itu bukan terjadi saya punya tempat sehingga untuk saya bepikir tentang itu. Kawan semua masalah yang tejadi di atas dusun ini adalah masalah bersama bukan masalah golongan tertentu, suku tertentu atau ras terntu. Sekrang mungkin kita sendiri belum membangun konsolidasi, komunikasi dan koordinasi antara kita sehingga memudahkan ketiga sahabat untuk melakukan dan mencari cela yang terstruktur, tersistematis dan masif sehingga dalam upaya memecahkan kita dari kepala air hingga muara air atau sebaliknya dari muara hingga kepala.

Ini sehingga menghambat perjuangan kita bersama untuk menyelamtkan dusun serta isinya. Kita semua punya kewajiban dalam diri yang berbeda-beda, tetapi ada satu kewajiban yang miliki kita bersama yaitu berpikir bagaimana masa depan dusun kita ini. Diamana pun tempat kita berad, apapun jurusan dan perguruan tinggi yang kita masuk, gelar apapun yang kita peroleh, profesi apaun kita miliki dan sisipkan ini semua untuk masa depan dusun.  Kita sekarang hidup dalam krisis mental, pengetahun, krisis Karakter, krisis iman dan banyak hal lain yang menimpa pada diri kita. sekarang ini, langkah apa yang kita bangun untuk melihat dan membaca seluruh permainan yang dipemaikan oleh ketiga sahabat ini. Kita sekarang berpikir apakah kita mengakui taman “Eden” sebagai taman yang indah atau menjadi nama sja dan sejarah mencacat bahwa di pulau ini pernah dihuni bangsa kulit hitam.

Tulisan yang saya tulis ini memamng tidak memiliki struktur kalimat yang baik dan pengunaan bahasa tidak mengikuti sistematiak penulisan. Tetapai tulisan sedikit memberi informasi bagi membaca, jangan baca sekali tetapi baca hingga berapa kali membaca supaya pahami tulisan yang kaki kepala ini. Pasti ada pesan-pesan khusus yang terselubung dalam tulisan dan mungkin penting iya, lanjutkan sesuai dengan cakaran ini.

Berikan Komentar Anda