Balik Atas
Uskup John Saklil Di Mata Pastor Amandus Rahadat
 
Pewarta: Andreas Rumyaan Edisi 08/08/2019
| 205 Views

Timika,Pastor Amandus Rahadat Pr masih belum percaya dan merasa belum siap menerima kepergian Almarhum Uskup Keuskupan Mimika John Philips Saklil Pr.

Kepergian Uskup Saklil yang begitu cepat dirasakanya sebagai sebuah kehilangan yang begitu mendalam. Apalagi sebelum uskup meninggal, dua bulan terakhir Ia tidak pernah bersua dengan almarhum.

“Uskup pergi begitu mendadak. Kami sangat tidak siap. Saya sampai agak emosional karena dia pergi begitu cepat. Dia bilang Amandus ingat check up dan dia paksa saya pergi satu bulan berobat di Jakarta. Saya kembali belum sempat bertemu karena uskup ke Merauke. Sudah di Timika, belum sempat bertemu beliau sudah meninggal,” ungkapnya dengan sedih.

Menurutnya kepergian Uskup Saklil begitu cepat tanpa meninggalkan wejangan atau pesan-pesan bagi perkembangan Gereja Katolik di Mimika dan Papua, terutama kepada pastor-pastor muda.

“Saya sangat sedih disitu karena tidak ada semacam pesan-pesan kunci yang ditinggalkan sama sekali kepada kita. Tetapi kami tetap berpedoman pada moto uskup yaitu Parate Viam Domini yang artinya Siapkanlah Jalan Dari Tuhan,” ujarnya.

Walau kepergian Uskup John Philip Saklil Pr begitu cepat namun baginya, Uskup Saklil telah merintis jalan sehingga ia bersama biarawan dan biarawati lainnya akan meneruskan jalan itu sesuai dengan kehendak Tuhan.

“Itulah yang menjadi pegangan kami. Apapun yang terjadi jalan itu dia sudah rintis untuk siapapun dan agama manapun karena jalan Tuhan adalah jalan keselamatan untuk semua orang,” ujarnya.

Menurut Pater Amandus, Uskup Saklil adalah seorang Uskup Idola. Ia berbeda dengan 4-5 uskup lainnya di Papua.

Uskup ini selalu tampil di depan dalam menyebarkan nilai-nilai universal tentang kedamaian, keadilan dan kasih. Satu hal yang sangat dikenal oleh semua orang adalah keberpihakannya dalam membela orang-orang Papua.

Foto kenangan Uskup John dan Pater Mandus (Foto : Fb Pater Amandus)
Di mata Romo Amandus, Uskup Saklil juga sangat kebapaan dan tidak pernah menyakiti. Cara menegurnya selalu berbeda dengan kebanyakan orang. Ia selalu berusaha sedemikian rupa sehingga tidak menyakti orang lain.

“Para pastor ada yang cara hidupnya mungkin kurang tapi uskup begitu luar biasa. Dia selalu merangkul dan melihat sisi-sisi positif dari orang lain. Itu yang sangat hebat dan kami sangat kehilangan pemimpin seperti dia. Beliau sama sekali tidak otoriter. Dia selalu merangkul dan memberikan dorongan yang luar biasa kepada kami. Beliau menjadi spirit sekaligus inspirator yang memberikan ide-ide brilian untuk kami laksanakan. Dia seorang pemimpin sejati,” terangnya.

Menurutnya Uskup John adalah sosok yang tidak tergantikan. sulit untuk mendapatkan figur pemimpin sepertu uskup ini. Walau demikian, ia percaya bahwa Tuhan akan menggunakan orang yang tepat untuk menggantikannya.

“Saya yakin dan percaya bahwa pastor-pastor yang ada ini punya talenta namun belum muncul saja karena karena selama ini sombar uskup begitu kuat. Kita percaya ini dan itu menjadi harapan kami semua,” katanya.

Pastor Amandus Rahadat Pr ternyata telah mendampingi almarhum Uskup Mgr John Philips Saklil selama 15 tahun. Romo Amandus juga ditunjuk sebagai Plebanus, Wakil Uskup di Katedral Tiga Raja.

Ia mengatakan begitu banyak kenangan dalam susah dan senang, sehat dan sakit yang mereka lewati selama 15 tahun berjalan bersama. Ia begitu mencintai pimpinannya ini. Begitupun sebaliknya.

Kepada BeritaMimika di kediamannya tadi sore, Pastor Amandus sambil terkadang berlinang air mata, ia menyisahkan waktunya untuk menceritakan beberapa momen hebat bersama almarhum.

Ia mengisahkan, 15 tahun lalu seharusnya ia bertugas ke Amerika Serikat. Saat itu ia telah menandatangani kontrak untuk mengabdi di Keuskupan Atlanta Amerika Serikat tepatnya di Paroki Maria Asumpta. Namun Uskup Saklil memintah untuk mendampinginya di Keuskupan Mimika.

“Saya sedang menunggu keberangkatan. Dia panggil, dia bilang Amandus ko itu tahbisan Kokonao to. Baru ko pigi bikin apa di Amerika?, disini ada banyak kerja. Ko sudah dengar disini sa jadi uskup to. Ko datang sudah bantu saya kerja disini,” kisahnya.

“Sa tetap tidak mau karena sa sudah kontrak. Uskup bilang Yeee ko datang sudah, karena saya tidak tahu bahasa latin, dulu kan saya bukan seminari ko yang sekolah seminari jadi saya bisa belajar dari ko. Ko datang supaya susun saya punya moto,” ujarnya.

Hal inilah yang kemudian membuat Pater Amandus membatalkan kontraknya di Amerika dan datang ke Timika. Iapun menyusun Moto Uskup Saklil yakni ‘Parate Viam Domini’ yang artinya Siapkanlah Jalan Dari Tuhan.

Foto kenangan saat keduanya berada di Kapal Umsini (foto Fb)

“Atas dasar itu dia mengikat sampai akhirnya saya datang. Tapi saya tidak menyesal. Selama 15 tahun ini dalam segala kelemahan dan kekurangan, saya membackup dia dalam segala hal. Bahkan beberapa kali saya minta pindah paroki tapi uskup tidak mau dan dia selalu bilang sabar, akan datang waktunya. Saya benar-benar merasa kehilangan dia,” ungkapnya sambil sesekali mengusap kedua matanya.

Menurut Parer Amandus, keduanya pernah bersitegang karena rokok. Pater melihat ada beberapa bolongan karena bekas api rokok mengenai Jubah Uskup John.

Ia kemudian menegur dengan maksud agar Uskup berhenti merokok untuk menjaga kesehatanya. Namun uskup hanya tersenyum dan memanggilya.

“Kalau pastor lain yang omong dia pasti selalu lawan. Kalau saya dia selalu dengar walau dia merokok terus. Terus dia bilang, Amandus ko lihat lima pastor duluan terbaring di kubur sana mereka tidak merokok tetapi meninggal. Dia selalu bilang ini ke saya dan dia selalu bilang saya untuk jaga kesehatan,” ungkapnya.

Almarhum Uskup Sakli juga merupakan pribadi yang tidak mau merepotkan banyak orang. Ia bahkan selalu meminta Pater Amandus untuk rutin melakukan check up. Dia akan marah jika hal ini tidak dilakukan oleh Pater Amandus.

“Saya merasa sedikit kontradiksi karena dia selalu memaksa saya untuk check up dan jaga istirahat. Tetapi dia sendiri tidak istirahat, tidak jaga makan dan tidak mau kontrol. Dia ada penyakit tapi dia diamkan. Dia sembunyi itu buat kami. Setelah kejadian kemarin baru kami tahu dia sakit diabetes. Saya sesal sekali kenapa dia tidak mau periksa kesehatannya. Sekarang sudah begini dan dia sudah pergi tinggalkan kami semua,” ujarnya sambil menitikan air mata.

Pastor Amandus lebih tua lima tahun dari almarhum Uskup Saklil. Banyak kenangan indah yang telah dilewati berdua. Namun saat ditanyai BeritaMimika, ia mengatakan kenangan yang paling membanggakan dan membuatnya merasa begitu berkesan adalah ketika Uskup John Philip Saklil Pr pernah memanggilnya ‘Kaka’.

“Ketika uskup sampaikan sambutan dalam acara Pesta Perak 25 Tahun Imamat Saya. Dalam sambutan itu dia menyapa saya dengan sebutan ‘Kakaku’ di depan semua orang. Saya merasa terharu dan senang sekali. Dia seorang uskup dan pimpinan saya, tapi dia menghormati unsur ketuaan dan senioritas. Itu dia jaga betul. Hebat sekali uskup ini. Ini satu hal paling indah dan paling berkesan bagi saya selama 15 tahun kebersamaan kami,” ungkap Pater Amandus Rahadat Pr, sembari menutupi wawancaranya karena perayaan ekaristi penghormatan kepada Almarhum Uskup John Philips Saklil Pr, sebentar lagi akan dimulai. (Nal)

Berikan Komentar Anda