BANTUAN LANGSUNG TUNAI (Sebuah Paradoks dalam Konteks Kehidupan Orang Papua)

 

Oleh. Felix Degei, S. Pd., M. Ed*

Pendahuluan

Setiap pemimpin besar memiliki strategi dan caranya masing-masing untuk mewujudkan visi dan visinya. Cita-cita perwujudan visi dan misi akan terealisasi ketika ditopang oleh segudang program kerja yang tepat guna (efektif dan efisien). Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono misalnya, sejak 2005 ia telah memiliki banyak program kerja yang kiranya akan mewujudkan visi sebagai amanat dalam sila kelima Pancasila “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. Salah satu program briliannya untuk memberdayakan masyarakat kampung (grass root people) adalah Bantuan Langsung Tunai (BLT). Program ini masih sedang berjalan hingga periode kedua Presiden Jokowi ini khususnya dalam mekanisme pemberian Dana Desa (DD). Kita tidak tahu persis apakah program tersebut sudah tepat guna atau belum. Tapi ulasan ini hendak membahas tiga hal esensi yang nampak berdasarkan pengalaman pribadi (empirical study) sebelum dan setelah adanya Program BLT di Papua: 1). Apa Sesungguhnya Program BLT?; 2). Bagaimana Dinamika Kehidupan Masyarakat Papua pra dan pasca BLT?; dan 3). Apa Harapan Pola Pembangunan pasca Otsus dan BLT di Papua?

Pertama: Apa Itu Program BLT?

Bantuan Langsung Tunai (BLT) atau dalam Bahasa Inggris (Cash Transfer) adalah program bantuan pemerintah berjenis pemberian uang tunai atau beragam bantuan lainnya, baik bersyarat (conditional cash transfer) maupun tak bersyarat (unconditional cash transfer) untuk masyarakat miskin. Secara global program tersebut pertama kali diadakan di Brazil tahun 1990an. Lalu negara lain dapat mengimitasi program tersebut. Meski besaran bantuan dan mekanisme pendistribusian seringkali berbeda.

Untuk di Indonesia Program BLT awalnya dimulai pada 2005 berlanjut pada 2009 dan 2013. Program BLT ini masih berjalan hingga periode kedua masa kepemimpinan Presiden Ir. Joko Widodo dalam bentuk Dana Desa (DD). Program ini awalnya diselenggarakan sebagai respon atas kenaikkan Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) saat itu. Harapan negara hanya satu yakni agar masyarakat kecil (miskin) juga dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam pelaksanaannya program BLT dianggap sukses oleh beberapa kalangan, meskipun timbul kontroversi dan kritik. Untuk itu, tulisan ini hanya membahas perubahan dinamika hidup masyarakat Papua pra dan pasca adanya Program BLT berdasarkan pengamatan pribadi.

Kedua: Fenomena Dinamika Kehidupan Masyarakat Papua Pra dan Pasca BLT

Kebiasaan Hidup Orang Papua Pra BLT

Orang Papua sejak dahulu kala telah memiliki caranya sendiri untuk mempertahankan keberlangsungan hidupnya. Masyarakat yang hidup dan tinggal di pesisir sebagian besar hidup dengan melaut (nelayan): menangkap ikan, udang, kepiting dan hasil laut lainnya serta pangkur sagu. Sementara masyarakat di daerah pegunungan hidup dengan berkebun, beternak dan berburu. Konon hasil karyanya selain konsumsi mereka sendiri juga melakukan barter dua arah orang gunung. Masyarakat dari gunung turun jualan hasil kebun, buruan dan hutan ke pesisir untuk tukar dengan hasil laut serta kulit kerang yang selanjutnya digunakan sebagai alat pembayaran. Kebiasaan hidup ini telah menghidupi Orang Papua dari waktu ke waktu hingga kini.

Bahkan kini masyarakat hidup lebih semi modern sudah mulai menghidupi kehidupan mereka dengan jasa pelayanan. Ada yang yang jadi pekerja untuk orang lain agar dapat dibayar. Misalnya membantu babat rumput, bersihkan kebun, membuat pagar, menggali dan atau mencangkul tanah, mencari kayu bakar, membuat papan baik dengan kampak juga sensor. Ada juga jadi pembantu rumah tangga seperti pencuci baju (laundry), menjaga dan merawat anak (babysitter), penjaga toko dan kios (shopkeeper) dan lain sebagainya. Intinya ada saja aktivitas rutinitas yang mereka selalu lakukan untuk memenuhi kebutuhan pakaian (sandang), makanan (pangan) dan rumah tempat tinggal (papan). Bahkan lebih dari itu untuk membiayai studi dari anak mereka.

Kebiasaan Hidup Orang Papua Pasca BLT

Berdasarkan pengamatan pribadi ada sedikit pergeseran kebiasaan hidup Orang Papua setelah adanya berbagai Bantuan Langsung Tunai (BLT).

Fenomena pertama: setelah ada program pemberian beras bagi rakyat miskin (raskin) melalui Jaring Pengaman Sosial (JPS), beras menjadi makanan yang lumrah di kalangan masyarakat lokal di Papua. Padahal jauh sebelumnya masyarakat lokal senantiasa hanya konsumsi pangan lokal mereka seperti ubi, keladi, singkong, pisang dan sagu. Pangan lokal itupun bisa didapatkan hanya setelah kerja keras yakni dengan berkebun dan ataupun bertani serta pangkur sagu.

Di Papua dulu beras hanya dikonsumsikan oleh keluarga Pegawai Negeri Sipil (PNS) seperti guru, tenaga kesehatan (nakes) mantri, tentara, polisi dan sebagainya. Namun kini, beras menjadi pangan utama bagi hampir semua keluarga. Hingga setiap pagi anak-anak mereka teriak ibunya ‘maaa mana nasi saya….dstnya’.

Fenomena kedua: kini setelah ada Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Desa (DD) banyak perubahan terjadi dalam tatanan kehidupan Orang Papua. Ada banyak orang yang berambisi mau jadi kepala kampung. Mereka ada yang rela mengorbankan panggilannya sebagai guru, tenaga kesehatan (nakes),
petugas gereja dan lain sebagainya hanya untuk mau menjadi kepala kampung. Mereka yang tidak tahu membaca, menulis dan menghitung (calistung) saja banyak terpukau dengan jabatan sebagai pejabat di kampung yang mengelola Dana Desa (DD) ratusan juta itu.

Dampaknya sungguh nampak juga dalam dinamika kehidupan Masyarakat Asli Papua. Tingkat mobilitas warga juga terlihat tinggi. Indikatornya hampir semua ibu kota kabupaten selalu dipadati warga dari kampung. Terlebih khusus saat waktu dekat mendapatkan Dana Desa (DD) juga sesaat setelah menerimanya. Kini masyarakat kampung selalu menghitung hari, minggu dan bulan mengenai kapan pembagian Dana Desa (DD).

Apalagi belakangan ini hampir setiap ibu kota kabupaten telah ramai dengan berbagai permainan juga hiburan. Misalnya ada permainan judi Angka Toto Gelap (Togel) dari berbagai negara seperti: Singapura (SGP), Hongkong (HKG), Sydney (SYD), Taiwan dan sebagainya. Ada juga permainan bola putar, rolet hingga billiard. Selain itu, jaringan internet yang ada juga memanjakan mereka dengan berbagai akses online seperti permainan online (game online) PUBG, Ludo King dan bermedia sosial facebook. Karena kini hampir semua orang memiliki akun facebook lebih dari satu.

Berbagai kemudahan di atas sungguh sedang membuat masyarakat kampung betah tinggal di kota terlebih bagi para kaum laki-laki. Akibatnya seringkali tempat-tempat peribadatannya (gereja) di kampung didominasi oleh kaum perempuan dan anak kecil. Tentu ketidakhadiran kaum adam di kampung halaman ini sungguh mengganggu roda perekonomian dan tatanan kehidupan keluarga. Karena tidak ada lagi para suami yang berkebun, beternak, berburu, nelayan dan pangkur sagu untuk menghidupi keluarganya. Hingga ada kesan bahwa Dana Desa (DD) dirasa cukup untuk menafkahi kehidupan keluarga termasuk biaya pendidikan anak.

Ketiga: Harapan Pola Pembangunan pasca Otsus dan BLT di Papua

Dengan adanya Dana Desa (DD) yang berjumlah ratusan juta diera otonomi khusus ini diharapkan mampu menumbuh kembangkan dinamika hidup masyarakat Papua ke arah yang lebih baik. Dana tersebut harus menjadi Bantuan Langsung Tumbuh (BLT). Bantuan yang berperan sebagai perangsang (stimulan) bagi masyarakat untuk makin produktif dan inovatif. Setiap kepala kampung dan para suami sudah harus berpikir tentang pemberdayaan yang dimulai dari diri pribadi, keluarga hingga kampung. Karena jika bantuan tersebut disalahgunakan maka ia justru akan menjadi Bantuan Langsung Tumbang (BLT).

Ada tiga harapan besar yang hendak dititip agar berbagai program BLT tidak merongrong tatanan hidup Masyarakat Papua:

1). Masyarakat Papua harus terus mencintai pangan lokal seperti ubi, keladi, singkong, pisang dan sagu. Meski kini sudah ada berbagai kemudahan untuk konsumsi aneka makanan non lokal seperti beras melalui bantuan beras rakyat miskin (raskin) Jaring Pengaman Sosial (JPS). Agar kebiasaan berkebun, bertani, beternak, nelayan dan pangkur sagu tidak hilang dalam kehidupan Masyarakat Papua.

2). Siapa saja boleh berambisi dan mencalonkan diri untuk jadi kepala kampung. Namun setelah ada yang terpilih masyarakat lain harus mendukung seluruh program kepala kampung barunya. Kepala kampung terpilih juga harus membuka diri dalam membuat perencanaan pembangunan dengan mekanisme musyawarah dan mufakat agar terindentifikasi skala prioritas pembangunan. Untuk menggapai kesuksesan dalam berbagai program kepala kampung harus selalu di tempat tugas.

3). Apapun alasannya kita perluh cinta kampung halaman. Bagi masyarakat kampung harus selalu betah di kampung. Jikapun ke ibu kota kabupaten hendaknya tidak berlama-lama. Agar aktivitas berkebun, bertani, beternak, nelayan dan pangkur sagu tidak hilang. Lalu bagi para siswa dan mahasiswa yang mendapatkan bantuan Dana Desa (DD) harus menggunakan secara baik dan benar. Karena itulah cara Anda mencintai kampung halaman kita. Ingat kesuksesan kita adalah kebanggaan keluarga dan kampung halaman.

Smoga ketiga harapan di atas ini menjadi bahan permenungan bersama agar kita tetap kuat dalam mengarungi badai dinamika kehidupan. Kita mesti berpikir global bertindak lokal. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menjunjung tinggi pada nilai-nilai budayanya. Salam!

*Penulis adalah pegiat pendidikan khusus orang asli (indigenous education) tinggal di Nabire Papua.

Berikan Komentar Anda