Dede Farhan Aulawi Jelaskan Sawah Millenial Sistem Ecoponik
Pewarta: Redaksi
| 111 Dibaca
EDISI TERBIT: 25 Maret 2020

Jakarta,Di tengah pandemi virus Corona yang telah memakan korban cukup banyak, kesadaran akan pentingnya kesehatan dan ketahanan pangan juga meningkat. Himbauan atau keharusan orang – orang untuk sementara waktu tinggal di rumah, menjadi polemik baru terkait ketersediaan pangan di setiap rumah. Minimal beras dan sedikit lauk pauk selama tinggal di rumah. Apalagi jika kebijakan lockdown diambil, sebagian masyarakat panik untuk bisa belanja kemana? Sebenarnya Pemerintah pasti sudah memikirkan hal – hal tersebut.

Kembali ke soal ketahanan pangan yang digagas Prawita GENPPARI dengan Program Ketahanan Pangan Nasional (Paket Panas) dibawah nahkoda utama Abah Eko sudah mengenalkan konsep sawah milenial sistem Ecoponik.

Dede Farhan Aulawi selaku Ketua Umum Prawita GENPPARI yang ditemui di Bandung, Rabu (25/3) menjelaskan bahwa ECOPONIK merupakan sistem pertanian berbasis teknologi hidroponik dengan menggunakan sistim Ecoponik. Dengan sistem ini, pengelolaan sistem pertanian, khususnya sawah dikelola secara organik dengan penyesuaian kebutuhan kaum milenial, yaitu tata kelola sawah yang tetap bersih, tidak harus becek apalagi harus kotor – kotoran di lumpur. Teknik pengelolaannya juga dilakukan secara profesional guna memenuhi kebutuhan objektif pangan keluarga. Ujar Dede.

Kemudian Dede juga mengapresiasi kesungguhan Abah Eko yang terus menerus tanpa kenal lelah untuk mewujudkan konsep ini menjadi produk nyata. Artinya tidak sekedar konsep di atas kertas saja, tetapi dibuktikan secara nyata.

” Beliau (Abah Eko) adalah inovator pertanian masa depan dengan mempertimbangkan kebutuhan kaum tani milenial, sehingga bisa membangun sawah di dalam atau di atas gedung sekalipun. Sistemnya juga dirancang bisa mobile sesuai kebutuhan “, jelas Dede.

Sawah Ecoponik yang dirancang secara vertikal ini, dibuat dengan dua konsep. Konsep pertama, di bawah Budi daya ikan lalu di atasnya tanaman padi. Nanti, konsep kedua dibangun bersusun dari bawah budidaya ikan, terus unggas, terus sayuran, baru paling atas padi, sehingga dalam satu musim tanam para petani bisa langsung memanen beberapa komoditi sehingga diharapkan mampu mempercepat kesejahteraan petani, ataupun sekaligus mewujudkan ketahanan gizi keluarga. Artinya bukan hanya pangan saja. Namun demikian dalam proses untuk mewujudkannya tentu harus bertahap. Tegas Dede.

Sistem ecoponik ini pada dasarnya secara terus menerus air dari pemeliharaan budidaya ikan ke tanaman dan/ atau sebaliknya dari tanaman ke kolam ikan.

” Jadi dasarnya adalah penyediaan air yang optimum untuk masing-Masing komoditas dengan memanfaatkan sistem re-sirkulasi. Sistem ini sekaligus menjadi konsep untuk menjawab adanya permasalahan dimana dirasakan semakin sulit untuk mendapatkan sumber air yang sesuai untuk budidaya ikan, khususnya di lahan yang sempit. Jadi sistem Ecoponik ini bersifat hemat lahan dan air, serta dapat dikombinasikan dengan berbagai tanaman “, pungkas Dede mengakhiri perbincangan siang.

Berikan Komentar Anda