BALIK ATAS
Wakil Rakyat Dapil Papua dan Papua Barat Harus Menyuarakan Aspirasi Masyarakat Papua di Jakarta
PEWARTA: Redaksi PAPUALIVES.COM 12th Oktober 2014
| 714 DIBACA
Roberth Yewen (Foto:Dok.Pribadi)

Pada tanggal 1 Oktober 2014 lahirlah sejarah baru, yaitu pelantikan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Daerah (DPD), dan Pelantikan Majelis Permusyarawatan Rakyat (MPR) Republik Indonesia, untuk masa bhakti 2014-2019 di Gedung Paripurna Senayan Jakarta. Para wakil rakyat yang di latik adalah representatif atau perwakilan dari  34 Provinsi yang ada di Tanah air ini, mulai dari sabang sampai merauke.

Dalam rentetan pelantikan, ada yang penarik untuk menjadi perhatian masyarakat di Indonesia, yaitu mengenai “sumpah janji” yang disampaikan oleh seluruh wakil rakyat tersebut. Para wakil rakyat yang melakukan sumpah dengan atas namakan Tuhan Yang Maha Kuasa, dan seluruh rakyat Indonesia, bahwa akan bekerja dengan sungguh-sungguh, dan sejujur-jujurnya, untuk mengabdi  kepada bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dengan tak henti-hentinya memperjuangkan aspirasi masyarakat di pusat dalam kurung waktu lima tahun kedepan.

Dalam “sumpah janji” yang disampaikan oleh seluruh perwakilan wakil rakyat kita di pusat  adalah bagian dari “utang” kepada masyarakat yang harus dipenuhi dalam bentuk tindakan nyata, dan bukan hanya sekedar “manis dibibir saja”. Sebab melihat dinamika wakil rakyat periode sebelumnya, kebanyakan hanya mengobar-ngabir janji kepada rakyat, tetapi sejak dipercayakan oleh rakyat selama 5 tahun banyak melakukan maneuver-manuver politik yang menguntungkan diri sendiri, kelompok, dan partainya, tanpa mempedulikan aspirasi yang menjadi keluhan masyarakat di Indonesia, khususnya aspirasi masyarkat  di dampil pemilihannya masing-masing.
Dari para wakil rakyat yang di lantik kemarin, ada perwakilan wakil rakyat dari Provinsi Papua, dan Papua Barat, yaitu yang berasal dari Papua  sebanyak 10 orang, dan Papua Barat sebanyak 3 orang. Sehingga jumlah keseluruhan para wakil rakyat yang mewakili masyarakat di Tanah Papua adalah 13 orang anggota DPRRI yang dipercayakan oleh seluruh masyarakat di Papua, untuk menyuarakan aspirasi mereka di Pusat.
Di lihat dari 13 anggota DPRRI yang mewakili Papua kebanyakan adalah muka-muka baru, sehingga diharapkan mampu sungguh-sungguh memperjuangkan aspirasi masyarakat Papua, bukan sebaliknya melupakan amanat yang diberikan oleh rakyat Papua, dengan hanya memperjuangkan kepentingan diri secara  pribadi, kelompok, dan partainya masing-masing.
Harus Suarakan Aspirasi Masyarakat Papua, Bukan Partainya
Mencermati dinamika politik yang terjadi pada periode sebelumnya, banyak anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPRRI) dari dapil Papua, dan Papua Barat  yang dipercayakan oleh rakyat, untuk menyuarakan aspirasi masyarakat Papua di pusat, teryata tidak semua wakil rakyat yang mampu mengembang tugas dan tanggung jawab sebaik-baiknya sebagai amanat suci  yang diberikan oleh rakyat, tetapi sebaliknya yang terjadi adalah hampir sebagian besar wakil rakyat (DPR) dari Dapil Papua dan Papua Barat  lebih mementingkan untuk memperjuangkan kepentingan  partai politiknya masing-masing.
Oleh karena itu, diharapkan kepada seluruh anggota DPRRI Dapil Papua dan Papua Barat yang terpilih dan dilantik pada tanggal  1 Oktober 2014 kemarin, yang berjumlah 13 orang. Dan sebagian dari itu  adalah pendatang baru di Parlemen pusat, maka harus mampu mengembang amanat rakyat yang suci ini, dengan selalu memperjuangkan aspirasi masyarakat Papua di Pusat, bukan sebaliknya hanya menjadi “anjing peliharaan” partai politik yang selalu mementingkan partainya, dibandingkan dengan amanat yang diberikan oleh seluruh rakyat Papua.
Memperjuangan Aspirasi Masyarakat Papua Yang Menjadi Kebutuhan
Banyak sekali masalah-masalah Papua yang belum diatasi dan diselesaikan oleh Pemerintah Pusat. Periode yang lalu para wakil rakyat yang dipercayakan, teryata belum mampu memperjuangankan aspirasi masyarakat Papua yang menjadi kebutuhan atau sudah memperjuangkan, tetapi hanya “setengah hati”.
Oleh karena itu, harapan masyarakat Papua adalah, para wakil rakyat yang dipercayakan untuk mewakili seluruh masyarakat yang ada di Tanah Papua,  pada periode 2014-2019 yang berjumlah 13 orang anggota mampu menjalankan amanat yang diberikan oleh masyarakat Papua dengan terlibat langsung dalam memperjuangan aspirasi-aspirasi masyarakat secara kolektif di  Tanah Papua yang selama ini menjadi kebutuhan mereka.
Selain itu, para wakil rakyat (DPRRI)  yang berasal dari Tanah Papua periode ini, diharapkan mampu terjun langsung ke derah yang  ada di Papua dengan berdialog langsung kepada masyarakat secara kolektif, untuk mendengar apa yang menjadi keluhan dan kebutuhan masyarakat, sehingga mampu memperjuangkannya di Parlemen pusat. Sebab masih banyak sekali pekerjaan rumah (PR) di Papua yang harus di perjuangkan oleh para anggota DPR di pusat, salah satunya adalah memperjuangkan “dialog” Papua-Jakarta agar Pemerintahan Baru memfasilitasi dalam proses dialog tersebut, sehingga segala persoalan dan masalah yang selama ini menjadi keluhan dan kebutuhan masyarakat di Tanah Papua, secara khusus menyangkut kesejahteraan umum, baik pendidikan, kesehatan, ekonomi kerakyatan, pembangunan infranstrukutur, pelanggaran HAM, dan berbagai persoalan lainnya, yang selama ini belum diselesaikan dapat diselesaikan secara baik, karena adanya keterbukaan antara pemerintah pusat dan masyarakat di Tanah Papua.
PENULIS ADALAH AKTIVIS PMKRI JAYAPURA DAN KINI SEBAGAI KETUA UMUM CATOLIC STUDENT CENTER (CSC)
 
Berikan Komentar Anda
PASANG IKLAN PAPUALIVES.COM