Bagi Guru Dan Siswa: Waktu Adalah Ilmu

 

Oleh Felix Degei, S. Pd., M. Ed*

Pendahuluan

Selama ini kita ketahui bersama bahwa waktu hanya disamakan dengan beberapa benda berharga. Bagi pengusaha dan pekerja keras waktu disamakan uang (time is money). Sehingga jika ada waktu terbuang maka terbuang pula kesempatan untuk dapat uang lebih. Ada juga orang yang biasa samakan waktu dengan emas (time is gold). Karena emas adalah logam mulia yang memiliki beberapa sifat unik, seperti lunak dan mudah dibentuk, mampu menghantarkan listrik, memiliki kilau alami, serta mudah dicampur dengan logam lain. Ia juga memiliki nilai jual yang tinggi. Demikian halnya waktu dalam kehidupan setiap insan.

Dalam masa pandemik Covid-19 ini tidak berlebihan jika waktu dihargai sebagai ilmu. Tentu hal tersebut terlihat aneh bagi banyak orang. Namun sungguh benar adanya bagi siapa saja yang berkecimpung dalam dunia pendidikan. Untuk itu pada bagian selanjutnya hendak dibahas: 1). Mengapa ‘waktu adalah Ilmu’ bagi guru?; 2). Mengapa ‘waktu adalah ilmu’ bagi siswa? ; dan 3). Apa esensi dari ‘waktu adalah ilmu’ selama masa Pandemik Covid-19?

Pertama: Waktu Adalah Ilmu bagi Guru

Guru yang mendapatkan tugas dan tanggungjawab untuk mendidik, bagi dia waktu sangatlah vital. Alokasi waktu yang setiap guru punya sangatlah berarti. Jika ada guru lalai dan atau tidak sempat masuk untuk didik siswanya maka rugi waktu juga ilmunya. Konsekuensinya guru harus memadatkan waktu dan materi yang harusnya terlaksana dengan leluasa. Kualitas dan kuantitas waktu dan materi secara tidak langsung akan berkurang. Misalnya materi yang mestinya terselenggara dengan penjelasan secara klasikal harus diakali dengan hanya kumpul tugas rangkuman dan atau kerjakan kuis dan lain sebagainya. Dengan demikian seorang guru telah rugi tidak hanya waktu untuk tatap muka dengan siswa. Tapi rugi pula ilmu yang harus didapatkan selama proses pembelajaran berlangsung. Karena lazimnya dengan mengajar kita belajar dan dengan belajar kita mengajar.

Kedua: Waktu Adalah Ilmu bagi Siswa

Setiap siswa tentu memiliki jadwal pelajarannya. Dalam jadwal memuat kapan dan materi apa yang harus terlaksana. Jika sampai ada siswa yang lalai mengikuti jadwal tersebut dan atau terlambat masuk kelas maka lalai dan atau terlambat pula untuk dapat segala ilmu yang diberikan guru di kelas seketika itu. Dengan demikian seorang siswa rugi tidak hanya waktunya tetapi juga segala ilmu pengetahuan dan informasi yang telah diberikan guru selama seorang siswa tidak hadir dan atau terlambat masuk kelas. Jadi jika di sekolah Anda tersedia sedikit waktu untuk belajar tatap muka luar jaringan (luring) di kelas maka pergunakanlah dengan seefektif mungkin. Karena setiap detik, menit dan jam adalah ilmu yang patut kita timbah sebanyak-banyaknya.

Ketiga: Esensi Waktu Adalah Ilmu Selama Pandemik Covid-19

Sejak tahun 2019 silam seantero dunia ini diterpa badai Pandemik Covid-19. Ia telah merusak seluruh sendi rutinitas kehidupan manusia. Bahkan ia telah merengut kurang lebih 4.134.015 jiwa per 21 Juli 2021. (worldometers.info). Hingga akhir-akhir ini bermunculan banyak Covid varian baru. Apapun alasannya itu realita hidup kita saat ini.

Kita mesti jangan mau terbuai hingga mau terbelakang dalam berbagai aspek kehidupan meski telah sedang dirundung badai Covid-19. Dalam kondisi serba jaga jarak (social distancing) waktu menjadi hal yang sangat berharga. Berbagai aktivitas diselenggarakan secara online dalam jaringan (daring). Banyak aplikasi dapat digunakan seperti zoom, google, microsoft teams, lark meeting, skype dan aplikasi lainnya. Tentu durasi waktu yang tersedia sangat sedikit. Selain itu kualitas jaringan internet yang tersedia juga turut berpengaruh. Dengan demikian waktu yang tersedia selama pembelajaran daring ini patut digunakan seefektif mungkin oleh baik siswa maupun guru agar jangan rugi ilmu. Karena waktu adalah Ilmu (time is knowledge).

Penutup

‘Lalai sedetik menyesal seumur hidup’ adalah fameo yang barangkali relevan untuk mengakhiri ulasan ini. Bagi siswa dan guru sesungguhnya ‘waktu adalah ilmu’. Jika ada waktu yang terlalai dan atau terlambat diikuti baik oleh siswa maupun guru maka seyogyanya kita lalai dan atau lambat untuk mendapatkan ilmu pengetahuan.

Smoga kita menjadi pribadi yang senantiasa haus akan ilmu pengetahuan. Cara paling mujarab untuk menghilangkan dahaga akan ilmu pengetahuan adalah konsistensi dengan waktu karena sungguh ‘WAKTU ADALAH ILMU’.

*Penulis adalah pegiat pendidikan khusus orang asli (indigenous education) tinggal di Nabire, Provinsi  Papua.

Berikan Komentar Anda