Balik Atas
Bangun Papua dengan Judul, Kasih Jadi.
 
Pewarta: Redaksi Edisi 08/09/2019
| 223 Views
Freddie Hosio, SE (Foto: Dok.Pribadi)

Oleh : Freddie Hosio, SE

Timika, Sabtu, (7/09/2019)

Saat tidur malam, terlelap, berusaha sebisa dan senyaman mungkin agar terlelap dalam tidur itu. Namun ditengah-tengah tidur itu, saya merasa ada hal yang aneh terjadi saat memasuki subuh atau dini Hari. Terucap dan terdengar Sebuah doa yang dipanjatkan dari kamar sebelah dengan sepenggal kata-kata yang tertaih – tatih, ibarat seorang sementara menangis…. saat terdengar Doa itu, dalam tidur saya pikir saya sedang bermimpi kah….Kira-kira Bunyi Kalimat dalam doa yang terucap itu terdengar seperti ini, “Oh Tuhan, mengapa kau ciptakan kami orang kulit hitam dan keriting ini di Tanah ini, begitu banyak penderitaan yang kami alami. Mengapa bangsa ini datang dan mengambil semua barang yang kami punya, tetapi kami hanya menjadi penonton saja….Tuhan Pulihkan Manusia Papua ini, jangan kirim amarah dan murka-Mu di Tanah ini, suaraaaa doa itu, selalu dan sering setiap pagi, kira-kira pukul tiga pagi begitu. Rupanyaaaa saat pagi, setelah terbangun, saya kenal betul suara Ratap dan tangis teriring doa itu adalah tangisan ratapan dalam dia milik mama saya.

Sempat saya yakini bahwa, selain mama saya, tentu masih banyak mama-mama lainya yang menaikan Doa yang sama kepada Tuhan Yesus di Surga.Dengan harapan bahwa Tuhan Pasti sanggup membuka jalan dalam menjawab Doa mereka. Papua harus bebebas, Merdeka penuh. Mereka dalam setiap aspek kehidupan, baik Jasmani maupun rohani. Beberapa upaya telah dilakukan agar bagaimana kita  sejati sebagai bangsa, Rumpun Melanesia agar Merdeka. Namun apa boleh buat, kenyataannya masih jauh dari harapan. Krisis kepercayaan diri, diatas Tanah ini telah membuat kita menjadi Pribadi yang sukah mengkritisi, meengelak tanpa mau bekerja dan membangun. Kita Papua ada pada sindrome Apatis. Sebuah gelaja dimana tidak merespon pada apa yang terjadi disekitar kita saat ini. Kepala Batu, tidak mau bekerja keras, suka mengeluh dan bikin masalah. Selanjutnya setelah, kasi satu, minta dua, itu sudah lengkaplah Sindrome Papuan Apatis. Terusss, mau kasi Obat Apa? Mau alamia, atau kimia? Ach sudahlah…mungkin itu penyakit Kronis bawaan sejak lahir kah?

BANGUN PAPUA, KAS JADI

Kembali pada judul diatas, terkesan lihat kontoasinya negetaif. Nampak arogan, menantang. Tapi saya mau bilang sekaligus penuh harapan agar terwujud apa yang kita sebut-sebut nanti yang terdengar Bangun Papua dengan hati, Takut Tuhan, Papua Zona damai dan sejenisnya. Apabila pendekatan Judul yang saya angkat diatas, dapat kita Maknai dan Berkarya maka kita akan melihat tanda heran satu ke tanda heran yang lain. Mau tidak mau, suka tidak suka, pintar atau goblok, kita semua Manusia Papua pasti bisa melakukan ini. Bagaiman mengisi semua aspek Pembangunan di Tanah Papua. Sorong sampai Merauke, Gunung sampai Pante, kita ini semua punya kemampuan diatas rata-rata. Pengetahuan yang dimaksud merupakan karunia tersendiri, yang saya sebut sebagai Hikmat dari Tuhan sang pencipta Khalik serta seisinya.

Saya mau kasi tau bahwa, Kepintaran itu, orang Medan Punya, Lagu itu, Orang Ambon Punya, kalau apa yang desebut dengan Hikmat yang hanya di peroleh karena Anugerah Tuhan itu, Hanya Orang Papua punya.  Ibarat beberapa produk sepatu, merek  boleh beda, tapi kita satu Pabrik. Sorong sampai dengan Merauke bahkan sampai kepada bagian ekor pada kepulauan pasifik, kita punya satu Pencipta yakni Tuhan yang maha kuasa. Demikian juga Papua ini, terdiri dari berbagai bahasa dan suku serta sub suku, namun kita semua punya kemampuan yang sama. Kamu di Pante, kita di Gunung, kau di ekor, saya di tengah, yang lain di punggung, ada yang dikepala dan seterusnya merupakan bagian dari sebuah kerangka yang mampu menahan Pulau Papua, layaknya seekor Burung Titisan sang Maha Kuasa di Pulau ini.

Oleh karena itu, jangan pernah mengeluh dengan kondisi dan keadaan namun syukuri itu dan jalani karena tidak kebetulan kita ada dan berada pada tempat dimana kita berada dibawah awan dan menghirup udara yang sama ini. Sebagaimana judul yang menggoda diatas itu, sudah saatnya kita beraksi di Lapangan dalam membangun Papua. Tidak perlu melakukan pendekatan atau teori, kajian apapun dalam membangun Papua. Papua itu unik, kita Papua hanya dapat di pimpin oleh kita orang Papua itu sendiri. Sadarilah itu, sebagaimana pernyataan yang di nubuatkan oleh Para Rasul, orang kudus atau Misionaris yang telah menginjakan kaki lebih dulu di Tanah ini, sebelum kita hadir. Saya kira, suntikan dana dari Pemerintah Pusat itu sudah terlampau banyak agar bagaimana kita membangun Tanah dan Manusia Papua. Toh kita juga hanya sedikit kok? bukan kah itu gampang? mudah? Tanah, laut serta di dalam tanah yang berisi keanekaan ragaman hayati, flora fauna, mineral tambang serta masyarakat yang yang bersahaja ini dapat di baangu n pula. sehingga saya berani katakan, dan sekiranya saudara-saudara juga sepakat akan hal ini. Mari, kasi Jadi, ambel dia, ini ko pu masa….

PAPUA KEMBALI BERDUKA,

Sejak konflik yang terjadi di Pulau Jawa,  mulai diciptakan hingga berunjung pada aksi anarkis yang membuat kita Manusia Papua menjadi korban diatas semua ini, marilah kita sadari itu. Kita tidak bisa saling menyalahkan sesama kita, karena itu merupakan bagian dari upaya agar bagaimana kita Bebas, Merdeka. merdeka dalam berbagai Kaidah-Kaidah kehidupan. Kita tidak taukah, kalau ada tangan yang tidak kelihatan (Invisible Hand) yang menciptakan Manusia serta seisi Tanah ini sedang melihat kita mengarungi deras lajuhnya arus dalam sendi – sendi kehidupan ini?

Woooooe, jangan Bodok. Stop Pura-Pura Mati. Stop cari Signal, Stop kasi kode, Sante saja, sykuri itu, karena bukan kebetulan serta wajib hukumnya kita ditempah sedemikian rupa agar menjadi sebuah barang yang bagus. Ko Ganteng mo, Cantik Mo, Pintar mo, tanpa dia pun Dunia ini tetap berputar mo? Ataukah mereka yang membuat saya, kau serta kita semua Manusia Berkulit Hitam, Keriting rambut   menjadi Marah yang berunjung Ingin bebas ini mau putar Bikin Matahari Terbit dari Barat? Tra bisa yah, Buku Pintar kita, Alkitab, tersurat jelas akan hal itu. Kita adalah bangsa yang paling ujung dari Bumi ini. Tugas kita semua adalah berpegang teguh pada janji-Nya, Jalani hidup ini, ucap syukur, jangan menggerutu alias kepala batu. Ingat bahwa semua itu ada pada waktunya. Janji Tuhan itu, Ya dan Amin. Indah pada waktu-Nya. Ummm, cukup sudah kapa, nanti kam bilang sa Pendeta lagi. Hihi

Beberapa contoh, peran orang Papua dalam mengisi pembangunan di Tanah Papua dalam bingkai NKRI ini sudah kita lihat sendiri. Bagaimana mereka suadara-saudara kita yang berprestasi di segala bidang. Dunia Olah raga, Ilmu pengetahuan dan teknologi, dunia hiburan dan masih banyak yang belum sempat saya sebutkan. Pada sepekan berjalan ini, kita sudah menyaksikan sendiri dengan mata dan Kepala, betapa sakitnya kita orang Papua diperlakukan secara tidak Manusiawi.Ironisnya, karena punya kekuatan emosinal yang kuat serta cepat  main hakim sendiri, makanya Pemerintah Repoblik kasi putus jaringan seantero Papua agar kita tidak bisa macam-macam dan harus satu macam saja.

Atas Kejadian itu, Pemerintah Propinsi, Kabupaten/kota seperti kebakaran jenggot bagaimana mengatasi luapan emosi kita. Kita berhasil meluapkan emosi kita, sebagai bentuk jati diri bahwa, kami ada, pandanglah kami sebagaiman Manusia seutuhnya, kami juga seorang, kami berharga di mata sesama, Pencipta apalagi. Kendatipun kami harus kehilangan Nyawa Sadara-sudara kami yang Mati demi Tanah ini demi Perjalanan Panjang desas-desus Dana Otonomi Khusus (Otsus) Jilid II yang sementara di giring itu. Menyikapi itu, beberapa rekan-rekan muda, Abang-abang Senior di Pusat, Para Ahli, Pemerhati Papua dalam bidang Apapun mulai menyampaikan beberapa langkah-langkah bagaimana membangun Papua. Konflik serta solusi ini menjadi viral, isu hangat yang sudah menjadi agenda pembahasan di beberapa Media cetak, Online juga Televisi Nasional bahkan Internasional.

PAPUA DUALISME,

Beberapa diantara merkea menyampiakannya agar dapat meyakinkan Pemerintah, Orang Papua dan Pemirsa agar bagaimana menjaga keutuhan NKRI ini. Kajian, teroritis fakta di kedepankan disana. Beberapa kita yang menyaksikan pasti merasa suka, dan ada pula yang tidak. Beberapa pula bermain dengan gaya-gaya lama yang hanya membuat benang ini semakin terlingkar dan tidak dapat dibuka kembali, melainkan di potong. Namun, menurut saya, dan beberapa mereka yang lain, itu belum tepat, alias bicara di awang-awang saja. Tapi kami orang Papua berterima kasih bayak akan hal itu, Kami Puji Tuhan. Kami Naikan doa dari Negeri Matahari terbit mengaantarkan kamu disana pada Agenda Bapak-bapak dorang…. Booooh bapak dong yang Inti kah,

Bapak dong Tim Garuda kah,

Bapak dong Yang tampil sebagai Garda depan ka,

Bapak dong yang tampil live di layar kaca kah…. Boooh ….siooooh…apalagi eh? Kam lanjutkan sudah…hihi

Ach sudah, tutup telinga dan juga mata, cukup ko tau, percaya hati jang orang laen. Percaya Tuhan, pasti ada jalan keluar, walau kita terpisah jarak ruang dan waktu. Tangan Tuhan sanggup menggapai mereka, menyentuh dan mengubah pandangan dan sikap mereka.  Ah.. yah yah, Kalau Lagu anak Papua bilang, dong yang Gambar, kita kasi Warna. NKRI punya desain, kita Papua yang warnai, eh belum total sempurna pewarnaan itu agar kemudian elok dipandang bagai seekor Cendrawasih, namun NKRI tarik kembali desain itu dan menyodorkan kami pada iming-iming yang baru. Namun desain itu kami tidak mau sehingga munculah mereka yang mau mewarnai, walau berbeda dengan hati Nuraninya.  Mungkin dong mau kah?

Yah desain kedua yang ditawarkan itu pastinya, lebih kapada mengalihkan isu, sehingga terjadi tawar menawar dalam bentuk percapak seperti ini;

Bapak : Nak, kamu tidak usah warnai yang tadi, ini Bapak punya Permen buat kamu, kamu main aja dlu, nanti baru kamu lanjut mewarnainya yah. Yah naamanya juga anak kecil, lucu, polis, jujur jadi begitu sudah.

Anak;  Dengan lantang penuh semangat jawab sang anak pada bapaknya, oh…ok sudah, tapi Bapak janji ech, kalau gula-gula habis, nanti bapak kasi lagi eh?

Bapak ; Dengan nada, membujuk,  siap anak ku, untuk kamu, apa yang bapak tidak bisa kasi? Yang penting jangan minta macam-macam yah, satu macam saja Nak…. Akhirnya anak itu pun terhaanyut serta menikmati peremen tadi, sambil ,enungguh kapan habisnya dan meminta kembali lagi pada Bapaknya.

Ummmm, oh yeah, any way, sesederhana itulah cara memahami Papua belakangan ini dan seterusnya kedepan.

YANG TUA, BELAJAR SAMA YANG ENERGIC

Terlepas dari dialog singkat tadi, sebagaimana judul saya, Kas Jadi, maka marilah kita harus belajar dan patut mencontohi mereka generasi muda-mudi remaja Papua yang berkecimpung di Dunia tarik suara atau musisi. Lima tahun terakhir ini, musik dari indonesia Timur khususnya Papua, sangat familiar dan mendapat banyak tempat di para pendengar dari Papua, Nusantara bahkan Internasional sekalipun. Hal itu harus diakui sebagai Pengembangan minat bakat dan kreativitas serta juga pemanfaatan teknologi terbarukan dalam dunia remaja Papua belakangan ini. Walaupun barangkali kita belum sepakat karena telah bergeser dari budaya yosim pancar, seka, waita, tumbuk tanah, Wisisi dll. Namun itulah Zaman Now. Pemanfaatan teknologi memacu mereka menuju kearah sana. Salahnya yah, tanyakan pada mereka Majelis Rakyat Papua (Mrp), Dprp, Dprd dan para kuasa Pengguna Anggaran (KPA), dari Tingkat Propinsi hingga Kabupaten/Kota di Papua dan Papua barat.

Pertanyaanya, apakah mereka yang buat musik n lagu, dari sorong sampai merauke ini, punya banyak modal, alat-alat teknis untuk menghasilkan sebuah karya yang briliant dalam berkarya? Apakah mereka mereka punya sponsor khusus? Apakah mereka punyai lembaga asing yang mendonorkan dana kepada mereka? Jawabnya Tidak. Hanya bermodalkan, Kegantengan, kecantikan, suara yang indah, Andorid  pinjamaan, numpang wife, sedikit kopi dan berkarya, maka sulap bukan sulap, jadi sudah karya, tapi jangan lupa like and subscribe kah itu. Skill atau keahlian tarik suara sudah mumpuni dan tidak diragukan lagi, namun sayangnya di Papua n Papua Barat, masih mengidolakan Mitha Talahatu, cs dalam dunia Tarik suara saat menghibur Masyarakat Papua. Kalau yang terjadi demkian maka, bagaimana generasi ini akan tampil dalam mengisi pembangunan kita kedepannya. Sehingga dipandang perlu, membina semua komponen usaha, Lembaga, Yayasan, Organisasi Kemasyarakatan, kelompok-kelompok usaha agar bagaiman membangun Papua seutuhnya.

Kembali lagi kita Pada Judul diatas, Papua butuh saya, kau, dia, kita semua untuk bersehati, bergandengan tangan dalam membangun Papua. Hanya sedikit bicara, banyak kerja. jangan sampe, yang terjadi belakangan ini, dimana ada istilah latihan lain, main lain. Itu masih bagus, nyatannya sekarang, yang latihan lain, yang main lain. Jadi lebih parah lagi kan?

Bersambung……

Penulis Adalah Pekerja Sosial,tinggal di Timika, Papua

Berikan Komentar Anda