Balik Atas
Uskup Saklil, Seorang Komunikator Ulung
 
Pewarta: Redaksi Edisi 07/08/2019
| 781 Views
Thomas CH Syufi (Foto:Dok Pribadi)

Oleh Thomas Ch. Syufi*

Berbeda dengan Timor Timur di masa Uskup Dili Carlos Ximines Belo– yang mayoritas penduduk aslinya menganut Katolik Roma. Di Papua, penduduk asli Papua yang menganut Katolik bisa dihitung dengan jari atau berada di peringkat kedua setelah penganut Protestan. Mayoritas penganut Katolik tersebar di wilayah selatan Tanah Papua, seperti Merauke, Mappi, Boven Digoel, Asmat, dan Mimika. Dan kini Gereja Katolik didominas oleh saudara2 kita yang non- Papua. Realitas ini kerap kali mempengaruhi sikap dan gaya kepemimpinan dari pemimpin Gereja Katolik di Tanah Papua, seperti Pastor atau Uskup. Mereka harus berhati- hati dalam setiap tindakan dan kata-kata yang diucapkan, apalagi menyangkut keberpihakan pada keadilan dan kemanusiaan orang Papua agar tidak terjadi ketersinggungan, diskriminasi, dan friksi( perpecahan) dalam tubuh gereja(umat).

Namun, Uskup Keuskupan Timika Mgr John Philip Saklil Pr (20 Maret 1960-3 Agustus 2019/59 tahun) telah mampu berlayar di atas semua kepentingan dan sekat-sekat itu, ia berdiri bak tiang api moral untuk meneriakan penegakan keadilan dan penghormatan terhadap martabat– kemanusiaan orang Papua. Tanpa ragu, ia mengeritik TNI- Polri soal tindakan kekerasaan terhadap orang Papua, ia berdialog dgn Menteri ESDM Ignasius Jonan agar PT Freeport harus serius memerhatikan kelayakan hidup dan pengembangan sumber daya manusia orang asli Amungme, Kamoro, Mee, Moni, Damal dan sekitarnya.
Sakilil juga berulang- ulang kali menolak perusahaan kelapa sawit yang dicanangkan oleh Pemda Mimika dan pihak investor atas izin pemerintah pusat di daerah Agimuga, Mimika Barat.” Orang Papua bisa hidup tanpa sawit, tapi tidak bisa hidup tanpa tanah,” kata pria yang dithabis sebagai pastor pada 1988 itu.
Ia merasa, tanah adalah ibu. Tanah memiliki banyak manfaat bagi keberlangsungan hidup manusia, bisa berkebun, bisa berburu, termasuk menyimpan banyak harta warisan untuk generasi masa depan, baik yang ada di atas maupun dalam perut bumi.

Uskup Keuskupan Timika, Almarhum.Mgr John Philip Saklil Pr (Foto:Dok.PapuaLives)

Uskup kelahiran Kokonao, 20 Maret 1960 itu juga beberapa pekan lalu, di pengujung wafatnya, ia mengeluarkan surat protes untuk Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika yang hendak menarik semua guru-guru berstatus PNS dari sekolah-sekolah swasta, entah YPPK, YPK, maupun Yapis. Ia membela habis- habisan. ” Sebelum Indonesia merdeka, sekolah swasta sudah ada. Apalagi dipulangkan guru-guru berstatus PNS dari sekolah swasta, merugikan banyak anak- anak asli Papua,” kata Saklil.
Semua yang ia lakukan jutru mendapat apresiasi dan penghormatan yang tinggi. Ia tetap dihormati dan dicintai oleh semua umat, entah asli atau non- Papua. Ia tetap dipandang pemimpin Gereja yang berwibawa. Ia sangat menjaga kesimbangan dalam menajalankan karya kerasulan dan misi kemanusiaan bagi gereja dan masyarakat Papua.

Selamat Jalan Tokoh Besar
Bapa Monsinyur, tidak hanya orang Amungme-Kamoro, yang merasa kehilanganmu, tapi semua orang Papua sangat merasa kehilangan atas kepergianmu …seorang putra terbaik yang lahir di kampung terpencil(Kokonao), di tengah-tengah Masyarakat Amungme-Kamoro hingga benar-benar merasakan penderitaan dan tangisan orang Papua. Kemudian hari menjadi pemimpin besar di hierarki Gereja Katolik dan berani bersuara keras menentang prinsip-prinsip ketidakadilan dan tak berperikemanusiaan yang dilakukan oleh kekuasaan dan penguasa yang lalim dan pongah(menindas).
Semoga karya agung dari Bapa Monsinyur untuk keadilan dan kemanusiaan orang asli Papua selalu dikenang.

Parate Viam Domini, Siapakan Jalan bagi Tuhan.
Ad Vitam Aeternam.

We shall remember you( Bishop) always.

*). Penulis adalah Pengurus PMKRI Pusat Sanctus Thomas Aquinas(2013-2015) dan Koordinator Papuan Observatory for Human Rights(POHR).

 

Berikan Komentar Anda