Balik Atas
Gadis Kampung
 
Pewarta: Redaksi Edisi 13/07/2014
| 1018 Views
Foto:ilustrasigadis kampug/ist

„SEBATANG MAWAR JANG DITANAM.
DJIKA DIRAWAT SIANG DAN MALAM,
TENTU SEKALI KEMBANGNJA ELOK,
TAMBAHAN PULA BAUNJA SEMERBAK.”

Ramai benar dirumah kepala kampong, karena anaknja laki-laki. tadi
petang telah naik „tachta radja sehari”, bcristerikan nona Hermalina,
anak tukang besi dikampung itu. Lebih ramai lagi dari festa kawin lain,
karena kedua pengantin anak orang berada, pula sama-sama sekolah.
Ditahil sama berat, diukur sama tinggi, sama-sama bersajap bagaikan
elang dan tjenderawasih. Djika duduk bcsanding laksana matahari dan
bulan.
Orang panggilan, bukan sadja keluarga dalam kampung itu,
melainkan kaum kerabat djauh-djauhan nampak. Sudahlah mendjadi adat
dalam kampong, pihak laki-laki datang untuk menolong, tetapi pihak
perempuan bukan sadja menolong, pun menuntut bahagian maskawin dari
pihak laki-laki. Benarlah sebagai bidal: ,,Selama tanah dipidjak, selama
itu langit didjundjung.” Karena kebetulan perkawinan itu terdjadi dalam
waktu liburan, maka nampak djuga kawan sebaja kedua pengantin baru itu,
baik jang berdekatan pun satu dua dari daerah lain. Sebagai tamu agung,
nampak djuga Tuan Kepala distrik dan Njonjanja duduk semedja dengan
penganting.

Suasana waktu itu, sangat menarik. Bangsal pandjang
sambungan rumah kepala kampong, berdinding daun kelapa muda, serta
berhias kembang-kembang rimba. Pintu masuk dihiasi elok-elok, serta
atasnja bertulis „Selamat datang”. Tamu jang patut-patut, duduk pada
tempatnja masing-masing. Anak-anak ketjil laki-laki dalam kampong jang
terkenal dengan nama „berandal” (ondeugende jongens) manjisip-njisip
didinding, sambil melihat-lihat dengan mata jang terbuka besar-besar.

Sebentar-sebentar kedengaran: „Itu Tuan Bostir dengan njonja”,
,,djangan baribut, nanti kooi dapa wukum batu tawoo”, ,,Sjee, wukum
apaaa, jakisss, nanti saja rari masok kabiramooo.” ,,oooh, nanti mandor
kampong tandang kooi baro taooo”, tai jakis ngana, ngana boreeh.’’

Pada waktu itu, aksi mandor kampong luar biasa. Sebentar nampak disini,
sebentar lagi timbul disana, membual kiri-kanan, membentak anak-anak
berandal, sampai-sampai mentjampuri kaum wanita jang sibuk dalam ruang
makanan dan minuman. betul-betul, sebagai gadjah mendorong karena
gading, harimau melompat karena belang.

Didapur dan ruang
makan, wanita-wanita sibuk benar. Dibawah pimpinan njora-njora dan kaum
ibu, makanan dan minuman disadjikan, dari nasi kuning dan lauk-pauknja,
sampai-sampai kepada sagu kelapa. Sirih pinangpun ta’luput bersilih
ganti dengan kopi susu bagi paitua-paitua jang kumisnja putih.

Pasukan musik, bersilih ganti dengan pasukan njanji. Lagu-lagu mars,
wals, berganti dengan lagu rindu-rindu. Gelombang Lautan-teduh
beralun-alun memandjankan angan-angan. Tamu-tamu jang terpeladjar, serta
berdjiwa musik, tertjengang mendengar lagu-lagu piring hitam jang telah
mendjalar sampai kesudut-sudut itu!

Memang sekali, pemuda kampong bertelinga tadjam menjambar sana menjambar sini, memperkaja lagu-lagu mereka.
Waktu makan telah selesai, lagu-lagu gembira dan lagu-lagu sjair
empat kalimat muntjul ………. „satu, dua, tiga, empat, lima, saja kuliling sini sana.
…….. itu serupa diaaaa!” Djodjaro dan ngongareh
berlenggang-lenggang, dan karena asjik, maka penganting laki membimbing
penganting perempuan sambil berlenggang, pun orang-orang setengah umur
turut dalam barisan.

Dalam festa itu, diantara tamu-tamu dari
luar, nampak seorang pemuda, jang datang beristirahat kerumah sahabat
ajahnja, jang mandjadi Mantriperawat dalam kampong itu. Pemuda tersebut,
sedang menghitung-hitung langkah, karena telah 3 tahun dalam djabatan.
Selama festa, duduklah ia diam-diam. Kadang-kadang tertawa, tetapi
karena terpaksa rupanja. Ja, malum sifat pendiam telah mendalam. Hal
ini, diperhatikan oleh sahabat aja- hanja dengan sedih. ,,Hai Dani,
djangan bikin malu-malu saja, ahh hidup-hidup sedikit, ikut djuga
beramai-ramai!” Oooh, Paman, saja turut dalam hati.” ,,Ah, mana boleh,
kalau turut dalam hati, tentu nampak dimuka. Atau, barangkali ada udang
dibalik batu? Susah hati?”

„Benar Paman, memang malam ini ramai
sekali, tetapi ramai bagi pemuda jang telah mempunjai penghibur hati,
tetapi saja, ahh masih nool.”
,,Eeh, nool bagaimana, sedang
gadis-gadis sampai tjukup dari kota, sekaliannja telah bersekolah,
apalagi geraknja bebas sebagai kuda lepas pingitan!

Tjuma
tingga! pilih sadja. Djangan takut, Paman ada! Maskawin? Itu perkara
ketjil. Bukan sebarang saja mendjadi sehabat karib bapamu. Sampai-sampai
setengah maskawin Tantamu ini, ditang- gung olehnja. Kini tibalah masa
budi ajahmu dibalas!

Ajooh, tjoba pasang derat, kalau kena,
urusan membuat sangkar adalah tanggungan saja dan Tantamu.” Mendengar
itu Dani tersenjum simpul, sambil mendjawab: „Ooh, kalau itu, memang
rupanja sudah ada, tetapi masih ditimbang-timbang. Sajang sekali gadis
kampung! „Habis, ta’ada gadis terpeladjar?” „Semuanja orang punja
Paman!”

Saja ta suka berlaku serong Paman, karena djalan
serong, berbuah- kan kepahitan, kasih sajang hanja sampai setengah hari.
Banjak bukti jang telah saja lihat, Paman! ,,Nou, kalau begitu, gadis
kampung sadja.”

„Ajaa, Paman, tetapi banjak tetapinja. Paman
tahu keadaan kota tempat pekerdjaan saja itu. Rupa-rupa kekurangan jang
ada pada gadis kampung djika dibawa masuk kemasjarakat kota itu.”
..Oooh, itu bukan soal jang begitu susah. Tjoba lihat Tantamu, bukankah
gadis kampung djuga asalnja?
Ibumu sendiripun, gadis kampung bukan? Setelah kekota tentu dididik!

Apalagi sekarang ini! Ada kumpulan kaum ibu, kumpulan memelihara baji.
Tentang kepandaian sekolah? Ah, Paman pernah meli- hat gadis kampong
tammatan kelas III, anggota kumpulan kaum ibu, jang kini mendjadi
pemimpin bagi seksinja, tjantik rupa, pandai membawakan diri, sopan
santun dan tulisannja dalam daftar-daftar kaum ibu, seakan-akan klerk
dikantor-kantor.

Nah, apa salahnja! Apalagi, djika memang gadis
kampung itu bersifat suka bersih, menurut kata serta kasih sajang
kepadamu, menghormati martabatmu, tentu senang hidup kedua kamu. Asaaal,
pilih jang manis tingkah laku dan djangan jang berkepalabatu. Ta’ ada
banjak tuntutannja kepadamu, malum gadis kampong, apa jang ada, tjukup
padanja! Memang, Paman rasa, bahwa hal ini berat, karena Dani musti
mulai dari permulaan tetapi ingatlah:

..SEBATANG MAWAR JANG DITANAM,
DJIKA DIRAWAT SIANG DAN MALAM,
TENTU SEKALI KEMBANGNJA ELOK,
TAMBAHAN PULA BAUNYA SEMERBAK.”

„Baik, paman, terima kasih atas nasihat Paman itu. Nanti saja turut.
„Eeh barangkali dia sudah ada dikampungmu?” ,,Bukan, Paman dia ada
disini, sekarang ada dalam keramaian ini.” „Tjoba tundjuk jang mana?”
„Paman lihat kekamar makan itu, jang
sedang menuang kopi untuk tamu-tamu itu.”

„Ajaaaah, anakkk, memang engkau pilih betul-betul, persis-persis. Ini
dia baru Paman pudji, bahvva betul pemuda jang pakai mata. Memang Paman
dan Tanta telah beragak-agak dalam beberapa hari ini, untuk Dani, tetapi
begitulah putjuk ditjita, ulam tiba. Paman amat senang.

Dani,
babi dua ekor dikandang kami itu spesial buat festa kawin. Ahh, ahh,
Dani, lihat kekasihmu itu, parasnja elok, pembawaannja menawan hati.
mendjadi, pengadjar dalam kumpulan kaum ibu, apalagi piatu pula.
Sungguhmati kamu dua ini, bikin sampai saja dan Tantamu djatuh bodoh.
Satu pendiam, satu malu-malu kutjing!”
(Cerita dari buku : Rayori, Zaman Kita)

Albert Rumbekwan

Berikan Komentar Anda