Balik Atas
Tolak pemekaran mahasiswa rakyat gelar demo damai dogiyai
 
Pewarta: Redaksi Edisi 19/11/2019
| 505 Views

Dogiyai,Mahasiswa dan rakyat Dogiyai menggelar demontrasi damai guna menolak Pemekaran Provinsi Papua Tengah dan Kabupaten Mapia Raya gelar di Kantor Bupati Dogiyai Dogiyai, Senin (18/11/2019) pagi. long march menuju halaman Kantor Bupati Demonstrasi berlangsung dimulai pukul 10:12 -12:00 WIT.

penolakan Pemekaran Provinsi Papua Tengah dan Kabupaten Mapia Raya tidak hanya Mahasiswa korban rasisme yang bergabung dalam demonstrasi damai ini. Di dalamnya ada perwakilan masyarakat kampung-kampung, beberapa pelajar SD dan SMP di Moanemani.

Selama long march, ratusan masa aksi demo damai meneriakkan tolak pemekaran propinsi papua tengah dan kabupaten mapiah raya.

Masa Demonstran juga membawa beberapa spanduk utama, tertulis tiga tuntutan yakni,
Pertama, menolak pemekaran provinsi Papua Tengah dan Kabupaten Mapia Raya.

Kedua, menuntut pemerintah Kabupaten Dogiyai menuntaskan masalah-masalah sosial, antara lain, Judi Togel, pendistribusian dan penjualan minuman beralkohol, ditutupnya tempat-tempat penyediaan wanita-wanita Pekerja Seks Komersial (PSK) berkedok warung-warung makan dan kedai kopi, dan mama-mama Pasar Dogiyai yang berjualan di pinggir-pinggir jalan.

Mahasiswa menuntut semua diatur dalam regulasi yang jelas berupa peraturan daerah.

Ketiga, mahasiswa korban rasisme Dogiyai menuntut kepada Pemerintah Dogiyai dan Pemerintah Provinsi Papua menyekolahkan mereka ke Negara-negara Melanesia dan Pasifik.

Simon Douw, salah satu orator, dalam orasinya menyampaikan bahwa kesepakatan pemekaran Papua Tengah dari para bupati di pegunungan tengah merupakan tindakan yang bertentangan dengan kebutuhan dan kehendak rakyat.

“Pemekaran itu pintu menuju kehancuran orang Papua dan orang Dogiyai. Itu bukan aspirasi rakyat. Pemerintah pusat sebagai penjajah sengaja memaksakan pemekaran untuk tujuan penjajahan mereka,” urai Douw.
Sementara itu, ketua Pelajar Dan Mahasiswa Eksodus, Oki Pigome, menegaskan, akan menggalang masa untuk meminta pertanggungjawaban pemerintah terkait tuntuan mahasiswa.

“Kami punya pernyataan sikap. Ada tiga tuntutan Mahasiswa. Kami minta pemerintah daerah yakni Bupati Dogiyai, perwakilan tokoh masyarakat, dan kami sebagai perwakilan mahasiswa akan tanda tangani. Kami beri waktu hingga bulan Maret 2020,” ujar Pigome sebelum menyerahkan Pernyataan Sikap kepada Bupati Kabupaten Dogiyai, Yakobus Dumupa.

Bupati Dogiyai Yakobus Dumupa, dalam kesempatan menanggapi aspirasi demonstrasi damai menyatakan mendukung sebagaian aspirasi dari mahasiswa dan masyarakat karena mendukung kinerja Pemerintahan.

“Soal penolakan pemekaran, kita akan tinjau kembali. Memang bila rakyat inginkan kita tolak, kita akan tolak. Tapi di Dogiyai ini, ada pro dan kontra. Ada masyarakat yang inginkan pemekaran, ada juga yang menolak pemekaran, “ lanjut Bupati Dumupa memberi keterangan.

Setelahnya, Oki Pigome menyerahkan Pernyataan Sikap untuk ditandatangani oleh Bupati Dogiyai Yakobus Dumupa, Tokoh Masyarakat, Germanus Goo, dan Koordinator umum Pelajar dan Mahasiswa eksodus korban rasisme, Oki Pigome. Setelah Pernyataan Sikap ditandatangani, masa aksi demonstrasi membubarkan diri.

Berikan Komentar Anda