Implementasi “Yuwoo” bagi Suku Mee sesuai perkembangan Jaman

Pesta adat di kampung Yipai Tigi Barat Deiyai (Yipai Yuwo) pada tahun 1968.
Foto : Jos donkers

Oleh : Jhoni Ukago

Jika melihat pesta rakyat dari suku Mee di wilayah adat Meepago di Papua. Masyarakat adat di Mee-Pago mengenal ivent yang Yuwoo ini sangat ramai dengan antusias warga masyarakat adat, bukan hanya yang berasal dari dalam negeri , tetapi juga mancanegara dengan penyebutan yang universal tentunya untuk ivent tersebut , ivent yang mengundang keramaian pengunjung ini sudah berkembang dengan pesat di belahan dunia luar ataupun daerah lain di Papua , istilah dan penyebutan ivent ini juga terus beradaptasi dari jaman ke jaman dari bahasa latin hingga ke bahasa inggris ; universal language ; bahasa umum , dengan di warnai dengan berbagai corak khasana budaya ; gaya hidup , serta berbagai kreativitas .

Keaslian Yuwoo

Tidak copy paste dengan budaya luar ; tidak meniru ; menjiplak , orang orang dari suku mee sudah menciptakan, memelihara dan menjaga peradaban tersebut dengan istilah “Yuwoo” yang sudah ada dari jaman nenek moyang berada di suku Mee.
Sungguh luar biasa , ternyata di masa lampau suku Mee mampu membangun peradabannya sendiri dan ini adalah hasil dari proses evolusi budaya yang sangat panjang . Walau punya kesamaan dengan budaya luar dalam hal mengundang keramaian , tetapi inilah ciri khas kehidupan suku Mee dengan budaya Yuwoo.
Semua itu pasti ada tujuan ; sasaran yang mau di gapai , entah itu perayaan ; memeriahkan suatu momentum ; hari kebahagiaan dan lain sebagainya .
Oh iya “Yuwoo” yang dulunya orang dari suku Mee melaksanakannya untuk “edee Pede” [bhs ibu]; berbisnis , mencari uang ; mege[bhs.ibu] ; uang , dari ternak babi yang di jual , maka itu Yuwoo identik dengan pesta ternak babi dan pesta besar .

Bukan hanya persoalan kesenangan , euporia dan kepuasan dalam pesta ternak babi , juga soal “ekina you” [masakB2]; “ekina nai” [makanB2] tetapi ada banyak nilai positif yang terkandung di dalamnya , misalnya dari sisi persiapan Yuwoo ; orang di pacu untuk belajar memelihara ternak babi ; membuat kebun dan belajar membuat ruma tempat pelaksaan [yuwoowaa], lalu “diyou douw” ; [ bhs ibu] penghayatan ;pantangan ,semua ini harus di pelajari dan di laksanakan , di sinilah letak berbagai nilai positif dan mulianya warisan turun temurun .

Tujuan “Yuwoo”

Tujuan dari aspek sosial yang terkandung pastinya untuk mempererat relasi keluarga [relasi saudara istri atau ipar, teman dan keluarga sendiri ], nilai keagamaan di dalamnya ada nilai rasa syukur kepada Tuhan melalui ternak babi yang dipotong sebagai kurban dari hasil keringat masyarakat ; hasil kebun yang di masak lalu di makan bersama sama , sebab tidak semua babi yang dipotong mege motii [ di uangkan], tetapi sebagian dibagikan kepada keluarga atau orang yang membantu menyelenggarakan yuwo itu sendiri sebagai ungkapan rasa cinta kasih . Semua aspek nilainya terkandung di dalam pesta ini , dan kaya akan nilai nilai yang luhur dan mulia .

Yuwoo ; pesta rakyat , terus berkembang dengan tuntutan jaman yang dinamis , akhirnya dengan kesamaan yang terlihat dari sisi nilai sosial maupun ekonomi , maka Yuwoo adalah Festa dalam bahasa latin ; bahasa indonesia itu “ pesta” ; dan istilah mendunianya itu di sebut “festival” , universal language ; bahasa inggris . Istilah Festival lebih tepat dan ini versi moderennya , bukan berarti istilah moderen jadi istilah itu lebih baik , tidak bermaksud seperti itu , tetapi bagaimana cara kita suku mee memahaminya sebab persoalannya di bagaimana kita merangkum dengan konsep universal ; konteks umum, biar dunia tahu tentang peradaban suku mee yang luar biasa ini , makanya itu ; lebih tepat jika ini disebut festival .

Kaitan “Yuwoo” sesuai Perkembangan Zaman

Festival yang adalah versi moderen dari yuwoo ini, merupakan sarana komunikasi yang penting untuk membangun , mempererdayakan ; pengakuan suatu identitas budaya dari pandangan mata dunia , dengan menampilkan ciri khas yang belum tentu ada di belahan dunia luar .

Festival di rencanakan dengan proses perencanaan yang terukur agar berjalan dengan efektif , festival juga salah satu cara pemerintah untuk memperkenalkan budaya yang ada sejak dulu agar bisa di perkenalkan kepada masyarakat luas khususnya kepada pengunjung .

Jika kita melihat dengan nilai budaya berbagai daerah ; wilayah ; benua lain , tentunya masing- masing mempunyai momentumnya , entah itu untuk mempertahankan nilai , menjawab tantangan jaman , hingga sebagai sarana pemenuhan sosial ekonomi sebuah daerah sebagai income ; pajak daerah, semua itu seturut dan sejalan dengan setiap khasana dan ciri khas masing masing seperti orang Meeuwo dan ciri khas nya .

Yuwoo yang beradaptasi dengan konteks universal ini , merupakan sebuah sumber daya yang besar , tentunya untuk memberi pemahaman tentang nilai yang sifatnya historikal secara universal kepada umat manusia yang ada di atas muka bumi ini , tanpah terkecuali dengan tidak memandang perbedahan suku , ras dan Agama , sebab pada dasarnya , semua manusia sama di mata Tuhan .

Perluh kita cermati beberapa contoh “Yuwoo’ ; festival yang ada di Papua :

• 1.Festival Budaya Lembah Baliem

Festival budaya Lembah Baliem mungkin adalah festival yang paling dikenal dunia internasional. Pada penyelenggaraan festival ini di setiap tahunnya, banyak wisatawan dari mancanegara yang datang. Festival yang diselenggarakan di Wamena ini menampilkan pertunjukan dari beragam suku yang bermukim di dataran Wamena hingga Lembah Baliem. Festival Lembah Baliem menampilkan tari-tarian adat khas masing-masing suku. Para pengunjung melihat keunikan corak yang terlukis di wajah dan badan para penarinya.

Pada Festival Lembah Baliem ini disuguhi atraksi perang antar suku yang dimulai dengan penentuan skenario pemicu perang. Pemicu perang ini dapat berupa penculikan warga, pembunuhan anak warga, maupun penyerbuan ladang yang baru dibuka. Adanya pemicu ini, menyebabkan suku lainnya harus melakukan serangan balasan, sehingga penyerbuan pun dilakukan. Sementara, pihak lawan akan bertahan, sehingga pertempuran pun berlangsung dengan seru. Dalam atraksi perang ini tidak menjadikan balas dendam atau permusuhan sebagai tema. Tema yang diusung justru ungkapan yang bernilai positif, yakni Yogotak Hubuluk Motog Hanorogo atau berarti harapan akan hari esok yang harus lebih baik dari hari ini.
Ada pula aksi lempar tombak yang didemonstrasikan oleh warga suku di sana. Menariknya, pengunjung pun diperbolehkan untuk ikut mencoba lempar tombak ini. Selain melempar tombak, pengunjung juga akan diajarkan cara memanah ala masyarakat Papua yang sehari-harinya biasa berburu. Tombak dan panah secara kultural memang sangat dekat dengan kehidupan penduduk asli Lembah Baliem.

Selain atraksi yang berbau “perang”, dalam Festival Lembah Baliem juga menampilkan pertunjukan Pikon atau alat musik tradisional. Lagu-lagu yang dimainkan dengan Pikon ini, biasanya mengisahkan tentang kehidupan manusia. Ada pula Karapan Babi yang juga menjadi salah satu atraksi menarik dan kerap menimbulkan keriuhan para pengunjung. Selain itu, pengunjung juga bisa melihat dan masuk ke dalam Honai, rumah adat Papua, yang selama ini mungkin hanya bisa dilihat gambarnya di buku ataupun televisi. Selain itu, dalam festival ini kita juga bisa melihat para mama Papua membuat kerajinan khas Lembah Baliem seperti tas noken dan kalung.

• 2.Festival Danau Sentani

Festival ini bertempat di Danau Sentani, hanya sekitar 20 Km dari pinggiran ibu kota Provinsi Papua, Jayapura. Danau Sentani sendiri menampilkan suguhan keindahan yang menawan, dengan udara yang nyaman, suasana yang tenang dan dengan latar belakang perbukitan, secara pribadi saya sangat menikmati suasana sunset di Danau Sentani. Festival ini menampilkan kebudayaan dari 18 suku yang hidup di sekitar Danau Sentani, selain itu juga menampilkan kebudayaan suku para pendatang di Papua seperti Bugis, Makassar, Tanah Toraja dan lainnya. Festival ini juga diisi dengan tarian-tarian adat di atas perahu, tarian perang khas Papua, upacara adat seperti penobatan Ondoafi, dan sajian berbagai kuliner khas Papua.
Selain itu juga akan ditampilkan beberapa budaya khas masyarakat tepian Danau Sentani, salah satunya adalah Isosolo. Tarian Isosolo ini termasuk atraksi yang ditunggu-tunggu dalam Festival Danau Sentani, Isosolo sendiri adalah tarian magis dan semikolosal oleh masyarakat suku Sentani dengan mempersembahkan hewan buaya yang memiliki kaitan erat dengan kehidupan di Danau Sentani. Isosolo terdiri dari dua kata, yaitu Iso dan Solo atau Holo. Iso artinya bersukacita dan menari mengungkapkan perasaan hati, sedangkan Holo atau solo berarti kelompok atau kawanan dari semua kelompok umur baik anak-anak, ibu-ibu atau orang dewasa laki-laki yang menari. Isosolo sendiri berarti kelompok orang yang menari dengan sukacita mengungkapkan perasaan hati. Isosolo dilakukan diatas gabungan beberapa perahu dan di pelataran di darat yang disebut Yau.

• 3.Festival Kamoro

Festival Kamoro yang diselenggarakan oleh Suku Komoro ini biasanya diawali oleh tarian kasuari, yang memang berkaitan dengan kehidupan suku Kamoro. Dalam tarian ini sekitar 20 pria Kamoro membentuk dua baris panjang. Penari dengan kostum kasuari menari sendiri di barisan paling depan. Di tengah-tengah mereka, pria dengan cat tubuh bintik-bintik dikepung penari lain yang membawa tombak. Pria itu lantas dirangkul dan diarak berkeliling. Tarian ini memiliki kisah tersendiri, alkisah ada pemuda Kamoro yang jatuh cinta dengan seorang gadis, namun ayah si gadis tidak setuju. Si pemuda lari ke hutan dan menjadi kasuari. Saat dia kembali ke desa, warga tidak mengenalinya dan dia hampir saja diburu. Namun warga akhirnya sadar, inilah pemuda yang lari ke hutan. Pemuda itu kemudian mengajari warga desa tari kasuari.
Selain tarian kasuari, Festival Kamoro juga menyuguhkan para mama Papua membuat sagu, membakar ikan dan ulat sagu, serta menyiapkan cacing tambelo untuk dimakan. Sementara yang laki-laki menabuh tifa dan Anda bisa ikut berjoget dengan mereka. Selain itu ukiran kayu suku Kamoro ini tidak kalah dengan ukiran kayu suku Asmat yang memang sudah terkenal di mancanegara.

• 4.Festival Asmat

Salah satu festival di Papua yang paling dikenal di mancanegara adalah Festival Asmat, karena dalam festival ini dipamerkan ukiran kayu suku Asmat yang sangat terkenal di dunia internasional. Suku Asmat dikenal memiliki kemampuan membuat seni ukiran kayu yang mumpuni di mana mereka dapat langsung mengukir langsung tanpa menggambar sketsanya terlebih dahulu.
Bagi suku Asmat, ukiran kayu yang mereka buat erat kaitannya dengan roh leluhur dan karenanya tidak semata dianggap sebagai karya seni. Banyak dari benda seni yang dibuat suku Asmat adalah simbol perang, pengayauan, dan pemujaan kepada prajurit leluhur. Selama berabad-abad, suku Asmat yang berusaha memenuhi keinginan roh leluhur dengan menghasilkan karya seni luar biasa dalam bentuk perisai, kano, pahatan, dan drum. Selain pameran ukiran kayu dan lelang, festival ini juga akan diramaikan oleh ratusan seniman yang akan unjuk keahlian menenun, berperahu, menari, dan pertunjukan musik tradisional. Pada penutupan festival akan ada acara pelelangan karya seni suku Asmat.
Sedikit tentang ukiran kayu suku Asmat yang sangat terkenal itu. Kenapa ukiran suku Asmat begitu terkenal? Ini alasannya. Suku Asmat memilik 12 subsuku yang masing-masing memiliki ciri khas dalam setiap seni pahatan kayunya. Ada subsuku yang menonjolkan ukiran patungnya ada juga yang menonjolkan ukiran salawaku (perisai) dan ada pula yang memiliki ukiran untuk dinding dan peralatan perang. Hal yang paling istimewa adalah setiap karya ukir tidak memiliki kesamaan atau duplikat. Suku Asmat tidak memproduksi ukiran berpola sama dalam skala besar, sehingga bila kita memiliki satu ukiran Asmat dengan pola tertentu, itu merupakan satu-satunya yang ada.

• Festival Teluk Humboldt

Festival yang relatif berusia lebih muda dari festival lainnya di Papua ini, diselenggarakan di Pantai Hamadi, Jayapura. Festival ini diselenggarakan oleh pemerintah daerah Papua untuk memajukan kearifan lokal dalam rangka memajukan ekonomi kreatif di tanah Papua, khususnya di Jayapura. Dalam festival ini ada pementasan kesenian budaya, pagelaran batik Papua, kuliner, kerajinan dari warga setempat, lomba anyam rambut dan merangkai pinang dan masih banyak lainnya. Selain itu ada pergelaran tari tradisional, suling tambur, lomba masak menu tradisional, lomba anyam rambut dan hias pinang. Lalu ada wisata peninggalan PD II, panorama Pantai Hamadi dan pantai lainnya di Teluk Humboldt.

Papua kaya dengan berbagai kebudayaan suku-suku di dalamnya. Penyelenggaraan festival budaya adalah cara yang baik untuk melestarikan kebudayaan dan juga mendatangkan pariwisata di Papua. Hal yang terpenting untuk dilakukan oleh pemerintah adalah untuk membuat kalender khusus penyelenggaraan festival-festival tersebut. Butuh promosi yang baik agar penyelenggaraan festival-festival budaya ini agar penyelenggaraan festival ini dikenal oleh turis-turis lokal dan mancanegara, sehingga festival ini tidak hanya sekedar melestarikan kebudayaan lokal suku-suku di Papua, tetapi juga menghidupkan perekonomian di daerah setempat.

Festival empat danau Meeuwoo menjadi Ivent yang sangat penting , di mulai dengan mempersiapkan bebagai kelengkapan , contohnya dari objeck yang menjadi sumber wisata yaitu danau ; pusat rekreasi wisatawan , hasil kebun , ternak , dan objek lain yang mungkin menjadi menarik , sebab parah pengunjung yang datang akan menikmati semua itu , maka harus ada tempat untuk nginap ; tidur ; air bersih , energi listrik . Mereka akan membeli juga hasil kebun maka harus ada centra pangan , kopi , hasil ternak dengan budidaya , dan lain sebagainya .

Kebersamaan yang di rangkum di dalam sebuah konsep yang baik dan efektif itu mulia nilai nya , terutama untuk Meeuwo bage ; orang orang suku mee . Eksistensi beberapa kabupaten seperti Paniai , Deiyai dan Dogiya ini sangat tepat “jika”, Festival empat danau Meeuwoo ini di laksanakan bergiliran dengan dasar pertimbangan dan kesiapanya ; misalnya jika tahun pertama atau pembukaan di laksanakan di Pania maka tahun berikut di Deiyai atau Dogiyai , tergantung dengan kesiapan dan kemauan saja , yang terpenting ialah terus berlanjut dengan konsep yang sama . Jaman bole berganti tetapi peradaban warisan moyang di jaga eksistensinya dan hendaklah lestari sealuh di dalam kebersamaan , sebagai bentuk cinta kita kepada alam kandungan ibu yang di nyatakan dalam kebersamaan dan persatuan Manusia Mee.

“SALAM LESTARI”

Berikan Komentar Anda